Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA KITA

TAKDIR CINTA KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: ridwan jujun

Terkadang rasa cinta itu hadir karena allah ingin menguji kita, ustadz apakah kita bisa mengendalikan perasaan dan lebih mempioritaskan cinta kepada allah atau perasaan itu akan membuat kita lupa kepada allah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 12

"Tersenyumlah, sebab Allah mengujimu karena cinta. Selalu mendengarmu saat kau berdoa. Tengah menyiapkan untukmu syurga, jika kau bertaqwa."

- Ustadzah Halimah Alaydrus - 

***

"Zeehan, tidak ada laki-laki yang saya percayai untuk menikahi putri saya melebihi kepercayaan saya kepadamu dan kalau boleh jujur, saya sangat senang mendengarnya. Saya yakin, Aretha pun pasti akan bahagia jika dia tahu, kalau kamu juga menyukainya." 

Zeehan mendongak, menatap Firma dengan penuh pertanyaan. 

Aretha? 

"M--maksud Ustadz Firman?" 

"Iya, Aretha juga menyukaimu. Dia pernah cerita dengan istri saya, katanya dia sangat mencintai kamu. Akhirnya istri saya pun cerita kepada saya. Makanya saya menanyakan hal ini padamu," jelas Firman. 

"Jadi saya ingin menikahkan putri saya, Aretha, dengan Ustadz Zeehan. Apakah kamu tidak keberatan?" lanjutnya. 

Tentu saja Zeehan terkejut, akan tetapi lidahnya terasa begitu sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. 

"Ilmu agama dan akhlak yang kamu miliki membuat saya yakin menyerahkan putri saya kepadamu, Zeehan. Karena kamu adalah pria yang bertanggung jawab, maka saya memberikan tanggung jawab yang besar itu kepadamu." 

"T--tapi kenapa bisa tidak terduga seperti ini, Ustadz?" 

"Saya juga sebenarnya tidak mau terlalu terburu-buru mengatakan ini, tapi saat beberapa waktu yang lalu kamu datang kemari, saya melihat kamu dan Aretha saling bertatapan. Di situ saya sudah paham maksud tatapan dari Aretha, akan tetapi saya tetap menghargai Ustadz Zeehan dengan bertanya terlebih dahulu." 

Zeehan terdiam dengan perasaan 'tak menentu. Di satu sisi, ia ingin menolak, akan tetapi ia tidak enak hati dengan Farid dan bagaimana dengan perasaan Aretha? Namun, di sisi lain, jika ia menerima, bagaimana perasaannya terhadap Zahra? Bagaimana dengan janji yang ia berikan kepada gadis itu? Bagaimana hancurnya hatinya saat tahu, pria yang ia tunggu ternyata akan menikahi kakaknya? 

Dengan mengucap 'bismillah' sambil menghela nafas panjang. 

'Maafkan saya, Zahra.' Zeehan berucap di dalam hati.

"Baik, Ustadz. Saya setuju," jawab Zeehan mantap.

Sakit. Itulah yang Zahra rasakan saat ia tanpa sengaja mendengar jawaban dari Zeehan. Entah rasa sakit apalagi yang akan ia terima setelah ini. Cinta mereka berdua mungkin tidak bertepuk sebelah tangan, hanya saja takdir tidak berpihak kepada mereka. Entahlah, hanya Allah yang lebih mengetahui segalanya. 

'Hamba ikhlas, Ya Rabb' batin Maira. 

***

"Abi sama Ummi serius?!" 

"Iya, Aretha. Kapan kami ngga pernah serius sama kamu?" sahut Ninda disertai senyum sumringah. 

"Kamu tahu, tidak? Katanya Ustadz Zeehan diam-diam suka sama kamu juga, loh," sambung Ninda antusias. 

"Ummi ... jangan bikin Aretha deg-degan, deh. Ini ngga baik buat kesehatan jantung!" Aretha merengek sambil menggigit bibir bawahnya. 

"Terus bagaimana?" Gadis itu kembali bertanya dengan rasa penasaran. 

"Bagaimana apanya?" 

"Itu ... tentang Aretha sama Ustadz Zeehan."

"Kalian berdua akan segera menikah." Mendengar ucapan Firman, membuat senyum Aretha terukir jelas di bibirnya. 

"Tanpa ada unsur paksaan, 'kan?"

"Iya, Aretha." 

"Jadi kapan nikahnya?" 

"Heum, ternyata anak Ummi pengen cepat-cepat minggat dari status jomblonya, ya?" goda Ninda sambil menaik-turunkan alis. 

"Untuk masalah tanggal pernikahan, Abi ngga tau kapan. Tapi yang jelas, Ustadz Zeehan perlu minta restu kepada orang tuanya. Besok lusa, ayah Ustadz Zeehan akan balik ke Indonesia," jelas Firman. 

"Emang ayahnya Ustadz Zeehan habis darimana, Bi?" 

"Dari Tarim. Beliau menjemput adik dari Ustadz Zeehan yang sekolah di sana. Jadi, lusa mereka berdua akan balik ke sini." 

"Ouh ... jadi Ustadz Zeehan punya saudara juga? Laki-laki apa perempuan?" 

"Laki-laki, Aretha." 

"Ouh. Eh, Zahra daritadi, kok, ngga keliatan? Dia ke mana, Um?" Aretha celingukan mencari keberadaan Zahra.

"Dia ada di dalam kamar. Mungkin lagi tidur. Samperin gih! Dia pasti bahagia dengar kamu sebentar lagi bakal nikah," sahut Ninda. 

"Ya Allah, Um, Ummi bisa aja. Ya, sudah, Aretha ke kamar Zahra dulu, ya?" 

Tok! Tok! Tok!

Sesampainya di muka kamar Zahra, Aretha langsung mengetuk pintu. 

