Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boneka Beruang
Senja menghempaskan tubuh di atas kasur bersamaan dengan boneka beruang ikut terjatuh dari dekapannya. Boneka yang berhasil di dapatkan dari permainan di pasar malam tadi. Ya, Rencana untuk mencari pasar malam pada hari lebaran di temukan oleh mereka. Meskipun harus mengelilingi kota terlebih dahulu.
Senja menatap lamat boneka pink itu, entahlah tidak ada perasaan yang begitu membuncah di hati nya saat ini. Semua begitu hambar, sikap yang ia perlihatkan ke Rafka murni seperti kesehariannya, tidak ada yang istimewa.
Jika nantinya Rafka mengetahui hal ini, apakah Pria itu akan pergi darinya? Hal apa yang dapat Senja Yakini di hubungan ini? Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata indahnya. Ia menangis, pikirannya kembali berisik di seputaran kegagalan. Gagal mencapai impian, gagal meraih kebahagian orang tua, gagal di sebuah hubungan, gagal menjadi diri sendiri.
Keberhasilan yang ia inginkan baru saja tercapai, tapi mengapa keadaan seakan menghantamnya untuk mundur melalui hubungan asmaranya, Kekhawatiran orang tuanya dan keraguan yang kembali muncul di dirinya.
Memang benar, hubungan asmara dan karir tidak bisa di barengi sekaligus. Tapi mengapa dia harus terjebak di situasi dan kondisi seperti itu? Oh ayolah ia hanya manusia biasa yang mudah sekali terkecoh oleh hal-hal seperti ini, sedewasa apapun dia sekarang ketidak konsistennya dalam memilih selalu menghampirinya.
Aku harus apa sekarang? Aku ragu dengan hubungan ini, berpura-pura menerima dia? Apa aku bisa? Aku labil ya Allah, tolong jangan uji aku seperti ini. Aku tidak kuat menjalaninya, aku hanya ingin hidup damai dengan apa yang sudah aku dapatkan sekarang. Aku cape, Tuhan…
Tangisan itu pecah seiring banyaknya bisikan-bisikan dari pikirannya yang tak kondusif sekarang, Ia gagal mengendalikan diri.
Terbesit untuk memutuskan hubungan nya dengan Rafka sekarang, ia ingin egois, mempertahankan karirnya sekarang. Tapi sanggupkah jika ia harus melihat wajah sedih kedua orang tuanya sekali lagi? Sanggupkah ia menorehkan luka untuk Rafka yang memohon meminta kesempatan di hubungan keduanya? Sanggupkah ia melepaskan sosok seperti Rafka yang mengusahakan kebahagiaannya?
Bunyi hp berdenting menampilkan nama Rafka yang menghubunginya. Senja membiarkannya, panggilan telepon itu berhenti tak terjawab. Tapi tak sampai semenit, Hp berkepemilikan Senja itu kembali menyala, pesan masuk yang tanpa di lihat Senja, sudah tau. Itu Rafka.
Tidak hanya sekali, melainkan lebih dari tiga kali pesan masuk berturut-turut. Setelah itu hening. Gadis itu menghela nafas lega. Satu lagi poin plus Rafka, dia tidak memaksa sampai Senja membalas pesannya.
Ditatapnya boneka beruang nya. Setiap memandangnya Senja seakan melihat adanya Rafka di boneka itu. Apakah pria itu tau keadaannya sekarang? Tidak masuk akal! Mereka bukanlah pasangan yang saling mencintai sampai saling terhubung batin satu sama lain. Hubungan pun baru terjalin dua hari. Masih sangatlah rentan, Bahkan dia saja sudah punya pemikiran mengakhiri hubungan itu.
Senja terkekeh, “hai beruang, tuanmu menitipkanmu kepada aku. Sedangkan pasanganmu dia yang mengambilnya!. Kalian di pisahkan begitu kejam olehnya. Ayo hakimi dia!" monolognya, tangan boneka itu di gerakkan menunjuk lawan bicara. Sudah tidak ada air mata yang mengalir deras di atas pipi, di gantikan gumaman kecil persis anak kecil bermain dengan boneka dan isakan pelan.
“Dunia tidak adil ya, lihatlah kamu di pisahkan secara paksa. Padahal di pasar malam tadi kamu masih Bersama dengan pasanganmu” tangan-tangan lentik Senja menelusuri wajah boneka beruangnya “kalau seandainya aku tidak berhasil dengan dia, kira-kira kamu di ambil ngga ya?”
Wajah yang mulai ceria berkat boneka itu kembali terlihat murung “aaaa kenapa mukamu mirip dia?!....” Senja mengguncang-guncang tubuh bonekanya. “pokoknya kamu harus mirip aku Pinky. Namamu Pinky sekarang, karena warnamu pink.”
Senja terdiam. Lelah berbicara sendiri. dengan malas di raihnya hp yang di lempar sembarangan itu. sekarang terlihat jelas pesan dari Rafka, hampir setengah jam di abaikan.
