proses pembelajaran hidup yang membuatnya sakit hati dan membalaskan dendam karena rasa kecewa.
jika dendam sudah terluapkan maka yang ada hanya sebuah penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Bab 12
Sore itu Ayress tengah sendiri di kamar, ia terdiam dalam kesepian saat tidak ada perawat yang menemani dirinya, Ayress menutup diri pada keluarga lainnya kecuali Didit, ada beberapa curhatan yang ia utarakan dan memastikan bahwa Didit tidak akan membuka obrolannya itu pada orang lain.
Saat pulang dari bekerja, Noella dan Riffat memutuskan untuk bertemu dengan Ayress yang masih ada di kamar, saat itu kedatangan mereka disadari oleh Ayress yang sedang menikmati kesendirian.
"Ay, apa yang kamu rasakan? Sepertinya kamu hari ini sangat murung sekali," ucap Noella duduk di ujung bibir ranjang.
"Oh, mungkin perasaan mu saja, aku tidak apa-apa kok," sahut Ayress melempar senyum menutupi semuanya.
"Ay, kamu yang sabar ya, kamu harus kuat, dan kamu harus yakin kalau kamu akan sembuh." jelas Noella yang sebenarnya tidak tulus itu.
Ayress tersenyum senang, lantaran melihat kakak dan kakak ipar nya itu begitu baik padanya, ia memberikan semangat pada Ayress meskipun tatapan nya mengatakan hal lain, dan itu dapat dirasakan oleh Ayress saat melihat senyum Noella juga Riffat.
Ayress menangkap ketidak-tulusan itu dari mereka berdua saat itu, namun Ayress tidak bisa berkata apa-apa lantaran ia tidak memiliki cukup bukti.
Setelah itu Noella dan Riffat pergi dari tempat itu, dan membiarkan Ayress dalam kesendiriannya. Saat itu Noella dan Riffat duduk di ruang keluarga, rumah terasa sepi sat itu karena nyonya Benita sedang pergi.
Ayress mengayun kursi rodanya keluar seorang diri, karena ia ingin mencari udara segar di luar setelah cukup lama berada di luar, di saat Ayress sedang berusaha mengayunkan kursi rodanya, ia menemukan Noella bersama Riffat sedang duduk menikmati kopi di ruang keluarga, saat itu Ayress berhenti lantaran mendengar namanya dipanggil, dan kala itu mereka tidak menyadari adanya Ayress di sekitar mereka.
"Mas, apa mungkin Ayress itu akan sembuh dari lumpuh nya?" tanya Noella, karena rumah sedang sepi, membuat Noella dan Riffat sangat tenang.
"Aku sendiri tidak yakin, tapi sepertinya Ay tidak akan sembuh, deritanya akan terus dia rasakan selamanya. Dia akan hancur perlahan dengan kehidupannya saat ini." jawab Riffat melempar senyuman puas.
Saat itu Noella ikut tersenyum senang, lantaran mendengar keyakinan suami tentang kesembuhan adiknya itu. Dan saat itu Noella terus berbicara hingga ia membuka tabir rahasia kejadian yang pernah mereka lakukan pada Neena dan Daniel lima tahun yang lalu.
Ayress pun mencuri dengar pembicaraan itu hingga ia mencurigai sesuatu, bahwa kejadian lima tahun yang lalu adalah rekayasa mereka berdua. Kedua tangan Ayress mengepal, ia mengurungkan niatnya untuk pergi mencari udara segar. Karena sudah tidak berselera lagi, Ayress mengayunkan kembali kursi rodanya sampai tiba di kamar.
Ia menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam, nafas Ayress tersengal, rasa penyesalan yang selama ini menghantui dirinya bukan lah tiada arti, dan ketika mendengar obrolan Noella dan Riffat beberapa detik yang lalu, itu sangat menambah rasa penyesalan yang saat ini dirasakan oleh Ayress.
Hingga sore hari, Ayress tidak keluar dari kamarnya. Ia mengunci dirinya dan melupakan makan siang begitu saja, entah mengapa ia sama sekali tidak merasakan apapun saat itu, ia ingin sekali marah pada Noella dan Riffat, dan ingin juga mengintegrasikan pembicaraan yang ia dengar, namun hal itu tentu saja tidak akan membuka tabir kebenaran.
Nyonya Benita dan Didit sudah kembali ke rumah, ia memanggil Noella yang di pasrahkan untuk menjaga Ayress selama dirinya pergi.
"Neo, apa Ay sudah makan?" tanya nyonya Benita menghadap menantunya itu.
"Emmm, sudah Mi," ucap Noella melempar senyum, namun senyum itu sedikit menunjukkan rasa takut, karena Noella memang tidak memberikan Ayress makan siang.
"Ini sudah waktunya makan sore Noe, tolong kamu ambil kan makanannya ya, biar Mami yang suapin Ay." pinta nyonya Benita.
