Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 - Ruang Elegi

Sabtu pagi yang damai. Kamar Mika masih tenggelam dalam kesunyian yang tenang, diiringi dengkuran kecil nan lembut dari balik selimut. Tirai jendela masih tertutup rapat, tak memberi celah sedikit pun bagi cahaya mentari pagi untuk masuk.

Tok. Tok. Tok.

"Sayang, bangun. Ayo sarapan dulu, nanti tidurnya dilanjut lagi," suara lembut Maminya terdengar dari balik pintu yang tertutup. Namun, beberapa panggilan itu belum mendapat sahutan.

"Ayo, Sayang... bangun dulu, yuk."

Mika menggeliat pelan, merentangkan tangannya yang terasa kaku. "Iya, Mi. Aku udah bangun. Bentar lagi turun. Kasih aku waktu lima menit lagi."

Bukannya langsung bangkit, Mika malah berguling ke sisi lain tempat tidur sambil menarik selimut tebal menutupi wajahnya. Dunia di luar masih terlalu terang baginya, membuat Mika makin enggan beranjak dari tempat tidur yang nyaman dan hangat.

Beberapa menit kemudian, dengan langkah gontai dan kelopak mata yang belum sepenuhnya terbuka, Mika akhirnya muncul di ruang makan. Ia langsung duduk di kursi, sesekali masih menguap lebar sembari menopang dagu.

Di hadapannya, sudah terhidang sepotong roti beroleskan selai cokelat, segelas susu hangat, serta sepiring kecil irisan buah apel segar. Papi dan Maminya menyambut kehadirannya dengan senyum hangat.

"Masih ngantuk, Kak? Gimana praktik mengajarnya? Lancar sejauh ini?" tanya Papinya ramah, disusul seruputan pelan secangkir kopi hitam di tangannya.

Mika hanya mengangguk kecil sebagai jawaban malas. Tangannya bergerak lambat meraih potongan roti, lalu menyuapkannya ke mulut tanpa banyak bicara. Wajahnya masih ditekuk lelah, rambut acak-acakan, dan sesekali matanya kembali terpejam selama beberapa detik saat mengunyah.

Maminya tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan. "Habis ini Mami sama Papi mau pergi belanja. Kamu mau ikut atau mau tidur lagi? Atau mau titip sesuatu, Sayang?"

Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Mika yang masih sibuk mengunyah makanannya. Ia hanya membalas dengan gelengan kepala.

Pagi pun perlahan mulai berjalan.

Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa. Di ruang tamu, suara pelan dari layar televisi yang menyala menjadi latar belakang keheningan Mika yang sedang rebahan di sofa. Berbalut kaos oversize dan rambut kusut yang belum tersentuh sisir sejak bangun tidur, ia menikmati momen bermalas-malasan tanpa niat melakukan apa pun untuk mengisi hari liburnya.

Ding dong!

Bel rumah berbunyi nyaring, cukup untuk membuat Mika mengerutkan kening karena merasa ketenangannya terganggu.

Dengan langkah malas dan kepala yang masih terasa berat, ia bangkit dari sofa menuju menuju pintu. Ketika daun pintu terbuka, sosok yang sangat dikenalnya sudah berdiri di sana. Cewek itu berwajah segar, mengenakan kaos dibalut jaket, celana panjang, serta tas selempang kecil di pundaknya.

"Al?" gumam Mika sembari mengusap matanya yang masih terasa lengket. "Pagi bener kamunya kemari. Rencananya kan jam sepuluh?"

Alya sedikit menahan kekesalannya, berkacak pinggang menatap Mika. "Liat! Sekarang udah jam berapa. Dah jam sepuluh kurang lima belas, dan kamu masih bilang 'pagi'?"

Mika hanya mengedipkan mata polos seraya menggaruk kepalanya.

"Tadi aku udah nge-chat, tapi gak kamu bales-bales. Ditelepon beberapa kali juga gak diangkat sama sekali."

Mika mendesah pelan, lalu menyeringai tanpa dosa. "Hmmm... Hehe. Ya udah, masuk dulu, gih. Jangan marah-marah dong. Aku mau mandi bentar."

