Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Keringat yang Tak Dihargai

Suara helaan napas Dirga terdengar berat di tengah riuh rendah dering telepon dan denting ketikan kibor di sudut ruangan. Ucapan Eri di telepon beberapa waktu lalu masih terngiang, berputar-putar seperti pita kaset rusak yang menolak berhenti. “Gara-gara kamu terlambat beliin tas itu, posisi aku di geng Sahabat Sosialita jadi terancam, Dirga! Kalau sampai besok kamu nggak bisa bawa tas koleksi terbatas itu ke hadapanku, jangan pernah temui aku lagi. Kita putus!”

Ancaman itu membakar habis seluruh ketenangan Dirga. Ia menatap layar ponselnya, memperlihatkan angka di aplikasi perbankan yang kian menipis. Sisa tabungannya hanya tiga juta rupiah, uang yang tadinya dialokasikan untuk keperluan darurat. Namun, bayangan kehilangan Eri membuat logika akal sehatnya terkikis habis.

Dengan langkah ragu, Dirga berjalan menuju ruang keuangan. Tangannya gemetar saat mengetuk pintu kaca tebal di hadapannya.

"Mas Haryo... maaf mengganggu waktunya sebentar," sapa Dirga pelan, berdiri menyudut di dekat pintu.

Seorang pria berkacamata minus tebal menoleh dari balik layar monitornya, memandangi Dirga dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan jenuh. "Ada apa, Dirga? Area pantry belum kamu bersihkan?"

"Sudah, Mas. Semuanya sudah rapi," sahut Dirga cepat. Ia mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana kainnya yang sudah memudar. "Saya... saya mau mengajukan kasbon potong gaji, Mas. Kalau boleh, lima juta rupiah."

Haryo meletakkan penanya di atas meja. Bunyi ketukan pulpen itu terdengar seperti vonis hakim di telinga Dirga. "Kasbon? Dirga, kamu baru bekerja di sini delapan bulan. Prosedur kantor ini memperbolehkan kasbon hanya untuk karyawan tetap atau keadaan darurat keluarga yang dibuktikan dengan surat medis. Memangnya ada apa?"

"Ibu saya di kampung mendadak butuh biaya pengobatan, Mas," bohong Dirga, merasakan lidahnya kelu dan dadanya berdenyut nyeri akibat kebohongan yang terucap dari mulutnya sendiri. "Tolonglah, Mas Haryo. Saya janji gaji saya bulan depan dipotong setengahnya."

Haryo menghela napas panjang, menatap wajah lugu Dirga yang tampak frustrasi dan letih. Setelah mengamati kerapian kerja Dirga selama beberapa bulan terakhir, raut keras di wajah Haryo melunak sedikit.

"Dengar ya, Dirga. Ini keluar dari kebijakan resmi. Saya bantu dari dana tak terduga operasional kecil, tapi bulan depan gajimu betul-betul saya potong. Paham?"

"Paham, Mas! Paham sekali. Terima kasih banyak, Mas Haryo. Terima kasih!" Dirga membungkukkan badannya berkali-kali, mengabaikan martabatnya yang runtuh demi mengumpulkan rupiah demi rupiah.

Toko barang mewah di pusat perbelanjaan Jakarta Selatan itu memancarkan aroma parfum mahal dan kemewahan yang mengintimidasi. Dirga berdiri di depan pintu kaca tebal, memandangi seragam kebersihannya yang sudah berganti dengan kemeja flanel agak lusuh. Setiap pengunjung yang melintas menatapnya dengan pandangan heran, seolah keberadaannya di tempat itu adalah sebuah kesalahan estetika.

Seorang pelayan toko wanita berseragam hitam rapi menghampirinya dengan senyum formal yang dipaksakan. "Selamat sore, Pak. Ada yang bisa dibantu?"

"Saya mau beli tas kulit edisi terbatas merek ini, Mbak," kata Dirga seraya menunjukkan tangkapan layar di ponselnya.