Rafka
‘Senja?’
‘Bagaimana bonekanya? Suka’
‘Bonekanya kita pisah dulu ya, nanti Bersatu lagi kok’
‘sudah tidur ya?’
‘Pasti cape banget. Istirahatlah. Mimpi yang indah calon Istri Rafka’
Total lima bubble chat dari Rafka, sekali lagi tidak ada reaksi lebih dari Senja. Wajahnya tampak biasa saja membaca pesan terakhir itu. Perasaanya seperti sudah tidak berfungsi dengan benar, Senja sadar, apa yang di lakukannya sekarang salah. Rasa sakit yang ia terima sebelumnya karena nya juga bukan? Ini adalah konsekuensi memilih karir. Tapi jika memilih hubungannya bukankah sama saja dengan dia yang mengalah? Mengalah demi orang lain, lagi.
Di kamar bernuansakan biru tua ada Rafka yang tidak henti tersenyum karena aksi beraninya mengirimkan pesan seperti itu ke Senja. Rencana awalnya dia hanya ingin menelepon gadis itu, seperti hubungan yang lain. Berbincang sebelum tidur, Rafka sering melihat hal seperti itu. Tapi karena Senja tidak kunjung menjawab panggilannya. Terpaksa ia urungkan dan di gantikan mengirim pesan.
Pendekatannya hari ini membuatnya yakin bisa mendapatkan hati Senja yang mulai hilang rasa pada sebuah hubungan. Dia paham semua perlakuan Senja tadi, tidak ada yang istimewa untuknya. Tidak ada rona semu yang di tunjukkan Senja selama mereka Bersama tadi.
Rafka penasaran, sesakit apa sampai gadis itu menutup diri seperti ini. Karena dari informasi yang di peroleh, Senja selalu gagal dalam hubungannya dulu. Bukan karena di selingkuhin, keke rasan apalagi pengania yaan. Semua murni karena terhalang kontrak Senja, sama seperti yang Senja beberkan kepadanya malam itu.
Tapi mengingat kegagalan itu bukan hanya sekali dua kali, Rafka memaklumi responnya terhadap hubungannya yang sekarang. Tugasnya adalah mengembalikan kepercayaan milik Senja, kembali membuka hatinya, dan bersabar menunggu serta memahami Senja.
Sesekali Rafka menoleh ke hpnya, berharap pesannya di balas. Boneka beruang berwarna biru senantiasa duduk di sampingnya, menemani aksi kegi laannya sekarang. “Istrimu ada sama mamanya, kalian pisah dulu ya? Doakan aku bisa membujuk cepat mamanya biar mau sama aku” Rafka terkekeh menyadari kelakuannya. “Dah ngga waras aku!”
Ting!
Rafka menyambar hp nya kala mendengar notif masuk, berharap Senja lah yang membalas pesannya. Wajahnya mendadak kusut melihat nama pengirim pesan. “Kampret! Ngapain sih nih anak malam-malam masih sibuk jadi wartawan!”
Viki
‘Oy Ka, anak mana yang kamu lamar?’
‘Ngga asik, ngga ngundang!’
‘Balas ngapa sik! Sombong banget’
Tak tanggung-tanggung Viki menelpon Rafka sekarang. Rasa penasaran laki-laki itu tidak hilang sejak ia mempost statusnya.
“Apasih? Sudah malam ganggu banget!” belum sempat Viki memborbardir pertanyaan, Rafka tidak kalah cepat menyembur kan omelan.
‘Westt santai kawan! Yang baru aja lamaran ngga ngundang-ngundang’ di seberang Viki sudah tertawa puas. Membuat Rafka merotasi mata malas.
“Sudah malam, Vik. Mau tidur ini”
‘Apaan, baru jam segini. Curiga bukan lamaran tapi sudah nikah ya kau? Wahh parah sih!’ lihatlah semakin melantur pula omongan sahabatnya ini.
“Ngga waras! Sudahlah” tanpa menunggu balasan Viki, Rafka langsung menekan tombol merah hingga memutuskan sambungan telepon itu. “Ganggu banget, kaya ngga punya kerjaan. Baru lamaran aja sudah heboh, gimana kalau aku nikah. Loncat dari Gedung kali”
Bunyi dering telpon masuk kembali menghampiri hp miliknya, Rafka menggeram. Temannya ini di biarin makin menjadi rupanya. Di raih kembali hp nya “Apa lagi sih? Bisa jangan ganggu ngga? Berisik! Aku baru lamaran bukan sudah nikah! Telpon lagi, ku laporin kau besok!”
‘Halo, Rafka?’ baru akan memutuskan telepon, suara dari seberang pemanggil terdengar. Rafka terdiam, Tunggu, ini bukan suara nya Viki. Masa suara Viki berubah jadi Cewe? Rafka langsung melirik nama Pemanggil tersebut ‘Arunika Binar Senja’.