"Emang kebiasaan!" balas Alya sambil menjitak kepala Mika ringan saat melangkah masuk rumah.

Hampir dua puluh menit kemudian, Mika sudah kembali dengan tampilan yang sepuluh kali lebih hidup dari sebelumnya. Ia tampak begitu percaya diri dengan potongan rambut baru lengkap dengan poni tipis yang lucu nan tipis. Aroma body mist yang manis langsung menyeruak setiap kali ia melangkah, dipadukan dengan kacamata bulat tipis yang memberi kesan vintage dan santai.

"Aku udah siap!" serunya sambil memutar tubuh mungilnya di depan Alya, berpose centil bak model di atas catwalk dadakan. "Hari ini mungkin aku bakal ketemu cowok cakep, jadi harus tampil maksimal dong, ya kan?"

Alya hanya menggeleng pelan setengah geli, setengah pasrah melihat tingkah sahabatnya. "Kita ini kan cuman mau pergi ke toko buku, Mik. Bukan lagi mau fashion show ke mall."

"Loh! Cowok keren itu bisa muncul di mana aja, Al. Kamunya aja yang gak tau," balas Mika centil. Ia berkedip manja dengan senyum lebar tak pernah absen dari wajahnya.

"Terserah apa katamu deh," keluh Alya pasrah.

Sebelum mereka beranjak pergi, Alya sempat melirik sekeliling ruang tamu yang terasa begitu lengang. "Akhir pekan tumben kok sepi banget. Mami sama Papimu pada ke mana?"

"Ke supermarket buat belanja bulanan. Terus tahu deh sampai sekarang belum pulang," jawab Mika sambil meraih tas kecilnya dan sibuk mengecek isi dompet.

Alya mengangguk-angguk paham. "Ohh, Pantes..."

Dan seperti itu, keduanya pun akhirnya berangkat. Langit begitu cerah siang ini, namun udara luar terasa cukup terik menyengat kulit.

Sepanjang perjalanan, riuh angin diselingi oleh tawa ringan mereka yang tak pernah kehabisan topik obrolan.

Beruntung jalanan tak begitu macet di akhir pekan ini, sehingga kurang dari setengah jam mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah toko buku bekas yang sudah menjadi langganannya Alya.

"Nah, kita sampai!" seru Alya ringan. Ia melepas helmnya lalu menyandarkannya di spion motor.

"Akhirnya."

Mika dan Alya berjalan beriringan, memasuki salah satu toko buku bekas di antara deretan toko lainnya di kawasan tersebut. Di dalam, rak-rak kayu tua dipenuhi berbagai judul dan jenis buku, mulai dari buku pelajaran sekolah hingga novel-novel klasik yang kondisinya masih cukup bagus.

Mata Mika langsung berbinar, persis anak kecil yang baru saja masuk ke toko permen.

"Aku boleh ambil komik juga, kan?" tanyanya setengah bercanda, sementara matanya sudah melirik genit ke arah rak berwarna-warni di sudut ruangan.

Alya hanya tersenyum, menggeleng pelan sambil jemarinya mulai menelusuri deretan buku cerita anak di rak kayu. "Kita ke sini nyari buku buat anak-anak, bukan buat remaja yang baru puber."

"Anak-anak kan juga bakal suka baca komik, Al."

"Iya, tau. Tapi bukan yang itu juga," jelas Alya sembari tangannya menunjuk ke rak yang berisi komik remaja bertema romansa dan asmara.

Beberapa menit kemudian, Mika memasang ekspresi puas luar biasa usai menemukan buku bergambar hewan lucu. Kini, dua tumpukan besar buku cerita rakyat mulai dari Malin Kundang, Timun Emas, Si kancil dan Buaya, hingga dongeng luar seperti Pinokio dan Gadis Berkerudung Merah sudah berada di atas meja kasir. 

Penjaga toko menyambut mereka dengan senyum ramah. Alisnya seketika terangkat begitu melihat tumpukan yang cukup tinggi di depan matanya.

"Buset, beneran ini semua? Banyak amat belinya kali ini," ujarnya sembari memindai satu per satu barcode buku.

