Judul Awal THANKS FRIEND : Not True Love For Classmate, karena berasa panjang kayak jalan tol, jadi diganti.
~~
Berawal dari kesalahpahaman sepasang sahabat Diba dan Erin, yang membuat keduanya menjadi berjarak. Keterdiaman keduanya membuat keadaan menjadi rumit.
Erin yang melihat segala sesuatu harus sesuai fakta dan sangat logis baginya, bertolak belakang dengan Diba yang sangat perasa dan bisa memaklumi dalam diam.
Ditengah perseteruan keduanya, ada Ihsan yakni teman sekelas satu jurusan mereka. Dia juga menjabat sebagai ketum organisasi yang terkenal dan disegani seantero kampus, sekaligus sifat playboy dibaliknya. Menjadi terlibat dalam permasalahan hati Diba dan Erin, yang berakhir menjadi trauma dan karma.
''Seharusnya kamu gak mendorongku, seharusnya kamu ngomong dari awal rin.. Kenapa harus gitu..'' ~ Diba
''Aku sakit hati. Kamu ngomongnya gitu, terus diemin aku. Aku gak ngerasa salah apa apa sama kamu padahal. " ~Erin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyginia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Miss Being Together
Miss Being Together (Rindu Kebersamaan)
.
.
.
Menjelang malam Diba baru selesai melaksanakan sholat maghrib dan bertadarus Al-quran.
Ia bersiap siap akan pergi keluar. Setelah sebelumnya mendapat pesan dari Gisel yang merupakan salah satu sahabatnya. Mengajaknya untuk makan malam di lesehan langganan mereka.
'Nanti makan malam bareng ya neng, di lesehan biasanya. Kira kira habis maghrib aku udah keluar kelas'
Diba pun langsung menyanggupi ajakan itu. Karena mereka memang belum bertemu setelah kembali ke jogja. Ia sangat merindukan sahabatnya satu itu. Sosok pribadi yang lembut dan sangat perhatian. Yang membuat Diba sangat nyaman dengannya.
Langkah kaki Diba perlahan menjauhi pintu kamar yang sudah terkunci rapat. Tiba tiba terdengar teriakan seseorang tepat disamping kamarnya, mamanggil namanya.
''Mbaakk Dibaaa''
Diba menghentikan langkah. Menatap pintu kamar asal suara yang langsung terbuka sangat lebar. Lalu muncul sosok yang tak asing baginya. ''Kenapa Han?'' Tanya Diba datar.
''Mbak Diba mau ke mana?''
''Mau makan di luar. Di lesehan deket kampus itu''
''Aku mau nitip boleh tidak?'' cengir Hana
''Iya boleh mau nitip apa?'' Diba akhirnya mendekat ke depan pintu Hana.
''Emm... Paket ayam bakar pakai nasi uduk terus sama es Jeruk. Oiya ayamnya yang paha ya mba. Aku gak suka d*ada, yaa walaupun punyaku gak besar amat sih.'' kata Hana sambil melihat kebawah. Membuat Diba mendelik.
''Astaghfirullah.. Pake dikaitin sama itu lagi. Iya iya nanti aku beliin. Ada lagi gak?'' Diba terkejut dengan perkataan tak terduga Hana itu. Meski ia tak heran dengan mulut asal ceplos Hana, tapi tetap saja Diba selalu terkejut.
''Enggk mba. Sudah itu aja cukup''
''Oke.. Tapi aku agak malem loh pulangnya. Sekitar jam 9 an malem lah''
''Tidak apa apa pale, aku tetap menunggumu mba''
''Oke.. Pakai uangku dulu aja ya. Nanti aja gantinya.'' Diba mulai melangkahkan kakinya pergi.
''Oke mbak.. Tengkyu. Lope you full'' Teriakan Hana yang masih terdengar Diba.
