Wang Xi Yue adalah anak gadis dari seorang perdana menteri yang suka sakit-sakitan sejak kecil. Suatu saat, ia meninggal dalam usia 17 tahun dan pada saat itu juga roh Nara masuk ke dalam tubuh Xi Yue (Yue-er).
Nara adalah seorang wanita muda di era 21 yang melakukan transmigrasi ke abad kuno. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa berada di era kuno tersebut setelah ia tewas akibat pengkhianatan kekasihnya sendiri.
Nara melanjutkan hidupnya dengan tubuh Xi Yue. Ia banyak mengalami lika-liku dalam kehidupannya sekarang baik itu di harem perdana menteri Wang (ayah kandung Xi Yue) bahkan sampai saat ia berhasil masuk ke harem istana kerajaan.
Adapun kisah cinta yang tersirat dalam cerita ini. Mau tau kelanjutan kisah Nara? Yuk, ikuti terus ceritanya! Jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya, vote jika suka, dan likenya juga!😊
Selamat membaca🙏😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jilid 11
Lu You ketakutan. Ia langsung bersujud mohon ampun pada jenderal.
"Jenderal, ampuni saya! Saya salah. Saya mohon, jangan kurung saya dipenjara bawah tanah. Saya janji, saya akan memperbaiki sikap saya. Saya janji, saya tidak akan mengulanginya lagi!" kata Lu You memelas dan menangis.
"Sekarang malah jadi cengeng, tadi sombongnya bukan main," ejek jenderal.
"Jenderal, tolong ampuni putra kami!" pinta tuan besar Lu yang ikutan bersujud disamping putranya.
"Tuan besar Lu, akan tiba waktunya kita ketemu di pengadilan negara. Aku dengar dari pengakuan putra kesayanganmu, kalau ada beberapa orang hebat dibelakangmu yang kerja sama dalam penggelepan uang. Aku hanya ingin tahu, uang yang tuan hasilkan itu darimana saja. Jadi, bersiap-siaplah!" kata jenderal memperingati tuan besar Lu.
"Apa yang kau ceritakan tadi pada jenderal?" tanya tuan besar Lu pada Lu You.
"A.. aku... aku tidak sengaja bilang kalau pejabat dan petinggi negara suka ke rumah ayah untuk minta uang gelap mereka," aku jujur Lu You.
"Dasar anak tidak berguna!" maki tuan besar Lu sambil memukul Lu You berkali-kali.
"Suamiku, apa yang kau lakukan? Jangan menyakitinya!" pinta nyonya besar Lu sambil melindungi putranya dari serangan pukulan yang dilontarkan suaminya.
"Aku tidak sengaja ayah, ibu," kata Lu You merasa bersalah.
"Hentikan drama kalian!" titah jenderal tegas pada keluarga Lu. "Sekarang, lebih baik kalian pulang dulu!" suruhnya.
"Terima kasih! Terima kasih atas kebajikan jenderal!" ucap tuan besar Lu penuh syukur sambil memberikan hormat.
"Terima kasih, jenderal!" timpal nyonya besar Lu.
"Ayo, kita pulang sekarang!" seru tuan besar Lu pada istrunya dan membawa jalan terlebih dulu.
Nyonya besar Lu membantu putranya agar segera berdiri dan kemudian membawanya turut serta.
"Tuan muda, aku belum mengizinkanmu pergi," kata jenderal melihat kepergian Lu You.
"Bukankah jenderal yang menyuruh kami pulang?" tanya nyonya besar Lu heran.
"Aku menyuruh nyonya dan tuan untuk pulang, bukan dia," jawab jenderal sambil melihat ke Lu You.
"Bagaimana ini, ibu?" tanya Lu You manja.
"Lu You, ibu akan menunggumu diluar," kata nyonya besar Lu yang akhirnya menyerah.
"Pengawal, bawa dia ke kereta!" suruh jenderal pada pengawalnya untuk membawa Lu You ke kereta kudanya.
"Baik, jenderal!" sahut sih pengawal yang menuruti perintah atasannya.
Setelah kepergian Lu You dan pengawal, tuan Rong Zhi makin mencemaskan putrinya Yun Xiang.
"Jenderal, apa putri saya juga akan dihukum?" tanya tuan Rong Zhi.
"Tidak!" jawab jenderal. "Tuan dan yang lainnya harap bersujud, karena titah kaisar sudah ditanganku!"
Tuan Rong Zhi dan keluarganya bersujud dihadapan jenderal menanti dibacakannya sebuah dekrit kerajaan. Jenderal membuka sebuah rol dan membacanya dengan lantang, isinya :
..."Kepada yang terhormat perdana menteri kesehatan Wang Rong Zhi dan keluarga, diminta agar mengikutsertakan salah satu putrinya untuk masuk istana dan melakukan tes pemilihan selir untuk para pangeran istana. Syarat utamanya harus berusia minimal 16 tahun, sehat jiwa dan raga, serta siap mental mengikuti ujian yang ditetapkan dari istana. Apabila tidak ada yang diikutsertakan, maka akan dikenakan sanksi berupa denda ribuan tail emas. Demikian dekrit ini dibuat atas perintah kaisar Li Bing Guan."...
