Baca Chapter Bonus Eliziane ❤️
Cinta pertama dan terakhir.
Kalimat singkat ini terdengar begitu mustahil, terlebih saat kita sudah di pertemukan dengan cinta yang baru. Novel ini menceritakan perjuangan dua lelaki bersaudara, yang berusaha menjaga cinta pertama tanpa harus menyakiti orang lain.
Kenan Hermawan, jatuh cinta pada gadis cantik yang tidak lain adalah adik angkatnya. Di hari pernikahan adiknya, ia menawarkan diri menjadi pengantin pria pengganti, karena lelaki yang akan menikahi Eliana ternyata sudah memiliki keluarga.
Salah meminang. Mungkin itulah yang di alami oleh Kean Hermawan. Ia terjebak dalam cinta dua gadis kembar, Riana dan Rianti. Ia jatuh cinta dengan Rianti, tetapi orang tuanya meminang Riana.
Untuk kisah mereka selanjutnya, simak langsung di sini 🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Pantai
Kenan mendongak, menatap langit malam yang begitu indah di pandang mata. Tidak hanya bintang yang nampak memenuhi langit, bulan pun ikut nampak di sana. Smoking Area, di sinilah Kenan berada. Berdiri sendiri di balkon khusus yang di sediakan untuk pelanggan hotel yang ingin menghirup asap bernikotin tanpa mengganggu pengunjung lain.
Wajah sedih Eliana kembali melintas, membuat hatinya ikut berdenyut. Sudah benarkah keputusannya hari ini ? Benarkah keputusannya hari ini hanya semata-mata untuk menyelematkan nama baik keluarga, ataukah ia memang masih mengharapkan Eliana menjadi miliknya. Entahlah, dia hanya ingin menjalani sama seperti hari-hari biasanya, namun, melihat gadis yang ia jaga selama puluhan tahun itu menangis, membuat hatinya ikut sedih. Ketakutan mulai hinggap, takut jika ia ikut andil menambah kesedihan Eliana.
Gadis itu merasa bersalah karena tidak hanya mengecewakan kedua orang tua mereka, tapi juga membuat rencana pernikahannya dengan anak teman Ayahnya harus di batalkan. Walaupun ia memang tidak terlalu berharap pada pernikahan yang di rencanakan oleh ibunya itu.
Berbagai pertanyaan mulai berkecamuk di otaknya. Apakah ia mampu membahagiakan Eliana ? Ataukah akan semakin menambah daftar kesedihan gadis itu.
Drrrrttt...drrttt...
Getaran ponsel dari dalam saku celana berbahan kain yang ia kenakan menyadarkan Kenan dari lamunan. Ia menatap layar ponsel dengan dahi mengkerut.
"El." Gumamnya saat melihat nama istrinya terpampang di layar ponselnya. Ada apa gerangan gadis itu menelfon nya.
"Ada apa El ?" Tanyanya setelah mengusap ikon hijau. Kenan berusaha untuk terdengar busa saja, meskipun kini dadanya berdebar, karena biar bagaimanapun keadaan mereka saat ini tidak lagi sama.
"Abang di mana ?" Tanya Eliana pelan dari ujung ponsel.
"El maafkan Abang
"Mau temani aku jalan-jalan sebentar ? Suntuk banget Bang ngurung di kamar terus." Sela Eliana cepat.
Kenan mengerti, mungkin saat ini Eliana tidak ingin membahas sesuatu yang membuat mereka kembali canggung.
"Ini sudah malam El ?" Ujar Kenan. Ia ingin Elina beristirahat, gadis itu terlihat lelah, tidak hanya fisiknya tapi juga hati gadis itu sangat kacau.
"Bang bisa ngga sih kalau aku minta itu langsung di turutin, lihat Kean dia ga banyak bicara dan langsung nurutin kemauan aku. Rasanya aku mau tukar suami aja sama Riana."
Kenan yang mendengar celotehan adiknya ralat istrinya, seketika terhenyak. Baru beberapa menit yang lalu ia mendapati Eliana sedang menangis, dan kini mode menyebalkan istri nya itu sudah kembali.
"Iya Abang ke kamar sekarang." Putus nya lalu segera melangkah meninggalkan balkon tempat ia berdiri menuju kamar di mana Eliana berada.
****
Di dalam kamar, Eliana terus bolak balik bagaikan setrikaan. Setelah berbicara banyak ham dengan sang Ayah, ia ingin memulai membiasakan diri dengan keadaan. Toh ia dan Kenan memang sudah lama saling mengenal. Bahkan laki-laki yang baru saja mengambil alih tanggung jawab dari sang Ayah itu, menjadi salah satu lelaki terbaik dalam hidupnya. Meskipun Kenan tidak seperti Kean yang selalu menuruti semu keinginannya, namun, ia juga tahu jika kasih sayang Kenan padanya sama besarnya dengan kasih sayang Kean.
