Karamel gadis berusia 19 tahun yang memiliki penampilan sederhana, cantik alami tanpa make up dan Menggunakan kacamata untuk menutupi warna bola mata nya, serta memiliki karakter periang, humor dan konyol. Namun, memiliki kisah sedih 5 tahun yang lalu, dimana dia harus kehilangan ibu nya selamanya serta hampir juga kehilangan penglihatan nya karena sebuah kecelakaan yang ia alami. Tapi, untung lah ada orang baik hati yang mau mendonorkan mata nya kepada Karamel, sehingga Karamel masih bisa melihat keindahan dunia yang tersisa. Setelah 5 tahun berlalu, Karamel di pertemukan dengan Haru. Seorang primadona kampus yang memiliki banyak fans, Karamel merasa sangat jengkel dengan Haru yang terus mengusik nya di kampus, sehingga membuat para fans wanita Haru menjadi membenci dirinya. Karamel yang juga tiba-tiba di usir dari rumah nya, terpaksa tinggal di rumah seorang wanita pemilik Event Organizer yang hampir bangkrut dan ikut serta bekerja di perusahaan Event tersebut.
let's to read😉💪!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara_Tara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANYA KESEPAKATAN SEMENTARA!
"Baiklah Haru, jadi kita berdua sudah sepakat memulai dari awal. Jadi, mohon kerja sama nya selama kita masih dalam satu kelompok." ujar Karamel
"Jadi maksud mu, kita hanya akan akrab dan berbicara dengan santai hanya sampai tugas kelompok kita selesai?" tanya Haru.
"Iya dong, sudahlah, ayo segera masuk kedalam." ujar Karamel, merasa bersemangat.
Karamel melangkah duluan dan meninggalkan Haru yang masih berdiri di tempat.
"Astaga, aku baru pertama kali di permainkan oleh wanita." gumam Haru sambil tertawa kecil.
Setiap langkah Karamel terasa begitu menyenangkan, sampai tiba-tiba raut wajah bahagia Karamel berubah jadi raut wajah kecewa karena saat ingin masuk, dia di hadang oleh seorang satpam di depan pintu masuk.
"Maaf, anda tidak boleh masuk tanpa memberikan kartu temu dengan tuan Anantara." ucap Satpam dengan tegas.
"Ya ampun pak, izinkan saya masuk, saya mau buat tugas kuliah. please .... " ucap Karamel dengan wajah yang memelas.
"Tidak bisa!, jika anda menunjukkan kartu temu dengan tuan Anantara. Baru saya akan izinkan masuk. Jadi, silahkan pergi!" ucap Satpam dengan tegas.
"iya-iya pak, saya akan buat janji dan kartu temu nya,kalau saya bisa ketemu sama pengurus nya di dalam." ujar Karamel yang berusaha menerobos masuk.
"Tidak bisa, saya bilang tidak bisa!" bentak pak satpam.
Karamel pun terdiam dan menampakkan raut wajah sedih.
(Hu!, sampai jumpa rencana mencari rekan bisnis). ucap Karamel dalam hati, sambil menatap sendu ke arah pintu perusahaan.
Haru yang tertinggal di belakang, baru saja sampai dan berhenti tepat di belakang Karamel yang terus menatap pintu perusahaan dengan wajah sendu.
"Ada apa dengan nya?" gumam kecil Haru yang merasa bingung.
Satpam yang tadi menghadang Karamel untuk masuk, tidak sengaja menatap Haru yang tengah berdiri di belakang tubuh mungil Karamel. Satpam itu hendak memberikan salam hormat dengan menundukkan tubuh nya, namun dengan cepat Haru memberi kan kode dengan menempel kan telunjuk nya ke bibir, agar satpam itu tidak melakukan hal itu dan tetap diam. Satpam itu pun menundukkan kepalanya dan tetap diam seperti yang di perintahkan oleh tuan muda dari perusahaan milik keluarga Anantara.
"Huuf ... ,seperti nya kami tidak bisa membuat tugas dengan menjadi kan resor dan hotel terkenal ini sebagai objek nya .... " keluh Karamel.
Karamel segera membalikkan badan untuk berjalan menjauh, sampai tiba-tiba dia merasa terkejut ketika melihat Haru sudah berdiri di belakang nya.
"Astaga!, kamu membuat ku kaget saja." ucap Karamel dengan menampakan raut wajah yang tengah merasa sedih.
