Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Kamu yakin soal ini?"
Suara Daniel Reed berbisik tajam di telinga Jason, saat keduanya berdiri di ruang tunggu kecil di samping altar, tersembunyi dari pandangan tamu oleh tirai putih yang bergoyang pelan setiap kali seseorang lewat di baliknya.
"Tidak ada waktu untuk berpikir aku yakin atau tidak," jawab Jason, merapikan dasinya sendiri dengan gerakan yang terlalu terkendali untuk seseorang yang baru saja memutuskan mengubah seluruh hidupnya dalam waktu kurang dari setengah jam. “Ada saatnya kita harus bertindak, atau membiarkan semuanya runtuh. Aku memilih untuk bertindak.”
"Ini bukan akuisisi perusahaan, Jason." Daniel, satu-satunya orang yang berani bicara pada Jason dengan nada seperti itu, ia menyilangkan tangan, menatap sahabatnya dengan campuran geli dan khawatir yang sudah lama menjadi ciri khasnya. "Ini pernikahan. Dengan wanita yang seharusnya jadi adik iparmu."
Jason tidak menjawab. Ia menatap ke arah tirai, ke arah barisan kursi putih yang mulai gelisah, ke arah orang tuanya yang berdiri di depan, mencoba menenangkan tamu-tamu yang mulai berbisik satu sama lain tentang keterlambatan yang tidak biasa.
"Kalau kamu berubah pikiran," lanjut Daniel, kali ini lebih pelan, "sekaranglah waktunya. Bukan setelah cincin itu terpasang."
"Aku tidak akan berubah pikiran." Jason akhirnya menoleh, dan untuk sepersekian detik, sesuatu yang jarang terlihat di wajahnya muncul, bukan keraguan, melainkan semacam kepastian yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. “Aku sudah lama menunggu kesempatan seperti ini, Dan. Hanya saja, aku tidak pernah menyangka kesempatan itu akan datang dengan cara seperti ini.”
Daniel terdiam sejenak. Tatapannya tetap tertuju pada wajah sahabatnya, seolah baru saja menemukan jawaban dari sesuatu yang selama ini Jason sembunyikan.
Jason tidak mengatakan apa-apa, tetapi dari tatapan Daniel, dia tahu sahabatnya sudah mengerti. Daniel adalah satu-satunya orang yang berhasil memahami sesuatu yang tak pernah Jason ungkapkan kepada siapa pun.
"Astaga," kata Daniel akhirnya, suaranya nyaris tidak percaya. "Kau memang sudah lama menyukainya."
Jason tidak membantah. Ia juga tidak membenarkan. Ia hanya melangkah menuju tirai, mengangkat tangannya untuk menyibaknya, ketika suara musik pembuka mulai mengalun lebih keras dari sebelumnya, tanda bahwa waktu untuk berpikir sudah benar-benar habis.
Richard Carter berdiri di hadapan para tamu dengan wajah tenang. Tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.
Hanya Victoria yang tahu suaminya sedang menahan sesuatu. Setiap kali bisikan dari barisan depan terdengar terlalu jelas, rahang Richard mengeras sesaat sebelum kembali seperti semula.
"Bapak Ibu sekalian," kata Richard, suaranya menggema jelas meski jantungnya, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, berdebar dengan kecepatan yang tidak biasa untuk seorang pengusaha yang sudah menghadapi ratusan negosiasi sulit.
"Kami mohon maaf atas keterlambatan kecil ini. Ada sedikit... penyesuaian dalam susunan acara hari ini."
Bisikan di antara tamu semakin keras. Seseorang di barisan belakang, kerabat jauh keluarga Anderson, yang datang lebih untuk melihat gaun pengantin daripada pengantinnya sendiri, bertanya cukup keras hingga terdengar sampai barisan depan, "Di mana Ethan?"
Richard tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengangguk kepada pendeta di sampingnya, memberi tanda bahwa upacara harus segera dilanjutkan.
