Cilla Anaya Salsabila,
putri tunggal pemilik perusahaan besar dan pewaris saham kampus barunya. Semua orang mengaguminya—kecuali dirinya sendiri, karena ia tak pernah tahu siapa yang benar-benar tulus.
Saat pindah ke kampus baru, Cilla memilih menyamar menjadi gadis culun. Tanpa kemewahan, tanpa nama besar, hanya dirinya apa adanya.
Ia ingin satu hal:
menemukan cinta yang memilih hatinya… bukan hartanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Datang Kembali Cilla Anaya
Sang ayah melangkah mendekat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung memeluk putri semata wayangnya yang masih menangis.
"Cukup... jangan dipendam sendiri, Nak," bisiknya lembut sambil mengusap kepala Cilla. "Ayah juga tidak pernah menyangka Raga tega memperlakukan kamu seperti ini."
Tangis Cilla kembali pecah. Bahunya bergetar hebat di dalam pelukan sang ayah.
"Iya, Yah..." ucapnya lirih. "Cilla juga nggak pernah menyangka. Selama ini Cilla kira Raga benar-benar mencintai Cilla. Ternyata... semua itu cuma kepalsuan."
Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung.
Wijaya membiarkan putrinya menangis sepuasnya. Baginya, terkadang air mata adalah satu-satunya cara untuk meluapkan rasa sakit.
Beberapa menit kemudian, Cilla perlahan melepaskan pelukan itu. Ia buru-buru mengusap pipinya yang basah, tetapi sang ayah lebih dulu menyeka sisa air mata di wajah putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan menangis lagi ya, Peri Kecil Ayah," katanya sambil tersenyum hangat. "Hati ayah ikut sakit setiap kali melihat putri ayah menangis."
Cilla membalas senyuman itu meski matanya masih sembab.
"Ayah tenang saja. Peri kecil ayah ini kuat. Cilla nggak akan membiarkan satu laki-laki menghancurkan hidup Cilla."
"Itu baru putri ayah."
Wijaya mengusap pelan kepala Cilla.
"Sekarang ayo duduk. Ceritakan semuanya. Ayah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi selama kamu di luar."
Mereka pun duduk berdampingan di ruang keluarga.
Cilla menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
"Selama di luar Cilla baik-baik saja, Yah. Tapi... Cilla baru sadar kalau ternyata masih banyak orang yang menilai seseorang hanya dari penampilannya."
Wijaya mengernyit.
"Maksud kamu?"
"Cilla dibully di kampus."
Kalimat singkat itu membuat wajah Wijaya langsung berubah.
"Apa?"
Sebagai seorang dosen senior, ia sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Bukannya kampus kamu terkenal disiplin? Bukankah kasus seperti itu sudah tidak ada lagi?"
Cilla menggeleng pelan.
"Bukan di Universitas Indonesia, Yah."
"Lalu?"
"Di Universitas Jakarta."
"Apa?" Mata Wijaya membelalak. "Jadi selama ini kamu kuliah di kampus tempat Ayah mengajar?"
"Iya."
"Kenapa mereka sampai tega membully Peri Kecil Ayah?"
Cilla tersenyum pahit.
"Karena Cilla menyamar."
"Menyamar?"
"Iya. Cilla nggak memakai identitas asli. Di sana Cilla hidup seperti mahasiswi biasa. Pakai baju sederhana, berangkat naik ojek online, nggak membawa fasilitas apa pun."
"Kenapa melakukan itu?"
"Cilla ingin mencari cinta yang tulus, Yah. Cilla ingin tahu, apakah masih ada orang yang mau berteman dan mencintai Cilla tanpa melihat siapa keluarga Cilla."
Ia menundukkan kepala.
"Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Mereka meremehkan Cilla. Sulit mendapatkan teman. Bahkan ada yang terang-terangan menghina dan membully Cilla hanya karena penampilan."
Seketika wajah Wijaya mengeras.
"Siapa mereka?"
Nada suaranya berubah dingin.
"Sebutkan namanya. Ayah akan keluarkan mereka dari kampus."
