Sang pewaris tunggal telah menghilang bak di telan bumi. Dia mengalami amnesia dan memiliki kehidupan yang baru.
Setelah sekian lama, kebenaran baru terungkap. Akankah dia mengingat keluarganya kembali?
Diantara dua wanita yang ada di dalam hatinya, siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Rumah Sakit
"Ibu!" panggil Alana dari arah pintu kamar yang terbuka, lalu berlari ke arah Bintang yang terbaring lemah di atas tempat tidur, memeluknya erat.
"Kau sudah pulang sayang?" tanya Bintang tersenyum, membalas pelukan Alana.
"Sudah Bu.." sahut Alana, melepaskan pelukannya. Duduk di tepi tempat tidur, menatap sendu wajah Bintang terlihat kurus, terdapat lingkaran hitam di kedua bola matanya menandakan kalau Bintang tidak pernah lelap dalam tidurnya.
"Di mana kakakmu, Viona?" tanya Bintang.
"Kakak pergi ke rumah sakit bu," jawab Alana.
"Iya sayang, kakakmu pasti pulang larut malam. Tadi dia belum sempat makan." Kata Bintang selalu merasa khawatir dengan kesibukan Viona yang bekerja di rumah sakit sebagai Dokter.
"Bagaimana kalau aku antarkan makanan buat kakak Viona?" usul Alana.
"Boleh sayang, tapi..kau tidak boleh sendirian." Pesan Bintang.
"Ah ibu, aku sudah besar. Ibu jangan takut, ya?" protes Alana.
"Baiklah sayang, tapi kau cepat kembali ya."
"Iya Bu!' sahut Alana, membungkukkan badan. Mencium kening Bintang sesaat, lalu berdiri. "Ibu baik baik di rumah ya." Pesan Alana tersenyum mengembang, di sambut anggukkan Bintang. Kemudian Alana beranjak pergi dari kamar pribadi Bintang, menuju dapur menemui Quenby.
"Oma!"
Quenby yang tengah menyiapkan makan siang menoleh ke arah Alana.
"Hei sayang!"
"Oma, aku mau ke rumah sakit. Boleh bantu aku siapkan makan siang buat kakak?" pinta Alana.
"Boleh, kenapa tidak?" Quenby tertawa kecil, mengusap lembut rambut Alana. "Tunggu sebentar, aku siapkan dulu."
Alana mengangguk, lalu duduk di kursi memperhatikan Quenby menyiapkan makan siang untuk Viona ke dalam kotak makanan.
"Selesai!" ucap Quenby menyodorkan kotak makanan ke hadapan Alana.
"Terima kasih Oma!" sahut Alana, lalu berdiri dan mengambil kotak makanan di atas meja. "Aku pergi dulu Oma."
Quenby menganggukkan kepala, tersenyum samar. Lalu duduk di kursi memperhatikan punggung Alana hingga hilang dari pandangan.
"Rava, anakku. Di mana kau Nak..ibu kangen kamu, nak." Ucap Quenby lirih, matanya berkaca kaca.
"Kau jangan bersedih, aku yakin Rava putra kita masih hidup." Timpal Avram, mengusap lembut bahu Quenby.
Quenby menoleh, mengusap tangan Avram di bahunya. "Ya, aku tahu itu."
****
Sementara Viona sudah sampai di rumah sakit. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menenteng kotak makanan.
Tiba tiba langkahnya terhenti memperhatikan seorang wanita hamil, kesulitan untuk berdiri. Alana berlari ke arah wanita tersebut yang tak lain Lily tengah menunggu Raiden yang berada di ruangan lain berbicara dengan Dokter.
"Tante, mari kubantu!" Alana meletakkan kotak makanan di atas bangku, lalu ia membantu Lily untuk berdiri.
"Terima kasih sayang, siapa namamu?" tanya Lily menatap wajah Alana.
"Alana, tante." Kata Alana lalu mengambil kembali kotak makanannya. "Tante lagi menunggu siapa?" tanya Alana.
"Suamiku, dia sedang berbicara dengan Dokter." Jawab Lily tersenyum.
"Baiklah tante, aku pergi dulu." Kata Alana menundukkan kepala sesaat.
"Baik sayang, sekali lagi terima kasih."
alana mengangguk, lalu beranjak pergi meninggalkan Lily. Tak lama kemudian Raiden datang setelah beberapa menit.
"Sudah selesai?" tanya Lily.
"Sudah, kita pulang." Kata Raiden, menggenggan erat tangan Lily kemudian mereka melangkah bersama meninggalkan rumah sakit.
"Tadi aku bertemu gadis kecil, anaknya cantik dan baik." Lily menceritakan pertemuannya dengan Alana.
"Oya? siapa namanya?" tanya Raiden.
"Alana." Sahut Lily.
"Alan.." ucap Raiden pelan. "Nama yang cantik."