Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
"Ikut aku," ulang Vanya dengan suara dingin yang menusuk tulang.
Arya mendengus pelan sambil memutar bola matanya malas.
"Dibilangin aku mau pulang tidur, bukan mau jadi pengasuh orang linglung," balas Arya ketus.
Vanya mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia sebenarnya ingin mencabik-cabik mulut manusia di depannya ini berkeping-keping.
Namun, rasa sakit aneh tiba-tiba menusuk dadanya setiap kali ia berniat membunuh Arya.
"Sialan..." umpat Vanya tertahan dengan gigi bergemeretak.
"Nah kan, makanya jangan sok ngancam kalau badan masih lemas begitu," sindir Arya tanpa rasa takut.
Arya membalikkan badannya dan mulai melangkah meninggalkan area hutan yang gelap gulita.
Ia tidak mungkin membiarkan wanita aneh itu mati begitu saja di tengah jalan setelah apa yang terjadi.
"Cih, dasar merepotkan saja," gumam Arya sambil melangkah gontai.
Di luar dugaan, langkah kaki ringan terdengar mengikuti tepat di belakang punggungnya.
Arya menoleh ke belakang dengan sebelah alis terangkat tinggi.
"Kenapa malah ikut? Katanya Ratu Iblis yang hebat," cibir Arya mengejek.
"Rumahmu... di mana?" tanya Vanya dengan nada suara yang dipaksa datar.
"Kenapa? Mau merampok rumah kontrakan ku yang isinya cuma kasur kapuk tipis sama kompor gas portable?" jawab Arya sinis.
"Banyak tanya, pimpin jalannya sekarang," perintah Vanya dingin.
Arya menghela napas panjang tanda menyerah menghadapi wanita arogan ini.
Mereka berdua berjalan berdampingan membelah sunyinya malam kota kecil di perbatasan wilayah kerajaan.
Suasana di sepanjang jalan terasa sangat sepi karena hari sudah lewat tengah malam.
Hanya terdengar derap langkah kaki mereka berdua yang bergesekan dengan jalanan beraspal retak.
"Krikit... krikit..."
Suara jangkrik dari pekarangan rumah warga terdengar sayup-sayup.
"Rumahku masih agak jauh, jangan ngeluh kalau kakiku pegal," ujar Arya memecah keheningan.
Vanya tidak menjawab sepatah kata pun, ia hanya berjalan dengan postur tegak ala bangsawan tinggi.
Meskipun pakaiannya robek dan berdarah, aura megah dari tubuhnya sama sekali tidak luntur.
"Aduh..."
Rintih Vanya pelan saat luka di bahunya sedikit bergesekan dengan kain bajunya.
Arya melirik sekilas ke arah Vanya yang tampak menahan sakit setengah mati.
"Makanya jangan sok kuat, kalau masih sakit bilang saja," ucap Arya dengan nada sedikit melunak.
"Diam, manusia rendahan," balas Vanya ketus meski jalannya mulai melambat.
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di sebuah gang sempit yang dipenuhi rumah petak sewaan murah.
Bau comberan dan aroma masakan malam bergesekan di udara yang lembap.
"Nah, sampai. Ini istana megah versi rakyat jelata," kata Arya sambil menunjuk pintu kayu lapuk.
Vanya menghentikan langkahnya, menatap jijik ke arah bangunan reyot di hadapannya.
"Tempat apa ini? Tempat tinggal tikus?" komentar Vanya tajam.
"Kurang lebih begitu, jadi kalau kamu tidak suka silakan tidur di got depan," balas Arya santai.
Arya membuka kunci gembok pintu kontrakannya yang berkarat.
"klek".
Ia mendorong pintu kayu itu hingga terbuka lebar, memperlihatkan ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter.
Di dalamnya hanya ada satu kasur lipat tipis, meja kecil, dan tumpukan baju kotor di sudut ruangan.
"Masuklah kalau tidak mau mati kedinginan di luar," ajak Arya sambil menyalakan lampu bohlam kuning redup.
Vanya melangkah masuk dengan keraguan yang amat sangat besar di dalam hatinya.
Lantai semen kasar itu terasa dingin saat bergesekan dengan ujung sepatunya yang rusak.
"Duduk saja di kasur itu, aku mau ambil air minum dulu," kata Arya sambil berjalan ke arah dapur kecil.
Vanya duduk dengan kaku di tepi kasur tipis, matanya mengawasi setiap sudut ruangan yang sempit itu.
"Tempat ini benar-benar tidak layak huni," batin Vanya merasa risih luar biasa.
Tiba-tiba, perut Vanya berbunyi keroncongan akibat energi tubuhnya terkuras habis.
"Krucuk..."
Suara dari perut sang Ratu Iblis terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
Arya yang sedang menuang air dari kendi mendadak menghentikan gerakannya.
Ia menoleh ke belakang sambil menahan senyum geli di bibirnya.