Haru hanya diam dan melihat secara seksama raut wajah yang kurang mengenakkan yang di tampakkan oleh Karamel saat ini.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Haru yang merasa khawatir.
"Tidak apa-apa, maaf kan aku Haru, seperti nya kita tidak bisa masuk ke sini." ujar Karamel pelan dengan raut wajah sendu.
Haru merasa sedih ketika melihat wajah Karamel yang nampak kecewa, sehingga membuat Haru merasa tidak suka dengan ekspresi Karamel yang seperti itu, karena Haru lebih suka Karamel yang periang. Haru lalu menoleh ke arah Satpam yang ada di depan pintu dan mengkomat-kamitkan mulut nya, menyuruh Satpam itu mengizinkan Karamel untuk masuk ke dalam perusahaan, namun sayang Satpam itu tidak paham dengan kode yang di berikan oleh Haru sehingga membuat Satpam itu merasa kebingungan.
"Hei, jangan bersedih. aku akan mencoba membujuk satpam itu." ucap Haru tersenyum sambil menyentuh pipi kanan Karamel.
Karamel merasa tersentuh, sehingga membuat dia mengangguk-angguk kan kepala dan berusaha untuk mempercayai Haru. Perlahan Haru berjalan mendekati Satpam tersebut, Karamel hanya menatap dari jauh ketika Haru tengah berbisik-bisik di dekat telinga Satpam itu sambil sedikit membungkuk, karena badan nya yang lebih tinggi dari Satpam tersebut.
"Izinkan dia masuk, karena aku mengenal nya" bisik Haru di dekat telinga Satpam.
Haru pun kembali menegakkan tubuhnya dengan tegap, lalu menatap satpam itu dengan dingin, Satpam yang merasa bulu kuduk nya merinding, segera menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju untuk memujudkan keinginan tuan muda nya.
"Hei!, anda boleh masuk!" ujar Satpam sedikit berteriak.
Haru berdiri di samping Satpam sambil sedikit senyum samar saat menoleh ke arah Karamel. Karamel merasa terkejut, karena tidak menyangka dengan apa yang di katakan oleh Satpam itu. Karamel segera berlari mendekati Satpam dengan senyuman semringah.
"Hah??, serius nih pak??, beneran saya boleh masuk?" ujar Karamel yang merasa bersemangat.
"Iya anda boleh masuk." ucap Satpam dengan suara pelan.
Karamel merasa begitu sangat senang, dia kemudian menoleh ke arah Haru dan perlahan berjalan mendekati nya.
"Aaa!, Haru kau memang yang terbaik!" seru riang Karamel, yang tanpa sengaja memeluk tubuh Haru.
Haru menjadi diam terpaku ketika Karamel memeluk nya dengan erat dengan tubuhnya yang mungil itu.
(Astaga!, dia imut sekali!, aku sangat merasa gemas). ujar Haru dalam hati, yang ia tanpa sadari sudah tersenyum lebar.
Satpam yang melihat Karamel memeluk tuan muda nya secara tiba-tiba, langsung membulatkan mata karena merasa terkejut dan tak percaya jika Haru tidak marah sama sekali pada gadis kecil yang tengah memeluk tuan nya itu. Karamel segera melepaskan pelukannya, ia mulai berjalan masuk ke dalam perusahaan dengan langkah yang penuh kebahagiaan dan kembali meninggalkan Haru yang masih berdiri di tempat sendirian.
"Haa ... , kenapa dia selalu mempermainkan ku seperti itu??, aku kan menjadi tambah tertarik." gumam Haru sambil menghela nafas panjang.
"Hah?, maaf, tuan muda bilang apa tadi?" tanya Satpam yang mendengar samar suara Haru.
Haru menoleh dan sedikit tersenyum tipis.
"Tidak ada, lanjut kan pekerjaan mu." jawab Haru lembut, namun dengan sorot mata yang tegas.
Haru kemudian berjalan menyusul Karamel yang sudah masuk ke dalam perusahaan. Sedangkan Satpam merasa bulu kuduk nya sedikit merinding ketika menatap mata Haru.
"iih ... ,aku sangat merinding, tuan muda sangat tidak terduga sikap nya." gumam pelan Satpam sambil menatap punggung Haru yang sudah berjalan menjauh.
