Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 11
Anomali itu menatap Rey dan Sasha dengan tatapan mengintimidasi, layaknya predator yang tengah mengincar mangsanya tiba-tiba, ia menjatuhkan pedang.
CLANG!!!
Pedang itu membentur beton dengan keras Tanpa ragu, anomali tersebut melangkah maju. Tubuhnya yang tinggi dan kurus bergerak dengan cara yang mengerikan. Salah satu kakinya yang panjang dan ramping diangkat tinggi, lalu dihantamkan ke arah Rey dan Sasha.
BRUKKK!!!
Hantaman itu begitu keras hingga jalan beton di bawahnya retak Anomali tersebut kembali mengangkat kakinya, hendak melanjutkan serangan ia terdiam.
Anomali tersebut menyadari Rey dan Sasha sudah tidak ada di sana ternyata, sesaat sebelum hantaman itu mengenai mereka, Rey berhasil memindahkan Sasha ke sisi lain yang cukup jauh dari anomali tersebut Rey segera memastikan keadaannya.
"Sasha, kamu tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Rey. Makasih."
Seketika, anomali itu menoleh tatapannya kembali tertuju kepada mereka Tanpa membuang waktu, ia mengangkat salah satu kakinya dan mencoba menginjak mereka berdua namun, saat kaki itu hampir menghantam mereka Rey bergerak lebih dulu.
SRAKKK!!!
Pedangnya menusuk kaki anomali tersebut hingga menembusnya. Rey kemudian menarik pedangnya dengan kuat, membuat telapak kaki anomali itu terbelah menjadi dua.
"GRAHHH!!!"
Anomali itu meraung kesakitan tangannya yang kurus bergerak cepat dan langsung mencengkeram tubuh Rey.
Rey tidak sempat menghindar Genggaman anomali itu begitu kuat hingga membuat tubuhnya sulit bergerak Anomali tersebut membuka mulutnya lebar-lebar. Deretan gigi taring tajam terlihat jelas di dalamnya.Kemudian, ia membalikkan tubuh Rey sehingga kepalanya mengarah ke bawah.
Rey meronta sekuat tenaga Namun, genggaman itu tidak juga terlepas Mulut anomali semakin mendekati kepalanya.Dalam keadaan terdesak, Rey langsung menggigit tangan anomali tersebut sekuat tenaga hingga berhasil merobeknya.
"GRAHHHH!!!"
Anomali itu meraung kesakitan dan refleks melepaskan Rey Tubuh Rey jatuh dengan posisi kepala mengarah ke bawah, tepat di atas mulut anomali yang masih terbuka lebar.Untungnya, Rey masih menggenggam salah satu pedangnya
Dalam sepersekian detik, ia memutar tubuhnya dan mengarahkan pedang tersebut ke mulut anomali.
BRESS!!!
Pedang itu kembali menancap ke dalam mulutnya
Rey kemudian mendorong gagang pedang menggunakan kakinya sekuat tenaga.
BRAKKK!!!
Anomali tersebut kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur menghantam tanah Rey segera memanggil Sasha.
"SASHA! AKU BUTUH PISAU!"
Sasha langsung berlari menghampirinya sambil menjinjing tas besarnya Ketika Sasha akhirnya tiba di depan Rey, Rey justru terkejut.
Ternyata Sasha belum menyiapkan pisaunya.
"Mana pisaunya?" (tanya rey)
Sasha segera menurunkan tas jinjing besar tersebut dan membukanya Namun, ia sendiri terlihat kebingungan Di dalam tas itu terdapat begitu banyak senjata tajam, bahkan beberapa pistol Sasha menatap isi tasnya dengan bingung.
*Serius... sebanyak ini alatnya?*
Ia segera mengotak-atik seluruh peralatan yang ada di dalam tas beberapa saat kemudian, Sasha akhirnya menemukan pisau yang dibutuhkan Rey Namun, sebelum sempat menyerahkannya. Anomali itu bergerak Ia mulai tersadar dan berusaha bangkit kembali Rey yang menyadari hal tersebut segera meraih pedangnya Namun, anomali itu bergerak lebih cepat.
KRAKKK!!!
Ia menggigit pedang yang masih tertancap di mulutnya hingga pedang tersebut terbelah menjadi dua Rey langsung melompat mundur.
"GRAHHH!!!"
Raungan anomali itu terdengar mengerikan Dengan separuh pedang masih tertancap di dalam mulutnya, anomali tersebut kembali berdiri Rey menatapnya.
Ia ingin segera mengakhiri pertarungan ini Rey mengambil separuh pedang yang tersisa, lalu meraih pisau dari tangan Sasha tanpa basa-basi, ia langsung berlari menuju anomali tersebut, Anomali itu menyadari Rey datang dengan cepat.
Ia segera merendahkan tubuhnya, lalu mengepalkan salah satu tangannya dan menghantamkannya ke arah Rey.
Rey sedikit menghindar Begitu tinju itu melewatinya, Rey langsung melompat ke arah lengan anomali tersebut.