"Yah..."
Cilla langsung memegang tangan ayahnya.
"Jangan gegabah. Cilla nggak mau Ayah mengambil keputusan karena emosi."
Wijaya mengembuskan napas panjang, berusaha meredam amarahnya.
Beberapa saat kemudian, Cilla kembali membuka suara.
"Oh iya, besok Ayah ada rapat bersama para dosen dan wakil rektor, kan?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Cilla mau ikut."
Wijaya menatap putrinya heran.
"Ikut rapat? Untuk apa?"
"Cilla ingin menyampaikan pendapat Cilla tentang kasus bullying. Kalau korbannya terus diam, masalah ini nggak akan pernah selesai."
"Sayang, biar Ayah saja yang mengurus semuanya."
"Yah..."
Cilla merajuk sambil menggoyangkan pelan lengan ayahnya.
"Tolong... kali ini izinkan Cilla bicara."
Wijaya menatap wajah putrinya cukup lama.
Tatapan penuh harap itu akhirnya meluluhkan hatinya.
"Baiklah."
Mendengar jawaban itu, wajah Cilla langsung berbinar.
"Besok kamu ikut Ayah."
"Makasih, Yah!"
Cilla memeluk ayahnya erat.
Di balik senyum bahagianya, sebuah rencana telah tersusun rapi di dalam kepalanya.
Besok, di hadapan rektor, wakil rektor, dan seluruh dosen, Cilla akan membuka mata mereka bahwa bullying masih hidup di dalam kampus yang selama ini mereka banggakan.
****************
Keesokan harinya...
Cilla kembali mengenakan pakaian mewahnya.
"Aku kangen sama gaun-gaun cantikku," gumamnya pelan.
Ia mengenakan gaun midi hitam berpotongan A-line yang memancarkan kesan anggun dan elegan. Bagian dada bermodel sweetheart dipadukan dengan lengan tulle transparan berwarna nude yang berkerut lembut, memberikan sentuhan feminin. Potongan fit di bagian atas semakin menonjolkan pinggangnya yang ramping, sementara rok yang mengembang dengan jatuh lembut membuat setiap langkahnya terlihat anggun, berkelas, dan memikat.

Cilla berdiri di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Selamat datang kembali, Cilla Anaya Salsabila," gumamnya pelan.
Setelah merasa puas dengan penampilannya, Cilla keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Di sana, sang ayah sudah menunggunya.
"Wah, cantik sekali putri Ayah ini," puji sang ayah dengan senyum bangga.
"Putri Ayah memang cantik dari lahir," balas Cilla sambil terkekeh kecil.
"Kamu benar. Kamu mirip sekali dengan bundamu. Ya sudah, ayo sarapan."
Cilla mengangguk pelan. Keduanya pun menikmati sarapan bersama dalam suasana hangat.
Setelah selesai makan, Cilla berdiri sambil meraih tasnya.
"Yah, Cilla berangkat dulu, ya."
"Hati-hati di jalan."
"Oke, Ayah."
Cilla melangkah keluar rumah. Pandangannya langsung tertuju pada mobil kesayangannya yang sudah beberapa hari tidak ia gunakan.
"Mobil kesayangan gue," gumamnya sambil tersenyum tipis.
Seorang sopir segera menghampiri dan membukakan pintu belakang untuknya.
"Silakan, Non."
Cilla mengangguk kecil sebelum masuk dan duduk dengan anggun di kursi belakang.
Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Cilla tiba di gerbang utama Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Kemunculan mobil mewah yang ditaksir bernilai miliaran rupiah itu langsung menarik perhatian banyak mahasiswa.
Suasana kampus yang semula biasa saja mendadak ramai. Banyak mahasiswa berhenti melangkah, bahkan beberapa berkumpul di teras dekat tangga hanya untuk melihat siapa sosok yang akan turun dari mobil tersebut.
Pak Man, sopir pribadi Cilla, lebih dulu turun. Dengan sigap ia berjalan menuju pintu belakang dan membukakannya.
"Silakan, Non."