Karamel membuka pintu utama perusahaan yang terbuat dari kaca, saat baru saja melangkah masuk, Karamel merasa sangat takjub dengan pemandangan yang ada di dalam perusahaan, Karamel menatap lama setiap lantai, atap dan juga sudut-sudut yang ada di di dalam perusahaan dengan warna cat dinding yang ke emasan, dengan motif lantai yang terlihat seperti kayu sebenarnya dan warna plafon berwarna putih.
" Bagaimana bisa warna nya terlihat seperti emas murni seperti ini." gumam Karamel dengan sorot mata yang terpesona.
Drap ... ,drap. langkah kaki Haru berjalan mendekati Karamel yang masih berdiri sambil melihat ke kiri dan ke kanan dengan sorot mata yang penuh rasa kagum.
"Hei, apa kamu sudah selesai menatap nya?" tanya Haru yang sudah berdiri di samping Karamel
Karamel.menoleh ke arah Haru.
"Iya-iya, aku sudah selesai menatap nya!" ujar Karamel sedikit merasa sebal.
Haru tersenyum menatap muka sebal Karamel, sementara itu semua karyawan yang ada di sana merasa terkejut ketika melihat tuan muda mereka sedang mengunjungi perusahaan dengan menggunakan pakaian kasual.
"Astaga!, sudah ku bilang kan kalau dia sangat tampan. menggunakan jas kantor saja dia sudah sangat tampan!, apalagi menggunakan baju kasual seperti itu." gumam pelan beberapa karyawan wanita.
Karamel dengan tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Haru dan menarik nya untuk segera berjalan mengikuti langkah nya, sedang kan Haru hanya pasrah mengikuti Karamel sambil sesekali tersenyum tipis.
"Eh?, lihat itu,.berani sekali gadis kecil itu menarik tangan tuan muda dan yang lebih mengejutkan nya, tuan muda malah mengizinkan gadis itu menyentuh nya." gumam pelan beberapa Karyawan yang merasa bingung.
Karamel melepaskan tangan Haru ketika sudah sampai di depan meja resepsionis.
"Permisi mbak, saya mau nanya. Bos dari perusahaan ini sudah sampai apa belum mbak?" tanya Karamel sopan sambil tersenyum.
Wanita yang berada di bagian resepsionis merasa sedikit kebingungan menjawab pertanyaan Karamel, karena salah satu pemilik perusahaan sejak tadi sudah berdiri di samping nya.
"Eeuum ... , itu, pemilik nya .... " ujar wanita resepsionis itu sedikit bingung, sambil sesekali menatap Haru.
Haru mengerutkan dahi nya karena merasa aneh dengan tingkah dari wanita resepsionis itu. Haru yang melihat Karamel menatap dengan raut wajah yang nampak heran dengan tingkah resepsionis itu, membuat Haru segera memberikan kode kepada karyawan nya itu, agar menyuruh Karamel pergi saja masuk ke ruang kerja milik nya.
"Silahkan, anda langsung bisa pergi saja ke ruang kerja tuan kami, yang berada di lantai 8." ucap wanita resepsionis itu dengan ramah.
"Sungguh?, baiklah terimakasih ya mbak." ucap Karamel sambil tersenyum riang.
Haru merasa senang ketika melihat Karamel merasa begitu bahagia, Karamel kembali menarik tangan Haru untuk segera mengikuti langkah nya.
"Huuf ... , aku sangat merasa takut ketika melihat tuan muda Haru. Tapi, kenapa gadis itu malah tidak merasa takut sama sekali???" gumam pelan wanita resepsionis itu dengan raut wajah yang merasa bingung.
Karamel berada di depan tangga dasar sebagai jalan menuju ke lantai paling atas.
"Wah, bagaimana mungkin aku kuat melewati banyak nya anak tangga ini?" ujar Karamel yang merasa kaget dengan jumlah anak tangga yang banyak.
"Ayo kita gunakan lift saja." ucap Haru sambil berjalan menuju ke arah lift
"Hah??" ucap Karamel, yang merasa bingung.
Karamel segera menoleh, tapi dia sudah melihat Haru berjalan mendekati sebuah lift yang ada di sana.
"Hei!, Haru, tunggu aku." ujar Karamel sedikit berteriak, sambil berlari mengejar Haru.
Karamel dan Haru sekarang sudah berada di dalam sebuah lift.
"Aneh??, kenapa para karyawan di sini menghindari naik lift ini?" gumam Karamel dengan raut wajah yang nampak bingung.
