Indonesia
NovelToon NovelToon
Kinara

Kinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adzana Raisha

Pernah dikhianati membuat Kinara menyepi, menjauh dari dunia percintaan yang sempat membawanya terpuruk dan patah hati.

"Semua pria, sama saja. Pengkhianat dan pemain wanita." Satu kalimat yang pernah Kinara ucapannya di hadapan pria yang baru saja ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti Malaikat

Beberapa Tahun Lalu

"Gendut."

"Jelek"

"Dekil"

"Hitam."

laki-laki berusia 18 tahun, berpakaian khas seragam salah satu Sekolah Menengah Atas itu menutup telinga, kali makian serta cacian yang ia dapat dari teman kembali menyapa indra pendengarnya.

Sekuat tenaga ia tulikan pendengaran, namun setelah bertahun-tahun berlalu, anak laki-laki itu mulai tak tahan.

"Diamm!!." Suara teriakan yang keluar dari mulut Dipta, seketika membungkam bibir teman yang mengoloknya. Akan tetapi hanya sekejap, sebelum keheningan berubah menjadi deraian tawa. Mereka menertawakan kemarahan Dipta yang baru sekali ini mereka melihat setelah sekian lama ia dihujat.

"Hei, sudah berani kau ya?. Mau melawan rupanya. Memang kau fikir sudah punya kekuatan untuk bisa melawan kami." Anak laki-laki seusia Dipta yang memiliki tubuh tinggi, melotot. Kedua tangannya berkacak pinggang dan menatap tajam Dipta seolah ingin menelannya hidup-hidup.

Dipta, remaja bertubuh gembul itu sempat tertunduk selepas pandangan keduanya bertemu. Ia gentar namun di sisi lain ia pun tak terima ketika selalu diperlakukan semena-mena oleh teman sebayanya. Sedangkan seluruh keluarganya saja amat sangat menyanyangi dan selalu melindunginya.

"Setidaknya kalian tidak akan terus mengejekku."

Remaja bertubuh tinggi itu terbelalak, kemudian tersenyum miring. Ia seperti sedang mengejek.

"Bukankah kau memang pantas untuk diejek?."

Dipta menghela nafas dalam. Ia takut, terlebih pandangan seluruh siswa dalam satu kelas tertuju padanya. Sebagian dari mereka tentu terkejut, sebab tak mengira jika Dipta berani menjawab ucapan Boy, yang selama ini diketahui menjadi musuhnya.

Bukan setahun atau dua tahun Dipta di bully oleh teman-temannya, Dipta bahkan sudah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan itu semenjak baru saja memasuki Sekolah Menengah Pertama. Ya, hampir 6 tahun anak laki-laki itu merasakan. Terlebih pelakunya dipelopori oleh orang yang sama.

Boy Saputra. Anak laki-laki berdarah campuran yang memang memiliki paras rupawan diantara siswa lain itu selalu berbuat ulah. Mengejek, mencaci serta memaki siswa lain, menjadi aktifitas rutinnya di samping menuntut ilmu dalam setiap hari di lingkungan sekolah. Sudah tak terhitung korban, juga tak terhitung berapa kali orang tuanya dipanggil oleh pihak sekolah. Boy tak seperti siswa pada umumnya tetapi sudah mirip seperti preman sekolah yang tak punya tata krama. Orang tua Boy merupakan donatur terbesar dalam pembangunan sekolah, mungkin hal tersebutlah yang menjadi alasan utama dirinya tetap bisa bersekolah tanpa takut dikeluarkan.

Akan tetapi dari banyaknya siswa yang menjadi korban, Diptalah yang paling mendapatkan perlakuan paling kejam. Di bully setiap hari, pasti membuat mental anak laki-laki berbadan gembul itu terluka. Berulang kali pula orang tua Dipta menemui pihak sekolah. Meminta keadilan juga pengertian serta menceritakkan seperti apa tertekannya sang putra ketika diperlakukan demikian. Namun, pihak sekolah justru seperti enggan mengambil sikap.

Hari itu, di mana kedua orang tua Dipta ingi memindahkan sekolah putranya ke tempat lain. Di hari itu pula-lah, Dipta mengalami suatu kejadian yang membuat remaja bertubuh gembul itu justru memilih untuk bertahan.

