Indonesia
NovelToon NovelToon
LARAS

LARAS

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Teen Angst / Tamat
Popularitas:40.7k
Nilai: 5
Nama Author: CallMeVi

Mendengar sendiri dari mulut kekasih jika, orang yang kita anggap spesial nyatanya memiliki nama orang lain di hatinya bukan perkara yang mudah untuk diterima.

"Arkan, salah Laras apa?" tanya gadis itu setelah bisa mengontrol diri, mengesampingkan rasa sakit yang menusuk uluh hati.

Laras serta Arkan duduk bersebelahan di bangku taman komplek, mereka memutuskan untuk berpindah tempat karena tidak ingin Luna atau kerabat Laras yang lain melihat.

Kepala Laras terangkat ke atas guna melihat hamparan bintang di gelapnya malam. "Laras kurang apa?"

"Jujur Ras, gue kadang malu sama temen-temen gue, mereka selalu menjelek-jelakan lo, gue kadang malu punya pacar kayak lo. Gadis kutu buku yang kurang gaul."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CallMeVi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Dimanakah?

...Selain kurangin begadang, kurangin juga overthinking. Biar otak engga miring. ...

----CallMeVi

...»»---Sҽʅαɱαƚ MҽɱႦαƈα---««...

‍**Beberapa** orang mengatakan jika kaum hawa telah berkumpul akan terjadi dosa, bukan. Mereka tidak berdosa karena berkerumun, lebih tepatnya jika perempuan telah duduk bersama mulut tidak akan ragu untuk membeberkan segala hal, mulai dari skincare, barang branded, mantan, teman yang suka hutang, musuh dari musuh, belum lagi masalah curhat yang sudah pasti terjadi di manapun serta kapanpun selagi ada kesempatan.

Hal diatas juga dialami oleh ketiga gadis unggulan yang kini sedang duduk di kursi kafe, tempat langganan yang dimiliki secara sah oleh Gavin.

Satu kaki telanjang Ava yang di balut sneakers berwana putih yang senada dengan atasan serta rok selutut yang ia kenakan di letakan ke atas kaki yang lain selepas mendengar curhatan Laras. "Jadi, kalian pacaran?"

Laras menganguk mantap dengan senyum cerah, hari ini akhir pekan dan dirinya memilih menghabiskan waktu bersama kedua sahabat serampung les sembari berbagi kabar gembira yang menimpa kemarin sore.

Aneska mengulurkan tangan ke arah Laras, tak lupa. Gadis cantik dengan rambut lurus yang hari ini diikat sebagian itu tersenyum tulus hingga menampilkan lesung pipi. "Gue seneng banget dengannya! Selamat babe!"

Laras menjabat balik tangan Aneska sekaligus melempar senyum tak kalah manis dari mantan ketua OSIS itu. "Terima kasih Aneska."

"Lo tahu respon Evan sama Ezra?" tanya Ava, meninggalkan secuil rasa bimbang menyergap Laras.

Aneska mengerutkan kening tak paham. "Apa hubungannya sama mereka? Yang menjalani hubungan itu Laras sama Arkan bukan mereka."

"Tapi mereka punya mulut yang bisa nyakitin Laras, lo tahu 'kan kalau mereka engga pernah suka sama Laras."

Aneska mengedikkan bahu. "Kita engga bisa mengontrol mulut orang untuk berucap tapi, kita punya dua tangan yang bisa menutup telinga."

Ava mengunci mulut, tanganya terulur mengambil minuman, suasana hati yang sudah buruk kian parah, awalnya Ava menolak keras kala Laras mengajak nongkrong di kafe milik Gavin yang notabene sang mantan pacar, akan tetapi mendengar suara Laras yang memohon menjadikan hati tidak kuasa menolak.

"Ras! Itu!" Aneska menepuk kencang lengan sahabatnya ketika mata melihat sosok pacar dari gadis imut di sampingnya.

Laras serta Ava mengikuti arah pandang Aneska dan menemukan raga Arkan yang baru saja masuk ke dalam kafe bersama ketiga sahabat karibnya, Ezra, Evan sekaligus Ara.

Ara yang baru saja memasuki kafe terkejut melihat kehadiran Laras bersama kedua sahabat di salah satu meja kafe. "Laras?"