Pelayan toko itu menatap layar ponsel Dirga, lalu beralih memandangi sepatu kets Dirga yang sudah terkikis solnya. "Model ini tinggal tersisa satu buah, Pak. Harganya delapan juta rupiah. Pembayaran harus tunai atau kartu kredit."

Dirga mengangguk cepat. Ia merogoh amplop cokelat berisikan uang kasbon dan menarik dompet kulitnya yang tipis. "Saya bayar tunai, Mbak. Ini tiga juta dari tabungan saya, dan lima juta dari uang tunai ini."

Pelayan itu menerima tumpukan uang kertas lima puluh ribuan dan seratus ribuan yang tampak agak kusam itu dengan ujung jarinya, lalu menghitungnya di mesin penghitung uang. "Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar, saya ambilkan barangnya dari gudang."

Saat memegang kotak hadiah berikat pita emas itu, tangan Dirga bergetar. Delapan juta rupiah. Angka itu setara dengan keringat dan kerja kerasnya menyapu lantai, membersihkan toilet, dan membuang sampah kantor selama lebih dari dua bulan. Namun, dalam benaknya yang rapuh, ia meyakini bahwa senyuman Eri nanti akan membayar tuntas seluruh pengorbanan ini.

Suasana kafe di kawasan Senopati itu penuh dengan denting cangkir porselen dan alunan musik jazz lembut. Dirga duduk di sudut ruangan, memeluk kotak hadiah besar di pangkuannya seolah benda itu adalah barang paling berharga di dunia. Matanya tak berhenti menatap pintu masuk.

Sepuluh menit kemudian, sosok wanita yang ditunggu-tunggu melangkah masuk. Eri tampil memukau dengan gaun merah tanpa lengan, riasan wajah sempurna, dan kacamata hitam yang disangkutkan di atas kepalanya. Namun, raut wajahnya tidak memancarkan kegembiraan sedikit pun saat melihat Dirga.

Eri menarik kursi di seberang Dirga dengan kasar, melemparkan tas tangannya ke atas meja tanpa menyapa terlebih dahulu. "Kamu lama banget sih, Dirga? Aku sudah nunggu di mobil hampir lima belas menit!"

"Maafkan aku, Eri. Tadi jalanan agak macet pas aku pulang dari boutique," ujar Dirga lembut. Ia segera menggeser kotak hadiah berikat pita emas itu ke hadapan Eri. "Ini tas yang kamu minta. Aku berhasil mendapatkannya."

Eri menatap kotak itu tanpa minat, lalu menarik pita pengikatnya dengan gerakan acuh tak acuh. Saat penutup kotak dibuka dan tas kulit berwarna krem tampak di dalamnya, mata Eri bukannya berbinar, melainkan menyipit tajam. Ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi masam.

"Apa-apaan ini, Dirga?" suara Eri meninggi, penuh nada kekecewaan dan kekesalan.

Dirga tertegun, senyum yang sempat terukir di bibirnya perlahan memudar. "Ada apa, Eri? Bukankah ini model terbatas yang kamu tunjukkan kemarin?"

"Modelnya benar! Tapi warnanya kenapa krem?!" bentak Eri tanpa peduli beberapa pengunjung kafe mulai menoleh ke arah mereka. "Aku kan sudah bilang, teman-temanku di geng sosialita minggu ini sepakat pakai tema warna fuchsia! Warna merah muda terang! Kalau warnanya krem seperti ini, mau ditaruh di mana mukaku saat kumpul nanti malam?!"

"Tapi, Eri... stok di toko tadi cuma tinggal ini," jelas Dirga dengan suara yang bergetar menahan gejolak di dadanya. "Penjualnya bilang ini warna paling langka dan paling banyak dicari. Harganya delapan juta rupiah, Eri. Aku harus menguras seluruh sisa tabunganku dan meminjam uang kasbon kantor demi beli ini—"

"Aku nggak peduli kamu dapat uangnya dari mana!" potong Eri cepat, mengibaskan tangannya dengan penuh kepedihan yang dibuat-buat. "Kenapa kamu nggak cari ke toko lain?! Kenapa kamu selalu tidak bisa diandalkan, Dirga?! Kamu tahu tidak, punya pacar yang cuma OB kantor saja sudah bikin aku cukup malu di hadapan teman-temanku, dan sekarang kamu bahkan tidak bisa membelikan warna tas yang benar!"