Adu mulut antara Dipta dan Boy terpaksa terhenti begitu seorang guru memasuki kelas. Jika emosi dalam diri Dipta berangsur sirna namun berbeda dengan Boy. Remaja pendendam itu lekas mengatur strategi untuk membuat Dipta jera sekaligus berfikir ulang untuk menjawab semua kata-kata pedasnya.

Memasuki jam istirahat, Dipta di hampiri dua orang siswa yang cukup dekat dengannya. Setelah beberapa saat berbicara, kedua siswa itu berhasil membawa Dipta keluar kelas. Mereka berbicara dengan kaki terus melangkah, karna asiknya berbicara Dipta sampai tak sadar jika ke dua temannya itu membawa dirinya ke bangunan milik sekolah yang tak terpakai, dan tepat di depan sebuah toilet, Boy berdiri dengan kedua tangan bersedekap.

Dipta terkejut luar biasa. Terlebih menangkap serigai mengerikan dari bibir sang musuh. Remaja itu melirik ke kiri dan ke kanan. Rupanya bukan hanya ada Boy dan kedua teman tadi tetapi ada beberapa teman dari Boy yang berdiri di belakang remaja berwajah angkuh tersebut. Tubuh Dipta menegang. Tentu saja dia ketakutan. Dia juga tak habis fikir, bagaimana bisa ucapan pembelaan dirinya tadi rupanya dijadikan Boy sebagai bahan untuk kembali bersikap brutal. Dipta tersadar, jika posisinya sedang tak aman saat ini.

"Wah, si gendut item datang, yok beri sambutan," seru Boy dan seketika Dipta merasakan seluruh tubuh serta pakaiannya basah akibat tersiram air, dan ...

Bau.

Boy dan seluruh teman tergelak. Ia menangkap Dipta yang sibuk mengendus aroma tak sedap dari tubuhnya yang baru saja terguyur oleh air selokan.

"Bagaimana, enak?." Boy bertanya atau lebih tepatnya seperti basa basi.

Dipta menelan ludah seiring kedua tangannya yang terkepal erat. Demi tuhan, ia tak lagi terima ketaka diperlakukan demikian.

"Apa, mau marah?." Boy mendekat. Ia langsung menutup hidung saat aroma busuk itu menyapa indra pencium. "Bukan hanya Gendut, dan dekil. Aroma tubuhmu bahkan seperti sampah bbusuk." Boy berbalik badan dan berniat menjauh, namun siapa sangka jika Dipta dengan cepat mencengkeram kerah seragamnya dan dalam satu kali dorongan berhasil membuat remaja tampan itu tersungkur di atas bebatuan.

"Sekian lama aku diam, tapi sekarang tak akan lagi. Aku akan membalas apa yang sudah kau lakukan padaku." Sudah lelah atau entah mendaatkan kekuatan dari mana, Dipta berani untuk melawan Boy. Sebuah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Boy terkejut, begitu pun siswa lain. Meski terperangah namun dalam hati Boy terwa lebar. Ia bangkit menahan sakit dengan di bantu beberapa teman.

Tertatih ia berbalik badan untuk bisa melihat wajah Dipta yang menyedihkan. Wow, Boy bahkan melihat jika Dipta sampai mengepalkan tangan.

"Berani melukaiku sama saja dengan memperpanjang urusanmu padaku." Boy memasang wajah bengis, namun sayang, Dipta tak lagi gentar.

Boy maju selangkah, dan Dipta pun melakukan hal yang sama. Boy mulai bermain tangan, Dipta pun tak segan membalas. Mulai dari senggolan, sampai baku hantam. Boy dan Dipta seperti petinju yang tengah bertanding di atas ring, dengan beberapa siswa bertindak sebagai penonton. Di menit awal, tak ada yang berniat memisahkan perkelahian diantara Boy dan Dipta sebab mereka berfikir jika sudah sepantasnya kedua teman yang tak pernah akur itu diberikan ruang untuk menunjukkan kemauan. Biarkan saja, toh mereka ingin melihat Dipta membas perbuatan semena-mena Boy selama ini padanya.

Adu jotoos tak terelakan lagi. Tubuh gemuk Dipta rupanya tak membuat dirinya kesulitan untuk melayangkan tinju serta tendangan ketubuh Boy. Semtara Boy sendiri mulai kewalahan. Tangan dan kakinya yang panjang, rupanya tak sepadan dengan tenaga Dipta yang seperti kesetanan saat melakukan serangan.