(Yaa wajar lah, soalnya ini lift khusus di buat untuk bos di perusahaan ini). gumam Haru dalam hati.
"Hei, Haru, bagaimana bisa kamu tahu jika ada lift di sini?" tanya Karamel sambil menoleh menatap Haru dengan serius.
Haru yang melihat tatapan serius dari Karamel, sedikit merasa gugup, namun tetap berusaha menahan kegugupan nya.
"Ehem!, yaa jelas aku tahu lah, soal nya aku sudah melihat nya sejak kita baru masuk ke dalam perusahaan tadi." ucap Haru dengan percaya diri.
"Cih!, percaya diri sekali." gumam Karamel yang merasa sebal.
Ting, suara pintu lift terbuka, Haru dan Karamel sudah sampai di lantai 8. Karamel dengan cepat berjalan keluar lift supaya bisa segera bertemu dengan bos perusahaan yang ia datangi.
(Yes!, asik, ini namanya menyelam sambil minum air. Sambil buat tugas kuliah, sambil mencari tahu tentang perusahaan ini, siapa tahu bos pemilik perusahaan ini bisa di jadikan rekan bisnis). seru Karamel dalam hati, sambil berjalan dengan penuh semangat.
"Kenapa dia terlihat bersemangat sekali?" gumam pelan Haru yang merasa bingung.
Karamel terus berjalan dengan bahagia, sedang kan Haru terus berjalan di belakang Karamel sambil menahan tawa karena melihat Karamel yang bertingkah seperti anak kecil. Setelah berjalan beberapa saat untuk sampai ke ruang kerja bos pemilik perusahaan, akhirnya Karamel sudah berada tepat di depan pintu ruang kerja orang yang ia cari-cari.
Tok-tok, Karamel segera mengetuk pintu dengan pelan.
"Permisi ... ,apa boleh kami masuk pak." ucap Karamel dengan sopan.
Kreet, suara pintu pun mulai terbuka, Karamel yang merasa sedikit terkejut. Segera melangkah mundur.
"Iya?, siapa yaa?" tanya seorang pria yang baru saja membuka pintu.
"Selamat pagi pak, saya Karamel." ujar Karamel bersemangat dan tanpa sadar sudah memegang tangan pria itu untuk mengajak berjabat tangan.
Pria itu merasa terkejut sekaligus bingung, sehingga dia juga menerima jabat tangan Karamel sambil tersenyum kikuk. Melihat hal itu, entah mengapa Haru merasa panas, dengan cepat Haru berjalan mendekat dan melerai jabat tangan antara keduanya.
"Hei!, apa yang kamu lakukan?" ujar Karamel menahan geram.
"Tidak ada kok." ucap Haru dengan santai.
Pria yang baru saja keluar dari ruang kerja bos, merasa sedikit kebingungan sambil menatap ke arah Haru.
"Hehe. maaf ya pak, Oh ya, nama bapak siapa?" tanya Karamel sopan, sambil terkekeh kecil.
"Oh ... , itu. Nama saya Edward." jawab Edward yang merasa bingung.
"Wah, nama bapak sangat bagus. Oh ya, apa bapak berusia 25 tahun?" tanya Karamel bersemangat.
Edward mereka sedikit terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Karamel.
"Eeumm ... , sebenarnya, usia saya sudah 30 tahun." ujar Edward sambil tersenyum kikuk.
"Apa!, serius pak?, astaga. Tapi, bapak terlihat begitu muda dan tampan." ujar Karamel sambil tersenyum manis.
"Benarkah??" ujar Edward sambil tersenyum.
Haru yang mendengar Karamel memuji Edward, segera berjalan mendekat dan berdiri di tengah mereka berdua.
"Hei kau!, apa-apaan sih!, aku jadi tidak bisa melihat pak Edward!" ujar Karamel yang merasa geram.
Haru menoleh ke arah Edward dengan sorot mata yang tajam, sehingga membuat Edward merasa merinding melihat nya.
"Hei, pak Edward. Cepat suruh kami masuk saja." ucap Haru pelan, sambil menatap Edward dengan tatapan yang terlihat mengancam.
Edward menelan ludah ketika mendapat tatapan maut dari Haru yang nampak terlihat seperti singa yang lapar, dengan cepat Edward langsung segera menyuruh mereka berdua untuk masuk dan duduk di dalam.