Rifki tak menyangka menikah dengan Nabila, mantan pacarnya. Wanita yang ingin dijauhi justru menjadi istrinya atas perjodohan dari orang tua.
Mereka menjalani rumah tangganya tanpa cinta. Rifki tetap berhubungan dengan pacarnya. Sementara Nabila sibuk bekerja. Kehadiran orang ketiga mampu memecah belah pernikahan yang terjalin.
Mampukah Rifki mempertahankan pernikahannya?
Atau ia memilih berpisah dan menikah dengan Linda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jepang
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Buru-buru Nabila melajukan motor meninggalkan rumah ibunya. Kesialan menimpa, ia yang ingin bangun jam empat justru malah bangun lebih lambat. Menjengkelkan, bukan?
''Pasti nanti Rifky marah-marah.'' Menambah kecepatan. Tak ingin terlambat gara-gara kecerobohannya.
Sejenak, berhenti di tepi jalan, mengambil ponselnya. Mencoba menghubungi Rifky yang mungkin saat ini sudah siap.
''Kenapa gak diangkat sih?'' gumamnya kecil.
Mencobanya lagi dan lagi, namun sama, tidak diangkat oleh pria itu. Terpaksa ia melanjutkan perjalanannya tanpa memberi kabar pada sang suami.
''Itu balasan yang pantas untuk kamu, siapa suruh semalam gak angkat telponku.'' Rifky sengaja tidak mengangkat telepon yang berdering. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan ponsel lainnya.
Hampir satu jam berlalu, Nabila sudah tiba di rumah. Ia langsung turun tanpa memarkirkan motornya. Menghentikan langkahnya melihat koper yang ada di belakang pintu.
''Mau sampai kapan lihatin koper itu terus, atau kamu mau aku tinggal,'' cetus Rifky dari sofa.
Nabila mengangguk cepat. Ia berlari ke kamarnya dan segera berkemas. Memasukkan beberapa baju saja ke dalam kopernya dan membawanya keluar. Setelah itu, ia bersiap mengganti baju dan juga memakai make up tipis khas ala Nabila.
Tak butuh waktu lama, Nabila keluar menghampiri Rifky. ''Aku sudah siap,'' ucapnya memberi tahu.
Tanpa menjawab, pria yang berstatus suaminya itu langsung keluar dari rumah. Sedangkan Nabila, mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke dalam satu mobil yang sudah disiapkan di halaman.
''Kemarin aku bertemu dengan Satia,'' ucap Rifky saat mobil sudah keluar dari gerbang.
Nabila terdiam. Lagipula, ia tidak ada urusan lagi dengan pria yang disebut suaminya. Baginya hubungannya sudah putus semenjak ucapan ijab qabul dikumandangkan. Tidak ada lagi yang perlu dibahas.
''Menurutku dia masih sangat mencintaimu. Apa kamu juga mencintainya?'' tanya Rifky menyelidik.
''Aku rasa kamu gak perlu tahu tentang isi hatiku. Lebih baik fokus dengan jalan. Aku gak mau membicarakan orang lain.'' Nabila menyalakan musik di ponselnya untuk mengalihkan suasana hatinya yang masih buruk.
''Kenapa harus marah? Aku kan cuma bertanya.''
''Tapi pertanyaanmu itu gak penting.''
Rifky membungkam bibirnya rapat-rapat. Menahan mulutnya yang sering kali hampir keceplosan. Entahlah, menggoda Nabila sudah menjadi kebiasaan hingga terkadang lepas kontrol.
Melihat pintu pesawat terbuka membuat Nabila sedikit tegang. Ia menghentikan langkah kakinya. Menekan dadanya yang bergemuruh antara takut dan ragu. Namun, tak bisa mundur begitu saja.
''Rifky, aku takut,'' ucapnya sembari menarik tangan suaminya dari belakang.
Rifky menoleh ke arah tangan Nabila yang mencengkram bajunya dengan erat. Jemari itu terasa dingin dan gemetar. Namun, ia malah tertawa melihat wajah Nabila yang tampak pucat dan dipenuhi keringat. Sungguh, wanita itu terlihat sangat lucu.
''Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?'' Melepaskan tangannya dan menatap ke arah lain. Mencoba untuk baik-baik saja di tengah rasa cemas yang menyelimuti.
''Ada, gak nyangka aja, ternyata kamu kampungan. Kalau tahu seperti ini mendingan kamu di rumah saja.'' Menarik kopernya lagi. Meninggalkan Nabila yang masih mengatur detak jantungnya yang belum stabil.