"Hei, kenapa Diam?." Boy mencari bantuan. Ia melirik dan memberi kode pada beberapa siswa untuk ikut membantunya. "Ayo, serang dia. Jangan sampai lepas."

Seperti terhipnotis, beberapa siswa sontak mendekat dan tanpa ragu ikut memukul Dipta secara membabi buta.

"Aw..., berhenti!. Apa yang kalian lakukan?." Dipta menjerit saat bukan hanya ada dua tangan yang bergerak memukul tapi disusul beberapa tangan lain. Ia mulai kesakitan sementara Boy keluar dari kerumunan dengan bibir tersenyum puas.

"Tolong..., tolong!. Siapa pun, Tolong aku!." Dipta yang kesakitan terus berteriak, meminta pertolongan. Suaranya bahkan sudah terdengar lemah, namun beberapa siswa yang memukuli masih belum menyerah.

"Tolonggg!."

"Hentikan!. Apa-apaan ini?. Bubar atau ku adukan pada kepala sekolah." Suara seorang gadis membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Dipta. Mereka yang ketakutan ketika kepala sekolah disebutkan, lekas berlari tunggang langgang, termasuk Boy yang masih kesusahan berjalan.

Dipta yang terduduk dengan wajah tertunduk, lekas mendongak. Untuk mencari tau tentang sosok yang sudah menyelamatkannya.

"Kak, bangun," panggilnya. "Kau tidak apa-apa?. Ya ampun, wajahmu berdarah." Sigap, gadis kecil itu mengeluarkan beberapa lembar tisu dari dalam saku kemudian mengusap tetesan dari di bagian kening dan hidung Dipta.

Waktu seperti terhenti. Dipta tertegun, menatap wajah manis gadis kecil yang sedang berusaha mengusap darah di wajahnya. Senyum di bibir remaja itu terbit, ia tatap lembut malaikat penolong dengan ucapan penuh terimakasih.

Tbc.

1
indigosparkle
Lihat aku disini, pembaca yang selalu setia menanti~~
Manah Dabukke
Ceritanya makin seruuuu! Semangat Thor!
Wajah Boneka
Yok jangan kasih kendor updatenya!
Windy Miller
next lanjut pliss up up
with_mercii
ceritanyah bagus aku suka lanjutkan karya mu thorr👍
Cinta Misnaming
Halo Thor!! Aku masih menunggumu di sini, hanya untukmu~ Aku tunggu lanjutannya loh!
theseafiles
Makasih udh berkarya thor! Lumayan banget buat bantu aku ngabisin waktu luang! Semangat terus pokoknya
Winda Utami
cerita ini lebih lucu dibanding yg lain
with_mercii
aku rela begadang demi nungguin karyamu, thor!
Intan Haryanti
Kak author! Meskipun alurnya simple tapi ngena banget!
TexasTiger
Bagus thor terus di pertahan kan ya thor.....aku sampai salfok baca novelnya😂😂
moonstrucktraveller
Aku bacanya ngebut karena seseru itu!!
Adzana Raisha: Trimakasih, Kak sudah meluangkan waktunya untuk membaca
total 1 replies
JellyCuddles
bagus kok thor aku kalo baca novel gak liat rating kok.
Eja Drajat Adriansyah
Hari ini aku mantengin HP ku karena nunggu update-an dari author :( Suka banget :( lanjutannya jangan lama-lama
Adzana Raisha: Trims sudah mampir, Kak
total 1 replies
Sri Wahyuni
di awal aq suka sm s kinara tpi stelah putus dri s angga ko aq ga suka sm sikap nya sm s dipta hanya krn putus cinta s kinara jd oon bgtu
Sri Wahyuni
kinara ikuti az alur nya ga prlu nutup hti buat cwo lain jngn jd cengeng krn s angga msih ada yg lbih baik lgi dri s angga s arsen cinta sm kmu kmu trpuruk krn s angga sdang kn s angga happy2 az ga mkirin kmu
Catursiwi Nurhandayani
lepas dosen 1 ketemu dosen lagi mmg hrs seputar dosen kali y
Ariyanti
keren ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!