Ceklek!

Pintu pun terbuka, menampakkan seorang gadis yang sudah rapi dengan mengenakan gamis berwarna merah senada dengan warna jilbab segitiga yang ia pakai. 

"Maa syaa Allah, Adeknya Kakak cantik banget. Mau ke mana? Udah rapi aja, nih, Neng," tanya Aretha. 

Zahra tersenyum. "Mau pergi ke pengajian, Kak. Salsa tiba-tiba aja ngajakin Zahra. Ada apa Kakak kemari?" 

"Eum ... ngga apa-apa. Ya, sudah, kamu pergi aja gih! Entar kalau ada waktu, kita bisa bahas ini lain kali sambil santai-santai di balkon, hehe." Aretha cengengesan. 

"Zahra pamit dulu, ya? Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikumussalam." 

***

"Tersenyum saat hati kita lagi sakit itu berat banget, ya, Sa?" Zahra tersenyum miris dengan mata yang nampak sembab. 

"Ra, kamu pernah bilang sama aku, bahwa di saat kita ikhlas dengan keadaan, di situlah Allah merencanakan kebahagiaan untuk kita. Ngga ada satu pun obat yang dapat meredakan pedihnya rasa sakit, kecuali hati yang percaya bahwa apapun yang Allah tetapkan untuk kita adalah yang terbaik. Kamu boleh menangis, karena kamu hanya manusia biasa. Tapi ingatkan hatimu agar tidak kecewa dengan apa yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Memang menyakitkan, tapi perbanyaklah berprasangka baik kepada Allah." 

Salsa memegang bahu sahabatnya itu dan menatap dengan perasaan iba. Gadis itu paham, saat ini Zahr perlu waktu untuk menerima. Kehilangan orang yang dicintai memang tidaklah mudah. Terlebih-lebih lagi Maira pernah merasakan kehilangan sosok orang tua di saat umurnya masih sangat muda.

"Jodoh itu ada di tangan Allah, Ra. Hanya Allah yang tahu. Lantas untuk apa kamu kecewa? Kamu hanya tidak tahu rencana Allah di balik semua ini. Siapa tahu, Allah memberikan sosok laki-laki yang lebih baik dibanding Ustadz Zeehan, bukan? Tau, ngga? Ustadzah Halimah Alaydrus, beliau pernah bilang. Siapa bilang kita harus selalu sempurna, kuat, tegar, dan ceria? Ngga begitu! Sesekali kita rapuh, sesekali kita jatuh, sesekali terluka, dan sesekali ada air mata. Itu keabsahan menjadi manusia. Kita hanya perlu ingat! Jika semua kita sandarkan kepada Allah, hal terburuk sekalipun akan berlalu, dan kita akan melewatinya dengan cara yang terbaik."

Zahra menghentikan tangisnya setelah mendengar penuturan Salsa. Benar yang dikatakan gadis itu, tidak seharusnya ia menangis, apalagi menyalahkan takdir Allah. 

"Bawa minum dulu gih!" Salsa menyodorkan sebuah botol air mineral kepada Zahra. 

"Lagi ngga nafsu minum." Salsa sontak tertawa mendengar perkataan sahabatnya.

"Hello, di mana-mana orang kalau lagi kecewa, lagi galau, atau apalah gitu, ngga nafsu makan. Lah, ini ... malah ngga nafsu minum." 

"Ya Allah, nyebelin banget, sih, kamu, Sa! Udah, deh, ngga usah ditawain. Orang aku juga udah minum!"

"Minum apa?"

"Minum air mata!" Salsa menghentikan tawanya saat melihat raut wajah Zahra yang berubah menjadi sedikit kesal.

"Udah. Ngga usah sedih! Ini bukan Zahra namanya kalau sedih-sedih kayak gini. Zahra yang dulunya aku kenal, ngga pernah nangis, ngga pernah galau." Salsa kembali berusaha menenangkan Zahra. 

Zahra menghela nafas panjang dan menyerka air matanya. Gadis itu menatap Salsa, lalu mengangguk patah-patah. 

"Oke, oke, aku ngga boleh galau," ucap Zahra dengan wajah datar. 

"Nah, gitu dong. Senyum coba. Biar ada manis-manisnya." 

"Ribet banget, sih, Mbak?" Zahra menatap sinis Salsa. 

"Ya, jelaslah. Ini perkara hati. Yang namanya sabar itu mulut diam, hati tenang. Selalu senyuman yang ditunjukkan, seakan-akan kita sedang baik-baik aja. Tapi jangan sembarang senyum juga, entar dikira orang malah gila lagi. Habib Umar pernah bilang, semakin ikhlas maka semakin tenang. Belajarlah untuk berlapang dada, karena tidak semua yang kita inginkan itu terbaik menurut Allah. Sesulit apapun keadaanmu, ajarilah hatimu agar bisa menerima keadaan tanpa membenci," jelas Salsa lagi. 

"Tapi berat, Sa," lirih Zahra membuat Salsa menjadi tidak tega.

"Kalau kecewa, kata orang ngga ada salahnya menangis. Kita, 'kan manusia. Tenang, perlahan nanti bakal lega, kok. In syaa Allah semua kekecewaan akan segera digantikan dengan apa-apa yang membuat kita bahagia." 

Zahra memejamkan mata sambil menarik nafas, menghirup udara segar, dan menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Berusaha ikhlas mungkin bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, akan tetapi Ustadzah Halimah Alaydrus pernah berkata, kita tidak bisa mengendalikan takdir Allah. Dialah salah satu Sang Pengendalinya. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan hati kita sendiri, untuk menerima dan percaya bahwa apapun yang Allah takdirkan adalah yang terbaik untuk kita.  

***

T

B

C

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!