Pintu kamar terbuka perlahan, Eliana segera menghentikan langkah kakinya yang terus mondar mandir di pinggiran tempat tidur. Ia menatap laki-laki datar itu sebentar kemudian melangkah mendekat.
"Mau kemana ?" Tanya Kenan cepat.
"Terserah Bang, asal keluar dari kamar ini. Aku suntuk." Jawab Eliana segera menarik lengan kokoh suaminya.
Kenan menutup pintu, lalu menarik tangan Eliana menuju ranjang.
"Mau ngapain ?" Tanya Eliana cepat saat Kenan memaksa tubuhnya duduk di atas ranjang.
"Bang..
"Ngga usah ngeres otaknya." Pukul Kenan di kepala Eliana, lalu melangkah menuju satu buah koper yang tergeletak di atas lantai.
Pipi Eliana memerah, karena Kenan menembak apa yang bersarang di otaknya tentang Abang kesayangannya ini.
"Kamu tuh, mau buat ibu ngamuk lagi saat melihat kamu keluar dengan pakaian seperti itu ?" Omel Kenan sambil kembali melangkah menuju ranjang, dengan dua buah kain di tangannya.
Kenan membantu Elina mengenakkan switer rajut untuk menutupi atasan piyama yang berlengan pendek, kemudian berlanjut memasangkan hijab dengan hati-hati di kepala istrinya.
"Aku penasaran, kenapa Abang senang banget memasangkan jilbab di kepalaku dulu ?" Tanya Elina mengalihkan suasana.
Jika dulu ia akan merasa biasa-biasa saja jika wajah mereka sedekat ini, tapi sekarang rasanya ada sesuatu yang begitu mengganggu.
"Aku ngga suka lihat ibu-ibu marah." Jawab Kenan. Dia kembali berdiri tegak, setelah selesai dengan urusannya.
"Hanya karena Ibu ? Bukan karena menyayangi ku ?" Tanya Eliana lagi.
"Nggak, aku ga suka aja ibu marah-marah setiap hari karena kamu yang susah banget di bilangin." Jawab Kenan.
"Ah dasar, kenapa bukan Kean aja yang nikahin aku sih." Gumam Eliana kesal. Namun, ia tetap merangkul lengan kokoh Kenan seperti biasa ia lakukan saat Abangnya ini mengajak dirinya berjalan-jalan.
Sepasang pengantin baru itu keluar dari kamar mereka, lalu melangkah menuju lift untuk turun menuju lobi hotel.
Terlihat tidak ada kecanggungan, tapi percayalah keduanya hanya sedang berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja agar bisa menutupi debaran jantung yang menggila dari keduanya.
****
Kenan mulai memacu mobilnya keluar dari bastmen hotel, lalu mulai membelah jalanan Jakarta. Eliana terus saja berceloteh seperti biasanya. Gadis yang memang tidak pernah kehabisan topik untuk di bahas, walaupun orang yang sedang ia ajak bercerita hanya sesekali menimpali.
Jalanan Jakarta masih cukup ramai, klakson dari kenderaan yang sedang menggunakan jalanan yang sama terdengar saling bersahutan di pemberhentian lampu merah.
"Kita kemana Bang ?" Tanya Eliana.
"Ke pantai, ga mungkin aku ajak kamu ke mall dengan piyama seperti itu." Jawab Kenan.
"Woi aku ini istri kamu loh, jangan dingin-dingin terus. Nanti kalau aku tertarik dengan laki-laki manis baru tahu rasa."
Sama seperti biasanya, Kenan tidak menanggapi. Tapi percayalah, ia akan menghajar siapapun yang berani melakukan itu pada istrinya.
Mobil berwarna hitam yang di kendarai Kenan berhenti di sisi jalan dekat pantai. Memang panti di Jakarta tidak seindah pantai lain di pulau-pulau wisata, tapi masih mampu untuk memberikn ketenangan.
Eliana keluar dari dalam mobil, sembari mengeratkan tangannya pada switer rajut yang ia kenakan. Angin laut berhembus, menerpa tubuhnya. Hijab berwarna hitam ikut beterbangan terbawa angin.
Kenan ikut melangkah dan berdiri di samping Eliana yang sedang berdiri di atas bebatuan pantai. Keduanya masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Ada banyak hal yang ingin mereka utarakan, namun mungkin belum tahu bagaimana caranya memulai.
Deburan ombak di bebatuan terdengar dengan begitu jelas. Eliana mengajak Kenan untuk duduk di bebatuan pantai itu.
Gadis kecil yang menjadi prioritas Kenan dan Kean dulu, kini memangkas jarak. Memeluk erat lengan lalu bersandar di bahu kokoh Kenan, sama seperti dulu saat gadis itu membutuhkan perlindungan pada kedua kakaknya.
Ngapain tidur disofa
Mending batalin saja
Adakah sedikit saja rasa bersalah pd El ?
Punya derita masing -masing