Tempat makan lesehan itu sedikit ramai ketika Diba tiba disana. Kebanyakan para muda mudi yang mandominasi tempat itu. Hal itu tak mengherankan, mengingat kawasan itu terdapat beberapa kampus dan sekolah. Sehingga banyak kost kostan di sekitarnya.
Diba melihat satu pasangan muda, yang ia yakini masih berstatus mahasiswa. Bergandengan mesra didepan meja kasir sedang mengantri. Ia terkadang merasa miris dengan fenomena itu.
Jauh dari jangkauan keluarga dan manjadikan kuliah sebagai alasan. Menjadikan mahasiswa yang merantau merasa bebas melakukan banyak hal, termasuk gaya berpacaran. Dengan dalih cinta, bahkan rela menyerahkan harta berharga mereka pada pasangan. Namun bila kesalahan itu berujung kehamilan, tak serta merta mau bertanggung jawab. Banyak kasus juga yang sampai tega menghilangkan nyawa bayinya, karena ketidaksiapan mereka dari segi mental ataupun materi.
Diba menghembuskan nafas panjang. Berdoa dalam hati, semoga ia tak sampai seperti itu. Ia tak sampai hati menyakiti hati bapaknya, apalagi sampai merasa kecewa. Dan ia yakin akan sangat menyesal bila itu terjadi.
Diba masih berdiri dibahu jalan menghadap kedalam lesehan. Tepukan dibahunya menyadarkan Diba dari lamunannya sejenak.
''Neng, kok gak masuk? Malah berdiri diluar.'' Gisel sudah memperhatikan Diba sedari dia berjalan mendekat ke lesehan. Merasa heran Diba hanya diam berdiri.
''Eh... Kamu sudah dateng neng. Iya aku nungguin kamu, barengan aja kita pesannya'' Diba jelas selalu terkejut dengan sesuatu yang tiba tiba.
''Padahal kalau mau duluan gak apa apa loh. Yaudah ayok masuk. Kelihatannya sedang ramai, semoga kita dapat tempat duduk'' Gisel mengedarkan pandangan, terlihat semakin banyak pengunjung yang berdatangan. Meski sebenarnya pasti ada yang take away saja tanpa makan di tempat. Tapi tetap saja ketika memesan harus mengantri juga.
Mereka akhirnya mendapatkan tempat duduk. Meski berada dipaling pojok dan berdekatan langsung dengan WC. Mereka hanya pasrah sekaligus berharap tak akan tercium aroma yang mengganggu ketika menyantap makanan.
''Gimana kabarnya neng? Sehat? Bapak juga sehatkan?'' tanya Gisel setelah mereka duduk dengan tentang.
''Alhamdulillah sehat neng. Bapak juga sehat. Kamu sama keluarga juga sehat kan?'' Diba mengambil tisu dan mengelap meja yang dilihatnya basah dan kotor sisa makanan pengunjung sebelumnya.
''Alhamdulillah sehat neng. Eh iya makasih ya oleh olehnya kemarin. Aku belum sempet ngasih kamu, malah baru ketemu sekarang. Nanti deh mampir kost aku bentar ya''
''Siap siap. Pasti aku ambil. Ifah gak ikut makan neng?'' tanya Diba, karena Gisel dan Ifah satu kelas. Ia jadi penasaran.
''Enggak. Dia ke sekre. Katanya ada yang dikerjain dulu. Apalagi mulai sibuk buat proposal Milad kampus kan. Sama perekrutan anggota baru BEM juga, dia juga harus buat anggaran dananya. Huh selalu sibuk lah dia''
''Ehh inget.. Departemen kita juga bentar lagi sibuk loh. Aku lagi yang dipilih jadi sekretaris MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur'an). Harusnya kamu loh neng. Kan kamu Koordinator Departemen Agama, jadinya yang ikut andil langsung. Atau enggak kamu juga yang jadi ketuanya lah.'' ucap Diba mengerucutkan bibir.
