" Gue jadi pembantu .... arrrrrrrrrr "
Gimana jadinya seorang anak sultan jadi ART⁉ Penasarankan,Ikuti terus kisahnya,bagai mana ribetnya mengurus dua bayi besar sekaligus padahal dirinya bukanlah babysister.
Dan bagai mana pula kisah cinta mereka akan berjalan jika mereka dipertemukana dengan keadaan sedemikian membingungkan.
Akan kah Diandra bisamenerima perasaan cinta itu dan akan kah Dimittriv benar - benar membuka hatinya untuk wanita lain jika dihati terkecilnya masih ada sosok Isbel mantan istrinya.
Lalu bisakah Diandra meluluhkan hatinya disaat dirinya tak yakin cintanya bersambut.
🐼🐼 Pantengin terus ya mentemen ceritanya 🐼🐼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cipand, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XI
...RASA RINDU...
Tak terasa sudah 7 bulan dian berada dikediaman Diwangkara sebagai ART,suka duka yang dialaminya beragam sekali,dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari pekerjaannya saat ini.
Dan karna ini pula Dian sangat mengerti posisi Surti,Ijah,Mirna dan beberapa ART lainnya yang bernasib sama seperti dirinya yang suka diperlakukan secara kasar oleh anak dari majikan mereka.
Ada rasa bersalah yang begitu memuncak dan rasa sesak yang meghantam jiwanya saat dirinya teringat Surti inangnya yang selalu menemaninya selama hampir seumur hidupnya itu.
Tak terasa air matanya mengalir begitu saja saat ia mengingat bagaimana keterlaluan sikap dirinya kepada Surti.
Sesekali terdengar isak dari mulutnya yang dia tutup agar tak pecah tangisnya dan ta terdengar orang lain.Dian tak menyangka jika rasanya begitu sesak dan menghimpit.
Dian tau bagaimana perjuangan Surti saat menghadapinya sesabar apa Surti terhadapnya.Tapi entah mengapa saat itu Dian seperti buta dan tak mau meihat bagaimana perjuangan Surti.
Baginya saat itu adalah memang tugas Surti dan ya di harus menerima apapun itu tanpa bantahan dan tolakan.Namun sekarang Dian tau bagai mana rasanya jadi Surti.
" M**aafin gue sur** " gumam Dian masih sambil menahan isaknya agar tak semakin pecah.
Rasa rindu yang Dian rasa kini lebih besar kepada Surti dari pada ke ayahnya ya walaupun Dian tak bisa pungkiri semarah apapun dirinya terhadap ayahnya ia tetep rindu kepadanya dan juga kepada ibunya yang selalu membelanya.
" I miss you mom dad " ucap Dian lirih
Entah mengapa kerinduan itu semakin sesak dirasakan olehnya.Tapi Dian sadar dirinya belum bisa pulang sebelum bulan ke - 9 dari rumah ini.Tapi mengapa semakin dijalani malah semakin sesak yang Dian rasa.
Bukan lagi karna Amel yang sealu saja menindasnya atau pekerjaannya yang mulai dirinya terbiasa akan hal itu. Tapi mengingat bagaimana kelakuan Amel terhadapnya selalu mengingatkan dirinya akan keburukan dirinya sendiri terhadap surti.
Itu yang membuat Dian sesak dan rasa rindu yang tertanam pula yang membuatnya ingin pulang memeluk orang - orang yang dirindukannya.
_ *Ji**ka sekarang gue pulang itu sama saja gue ngaku kalah sama dad*_ Batin Dian. Dian masih punya sisi egois dalam dirinya karna tak ingin kalah dari pertaruhan sang ayah.
Tanpa Dian sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan setelah menghela napasnya lantas pergi begitu saja.
Orang yang mempregoki Dian tengah menangis adalah Amel,sejujurnya Amel ingin mengusik Dian lagi untuk menjahilinya,saat ini moodnya sedang tidak beres karna banyaknya tugas dari dosennya.
Namun entah mengapa perasaan ingin membuat Dian kerepotan itu hilang seketika saat Amel melihat bagai mana susah payahnya Dian menahan isaknya agar tak terdengar siapapun.
Ada setitik rasa sakit dihatinya tiba - tiba saja yang membuat dirinya merasa kesal karna telah bersimpati kepada Dian.Amel berfikir hatinya mulai tak beres karna dia bisa terenyuh melihat gadis yang selalu dia buat repot setiap harinya sedang menahan tangisnya.
_ Tu anak lagi kenapa si ? ampe segitunya kan jadinya gue ga bisa bikin dia kesel.. Ah elahhhhh _ Batin Amel menggerutuh.
Tanpa Amel sadari rasa sayang terhadap Dian mulai ada entah sejak kapan?.
*
Hari sudah larut tapi tak membuat mata seorang pria mengantuk,malah sebaliknya seperinya pria itu tengah terjaga dengan lincahnya mata itu melihat dan dengan lihainya buku - buku tangannya membolak balik setiap map yang berisi dokumen penting prusahaannya.
