Rey Putra menikahi Zena Widuri. Pernikahan mereka terjadi karena adanya perjodohan dari orang tua Rey. Siapa sangka, ternyata Zena di jual oleh Bapaknya sendiri hanya demi mendapatkan uang secara instant.
Di awal pernikahan mereka, sifat asli Rey mulai bermunculan. Belum lagi Zena mendapatkan perlakuan buruk dari keluarga Rey dan keluarganya sendiri.
Zena bertahan demi mendapatkan uang bulanan untuk mewujudkan impiannya sukses di Dubai. Namun tanpa diduga ia di bantu oleh seseorang yang baru ia kenal.
Zena hanya mencintai lelaki di masa lalunya yang bernama Farhan. Setelah bertemu Farhan, percintaan dan kehidupannya menjadi rumit.
Mampukah Zena mempertahankan rumah tangganya? Atau tetap bersama Farhan?
Jangan lupa like dan koment ya teman, supaya aku semangat terus untuk menulis 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liena Villasparty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : Menunggu
Di kamar, Zena langsung mengambil ponselnya. Ia ingin mengecek balasan komentarnya di channel youtube.
Alhamdulillah, ternyata youtubernya merespon komentarku.
Youtuber tersebut juga memberikan nama sosmed, tempat menjual alat serta bahan hiasan dinding resin. Zena langsung mengecek dan follow akun yang direkomendasikan. Tertera harganya cukup menguras kantong, tidak lupa ia mencatat nama bahan, alat serta harganya di buku kecil.
Aku harus bisa menyisihkan uang bulanan untuk membeli bahan-bahannya. Jadi sebisa mungkin aku hemat belanja. Semoga bisa menghasilkan karya yang bagus dan di minati banyak orang, aamiin. Harapan Zena.
Setelah selesai mencatat dan mempelajari ulang cara tutorial di youtube, Zena melihat ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Saatnya untuk sholat ashar, ia bergegas wudhu dan sholat.
Setelah sholat, Zena bingung mau ngapain. Iseng-iseng ia menelepon Nina, sahabatnya.
Tet!
"Hallo, kamu lagi ngapain Nina?" Zena mendengar suara sedikit bising di seberang telepon. Mungkin Nina sedang berada di luar, pikirnya.
"Hei Zen, aku lagi di luar nih. Ada apa?" Nina menjawab dengan suara berbisik.
"Siapa itu sayang? Ayo selesaikan makannya, Mama mau pulang nih," ujar seseorang di dekat Nina.
"Ssttt...,"
Deg! Sepertinya aku kenal dengan suara itu, tapi apakah iya? Rasanya tidak mungkin, kebetulan saja suaranya sama.
Zena merasakan ada yang mengganjal dihatinya. Tapi ia menepis perasaan negatif itu karena ia mempercayai Nina yang sudah dikenalnya sedari kecil.
"Nina, maafkan aku mengganggumu. Aku pikir tadi kamu lagi santai, ya sudah, kapan-kapan aku telepon balik," Zena mengakhiri percakapannya.
"Oke Zen, maaf ya," hanya itu yang di jawab Nina.
Klik!
Zena mematikan ponselnya. Sekarang ia bingung mau ngapain, Rey belum juga pulang ke rumah. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar rumah, ia bermaksud untuk main ke rumah Pak Sutris, tetangganya.
Zena keluar rumah dan berjalan menuju rumah Pak Sutris. Terlihat Pak Sutris dan dua anaknya sedang menyusun plastik-plastik di sudut rumah mereka.
"Selamat sore Pak, Lilis," sapa Zena ramah.
"Eh Mbak Zena, lagi jalan-jalan sore ya?" Lilis menyahut sapaan Zena. Pak Sutris menoleh dan tersenyum sambil mengambil plastik-plastik yang sudah ia kumpulkan.
"Lagi nunggu suami Mbak pulang, bosan di rumah sendirian. Jadi Mbak mampir ke sini," jawabnya sambil memperhatikan Lilis.
"Mbak, terima kasih makanannya. Langsung habis, enak buatan Mbak. Istri saya suka sekali," ujar Pak Sutris antusias.
"Oiya? Syukurlah Pak, semuanya suka,"
"Lilis, sini sebentar. Tolong bantu Ibu," terdengar teriakan dari dalam rumah memanggil Lilis.
"Iya Bu," jawab Lilis dan segera menuju ke dalam rumah sambil berlari kecil. Adik kecilnya juga ikut masuk mengikuti Lilis.
"Istri saya lagi sakit Mbak, belum bisa bangun dari tempat tidurnya. Bentar ya Mbak," Pak Sutris ikut masuk ke dalam rumah, seakan khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya.
Zena duduk di kursi kayu yang sudah reot sambil menunggu mereka keluar. Tidak beberapa lama, Pak Sutris keluar.
"Ibu sakit apa Pak?" tanya Zena memberanikan diri untuk bertanya.