''Oh tidak tidak. Aku gak mau neng. Dan gak bisa. Aku gak cocok sama Sekum (Sekretaris Umum) BEM. Kita selalu beda pendapat loh. Belum lagi bayangin ngurus surat menyurat, bolak balik menghadap petinggi kampus, dan buat LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) nanti. Haduhh aku udah pusing duluan. Gak passion aku disitu. Kamu udah lebih dari cocok lah. Kesabaran kamu di atas rata rata soalnya''
Pembicaraan mereka terjeda sebentar oleh waiter yang mengantarkan pesanan mereka.
''Aku juga belum paham sebenarnya neng. Masih banyak yang perlu dipelajari. Proposal pun masih sedikit yang aku kerjain, perlu konsul dan diskusi ke banyak pihak dulu. Ya ampun, bayanginnya aja udah buat aku pusing duluan'' keluh Diba sambil mulai menyantap makanannya.
Diba memesan lele bakar dilengkapi nasi uduk, sambal bawang, lalapan dan segelas es teh. Ughh mantap. Sedangkan Gisel memesan Paket Nasi Ayam goreng dan es teh.
''Gak apa apa neng. Aku yakin kamu bisa kok. Aku juga pasti bakal bantu juga lah dikit dikit. Gak mungkin juga aku lepas tangan. Nanti pas rapat rutin BEM juga kan aku harus kasih laporan perkembangannya juga. Kita terus koordinasi pokoknya'' sambungan Gisel setelah menelan suapan partamanya.
Mereka menyantap makanan masing masing dengan khidmat. Suara alunan gitar tiba tiba terdengar dari pengamen jalanan, yang memang suka singgah di lesehan pinggir jalan seperti ini.
Pagi telah pergi, mentari tak bersinar lagi
Entah sampai kapan, ku mengingat tentang dirimu
Ku hanya diam, menggenggam menahan
Segala kerinduan, memanggil namamu
Di setiap malam ingin engkau datang
Dan hadir di mimpiku, rindu
(Tentang Rindu, Virzha)
''Neng. Tiba tiba kangen kebersamaan Grup Ciwi Ciwi Squad kita.'' Diba menghela nafas. Menghentikan makannya sejenak.
''Iya. Sama neng. Aku juga. Kita udah jarang banget ya ngumpul. Apalagi semenjak Mita keluar BEM, jadi malah sibuk sendiri sendiri. Mau ajak ngumpul dia pun jadi gak enak, karena pasti kita ada bahas BEM walau gak sengaja.'' Gisel pun juga ikut menghentikan makannya sejenak. Menyeruput es teh manisnya.
''Iya bener neng. Gak kayak dulu lagi pokoknya. Disini banyak banget kenangan kita ya, masih inget kita sering duduk dimana?'' Diba tersenyum mengedarkan pandangannya.
''Inget dong. Itu yang tepat disamping kasir sama dapur. Jadi keinget kita sering godain mas kokinya sampai dia salting. Hahaha'' Gisel tertawa geli.
''Hahaha.. Gara gara salting bahkan sampe salah bikin pesenan kita. Ya ampun mukanya itu lucu, polos pula. Padahal kan umurnya lebih tua dia dari kita'' tawa Gisel tertular pada Diba.
''Iya. Aku selalu gak berhenti ketawa kalau udah liat mukanya. Sayangnya sekarang udah gak kerja disini lagi ya, udah beda orang yang kerja. Tapi gak seasik mas itu. Mukanya yang sekarang jutek dan gak ramai deh pokoknya'' Gisel melik sedikit kearah meja kasir.
''Pokoknya sekarang serba berubah. Kita yang biasa berenam kumpul, sekarang hampir gak pernah. Suasana sama orang orang disini juga jadi ikut berubah. Apa emang siklus hidup bakal kayak gini'' sedih Diba.
Mereka berdua sama sama menghembuskan nafas panjang. Makanan dipiring yang tinggal seperempat itu dirasa sulit untuk dimakan lagi.
.
.
.
To Be Continued...
aku mendadak kepo wkwk