Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Rasa

Terjebak Rasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Cintamanis / Tamat
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chyntia R

Novel ini tidak berlanjut! 🙏🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyakit

"Ris...." Terdengar suara parau itu memanggilku.

Aku menghentikan langkah, aku berbalik seketika untuk melihat keadaan Andre. Matanya mulai mengerjap, dia terbangun. Benarkah?

Aku mendekat ke ranjang pasien, dimana ada Andre yang tergeletak tak berdaya disana. Hanya terdengar suara nafasnya dan suara alat-alat yang bekerja disekeliling ruangan ICU.

"Ris..." Panggilnya lagi, kali ini lebih terdengar lirih karena kini matanya sudah menatapku yang berdiri kebingungan.

"Ndre, kamu sudah bangun? Kamu perlu sesuatu? Biar aku bantu ambil--"

"Aku hanya butuh kamu, Ris." Potongnya.

Ah, bagaimana ini? Aku harus jawab apa. Bisakah aku menghindar saja sekarang?

"Aku..aku panggilkan Kak Helen dan Bang Beni dulu diluar." Aku ingin berbalik tapi kali ini tanganku ditahan oleh tangan Andre yang lemah, membuatku urung melangkah keluar ruangan.

"Aku malu, Ris." Ujarnya parau.

"Malu? Malu kenapa?"

"Karena akhirnya kamu melihatku dalam keadaan lemah begini." Ujar Andre, matanya berkaca-kaca.

"Ndre, kamu ngomong apa. Aku panggilkan Dokter saja ya sekalian cek kondisi kamu."

"Ris, maafkan aku."

"Iya iya." Walau aku tak tahu kenapa Andre meminta maaf, tapi aku mengiyakan saja ucapannya. Aku pun melepas perlahan tangan Andre yang sedari tadi masih memegangi lenganku dan mulai berjalan keluar ruangan untuk memberitahu keadaan Andre pada saudara-saudaranya.

Tak berapa lama, Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Andre. Disitulah aku baru menyadari Andre sudah dirawat selama satu minggu di ICU, akibat menderita penyakit yang cukup serius. Tumor otak stadium dua.

...*...

"Udah hampir tiga hari ini Andre dalam masa kritis. Seharusnya dia melakukan operasi pengangkatan tumor itu secepat mungkin tapi dia gak mau!" Kak Helena berbicara saat kami sudah berada diluar ruang ICU. Dokter masih didalam sana mengecek keadaan Andre.

"Kenapa Andre nggak mau operasi, Kak?" Tanyaku yang tak tahu apa-apa. Jujur saja, penyakit Andre yang serius membuatku terkejut sekaligus prihatin pada kondisinya.

"Dia takut sama resiko pasca operasi, Ris." Sahut Bang Beni. "Dia takut kehilangan beberapa memori ingatannya, yah..semacam Amnesia gitu lah, dan kamu tahu apa yang paling takut dia lupain?"

Aku menggeleng.

"Kamu! Dia takut operasi itu bakal buat dia jadi lupain kamu!" Sambung Bang Beni yang membuatku melongo seketika.

"Ris, bujuk Andre untuk operasi ya. Kami takut penyakitnya semakin parah." Celetuk Kak Saski-Istri Bang Beni.

Aku terdiam dengan memi-lin ujung blus yang ku kenakan. Kenapa harus aku? Apa setelah bertahun-tahun perpisahan kami Andre masih juga mencintaiku seperti katanya dua tahun lalu? Tapi, dua tahun lalu aku sudah menolaknya, bukan? Dan selama dua tahun ini kami juga tidak pernah bertemu lagi ataupun berkomunikasi kembali.

"Tapi, kenapa harus aku?" Tanyaku sambil menggaruk pelipisku sendiri.

Ketiga orang yang berdiri dihadapanku seketika menoleh, mereka yang tadinya lesu mengingat kondisi Andre, kini malah menatapku dengan lekat dan serius.

"Karena cuma kamu yang bisa membujuknya, Ris!" Celetuk Kak Helena. "Dia pasti nurutin mau kamu. Please... Tolong kami, Ris!" Lanjutnya.