Setiap kata yang keluar dari mulut Eri bagaikan sembilu yang menyayat dada Dirga. Ia menatap wanita di hadapannya, berusaha mencari sisa-sisa kasih sayang yang pernah ada, namun yang ia temukan hanyalah keangkuhan dan rasa ketidakpuasan yang tak tertembung.

"Eri, tolong hargai usahaku sedikit saja..." bisik Dirga, suaranya nyaris tenggelam oleh rasa perih. "Uang ini hasil keringatku. Aku mengorbankan uang tabunganku untuk tas ini..."

"Hargai?" Eri tertawa sinis, suara tawanya terdengar sumbang dan merendahkan. "Bagaimana aku bisa menghargai sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanku? Tas warna krem ini sama sekali tidak berguna buatku!"

Sebelum Dirga sempat membalas, sebuah suara berat dan penuh percaya diri memotong perdebatan mereka dari arah belakang.

"Ada masalah di sini, Sayang?"

Seorang pria tinggi berparas tampan dengan tatanan rambut klimis melangkah mendekat. Ia mengenakan setelan jas buatan penjahit ternama yang memancarkan aroma kemewahan mutlak, lengkap dengan jam tangan emas yang berkilat tertimpa lampu kafe. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi.

Eri seketika mengubah raut wajahnya. Kekecewaan di matanya berganti menjadi binar kegirangan yang tak tertutup-tutupi. "Leon! Kamu sudah sampai?"

Tanpa canggung sedikit pun di hadapan Dirga, pria bernama Leon itu melangkah maju dan dengan santai mendaratkan telapak tangannya di pinggang mulus Eri, merangkulnya dengan erat dan posesif. Eri tidak menolak, ia justru menyandarkan tubuhnya ke dada Leon dengan nada bermanja-manja yang tidak pernah ia tunjukkan pada Dirga.

"Siapa pria ini, Eri? Pengantar barangmu?" tanya Leon dengan nada meremehkan, matanya melirik dingin ke arah Dirga dan kemeja lusuhnya.

Dirga terpaku di kursinya. Darahnya serasa berhenti mengalir, dan jantungnya berdegup kencang menghantam dadanya saat menyaksikan tangan pria asing itu melingkar nyaman di pinggang kekasihnya sendiri.

"Bukan siapa-siapa, Leon," jawab Eri cepat tanpa sedikit pun ragu atau rasa bersalah dalam suaranya. Matanya menatap Dirga dengan dingin. "Cuma seseorang dari masa lalu yang tidak pernah mengerti seleraku."

Leon terkekeh pelan, mengusap pinggang Eri dengan lembut seolah menegaskan kepemilikannya. "Begitu? Kalau soal tas, kamu tidak perlu merepotkan orang luar, Sayang. Ayo ikut aku ke mobil. Di bagasi ada tiga tas koleksi terbaru berwarna fuchsia yang baru saja kubeli langsung dari Prancis."

Eri membelalakkan mata kegirangan, memeluk lengan Leon dengan manja. "Beneran, Leon?! Kamu memang yang terbaik!"

Dirga berdiri perlahan dari kursinya, tangannya mengepal erat di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. "Eri... apa maksud semua ini?"

Eri menoleh sebentar ke arah Dirga, melirik kotak hadiah berisi tas delapan juta rupiah itu dengan pandangan jijik. "Maksudnya sudah jelas kan, Dirga? Kita selesai. Jangan pernah hubungi aku lagi."

Tanpa menunggu jawaban Dirga, Eri berbalik dan melangkah pergi merapat di samping Leon. Pria bersetelan jas mahal itu sempat menoleh ke arah Dirga, melemparkan senyum kemenangan yang sangat merendahkan sebelum mereka berdua melangkah keluar menyusuri pintu kafe, meninggalkan Dirga yang berdiri mematung di antara tatapan iba dan cemoohan orang-orang di sekitarnya.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!