Lavina Prameswari, mahasiswi semester akhir di fakultas ternama.Karena perjanjian antara Kakek Willi dan sahabat masa muda nya.Lavina tidak menyangka dan tak pernah terfikir,akan di jodohkan dengan seorang pria yang tak pernah ia kenal.
Mencoba untuk kabur dan menghindar di saat hari pernikahan.Nyatanya mobil yang dia tumpangi adalah mobil milik seorang pria Ameer Farzan Ghifari.
Berminggu-minggu melarikan diri,berbagi oksigen.Kedua nya terpergok oleh warga desa tinggal bersama dalam rumah kosong tak berpenghuni.
Bagaimana cerita selanjutnya.Ikutti terus karya ku ya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ♍Virgo girL 🥀🌸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 12 MARAH
"Ayolah kak sekali saja,aku tidak tidur di kasur yang empuk selama berhari-hari.Aku kangen dengan rasanya.Ayolah gantian ya?"
"Tidak bisa! ini kamar ku,jadi aku yang punya hak tidur di sini, kau di sofa saja.Lagipula sofa ku itu mahal,dan empuk"
Dari pagi hingga menjelang malam,baru kedua nya masuk ke kamar,berganti pakaian dan bersiap istirahat.
Hanya kedua keluarga nyatanya keluarga Ameer bahkan sangat banyak dan ramai,sepatu high heels yang Lavina pakai pun menimbulkan kemerahan di kaki nya.Tentu saja itu terjadi karena tidak terbiasa.
Matanya sudah merah,tubuh nya kaku,rasanya ingin tidur dengan beralasan sesuatu yang empuk.Belum juga menjatuhkan diri nya,Ameer sudah terlentang melintang di kasurnya.
Sudah bernego pun tetap saja Ameer tidak mau mengalah.
Merasa sedih dan tidak diperlakukan dengan baik seperti yang ibunya harapkan Lavina pun akhirnya mengalah,dan menjatuhkan diri nya di sofa.
Baby doll dengan celana selutut,atasan berlengan pendek.Sebagian baju nya sudah dipindahkan di rumah Ameer siang tadi.
Bibir nya mengerucut, bagaimana pun juga memang benar ini kamar Ameer,wajar saja dia berkuasa.
Merebahkan dirinya di sofa,selimutnya ia tarik hingga batas dada.
Bu.. semoga ibu bahagia di rumah,semoga ayah dan ibu tidak bekerja keras seperti biasanya.Hutang kakek sudah lunas,ayah dan ibu sudah terjamin.Aku tidak apa-apa seperti ini asal kalian bahagia.
Ameer terbangun karena suara tangisan.dia pun menajamkan telinga nya,Beranjak dari ranjang mencari suara itu.
Kening nya berkerut,ternyata Lavina menangis dalam tidurnya,mata itu terpejam tapi tangis nya hingga sesenggukan.
Dia menangis?? apa aku sejahat dan Setega itu?..Maaf jika aku terlalu keras padamu Lavina.
Tangan Ameer mengusap lembut pipi Lavina yang sudah basah.Hingga akhirnya dia mengangkat tubuh kecil itu ke ranjang,meletakan di sebelah sisi nya.
Posisi nya langsung berbalik dan meringkuk memeluk guling.Ameer tersenyum melihat itu.
Bukan nya bergantian tidur di sofa,Ameer malahan tidur di sebelah Lavina ber pangku tangan memandangi wajah istrinya.
Rambut yang hitam legam dan berponi.Masih dengan kuncir kudanya.Dan di lepas oleh Ameer.
Tidurlah yang nyenyak,aku tidak akan macam-macam padamu.Percayalah!
Tiba-tiba ia mengecup singkat kening Lavina.
Gadis itu pun bergerak membenahi posisinya, padahal jantung Ameer sudah berdegup kencang,takut istrinya terbangun.
.
.
"Mamah! kenapa tak ketok pintu dulu?"
Pagi-pagi sekali Meisinta masuk ke dalam Ameer dan terkejut dengan pemandangan di atas kasur milik anaknya.
Suara nya memekik dan menutup mulutnya,hingga anak lelakinya terbangun.
Anak dan menantunya tidur bersama, Ameer yang bertelanjang dada,lengan nya menjadi bantalan oleh Lavina.Posisi mereka berpelukan dalam selimut yang sama.
Merasakan pergerakan di sana Lavina menggeliat,bukan nya menjauh malah semakin merangsek di dada Ameer yang sudah membuka mata karna kedatangan mamahnya.
"Husttt!! mamah tidak tahu,lupa.Maafkan ma_"
"Ibuu,aku ingin pulang!" suara Lavina membuat Ameer dan Meisinta terkejut.
Dipikir bangun,nyatanya mata itu masih terpejam.
"Dia ngigau Meer?"
"Dari semalem mah,dia bahkan menangis.Apa karna aku yang terlalu keras dengan nya?"
Meisinta membulatkan bola matanya,tak menyangka anaknya seliar itu melakukannya.
"Makanya pelan-pelan dong Meer mainnya,ingat dia masih muda"
Ameer memutar bola mata nya malas.
"Mamah mikir apa'an?aku belum melakukan nya.Kita di jodohkan mana mungkin secepat itu.Cinta saja tidak!"
"Tidak harus cinta jika untuk melakukan itu.Memang kau melihat nya tidak ada rasa bagaimana begitu.Atau jangan-jangan kau menyimpang?!"
"Enak saja,aku normal mah!"
Meisinta menutup mulutnya dengan tangan,merasa lucu dengan ucapan anaknya.
"ehmm..." Lavina menggeliat,mengerjap kan matanya.Memindai cahaya yang melalui retina mata.