Suara yang di keluarkan Ara berhasil menarik perhatian ketiga remaja di samping dan depan gadis cantik itu, ikut mengalihkan tatapan mengikuti arah mata Ara memandang.

Ezra, dengan tatapan malas menatap Arkan. "Gue engga mau bareng sama anak unggulan,"

"Ingat tujuan kita, kita kesini cuma mau ketemu Gavin, engga lebih." Evan mengingatkan tujuan utama mereka yang tidak bisa diganggu gugat.

Sedangkan Laras, ia hanya bisa diam saat Arkan sama sekali tidak menyapa dan lebih memilih menuju Gavin yang sedang menyiapkan kopi, benak Laras bisa menebak tujuan kedatangan mereka, berbaikan dengan Gavin, si pemilik kafe.

"See? Dia engga nyapa lo. Pacar macam apa dia." Ava mengompori Laras dengan sengaja.

Laras menggeleng. "Dunia Arkan bukan cuma ada Laras."

Aneska tersenyum penuh kemenangan mendengar balasan telak Laras. "Tuh! Makanya jadi orang, selain kurangin begadang, kurangi juga overthinking, biar otak engga miring."

Ava merasa kesal, ia berdiri dari duduk tak nyamannya sembari menarik kasar tas selempang yang membuat Laras ikut berdiri, mencegah kepergian sahabatnya. "Ava jangan pergi."

"Ngapain si?" Aneska kini sudah ikutan berdiri, meski ia sering beradu mulut dengan Ava, gadis berlesung itu juga tidak senang melihat kekesalan di raut wajah Ava.

Ava memejamkan mata, mengambil oksigen sebanyak yang gadis itu bisa agar emosi sedikit menurun sebelum kembali menatap kedua sahabatnya. "Gue bosen, ke mall yuk! Belanja atau nonton?!"

Pusat perbelanjaan di sebut membuat Aneska yang sejatinya penggila belanja menjadi bersemangat bahkan kini sudah mengambil tas miliknya. "Kuy! Udah lama gue engga cuci mata!"

"Guys, kalian tahu 'kan?" Laras memberi kode, tidak mungkin ia bisa leluasa belanja. Hidupnya tergantung dari keuangan Om dan tantenya, tentu akan sangat kurang ajar bila di belanjakan sesuka hati.

"Came on! Biar gue teraktir!" tawar Ava sembari merangkul Laras

🌻

Seminggu berlalu begitu saja tanpa ada yang berubah di hidup Laras meski ia sudah menyandang status pacaran namun, hingga kini orang yang menjadi kekasih hati belum jua muncul di hadapan membuat gadis itu ketar-ketir sendiri.

"What's wrong with Laras?" Aneska menyikut lengan Ava sembari memperhatikan Laras, gadis imut itu berjalan lesu menuju bangku yang ada di depan mejanya.

Ava yang duduk di samping Aneska menaruh kembali buku di depan wajah, mengikuti arah pandang sahabatnya.

Ketika objek kedua gadis itu telah sampai di depan mata tanpa bisa dikendalikan Ava sontak bertanya. "Laras, are you okay?"

Laras menaruh ransel di atas kursi lalu menatap kedua sahabat yang duduk di belakangnya. "Laras bingung."

"Kenapa?" tanya Aneska heran karena tidak biasa Laras bersikap sedemikian itu.

"Arkan, engga ada kabar satu minggu ini. Laras bingung harus ngapain."

Ava mengepalkan kedua telapak tangan menahan kesal. "Serius?! See? Arkan itu engga ada bedanya dari Gavin."

Aneska berdiri, menghampiri Laras lalu mengusap bahunya. "Lo udah cari tahu, emang dia engga balas chat atau telepon lo?"

Laras menggeleng. "Laras gengsi buat nanyain kabar duluan, Aneska."

"Laras, kalian ini pacaran. Komunikasi itu penting, kalau Arkan engga ngabarin 'kan bisa lo kabarin duluan, hubungan engga bakal jalan kalau ketutup gengsi."

Dengan polosnya Laras mengangguk lalu menatap Aneska. "Jadi, Laras nih yang hubungin duluan?"

"Terserah, lo engga mau 'kan kayak gini terus, telephone gih!" Dorong Aneska.

Mendapat pencerahan dari Aneska membuat mood Laras sedikit membaik lalu ia membuka gawai, mencari kontak atas nama Arkan untuk dihubungi namun yang mengangkat panggilan itu seorang perempuan yang mengatakan jika ponsel milik pacarnya itu sedang tidak aktif.

