GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Sandiwara dan Para Kandidat Absurd
Hari kelima sejak insiden di kafe, perang dingin secara resmi telah bergeser ke ranah digital. Keduanya menolak untuk saling menghubungi via telepon atau pesan singkat, namun secara aktif memantau kehidupan satu sama lain melalui Instagram Stories.
Di kamar indekosnya yang berantakan, Gala duduk menatap layar ponselnya dengan mata setengah terpejam. Ia baru saja mengunggah foto dua cangkir kopi latte dengan latte art berbentuk hati di sebuah restoran mewah. Takarirnya berbunyi: "Kopi malam ini terasa lebih manis dari biasanya. Teman mengobrol yang luar biasa."
Kenyataannya? Gala sedang sendirian. Cangkir kedua itu adalah miliknya sendiri, sengaja ia pesan dan ia atur posisinya agar terlihat seperti ada orang lain di hadapannya. Ia bahkan sengaja meletakkan dompet wanita bermerek—yang ia pinjam paksa dari ibu kosnya dengan alasan untuk properti liputan—di tepi bingkai foto.
Dua menit setelah diunggah, nama akun Senja muncul di daftar viewer. Gala tersenyum penuh kemenangan. "Kena kau, Nja. Pasti sekarang kau sedang membanting bantal di kamarmu."
Namun, kemenangan Gala hanya bertahan selama lima belas menit. Tiba-tiba, notifikasi muncul. Senja memperbarui Story-nya. Dengan jantung berdebar, Gala membukanya.
Video singkat itu menampilkan Senja sedang berada di sebuah kelab malam eksklusif. Lampu disko berkedip-kedip, musik EDM berdentum keras. Yang membuat darah Gala mendidih adalah sosok pria yang merangkul pinggang Senja. Pria itu tampan, mengenakan kemeja sutra putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, dan memiliki senyum sok manis. Di video itu, Senja tertawa lebar, terlihat sangat bahagia, sementara si pria berbisik di telinganya. Takarir video itu berbunyi: "Malam yang tak terduga dengan orang yang spesial. #MovingOn"
"Sialan!" Gala melempar ponselnya ke kasur. "Belum seminggu dia sudah keluyuran sama buaya darat! Siapa sih cowok klimis itu?!"
Cowok klimis itu adalah Rian. Rian bukanlah pria sembarangan. Ia adalah anak tunggal dari bos sindikat mafia lokal yang dikenal dengan nama "Naga Hitam". Namun, berbeda dengan ayahnya yang bertangan besi dan kejam, Rian adalah mutasi genetik yang membingungkan. Ia berhati lembut, sangat melankolis, suka menulis puisi cinta, dan terobsesi pada wanita-wanita kuat.
Pertemuan Rian dan Senja terjadi tiga hari yang lalu di lokasi syuting. Rian yang sedang menginspeksi "uang keamanan" dari rumah produksi, tak sengaja melihat Senja melakukan adegan pertarungan, di mana Senja membanting tiga stuntman pria berbadan besar. Saat itu juga, panah asmara menembus jantung Rian. Ia mendekati Senja, merayunya dengan puisi yang sangat buruk, dan berakhir dengan Senja membantingnya secara refleks karena terkejut. Bukannya marah, Rian malah semakin jatuh cinta.
Bagi Senja, Rian adalah alat yang sempurna. Ia butuh pria tampan, kaya, dan bersedia melakukan apa saja untuk dipamerkan kepada Gala. Rian, yang bucin tingkat akut, dengan senang hati memainkan peran itu, menganggapnya sebagai batu loncatan untuk memenangkan hati Senja sepenuhnya.
Di sisi lain, Gala menyadari bahwa ia tidak bisa terus-terusan berfoto dengan dompet ibu kos. Ia butuh pasangan sungguhan, setidaknya untuk dibawa ke depan umum. Sebagai jurnalis kere, Gala tidak punya akses ke lingkaran wanita sosialita. Ia pun memutuskan untuk menempuh jalur pintas: menyewa jasa pacar bayaran dari internet.
Pencariannya membawanya ke sebuah warung tenda pecel lele di pinggir jalan raya. Malam itu, Gala telah membuat janji temu dengan seseorang yang menggunakan username "Agen_S" di forum daring penyedia jasa.
Gala duduk dengan gelisah. Tiba-tiba, seorang wanita duduk di hadapannya tanpa bersuara. Wanita itu mengenakan jaket bomber hitam, celana kargo, dan topi baseball yang ditarik rendah. Wajahnya cantik, namun ekspresinya sedatar aspal jalan tol. Matanya menatap tajam ke arah spanduk pecel lele.
"Kau... Agen S?" tanya Gala ragu.
Wanita itu menoleh lambat. "Siska. Panggil saya Siska." Suaranya monoton, tanpa intonasi, mirip sistem navigasi GPS yang kehabisan baterai.
Gala berdeham. "Oke, Siska. Di profilmu, kau menulis bisa menjadi apa saja. Pacar sewaan, bodyguard, rekan bisnis, atau tukang pukul. Benar begitu?"
Siska tidak menjawab pertanyaan Gala. Sebaliknya, ia memanggil pelayan. "Mas, lele goreng tiga, nasi uduk dua, sambalnya dibanyakin, es teh manis satu. Jangan pakai lama, waktu saya adalah uang." Ia kembali menatap Gala. "Klien yang traktir, kan?"
"Eh? Iya, tentu saja," jawab Gala agak bingung. "Jadi, kasusku begini. Aku butuh seseorang untuk berpura-pura menjadi pacarku yang cantik, anggun, mempesona, dan sangat kaya di depan mantanku. Tujuannya untuk membuat dia cemburu mati-matian. Kau sanggup?"
Pesanan datang dengan sangat cepat. Siska mengambil satu lele goreng utuh, dan tanpa memisahkan duri atau kepalanya, ia mulai mengunyahnya dengan tenang. Gala menatap horor melihat cara makan wanita di depannya. Terdengar suara tulang ikan hancur di dalam mulut Siska.
Setelah menelan gigitan pertamanya, Siska mengeluarkan buku catatan kecil dan pena. "Tarif kencan biasa: lima ratus ribu rupiah per jam. Paket berpegangan tangan: tambah lima puluh ribu. Paket merangkul pinggang: tambah seratus ribu. Paket tertawa manja dan memanggil 'sayang': tambah dua ratus ribu per insiden."
Gala melotot. "Mahal amat! Aku jurnalis, bukan pengusaha tambang!"
Siska mengangkat bahu pelan. "Ada harga, ada rupa. Saya bisa akting menangis haru, saya bisa akting marah, saya juga bisa mematahkan lengan seseorang dalam tiga detik kalau situasi memburuk. Kalau ada yang ngajak berantem di lokasi kencan, biayanya tiga ratus ribu per kepala yang saya lumpuhkan. Bagaimana? Deal atau saya cari klien lain?"
Mengingat video Senja dan pria klimis di kelab malam, gengsi Gala kembali mengambil alih kendali otaknya. Ia menggebrak meja pecel lele pelan. "Deal! Besok malam kita dinner di Restoran L'Amour. Pastikan kau pakai gaun terbaikmu dan bersikap seolah aku ini pangeran berkuda putih yang paling kau cintai."
Siska mengangguk, lalu kembali mengunyah kepala lele keduanya. "Tiga ratus ribu untuk deposit gaun malam. Transfer sekarang."
Gala memijat pelipisnya, membayangkan saldo tabungannya yang akan segera terkuras habis. "Ya Tuhan, demi gengsi, aku rela melarat."