Ucapan Kak Helena diangguki oleh Abang dan Iparnya.

Akupun mendesah pasrah, aku akan mencoba membujuk Andre agar mau melakukan operasi seperti kata mereka.

"Tapi ini sudah sore, Kak. Boleh gak kalau aku pulang dulu. Soalnya Ola..."

"Biar aja dulu Ola di Rumah kami, Ris. Dia juga senang bermain sama Gea, Echa dan Zona. Disana juga ada Suster Mila yang bakalan urusin keperluan mereka." Ucap Bang Beni.

Aku tertunduk. Sebelum menuju Rumah Sakit, Ola memang ikut pergi bersama kami. Tapi, mereka menyarankan menitipkan Ola dirumah utama alias rumah orang tua mereka yang dulu pernah ku kunjungi dua tahun lalu saat ditolong Andre. Disana ada Gea dan Echa anaknya Bang Beni dan Kak Saski. Ada juga Zona anaknya Kak Helena. Ola langsung senang dan berbaur dengan mereka.

Tak berapa lama, Dokter keluar ruangan dan kami semua serentak melihat kearah lelaki berjas putih itu. Kami menunggu ucapan Dokter perihal kondisi Andre.

"Bagaimana kondisi adik saya Dok?" Tanya Kak Helena tak sabaran.

Dokter itu mengangguk.

"Begini, pasien harus segera melakukan operasi. Andre masih bisa sembuh karena tumor ditemukan lebih dini dan berada di stadium awal. Tumornya masih bersifat jinak, karena masih di stadium 2, masih bisa sembuh bila dilakukan operasi pengangkatan tumor seluruhnya. Namun, jika operasinya terus ditunda, tumor akan berkembang dan naik jadi stadium yang lebih tinggi. Kalau sudah begitu, tumor mungkin saja menyebar ke jaringan lain yang terdekat atau bahkan kembali lagi meski pengobatan telah dilakukan. Pada kondisi ini, penderita tumor sulit sembuh secara total." Penjelasan Dokter membuat saudara-saudari Andre itu menjadi pias seketika. Begitupun denganku, aku sudah tak tahu lagi bagaimana pucatnya wajahku saat mengetahui keadaan Andre yang baru saja ku dengar.

"Jika pasien dan keluarga sudah setuju untuk melakukan operasi. Segera beritahu pihak kami. Saran saya lebih baik jangan ditunda lagi, karena saat ini Andre hanya mengandalkan obat-obatan dan pereda rasa nyeri di kepalanya."

...*...

Setelah mencuci muka di wastafel umum Rumah Sakit, aku kembali menuju koridor ruang ICU dimana Andre dirawat. Disana masih ada Kak Helena yang menunggui Andre diluar ruangan. Kak Saski dan Bang Beni memutuskan pulang untuk mengecek keadaan anak-anak sekaligus membersihkan diri tentunya. Kami sudah sepakat untuk bergantian menjaga Andre. Walau sebenarnya aku sangat tak habis pikir kenapa aku mau-maunya berada disini.

"Maaf ya Ris, kami jadi benar-benar merepotkan kamu." Ucap Kak Helena menatap sendu padaku.

Aku mengangguk. Aku sudah berdiskusi pada diriku sendiri agar nanti membujuk Andre melakukan operasi seperti saran Abang dan Kakaknya. Tadi, aku ingin langsung menemuinya kembali dan membujuknya, namun Andre tertidur akibat obat yang Dokter sempat berikan padanya.

Aku sudah merasa segar walau hanya bisa mencuci wajahku saja. Padahal seharusnya akan lebih baik jika aku melakukan ritual mandi. Tapi, aku belum bisa melakukan itu karena sekarang berada di Rumah Sakit. Sepulang dari sini aku akan melakukannya, tugasku hanya membujuk Andre dan setelah itu aku bisa menjemput Ola lalu pulang kerumah.

Aku meminta izin pada Kak Helena agar bisa menemui Andre dan dia mengizinkan dengan senang hati.