Alya menoleh sambil tersenyum. "Iya, Mas. Rencananya ini semua mau kami sumbangin buat anak-anak di panti asuhan," jawabnya jujur.

Ekspresi penjaga toko berubah makin ramah. "Oalah, pantes aja sebanyak ini." Ia mengangguk pelan, lalu menarik kardus besar dari bawah meja kasir untuk mengemas buku-buku tersebut.

Alya sudah cukup sering mampir ke tempat ini untuk sekadar membeli buku atau novel pengisi waktu luar. Tak heran ia sudah cukup akrab dengan mas-mas penjaga toko itu.

"Semoga anak-anaknya pada suka, ya. Dan jadi makin rajin membaca," ucap penjaga toko tulus. "Kalo gitu, khusus buat hari ini aku kasih kalian diskon spesial."

Mika langsung mengangkat dua jempol tinggi-tinggi. "Wah, Masnya cakep luar dalem. TOP banget deh!"

Alya hanya bisa menahan tawa, menunduk sedikit sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan ajaib sahabatnya. Sementara itu, mas-mas penjaga toko tersipu malu dengan wajah yang memerah tipis.

Setelah semua pembayaran selesai dan dipacking rapi ke dalam kardus, mereka mengangkatnya menuju motor. Mika menopang kardus besar itu dengan hati-hati di jok belakang, sementara Alya bersiap memasang helm.

Namun baru saja Alya melirik ke arah jalan, suara rengekan manja menyapa telinganya.

"Aaaaal, gerah banget! Panas poll hari ini," keluh Mika dengan bibir mengerucut, memeluk kardus seraya mengusap keringat di pelipisnya. "Kita beli es dulu aja, ya?"

Alya menoleh dengan tatapan datar. "Belom juga apa-apa."

Mika memonyongkan bibirnya makin panjang, lalu memegangi lehernya dengan nada yang sengaja dibuat dramatis. "Haus ini mencoba membunuhku... Tolong aku, Alya! Aku udah gak tahan lagi."

Alya akhirnya tertawa geli, lalu menunjuk ke sebuah kedai minuman dingin di ujung deretan toko. "Ya udah, kalo gitu kita beli es dulu di sana. Sekalian ngadem bentar."

"Siaaap!" Mika langsung tersenyum lebar, persis anak kecil yang baru diberi hadiah.

Mereka turun dari motor dan berjalan beriringan menuju kedai, meninggalkan motor mereka sejenak di bawah pohon yang rindang.

Meskipun kedai tujuan mereka itu kecil, di balik etalase kacanya tampak deretan cup plastik yang berjajar rapi, menunggu diisi berbagai varian minuman dingin yang menggoda di tengah siang terik ini.

"Aku mau thai tea satu. Yang jumbo! Es batunya cukupan aja, jangan banyak-banyak," pesan Mika mantap kepada penjualnya.

Alya memilih pesanan yang lebih ringan, "Lemon tea satu Mas. Tapi gulanya dikit aja," ucapnya, lalu melirik ke arah Mika. "Buat netralin mulut temenku yang manisnya kadang suka berlebihan."

Mika menyipitkan mata, menatap Alya dengan penuh tanda tanya, "Itu sindiran atau pujian, ya?"

"Terserah, bebas pilih mana yang kamu mau," balas Alya santai sambil merogoh dompet untuk membayar pesanan mereka.

Sesaat kemudian, mereka duduk sejenak di bangku kayu dekat tembok sambil menikmati sedotan pertama.

"Ahh.. segernya! Minum yang dingin-dingin saat panas gini emang terbaik," ujar Mika puas, memandangi gelas plastiknya dengan binar bahagia.

Sambil melepas lelah, mereka memperhatikan orang-orang dan kendaraan yang lalu-lalang, mengobrol tentang ini itu sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, motor mereka berbelok menelusuri sebuah gang yang teduh.

Sebuah papan kayu sederhana bertuliskan Panti Asuhan Cahaya Hati menyambut kedatangan mereka. Halaman panti tak terlalu luas, namun tampak bersih dan tertata rapi. Terlihat beberapa anak kecil sedang tertawa ceria bermain ayunan tua di bawah rindangnya pohon ketapang.