"Wah, ternyata Ratu Iblis yang agung ini bisa kelaparan juga ya," goda Arya terang-terangan.
Wajah Vanya yang pucat seketika berubah merona merah karena rasa malu yang teramat sangat.
"Tutup mulutmu atau aku potong lidahmu saat ini juga!" ancam Vanya dengan suara bergetar menahan malu.
"Iya iya, ampun Yang Mulia Ratu," balas Arya meledek sambil meletakkan segelas air di meja.
Arya membuka lemari kecilnya dan mengeluarkan sebungkus mie instan sisa kemarin malam.
"Cuma ada ini, kalau mau makan silakan rebus sendiri di kompor itu," kata Arya menunjuk kompor portabel.
Vanya menatap bungkus mie instan itu dengan tatapan penuh kebingungan tingkat tinggi.
"Benda apa ini? Racun manusia?" tanya Vanya curiga.
"Itu mie instan, makanan penyelamat hidup anak kos di kala tanggal tua," jawab Arya sambil terkekeh pelan.
Arya mulai menyalakan kompor dan merebus air di panci kecil miliknya.
"Sini biar aku yang urus, kalau kamu yang masak nanti malah meledak dapurku," ujar Arya mengambil alih.
Vanya hanya diam memperhatikan punggung Arya dari dekat dengan perasaan yang sangat rumit.
Belum pernah ada manusia seumur hidupnya yang memperlakukannya senormal ini setelah ia menjadi Ratu Iblis.
Biasanya orang-orang akan sujud ketakutan atau lari kencing di celana melihat kehadirannya.
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Vanya tiba-tiba memecah keheningan dapur kecil itu.
Arya mengaduk mie di panci dengan sumpit kayu tanpa menoleh ke arah Vanya.
"Sudah kubilang tadi, aku cuma tabib pijit yang kebetulan lewat dan melihat orang sekarat," jawab Arya santai.
"Tidak ada niat lain? Tidak mau minta imbalan harta atau wilayah kekuasaan?" cecar Vanya menyelidik.
Arya menoleh sekilas dengan tatapan mata yang menyiratkan kepahitan hidup yang mendalam.
"Harta? Aku baru saja diusir dari istana tanpa pesangon sepeser pun, jadi aku tidak punya pikiran muluk-muluk," jelas Arya jujur.
Vanya terdiam seribu bahasa mendengar kejujuran yang terlontar begitu saja dari mulut Arya.
"Aroma apa ini? Wangi juga," batin Vanya saat aroma bumbu mie instan mulai menguap ke udara.
"Nih makanlah, selagi masih hangat," kata Arya menyodorkan semangkuk mie kuah ke hadapan Vanya.
Vanya menerima mangkuk itu dengan ragu-ragu, lalu mencoba menyeruput kuahnya sedikit.
Seketika mata merahnya melebar lebar karena merasakan kelezatan sederhana yang belum pernah ia cicipi di dunia iblis.
"Bagaimana? Enak kan?" tanya Arya tersenyum tipis.
"Biasa saja," jawab Vanya gengsi sambil terus melahap mie tersebut dengan cepat.
Arya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah arogan sang Ratu Iblis yang mulai luntur oleh semangkuk mie murah.
Tiba-tiba, sebuah suara berdengung kembali muncul di dalam kepala Arya.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi peningkatan kedekatan emosional.]
[Bonus poin sistem didapatkan: +10 poin kepercayaan dari Subjek Vanya.]
[Membuka fitur baru: Pijatan Relaksasi Tingkat Lanjut untuk pemulihan energi spiritual.]
Arya terkejut sejenak mendengar notifikasi asing itu berputar di dalam benaknya.
"Sistem ini benar-benar tidak bisa diam ya," batin Arya mengeluh dalam hati.
Vanya yang selesai makan meletakkan mangkuknya ke meja.
"klontang".
Ia menatap Arya dengan tatapan tajam namun kali ini tanpa ada niat membunuh di dalamnya.
"Manusia, siapa nama lengkapmu sebenarnya?" tanya Vanya dengan nada suara yang sedikit melunak.
"Namaku Arya, panggil saja tuan besar kalau mau selamat," jawab Arya bercanda.
Vanya mendengus pelan mendengar jawaban tengil dari manusia di depannya itu.
"Baiklah Arya, ingat ini baik-baik, aku tidak akan berutang budi lama-lama padamu," ucap Vanya tegas.
"Terserah padamu saja, sekarang tidur sana, aku sudah ngantuk berat," usir Arya sambil merebahkan diri di lantai beralas tikar tipis.
Vanya terdiam menatap kasur sempit satu-satunya di ruangan itu, lalu melirik ke arah Arya yang sudah memejamkan mata.
"Dasar manusia tidak punya sopan santun membiarkan seorang ratu tidur di tempat kumuh seperti ini," umpat Vanya kesal sebelum akhirnya ikut berbaring dengan terpaksa.