Ameer dan Meisinta memandanginya.
"Ehmm,,Mamah!" Lavina terperanjat dan segera duduk.Ameer menarik selimut menutupi pangkal pahanya yang terlihat.
"Selamat pagi Lavina, Bagaimana tidurnya,nyenyak?"
Lavina merasa canggung sekali, melirik jam di atas nakas ternyata sudah pukul sembilan pagi,dan dia kesiangan.
"Maaf,aku ke-siangan Ma-mah" suara nya terputus,dan masih kaku kepada kedua mertua nya.
Meisinta tersenyum "Tidak apa-apa mamah mengerti,pasti kau lelah kan?"
Lavina hanya mengangguk dan tersenyum.
Dirinya merasa bingung kenapa ada di atas ranjang,padahal kan terakhir dia ada di sofa dan tidur di sana.
"oiya mamah mau memberi kan kalian sesuatu" Meisinta mengambil seperti buku kecil di meja dan memberikan pada mereka berdua.
"Buku nikah kalian sudah jadi, pernikahan kalian sah di mata hukum dan agama,bukan hanya agama saja?"
"Apa?!!"
Keduanya bersamaan menyahut Meisinta.
"Kenapa kalian kaget seperti itu?bukankah itu wajar?_"
"Ya sudah,mamah pergi,maaf sudah mengganggu kalian" Meisinta berlalu dari sana.
.
.
Keinginannya untuk bercerai cepat pun makin susah, pernikahan nya sudah di sahkan secara hukum,tidak heran jika secepat itu mengurusnya,karna bermodal beberapa lembar ratusan,semua akan lancar.
Rencana nya gagal untuk bisa bercerai dengan Lavina.Ameer bingung dengan situasi itu.Akhirnya dia membuat kesepakatan dengan istrinya.
Jika pernikahan ini adalah kontrak,suatu saat dia bisa menceraikan dengan alasan yang tidak cocok lagi.
Keduanya menandatangi kesepakatan itu "Akan cerai dan tidak menuntut apapun" begitulah inti nya,tidak ada perjanjian apapun di dalamnya.
Matahari sudah sangat terik,Lavina yang bingung hendak apa,hanya di dalam kamar saja.mondar mandir di balkon.
Ponsel saja dia tak punya entah kemana, terakhir pada saat di rumah kosong itu,selebihnya tak ingat lagi.
Ameer memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa.Pekerjaan nya sudah menunggu di ruang kerja.
"Kak,boleh pinjem ponsel?"
"Ini!" tanpa basa basi dia menyerahkan ponselnya dan kembali ke luar.
"Tumben sekali baik!" Lavina bergumam.
Tangan nya mengutak atik ponsel dan segera menghubungi seseorang.
"Hallo"
"Kak Hariz?"
"Iya saya sendiri,dengan siapa ini?"
"Aku Lavina kak!pakai nomor..."
Tidak mungkin kan aku bicara nomor ku ganti,dan ini milik suami ku.
"Lavi?..."
"Oh iya kak,ini nomor temannku.Maaf aku tidak menghubungi mu,aku sedang di luar kota.Mungkin beberapa hari lagi aku akan pulang dan kuliah kembali_"
"Kakak bagaimana kabarnya?" Lavina duduk di ujung sofa
"Aku merindukan mu Lav"
"Aku juga merindu_"
Ponsel di rebut dan di matikan mendadak.
"Ah pons_"
Terkejut,ternyata Ameer sudah dari tadi berdiri di belakang Lavina.
"Bagus!!Kau pacaran dengan ponsel ku ya?Kau pikir siapa?memakai sembarangan menelfon orang!"
Ponsel di tangan Ameer terus berdering.
Ameer melirik siapa pemanggil itu.
Beberapa pesan masuk di sana.Lavina terdiam melihat Ameer marah-marah kepadanya.Benar yang dikatakan nya.Dia ceroboh menggunakan ponsel dan menelpon seseorang.
Membuka pesan masuk.
"sayang,jawab panggilan ku"
"sayang kau baik-baik saja?"
"Lavina ku,apa kau disana mendengar ku?"
"Aku merindukan mu" dan sebuah tanda emot ciuman pun di berikan Hariz di pesan itu.
Dada Ameer bergemuruh membaca nya,entah rasa apa yang ada di sana.Wajahnya menatap nyalang kepada istrinya yang duduk meringkuk di ujung sofa.
Gigi nya bergemeletak.
"Kau tahu tidak?!ponsel ku ini sangat berharga.Tidak pantas jika hanya untuk berpesan nan dengan kata-kata yang menjijikan itu!"
Ponsel pun berdering kembali,menampilkan nomor yang sama!
Prak!!! Pyarrr!!!
Ameer melempar ponselnya sangat keras ke tembok,dan jatuh berhamburan di lantai.
Sama hal nya Ameer marah,Lavina juga dada nya berdetak lebih cepat, dirinya sangat kaget dengan Ameer yang sesungguhnya.
Temperamental,dan gampang marah,dan berubah gampang baik.
Tangan nya ditarik dan dibawa di hempas kan ke ranjang.
"Kau akan tahu kenapa aku marah dengan hal sepele, sebentar lagi!"
Ameer merangsek memeluk Lavina.gadis itu pun terkejut dengan tingkah Ameer.
"Diam!! Ikuti saja,dan menurut lah!"
Tiba-tiba Ameer membungkam bibir Lavina dengan kasar.Awalnya menolak,tapi ia ingat dengan perintah Ameer barusan.
"Meer!!!" Pintu terbuka.
"Ahh maaf,mamah sudah lancang" menutup matanya dan kembali keluar.
.
.
.
to be continue