"Gimana?" Aneska bertanya karena sedari tadi Laras diam seribu bahasa.

Laras menurunkan gawai dari telinga dan memasukan kembali ke dalam saku. "Engga aktif." Gadis pendek itu murung kembali.

Melihat wajah murung Laras, Ava menjadi tidak tega lalu menarik tangan Laras keluar dari kelas menuju tempat dimana Arkan meraih ilmu.

Aneska menyusul keduanya, mencoba mengimbangi langkah kaki Ava yang terasa begitu cepat. "Kita mau kemana si?"

"Ava, kita jangan terlalu buru-buru." Laras menegur, mereka bertiga kini sudah menjadi pusat perhatian karena cara jalan yang dinilai seperti akan terjadi perang.

Ketika tiba di kelas Arkan, tanpa basa-basi Ava menyelonong masuk tanpa permisi membuat semua anak sosial tiga menatap ketiganya dengan tanda tanya besar.

Ava memindai seluruh sudut ruangan untuk mencari keberadaan Arkan yang ternyata tidak ada di dalam kelas, lalu ia menatap semua siswa yang ada disana. "Kalian lihat Arkan?!"

Semua siswa di kelas itu saling berpandangan sebelum kompak berkata jika mereka tidak melihat sosok yang sedang dicari ketiga anak unggulan yang seenaknya masuk kelas.

Ava melepas tangan Laras, berjalan mendekati papan tulis lalu menuliskan beberpa kata dengan spidol yang membuat Laras serta Aneska ingin segera pergi dari sana.

Aneska dan Laras menghampiri Ava yang sedang menuliskan dua kata. "Ava! Lo apa-apan! Kita pulang sekarang!" Tangan Aneska mengambil alih spidol sementara Laras telah menghapus kata 'Arkan bajingan!' dari papan putih itu.

»»--⍟--««

13 Februari 2021.

1
IK
makasih yaa thor atas cerita nya... cerita dsini ga adil buat evan, dy pasrah azz buat jd ayah dr anak ara, yg sy yakin evan udh mncintai laras. kasian evan n keenakn buat ara yg egois buat kbhagiaan dy sndri. smoga laras n genta sllu bhgia
CallMeVi: Aamiin entar aku undang kalau nikahan mereka:v
Eh makasih ya udah mampir, mood banget baca komentarnya 😁
total 1 replies
IK
yaa ampun thor ksian loh laras ga pnh dpt kbhgiaan n skrg mlh dlcehkn n kclkaan,
CallMeVi: Hidup memang sulit ditebak, engga apa biar yang baca sadar hidup penuh kejutan canda canda:v
total 1 replies
IK
rumit euy
IK
sumpah c Laras manusia terbodoh soal cinta
IK
itu c Dirga ank nya Luna sama Aji bkn... kok bs tergila2 sams c Laras sih
IK
kayak berita kriminal 😂 panggil mawar
CallMeVi: Akhirnya ada yang nyadar jokes saiya🤣
total 1 replies
IK
tusuk balik thor
CallMeVi: Entar balik jadi yang paling tersakiti:v
total 1 replies
IK
banyak... dsakiti untuk dpertahanin
CallMeVi: Nanya juga cinta, apalagi kalau engga luka:v
total 1 replies
IK
knp ngerasa Evan akan jdian sama Laras ya
IK
udh ketebak c Ara serigala berbulu dpmba.. ga tulus...
IK
c arkan pasti belain shavana terus.. udh mnding laras mundur azz
IK
ras inget jgn baper dulu
IK
laras hati nya baik bngt
IK
mulut nya ga dskolahin
IK
edan 500 soal
IK
moga azz Ara serius mau comblangin Laras
IK
izin naca yaa thor
CallMeVi: Monggo, makasih udah mampir
total 1 replies
Gusti Hamdiah
nangis bacanya,
Gusti Hamdiah
orang orang yg sok suci ,padahal diri mereka tidak lebih air comberan yg kotor ya thor
Gusti Hamdiah: jangan jangan di antara mereka ada yg berkelakuan tidak senonoh
total 2 replies
mama Al
Hai salam kenal
ceritanya keren

ditunggu feedback nya di semesta merestui kami
CallMeVi: Terima kasih sudah mampir:)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!