Aku masuk dan menatap lekat wajah pemuda yang pernah aku cintai dengan sungguh-sungguh itu. Ia belum terbangun, baguslah.. setidaknya aku bisa menangis sekarang. Yah, aku menahan rasa sesak dalam hatiku sedari tadi. Rasa sesak yang muncul setelah mengetahui penyakit Andre, mengetahui keadaannya dan apa yang menggerogoti tubuhnya. Sebuah tumor kini bersarang di kepalanya.

Air mataku yang menganak sungai sudah meluncur bagaikan air bah. Aku tidak mau siapapun melihat pecahnya tangisanku saat ini, karena aku paling bisa menutupi perasaan. Aku tidak mau apa yang aku rasakan bisa ditebak oleh orang lain. Dan inilah saatnya aku meluapkan semua sakit dihatiku melihat kondisi Andre sekarang. Saat tidak ada yang bisa melihatku menangisi Andre termasuk Andre sendiri pun tak boleh melihatku yang seperti ini.

"Andre... sembuhlah. Jangan begini!!" Ucapku dalam hati. Hatiku seketika meronta-ronta ingin berteriak histeris didepan Andre. Rasanya aku tidak kuat lagi, aku terisak-isak sendiri menatap tubuh Andre yang tak berdaya.

"Kenapa kamu nangis?" Tiba-tiba mata Andre terbuka. Sejak kapan ia sadar? Ah apa aku ketahuan sedang menangisinya sekarang?

"Ndre..A-aku, aku..." Mendadak aku tergugu.

Tangan Andre yang lemah terulur ke wajahku, dia menghapus jejak-jejak airmata di pipiku. Seulas senyuman muncul diujung bibirnya. "Jangan menangisi aku. Aku bukan lelaki lemah." Ujarnya.

Aku masih terisak walau sangat ingin ku hentikan tapi airmataku malah semakin menjadi-jadi mendengar penuturan Andre.

"Ka-kalau begitu.. kamu, kamu mau kan me-melakukan op-operasi..?" Tanyaku kembali dengan tergugu.

Andre tersenyum. Aku mengernyit melihatnya.

"Aku gak mungkin melakukan itu. Kalau aku sembuh tapi aku jadi lupa sama kamu, gimana?"

.

...Bersambung......

1
Sari Sukrik
ya ko begitu ka...padahal ceritanya bagus, sedikit kecewa karna di stop sepihak😔😔
Yetti Dimas
andre bahagia nya tuh sama kamu ris,, kasian udh kelamaan nunggu.
Umisah Asther
Riris terima Andre dia tulus jangan di tolak...kl di tolak babang Andre buat Q aja🥰
Chyntia Rizky 🖋️: hihihi author nya juga mau kak😅
total 1 replies
Chyntia Rizky 🖋️
maaf banyak typo...next aku perbaiki 🙏🙏🙏
Blue Sky
next kak
Dinni Fhartina
seru
Yetti Dimas
lanjutkan
Umisah Asther
jangan biki salah paham ris
Chyntia Rizky 🖋️: 😅😅😅😅✌️✌️
total 1 replies
Chika Kaboru Muhama
lanjut
GelsanuSahra: Mampir diceritaku yuk Tak Ada Kata Sayang
total 1 replies
Dinni Fhartina
tapo jadi bingung
Dinni Fhartina
makin seru
Yetti Dimas
lanjuttt
Ida Martini
lanjut thor
Blue Sky
lanjut...
Blue Sky
Aku pikir bakal jd istri pura2 ris. hahahaa
Yetti Dimas
Riris jgn galak galak sama Andre ah. Andre tulus cintanya
Chyntia Rizky 🖋️: berasa kayak dinasehati kak helena nih si Riris. hehehe
total 1 replies
Ida Martini
lanjut..
Chyntia Rizky 🖋️: siap kak..
total 1 replies
Blue Sky
selamat utk status barumu, Ris
Umisah Asther
semoga kamu bahagia ris
Blue Sky
pokonya riris hrs sama andre lah ya...😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!