Sepuluh menit kemudian, pernikahan yang awalnya hanya dianggap sebagai pernikahan terlambat berubah menjadi skandal yang akan terus dibicarakan kalangan atas.
Ketika tirai di samping altar akhirnya tersibak dan Jason melangkah keluar, bukan Ethan... suara riuh kekagetan menyebar ke seluruh ruangan seperti gelombang.
"Itu bukan Ethan," bisik seseorang, cukup keras untuk didengar setengah ruangan.
"Itu kakaknya..."
Jason berjalan tanpa terpengaruh oleh bisikan-bisikan itu, punggungnya tegak, langkahnya mantap, seolah ia sedang memasuki ruang rapat dewan direksi, bukan altar pernikahan yang seharusnya bukan miliknya. Ia berdiri di tempat yang seharusnya ditempati adiknya, menatap lurus ke ujung lorong tempat Selena akan segera muncul, dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, sesuatu di dalam dadanya terasa seperti menahan napas.
Selena berdiri di ujung lorong, tangan ayahnya di lengannya, jantungnya berdebar dengan ritme yang sama sekali berbeda dari yang ia bayangkan akan ia rasakan di hari pernikahannya sendiri.
Ini seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Sebaliknya, ia berjalan menuju seorang pria yang beberapa jam lalu hanya ia kenal sebagai kakak dari tunangannya.
Pintu di ujung lorong terbuka. Musik berubah. Seratus lebih pasang mata berbalik ke arahnya, dan bisikan-bisikan yang tadinya membicarakan ketidakhadiran Ethan kini beralih menjadi keheningan yang lebih menakutkan, keheningan orang-orang yang menyaksikan sesuatu yang tidak pernah mereka duga akan mereka lihat seumur hidup.
Selena menatap lurus ke depan, ke arah Jason yang berdiri menunggu di ujung altar, wajahnya tenang seperti biasa, namun matanya... matanya menatap balik dengan intensitas yang membuat Selena hampir kehilangan langkahnya sendiri.
Ini hanya kesepakatan, ia mengingatkan dirinya sendiri,
setiap langkah yang ia ambil menyusuri karpet merah itu. Hanya sampai semuanya kembali tenang. Hanya sampai aku bisa berdiri sendiri lagi.
Namun ketika akhirnya ia sampai di ujung altar, dan Jason mengulurkan tangannya untuk menerima tangan Selena dari ayahnya, genggaman itu terasa jauh lebih hangat, dan jauh lebih nyata, daripada yang seharusnya ia rasakan dari pernikahan yang, secara teknis, hanyalah sebuah kesepakatan.
Jason menatapnya, dan untuk sepersekian detik yang hanya mereka berdua yang menyadarinya, ia berbisik cukup pelan hingga hanya Selena yang bisa mendengarnya.
"Terima kasih sudah percaya padaku."
Selena tidak sempat menjawab. Pendeta sudah mulai berbicara, dan di depan seratus pasang mata yang masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang mereka saksikan, Selena Anderson mengucapkan janji pernikahan kepada pria yang, tanpa ia sadari, baru saja mengubah seluruh arah hidupnya untuk selamanya.
Di salah satu sudut ruangan, jauh dari altar, seorang wanita muda berdiri di antara para tamu dengan ekspresi yang jauh lebih rumit dari sekadar terkejut.
Sophia Bennett, menyaksikan seluruh upacara itu dengan tangan yang mengepal erat di samping tubuhnya, pikirannya melayang ke pesan terakhir yang ia kirim kepada Ethan tiga hari lalu, pesan yang, ia sadari sekarang, mungkin telah berperan lebih besar dari yang ia duga dalam keputusan pemuda itu untuk kabur pagi ini.
Ia tidak tahu harus merasa bersalah, atau justru diam-diam puas karena rencana yang bahkan tidak sepenuhnya ia rencanakan, kini telah membuka jalan yang jauh lebih menarik daripada yang pernah ia bayangkan.