"Sakit usus buntu Mbak, harus segera dioperasi. Tapi yah, Bapak belum mampu," terlihat raut wajah sedih dari pelupuk mata Pak Sutris. Seakan takut dengan kesedihannya diperhatikan Zena, ia langsung mengambil plastik dan menyusunnya kembali.
"Bapak tidak pakai BPJS?" tanyaku.
"BPJS itu apa Mbak?" tanya Pak Sutris.
"Jaminan kesehatan dari pemerintah. Cuma kita harus bayar setiap bulannya sekaligus untuk satu keluarga," jawab Zena.
"Aduh, penghasilan Bapak untuk makan sehari-hari saja sudah Alhamdulillah Mbak. Kalau ikut BPJS, Bapak bayar pakai apa? Kalau ada uang lebih, Bapak pasti daftar, supaya si Ibu bisa langsung ditangani," Pak Sutris mengeluh, terlihat dari raut wajahnya ingin sekali masuk BPJS supaya istrinya lekas dioperasi.
Zena cuma bisa diam, karena melihat kondisinya saja belum pasti bagaimana kedepannya. Ingin rasanya ia membantu mengobati istri Bapak Sutris, tapi saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Semoga Bapak dan keluarga bisa mendapatkan rezeki yang berlimpah ya, pasti nanti ada jalan keluarnya Pak," Zena menghibur Pak Sutris.
Pak Sutris mengangguk.
Lilis keluar dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi dua gelas minuman teh manis hangat.
"Silahkan diminum Mbak, maaf cuma ada teh," ujar Lilis ramah, ia meletakkan nampan di atas meja yang terbuat dari ban bekas.
"Aduh, tidak usah repot-repot Lis. Rumah Mbak dekat kok,"
"Silahkan Mbak, ini belum seberapa dengan makanan yang sudah Mbak berikan ke keluarga saya," ujar Pak Sutris.
"Kebetulan saja Pak waktu itu saya ada kelebihan makanan. Terima kasih ya Lilis," Zena mengambil gelas di atas nampan dan menyeruputnya pelan-pelan.
"Mbak, kalau saja Kakak Lilis masih hidup, pasti seumuran sama Mbak," ucap Lilis dengan nada sedih.
"Oh, Lilis punya Kakak ya? Cowok apa Cewek?"
"Cewek Mbak, cantik. Ia meninggal karena kecelakaan saat umurnya tujuh belas tahun, sekarang umurnya dua puluh," jawab Lilis.
"Seumuran dong sama Mbak,"
"Iya, makanya kalau lihat Mbak, aku seperti melihat Kakakku sendiri. Eh, maaf Mbak, bukan bermaksud..," Lilis menghentikan ucapannya sambil melirik Bapaknya.
"Tidak apa-apa Lis. Anggap saja saya seperti Kakakmu," ujar Zena sambil tersenyum.
Lilis cuma nyengir karena takut jika ia salah bicara. Pak Sutris hanya diam sibuk dengan aktifitasnya.
"Kak, aku mau mandi," tiba-tiba adik Lilis yang masih kecil keluar dari rumah, menghampiri Lilis dan menarik tangannya.
"Mbak, aku tinggal dulu ya. Ito minta dimandiin,"
"Iya silahkan Lilis. Mbak juga sekalian mau pamit pulang. Takutnya suami Mbak sudah sampai di rumah," ujar Zena.
"Kapan-kapan main ke sini ya Mbak, sekalian nanti ketemu Ibuku," Lilis menggendong adiknya.
"InsyaAllah. Pak, Lilis, saya pamit pulang dulu,"
"Oiya, silahkan Mbak. Terima kasih kunjungannya," jawab Pak Sutris.
Zena mengangguk, sedangkan Lilis langsung membawa Ito ke dalam rumah.
Zena berjalan menuju ke rumahnya. Belum terlihat tanda-tanda Rey pulang, karena mobilnya belum terlihat di dalam garasi. Ia menutup pagar dan langsung masuk ke dalam rumah.
Adzan magrib sudah berkumandang. Rey belum juga menampakkan batang hidungnya. Sebenarnya Zena tidak peduli, tapi semakin lama ia merasa kesepian di rumah besar Rey ini.
Setelah sholat magrib, Zena mempersiapkan makan malam untuk dirinya sendiri. Saat makanan hampir selesai dibuat, terdengar bunyi bel dari luar. Ia bergegas keluar dan ia berharap itu adalah Rey.
Ternyata tidak, yang datang ke rumah adalah cateringnya Rey. Tanpa banyak tanya, ia langsung menerima makanan tersebut. Makanan catering Rey, ia letakkan di atas meja dapur.
Zena membuat makan malam di dapur untuk dirinya sendiri. Setelah selesai, ia langsung makan.
Mas Rey kemana ya? Kenapa lama sekali, sudah dari tadi siang, belum pulang juga. Jangan bilang pulangnya tengah malam, aku tidak mau begadang.
...****************...
jangan lupa mampir di novelku 😊