Sesekali keningnya mengkerut jika ada hal ganjil yang tertera dari dokumanya,dan mulai menandainya agar saat besok dia pergi kekntor bisa dikembalikan kepada yang bersangkutan untuk direvisi.
Dan kembali membolak - balik dokumen untuk ia tandatangani.Begutu terus sampai dokumen itu habis.
Waktu sudah menunjukan dini hari tapi mata Dimittriv masih saja terjaga dengan laptop yang kini tengah menyala,ya orang yang sedari tadi menandatangani dokumen adalah Dimittriv,Dimitriv adalah orang yang tegas,berkarisma dan tentunya sangat tampan.
Setelah semua dirasa selesai Dimittriv mematikan laptopnya lantas bangkit dari duduknya,dan berjalan gontai kearah kamarnya.Hari sudah sangat larut kantuk yang menyerang Dimittriv pun datang.
Kini Dimittriv sudah merebahkan dirinya dikasur King sizenya, sebelum terlelap Dimittriv menyempatkan mencium sayang kening anak laki - laki satu - satunya itu.
" Ninghet boy " ucap Dimittriv seraya memejamkan matanya.
**
Karna rasa rindu yang melanda diri Dian pekerjaan Dian sedikit terbengkalai,karna ketidak fokusan dirinya.
Sempat beberapa kali dirinya membuat kesalahan kecil yang selalu dimaklumi Bi Darti namun lama - kelamaan Dian merasa bersalah kepada Bi Darti dan kesal kepada dirinya yang terus saja tidak fokus.
Hal itu tak luput dari pengawasan Bi Darti dan membuat Bi Darti heran,pasalnya Dian sangat cekatan dan telaten sebisa mungkin Dian meminimalisir kesalahan.Tapi ini malah salah terus sedari tadi.
Sama persis seperti saat akan memasak gurame asam manis kesukaan Ryn,membuat Bi Darti harus mengulang membuat bumbu.
_ Ada apa dengan Dian hari ini tidak seperti biasanya ?_ Tanya batin Rani,Rani saja yang kurang peka bisa mengetahuinya.
Pasalnya Dian tak seperti biasanya,hari ini Dian berkali - kali membuat kesalahan,tak seperti biasanya,Dian memang sering membuat kesalahan tapi itu dulu saat pertama kali dirinya datang kesini,tapi setelah satu bulan,rasanya Rani tak pernah melihat Dian berbuat kesalahan.
Terkecuali soal Amel itu lain ceritanya.
" Dian lagi mikirin sesuatu ?" tanya Bi Darti hati - hati yang sukses membuat Dian menoleh kearahnya.
" Kenapa bibi tanya seperti itu ?" Dian balik bertanya.
" Tidak apa - apa hanya saja Dian hari ini beda " jawab Bi Darti.
" Ahhh ... Engga ko bi.. Biasa aja " sangkal Dian.
" Kamu ada masalah ya Dian ?" tanya Rani menimpali.
" Engga ko teh " jawab Dian dan kembali melanjutkan pekerjaannya memotong bawang.
" Jangan bohong ndok" ucap Bi Darti. Sesaat Dian menghentikan mengiris bawang merah yang membuat matanya pedas berair.
Dian kembali melanjutkan mengiris bawangnya,tanpa menjawab pertanyaan Bi Darti.
" Ada apa ?" kali ini Bi Darti berkata lebih lembut dari yang tadi.
" Ga apa - apa bi Dian cuman lagi kangen aja sama emak sama bapak " jelas Dian,Bi Darti dan Rani tersenyum.
Mereka berdua cukup tau bagai mana rasa rindu yang tertanam begitu berat,sedangkan pekerjaan tak bisa ditinggalka karna tangung jawab. Bi Darti juga paham bagai mana situasi dan kondisi Dian saat ini.
" Tapi Diann belum bisa pulang " ucap Dian.
" Tapi bukannya kamu udah lebih dari tiga bulan ya disini ?" tanya Rani
" Lebih teh " jawab Dian sambil sesekali mengaduk sop iganya.
" Berarti kamu sudah bisa minta libur buat pulang kampung an" jelas Rani.
" Iya teh tapi Dian belum bisa pulang Dian masih ga enak sama bapak sama ibu kan Dian disini belum ada satu tahun teh " ucap Dian.
" Seharusnya tidak apa - apa kan bi ?" tanya Rani meminta pendapat.
" Iya tidak apak - apa," jawab Bi Darti sembri menganggukanan kepalanya tanda setuju.
" Tidak apa - apa aku tak enak sama bapak sama ibu " jelas Dian
" Lagian kasian juga nona Amel ga ada yang batuin kaya teh Rani mau saja " tambah Dian. Kalimat terakhir Dian membuat Rani mengepalkan tangannya menjitak Dian.
" Haissss .. Sudah - sudah kalian ini " kembali Bi Darti menengahi keributan Rani dan Dian.
Lagi - lagi tanpa mereka sadari Amel mempregoki Dian yang tengah curhat.
kali ini Amel tau akan kesediahan Dian karna apa.
_ *Das**ar bilang ke kalau lagi kangen bokap nyokap loe .. Kan papah juga pasi izinin* _ Batin Amel .