Alya memarkirkan motor dengan perlahan di dekat pagar. Mika segera turun dari boncengan, memeluk erat kardus besar berisi buku-buku yang baru saja mereka beli. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya muncul dari ambang pintu panti.

"Assalamu'alaikum, Bu Siti," sapa Alya lembut. Raut wajahnya seketika berseri-seri melihat sosok wanita itu.

"Wassalamu'alaikum, Nak," jawab Bu Siti dengan senyum haru menyambut kedatangan mereka.

Alya dan Mika berjalan menghampiri ke arah Bu Siti. Begitu kardus bawaan mereka diletakkan di teras, Alya langsung mencium tangan Bu Siti, lalu memeluknya hangat.

"Gimana kabarnya, Bu? Sehat-sehat aja, kan?"

"Ibu sehat, alhamdulillah. Alya sendiri gimana, sehat?"

"Alhamdulillah sehat juga, Bu."

"Nak Mika gimana? Keluarga di rumah juga baik-baik saja, kan?" tanya Bu Siti. Ia melepaskan pelukan Alya lalu menoleh ke arah Mika dengan sorot mata penuh kasih.

Senyum lebar langsung terbit di wajah Mika. "Sehat, Bu! Mami dan Papi di rumah sehat."

"Ini kami bawa beberapa buku buat anak-anak di sini, Bu. Semoga mereka suka dan bisa bermanfaat," ucap Alya dengan senyum seraya menunjuk kardus di dekat kaki mereka.

Wajah Bu Siti langsung dipenuhi rasa syukur yang mendalam. "Masyaallah... terima kasih banyak ya, Nak. Mereka pasti bakal senang sekali. Ayo, masuk dulu."

"Iya, Bu," jawab Alya dan Mika serentak.

Sambil mengangkat kardus bersama, Alya dan Mika berjalan mengekor di belakang Bu Siti menuju ruang tengah.

Tak lama, beberapa anak datang berlarian saat Bu Siti memanggil mereka. Begitu kardus dibuka, sorak girang dan tawa renyah seketika memenuhi seisi ruangan. Mata-mata kecil itu tampak berbinar, sementara tangan-tangan mungil mereka berebut meraih buku-buku cerita bergambar warna-warni.

"Ada Si Kancil! Aku mau baca ini!" seru seorang bocah laki-laki sambil mengangkat bukunya tinggi-tinggi dengan penuh semangat.

Anak-anak lain yang sudah menggenggam buku pilihan masing-masing bergegas duduk bersila di atas karpet. Mereka mulai tenggelam membaca bersama teman di sebelahnya, meski lidah mereka sesekali masih terbata-bata mengeja kata demi kata.

Suasana ruangan seketika berubah menjadi begitu hangat dan riuh. Suara ejaan nyaring, tawa polos lepas, serta bisik-bisik tak sabar saat mereka saling memamerkan ilustrasi gambar membuat sore itu terasa begitu berkesan.

Sementara Bu Siti ke dapur untuk menyiapkan minum, Alya dan Mika duduk bersebelahan memandangi anak-anak panti yang kini tengah larut dalam dunia imajinasi mereka.

Alya mengulas senyum kecil yang tulus, sebuah senyuman yang tak lahir dari kelimpahan materi, melainkan dari rasa cukup dan kedamaian di dalam hati yang selalu tahu cara bersyukur, meski hidup kadang tak memberi banyak pilihan.

"Setiap dari mereka pasti punya mimpi," gumam Alya lirih, seakan sedang berbisik pada dirinya sendiri. "Dengan segala keterbatasan dan keadaan yang ada, mereka masih bisa tersenyum selebar itu."

Mika melirik ke arah Alya sekilas, lalu mengangguk pelan. Baginya, tak ada kata lagi yang bisa diucapkan untuk menggambarkan pemandangan sehangat ini.

Alya akhirnya tertawa kecil demi menutupi rasa harunya, lalu menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan sorot matanya yang mulai berkaca-kaca.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!