Saat tidak ada Cyntia, nyonya Benita lah yang menggantikan Cyntia, memperhatikan makanan Ayress dan juga mengurus putranya yang sedang tidak berdaya. Noella pun kembali menghadap nyonya Benita dengan sedikit rasa takut, ia takut jika Ayress justru mengatakan bahwa ia tidak diberi makan siang.
'Aduh, gimana ini, kalau sampai Ay bilang aku belum ngasih makan siang, bisa mati aku.' batin Noella ketakutan.
Noella pun akhirnya memutuskan untuk ikut bersama nyonya Benita yang akan langsung pergi ke kamar Ayress, dan saat nyonya Benita membuka pintu kamar, pintu itu tertahan hingga ia sadar bahwa pintu kamar Ayress terkunci.
"Kenapa pintunya di kunci?" bingung nyonya Benita saat itu.
"A-aku sendiri tidak tahu Mi, apa mungkin Ay sedang tidak mau di ganggu ya," ucap Noella yang merasa sedikit lega saat itu.
"Ya tapi sudah jam makan sore, Ay harus minum obat. Kamu tolong ambil kunci duplikat kamar ini ya." pinta nyonya Benita tidak ingin menyerah begitu saja.
Noella mengangguk pelan dan segera pergi mengambil kunci yang diinginkan oleh nyonya Benita, saat itu Noella merasa sangat direpotkan dengan Ayress, apalagi saat itu nyonya Benita sangat mencemaskan putranya itu.
Saat pintu kamar berhasil dibuka, nyonya Benita menemukan Ayress sedang duduk di kursi roda, sejak tadi ia sama sekali tidak berpindah tempat. Di sana lah ia terpaku dalam diam karena tidak ada yang benar-benar ada di sampingnya sejak tadi.
"Ay, kenapa kamu mengunci pintu dari dalam?" tanya nyonya Benita ketika bertatapan wajah dengan Ayress.
"Aku hanya ingin sendiri Mi, aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun," ucap Ayress lirih.
"Ya tapi nggak bisa gitu dong sayang, kalau Mami mau jenguk kamu, gimana? Apalagi ini sudah hampir jam lima sore, kamu harus makan dan minum obat," sambung nyonya Benita berbicara pelan.
"Iya Ay, kamu harus makan agar kamu bisa cepat sembuh." timpal Noella ikut bicara.
Saat Noella berbicara, saat itu lah Ayress menatap sinis padanya, ia menatap penuh ketidaksukaan pada Noella ketika sudah mengetahui sikap buruk Noella, Ayress merasa sangat bodoh, karena bertahun-tahun lamanya tinggal bersama, baru kali ini ia melihat dengan langsung bahwa Noella dan Riffat sedang berbicara buruk padanya, apalagi kecurigaan Ayress yang sangat dalam tentang kejadian lima tahun silam.
"Mi, letakkan makanan itu di meja, biar aku sendiri yang makan," ucap Ayress yang tidak mau jika Noella berlama-lama di kamarnya.
"Tapi kamu yakin mau memakan makanan itu?" tanya nyonya Benita memastikan terlebih dahulu.
"Heum." singkat Ayress menimpali.
Ayress kembali bersikap dingin saat itu, dan membuat nyonya Benita akhirnya sadar bahwa putranya itu sedang tidak ingin diganggu, dan jika dirinya keluar, tentu saja Noella ikut keluar bersamanya.
Ayress meletakkan makanan itu di meja, dan membiarkan makanan itu hingga dingin tak tersentuh. Sejak siang tadi Ayress tidak makan, dan hal itu tidak membuatnya lapar hingga malam hari, saat itu nyonya Benita mendatangi kamar Ayress kembali, untuk melihat keadaan Ayress, dan ia juga ingin membantu Ayress pindah ke atas ranjang untuk istirahat.
"Ay, kau tidur ya, udah malam, kau harus istirahat," ucap nyonya Benita menyapa Ayress.
Saat itu nyonya Benita menemukan makanan yang ia antar kan ke kamar Ayress masih utuh dan tak tersentuh, nyonya Benita marah karena Ayress sama sekali tidak mengisi perutnya dengan makanan.
"Ay, kenapa kamu tidak memakan makanan yang Mami siapkan untuk kamu?" tanya nyonya Benita dengan nada kecewa.
"Aku belum lapar Mi," singkat Ayress menimpali.
"Astaga Ay, apa kau sesulit ini ketika Cyntia merawat mu, kenapa kamu membuat Mami marah. Kalau kau tidak makan, itu artinya kau tidak minum obat, dan kau tidak akan sembuh nantinya," omel nyonya Benita marah.
"Biarkan saja, toh ada orang yang ternyata tidak suka jika aku sembuh." celetuk Ayress pada maminya.
Mendengar hal itu tentu saja menumbuhkan pertanyaan pada nyonya Benita, ia tidak percaya jika putranya itu berkata demikian.