''Dasar egois. Mentang-mentang orang kaya dan sering naik pesawat, bisa-bisanya mengejekku, awas kamu ya.'' Berlari mengejar Rifky yang sudah tiba di depan pintu masuk.
Seorang pramugari cantik dan senyuman yang menawan menyambut kedatangan Nabila. Tidak hanya di depan pintu, namun juga mengantarkannya ke tempat duduk. Memberi tahu cara-cara memanfaatkan berapa fasilitas yang tersedia.
''Te-terima kasih," ucapnya gugup sembari memasang sabuk pengaman.
Menoleh ke arah Rifky yang duduk jauh darinya. Sepertinya pria itu benar-benar tak mempedulikan statusnya, terbukti dari raut wajahnya yang sangat cuek dan bahkan seperti orang yang tak saling mengenal.
Tak lama Nabila duduk, seorang wanita dan pria datang dan duduk di sebelahnya. Mereka terlihat romantis, kemungkinan besar pasangan suami istri. Si pria memasangkan sabuk pengaman untuk wanitanya. Saling menggenggam erat dan berbincang. Meski umurnya tak muda lagi, namun terlihat sangat mesra.
Mungkinkah hubunganku dan Rifky bisa seperti mereka, setidaknya kami saling menghargai. Tuhan, buka pintu hati kami untuk saling mengisi kekosongan. Seandainya dia bukan jodohku jauhkanlah kami segera, tapi jika dia jodohku. Dekatkan kami untuk beribadah di jalan-Mu.
Bayangan kebahagiaan masih terlihat samar. Entah sampai kapan pernikahan itu bertahan, hanya Sang Pencipta yang menggenggam semuanya. Nabila memejamkan mata. Setidaknya, lupa rasa takut yang masih menyelimuti.
Tokyo Jepang
Di sepanjang perjalanan menuju hotel, mata Nabila sudah di manjakan dengan indahnya bunga sakura yang ada di tepi jalan. Beberapa kali ia mengambil video dan membagikan momen bahagianya itu di sosial media. Bersyukur karena bisa datang ke tempat yang pernah diimpikan tersebut.
Sedangkan Rifky, pria itu terus mengamati setiap pergerakan sang istri dari samping. Menatapnya dengan nada tak suka, menurutnya terlalu lebay dan kampungan.
''Lain kali jangan malu-maluin. Untung hanya aku yang lihat, kalau orang lain mau ditaruh mana mukaku," cibir Rifky ketus.
''Biarin, yang penting aku gak pernah menyinggung namamu. Lagipula, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak ikut campur, kenapa kamu sewot,'' balas Nabila menohok.
Rifky terdiam, percuma saja membantah ujung-ujungnya akan menjadi perdebatan sengit. Yang waras mengalah, begitu kata hatinya.
Kedatangan Rifky dan Nabila disambut ramah manager hotel. Mereka dianggap tamu istimewa, selain masih kerabat dengan sang pemilik, nama Rifky juga cukup familiar karena beberapa kali bekerja sama dengan tempat itu.
''Selamat datang, Tuan. Kami sudah menyiapkan kamar seperti yang Anda pesan.'' Manager hotel menggiring Rifky dan Nabila menuju kamarnya.
''Terima kasih,'' jawab Rifky singkat tanpa memperkenalkan Nabila sebagai istrinya.
''Berapa kamar yang kamu siapkan?'' tannya Rifky setelah menekan pintu lift.
''Bukankah Anda datang untuk bulan madu dengan istri Anda?'' Menunjuk Nabila yang berdiri agak di belakang.
''Ada satu lagi temanku yang mau menginap di sini, nanti kamu siapkan juga untuk dia. Di sebelah kamarku,'' pinta Rifky.
''Baik Tuan."
Pihak hotel segera mempersiapkan satu kamar khusus seperti keinginan Rifky. Mereka tidak ingin membuat pria itu kecewa dengan pelayanannya. Tetap memberikan yang terbaik.
''Rifky,'' suara dari arah koridor menghentikan langkah Nabila dan juga Rifky. Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara, sementara sang manager sibuk berbicara dengan salah satu pelayan.
''Linda, kamu sudah datang?'' Rifky terkejut melihat seseorang yang di nanti. Mendekati wanita yang tak pak memanyunkan bibirnya.
''Kenapa kamu lama sekali, aku sudah kangen.'' Hampir memeluk tubuh sang kekasih, namun segera ditahan saat ada beberapa orang yang melintas.
''Jaga sikapmu, aku gak mau ada yang curiga,'' bisik Rifky di telinga Linda.
Bagaimanapun juga, ia tidak boleh ceroboh yang membuat martabatnya hancur.