"Selesai!" ucap Jenderal sebagai kata terakhirnya.
"Terima kasih, kaisar. Semoga kaisar panjang umur dan sehat selalu!" seru keluarga Wang serempak memberi penghormatan terakhir.
Jenderal menyerahkan rol tersebut pada tuan Rong Zhi. Tugasnya sudah selesai. Nyonya Rui senang mendengar dekrit itu dan besar kemungkinan ia akan meminta putrinyalah yang akan dicalonkan.
"Tuan, kita calonkan Yun Xiang saja kesana. Bagaimana pendapatmu?" saran nyonya Rui yang tidak bisa menutup kebahagiaannya.
'Yun Xiang mau mencalonkan diri? Baguslah!' batin Nara yang malah senang kalau dirinya tak terpilih.
"Yun Xiang? Aku rasa, itu bukan ide yang baik," jawab tuan Rong Zhi. "Jangan bahas sekarang!" pintanya yang tampak stress.
"Tuan, dalam dua hari lagi putri anda sudah harus berada di istana dengan membawa plat dari keluarga ini. Hamba permisi dulu!" kata jenderal sambil berpamitan. "Satu lagi! Hamba rasa, nona muda Yun Xiang tidak pantas ikut dalam acara ini, karena ia sudah memperlihatkan tabiat aslinya tadi. Maaf kalau hamba lancang! Permisi!"
'Dasar jenderal brengs*k!' umpat nyonya Rui yang tak terima anaknya di vonis seperti itu.
'Kalau Yun Xang tidak bisa, berarti sisa aku sama Xi Yue. Aku tidak mau masuk istana. Aku takut tidak lolos dan akan dijadikan pembantu disana,' batin Shiya cemas sambil memainkan jari-jarinya.
Setelah kepergian jenderal dan keluarga Lu, mereka kembali ke tempat mereka masing-masing. Masing-masing ibu berperan menasehati putrinya agar bisa ikut dalam pencalonan pemilihan selir di istana.
Di kediaman Shiya..
"Bu, aku mohon, jangan suruh aku ikut ke istana!" pinta Shiya sambil bersujud didepan nyonya Meili yang sedang duduk.
"Dasar kamu susah diatur! Kamu harus tahu, kalau kamu bisa jadi selir dari salah satu pangeran disana, itu akan menaikkan derajat keluarga kita. Apa yang kamu cemaskan?"
"Adik, pikirkan baik-baik! Kesempatan ini sangat jarang terjadi," kata Li Xun ikut memperingatkan adiknya.
"Benar kata kakakmu! Kamu harusnya bersyukur bisa ikut serta," timpal nyonya Meili. "Apa kamu mau jadi anak durhaka?" ancamnya.
"Baiklah, bu! Aku akan ikut sesuai permintaan ibu," kata Shiya nyerah dan pasrah.
"Nah.. gitu dong! Itu baru putri ibu," kata nyonya Meili bangga sambil membantu putrinya bangun. Ia langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Ibu ingin yang terbaik buat kamu."
Di kediaman Nara..
Nara berbincang dengan nyonya Su Shi dipekarangan halaman kediaman Nara. Tepatnya dibawah pohon rindang yang menyejukkan.
"Nara, bagaimana pendapatmu tentang pemilihan acara itu?" tanya nyonya Su Shi yang ingin mendengar pendapat putrinya.
Nara memasang wajah memelas berharap dikasihani agar tidak menyuruhnya ikut serta.
"Bu, aku tidak ingin ikut mencalonkan diri ke sana."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin dijodohkan. Aku masih belum mau terikat dengan pernikahan. Semoga ibu tidak marah dengan pengakuanku!"
Nyonya Su Shi membelai rambut Nara yang panjang dan lembut itu. Ia tersenyum dengan keputusan Nara.
"Apapun itu yang sudah kau hendaki, ibu akan mendukungmu."
Nara merasa senang, nyonya Su Shi tidak terlalu menuntutnya. Akhirnya mereka berpelukkan saling memberikan dukungan dan kekuatan.
Di kediaman Yun Xiang..
Keadaan terbalik dengan yang lain, Yun Xiang sudah kena tamparan dari ibunya sendiri sebagai pelampiasan emosinya yang tak terbendung lagi sedari tadi ditahannya.
"Ini semua gara-gara kamu, anak sial*n! Kalau kamu tidak genit dengan tuan muda Lu itu, kamu pasti yang akan dicalonkan menjadi selir di istana," kata nyonya Rui marah-marah.
"Ibuuuuu...!" seru Yun Xiang sambil menangis.