Cilla mengangguk pelan. Ia menurunkan sebelah kakinya terlebih dahulu, lalu keluar dari mobil dengan anggun.
Dalam sekejap, seluruh pasang mata tertuju padanya.
Gaun elegan yang dikenakannya, parasnya yang menawan, serta mobil mewah yang mengantarnya membuat banyak mahasiswa terpukau.
"Itu pada ngelihatin apa, sih? Heboh banget," ujar Melani penasaran.
"Iya, gue juga penasaran," sahut Cindy.
"Mending kita samperin," ajak Abelia.
Melani dan Cindy mengangguk. Ketiganya segera berjalan menghampiri kerumunan.
"Minggir... minggir, dong!" seru Melani sambil mencari celah di antara para mahasiswa.
Begitu berhasil melihat sosok yang menjadi pusat perhatian, mereka bertiga langsung terdiam.
Mata mereka membelalak.
"Bel... ini sih cantiknya luar biasa," ucap Cindy tanpa mengalihkan pandangan dari Cilla.
"Siapa, sih, cewek itu? Kayaknya baru pertama kali gue lihat," gumam Abelia dengan nada tak senang. Kehadiran Cilla seolah menjadi ancaman bagi predikat perempuan tercantik di kampus.
"Jangan-jangan mahasiswa baru juga," tebak Melani.
Abelia menyunggingkan senyum sinis.
"Gue bakal bikin dia nggak betah kuliah di sini."
Cilla melangkah perlahan menaiki anak tangga satu per satu. Meski itu adalah hari pertamanya menginjakkan kaki di kampus tersebut sebagai putri pemilik universitas, belum ada satu pun mahasiswa yang mengetahui identitas aslinya.
Namun, penampilannya yang anggun membuat banyak orang tanpa sadar memberi jalan dan menyapanya dengan penuh hormat.
"Permisi, Kak."
"Silakan lewat."
Sapaan demi sapaan terdengar setiap kali Cilla melangkah. Semua mata tertuju padanya, terpukau oleh kecantikan dan aura elegan yang ia pancarkan.
Cilla hanya tersenyum tipis, tetapi di balik senyum itu hatinya terasa getir.
"Dasar orang-orang nggak berakhlak. Pas gue cupu, gue dihina. Sekarang pas gue cantik, semuanya mendadak menghormati gue," batinnya.
Pandangan Cilla tertuju pada Zayn yang sedang berdiri bersama Alex dan Yoga. Tanpa ragu, ia melangkah menghampiri mereka.
"Masyaallah... cantik banget," ucap Alex spontan saat melihat Cilla mendekat.
Mendengar ucapan itu, Zayn dan Yoga ikut menoleh.
"Kayaknya... nggak asing deh," gumam Zayn sambil terus memperhatikan wajah Cilla.
"Zay, lo kenal?" tanya Yoga penasaran.
Alex menyenggol pelan lengan Zayn sambil tersenyum jahil.
"Wah, hebat juga lo, Zayn. Diam-diam punya kenalan cewek secantik ini, nggak bilang-bilang lagi."
Zayn tidak menjawab godaan Alex. Tatapannya tetap tertuju pada perempuan yang berdiri di hadapannya. Ia mencoba mengingat-ingat, wajah itu terasa begitu familiar.
Beberapa detik kemudian, mata Zayn membulat seolah baru menyadari sesuatu.
"Cilla... Anaya?" gumamnya pelan.
"Iya, benar sekali," jawab Cilla sambil tersenyum manis.
Alex dan Yoga saling berpandangan, sama-sama kebingungan melihat Zayn ternyata benar-benar mengenal perempuan cantik itu.
Dari kejauhan, Abelia bersama Melani dan Cindy memperhatikan keakraban Cilla dengan Zayn. Pemandangan itu membuat wajah Abelia mengeras.
Rasa kesalnya semakin memuncak. Kehadiran Cilla bukan hanya menyaingi kecantikannya, tetapi juga tampak begitu dekat dengan Zayn, pria yang selama ini diam-diam ia sukai.:::