Ia menjadikan lengan itu sebagai pijakan untuk melompat menuju kepala anomali.
Anomali tersebut mencoba menghalanginya dengan menepukkan lengannya.
Namun, gerakan Rey terlalu cepat.
Ia mampu membaca arah serangan dan menghindarinya.
Begitu berada di bahu anomali, Rey segera menancapkan separuh pedangnya ke sisi kepala makhluk tersebut dengan seluruh tenaganya.
SRAKKKK!!!
Rey terus menggerakkan tubuhnya ke samping, membanting dan menarik tubuhnya agar pedang tersebut tertancap semakin dalam Anomali itu meraung kesakitan dan berusaha menangkap Rey, namun usaha anomali itu sia-sia Kepala anomali tersebut akhirnya berhasil dibelah.
Dan di balik bagian kepala itu, Rey melihat sesuatu yang membuatnya terkejut Di dalamnya terdapat seorang pria Kedua mata pria itu berwarna merah, sementara tubuhnya dililit oleh saraf-saraf yang terhubung ke tubuh anomali Saraf-saraf itu tampaknya berfungsi untuk mengatur setiap gerakan tubuh anomali namun, karena kepalanya telah terbelah, gerakan anomali itu mulai kacau Tubuhnya bergerak semakin tidak terkendali.
Separuh pedang yang digunakan Rey akhirnya terlepas dan terlempar Kini, hanya pisau yang tersisa di tangannya Rey segera mencoba menikam pria tersebut Namun, pria itu menahannya Kedua tangannya mencengkeram tangan Rey Meskipun tangannya sudah terluka parah dan berlumuran darah, pria itu tetap berusaha menahan serangan Rey.
Ia mencoba melawan Namun, tubuh anomali yang dikendalikannya bergerak tidak sempurna dan semakin sulit dikendalikan. Di sisi lain, Sasha harus terus menghindari injakan anomali yang kini bergerak tanpa arah Sementara itu, Rey tetap berusaha menusukkan pisaunya ke leher pria tersebut.
"Kelamaan kalau gini."
Tanpa berpikir panjang, Rey langsung membenturkan kepalanya ke arah pria tersebut.
BRUKKKK!!!
Benturan keras itu membuat pria tersebut lengah Rey tidak menyia-nyiakan kesempatan Ia segera memanfaatkan momen tersebut dan menusukkan pisaunya ke leher pria itu.Seketika, tubuh pria yang berada di dalam anomali tersebut kehilangan tenaga.
Tubuh anomali pun tumbang.
GUBRAKKK!!!
Pria itu tewas di tempat.Sasha yang melihat semuanya hanya bisa terdiam Ia merasa kagum pada kemampuan Rey, tetapi di saat yang sama juga sedikit takut melihat kejadian mengerikan di depan matanya.
"Rey..."
Rey menoleh ke arahnya.
"Akhirnya berhasil."
Sasha segera berlari menghampiri Rey.
"Hehehe... benar. Coba tadi waktu anomali itu terjatuh, harusnya bisa langsung dikalahkan."
Mendengar ucapan tersebut, Sasha langsung merasa bersalah. Ia mengira keterlambatannya mengambil pisau telah memberi kesempatan bagi anomali untuk bangkit kembali.
"Aku minta maaf."
"Maaf kenapa?"
Rey terlihat kebingungan.
"Soal tadi... harusnya aku tidak terlalu lama mengeluarkan pisaunya. Jadi, anomali itu keburu bangun."
"Gapapa... itu bukan kesalahan kok. Cuman..."
Rey menatap mata Sasha Tatapannya menunjukkan sedikit rasa bersalah.
"Intinya, itu bukan salahmu, Sasha. Tenang saja. Ini kan masa uji coba kerja di lapangan. Aku bakal kasih nilai bagus buat kamu, asal kamu bukan orang yang menghalangi kami, para pemburu."
"Serius? Tapi kok..."
Sasha masih merasa aneh.
"Udah, tenang aja, Sasha."
Rey kemudian memperhatikan Sasha.
"Emm... gimana?Melihat aku dalam kondisi penuh darah seperti ini membuatmu fobia?"
Rey menatap Sasha dengan tatapan santai, tetapi terasa seperti seorang juri yang sedang menilai hasil ujian Sasha terdiam sejenak.
*Aku harus mengatakan tidak. agar aku lolos tes kerja lapangan ini.*
"Emmm... tidak."
Rey menatap kedua mata Sasha yang kini terlihat serius.
"Oke."
Hanya itu yang dikatakannya Rey segera mencabut pisau dari leher pria tersebut, lalu turun dari tubuh anomali Ia kemudian menyerahkan pisau yang masih berlumuran darah kepada Sasha.
"Simpan pisau ini ke dalam tas."
"Ee... Rey, pisaunya tidak dibilas dulu?"
"Tidak perlu. Masukkan saja ke dalam tas tersebut."
Sasha mengangguk dan segera memasukkan pisau itu ke dalam tasnya.