Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Kebangkrutan di Depan Mata

Pagi itu, sinar matahari merayap naik menembus tirai kusam ruang tamu rumah kontrakan. Namun, kehangatan pagi tak mampu mengusir hawa dingin yang mencekik. Rumah yang biasanya riuh oleh perintah kasar Ibu Rosma, kini diliputi kepanikan yang teramat sangat.

"Ini tidak mungkin! Ini pasti ada kesalahan sistem!" jerit Hendra histeris di tengah ruang tamu. Kemeja mewahnya yang biasa rapi kini kusut, kacamata bermereknya agak miring. Ponsel pintar di genggamannya terus menerus berdering, menampilkan nama-nama jajaran direksi dan bank swasta yang menagih janji pembayaran.

"Ada apa, Hendra?! Kenapa kamu berteriak-teriak pagi-pagi begini?" Rosma melangkah keluar dari kamar dengan wajah pucat, kehilangan seluruh riasan tebal yang biasa membungkus keangkuhannya.

"Semua rekening perusahaanku dibekukan, Bu!" lontar Hendra dengan suara gemetar hebat. Tangannya menunjuk-nunjuk layar ponsel. "Investor utama menarik seluruh dana modal seratus miliar secara mendadak! Bukan hanya itu, pihak bank membatalkan pinjaman ekspansi kita dan menuntut pelunasan utang dalam tiga hari! Jika tidak, seluruh aset perusahaanku—termasuk toko-toko kelontong dan aset yang Ibu jadikan jaminan—akan disita!"

"Apa?!" Rosma menjerit, memegangi dadanya yang mendadak sesak. Wajahnya memucat bak mayat. "Tapi... tapi bukankah perusahaannmu sangat stabil?! Kamu bilang kamu menantu kaya yang punya koneksi dengan pejabat tinggi!"

Dion yang baru keluar kamar sambil mengucek mata seketika melotot panik. "Mbakyu! Mas Hendra! Jangan bercanda! Rumah ini dan toko kelontong atas namaku kan dijadikan jaminan utang usaha Mas Hendra! Kalau disita, kita mau tinggal di mana?!"

"Aku tidak bercanda, Dion!" bentak Hendra murka, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Perusahaan kita di ujung tanduk! Jika dalam hitungan minggu tidak ada investor baru yang menyuntikkan dana segar, kita semua akan gulung tikar dan menjadi gelandangan!"

Kepanikan dan saling tuduh meledak di ruang tamu. Suara lengkingan Rosma dan makian Dion beradu dengan ratapan Hendra yang kehilangan seluruh harga dirinya.

Di saat keriuhan itu memuncak di luar, pintu kamar belakang yang kusam tertutup rapat.

Clarissa duduk menyendiri di tepi kasur busa yang terlantar. Suara keributan keluarganya tentang uang dan kekayaan yang sirna sama sekali tak menyentuh hatinya. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya sembap dan merah akibat menangis semalaman tanpa henti.

Kamar yang sempit itu kini terasa amat luas, dingin, dan hampa. Tidak ada lagi aroma minyak kayu cendana yang biasa menguar dari kaos murah suaminya. Tidak ada lagi senyum tulus yang selalu menyambutnya setiap kali ia merasa lelah.

Clarissa perlahan berbaring miring di atas kasur. Jemari lentiknya yang gemetaran mengusap perlahan permukaan sprei di sisi tempat tidur yang kosong—sisi kasur tempat Rendy biasa berbaring di sampingnya.

Ingatan masa lalu merayap naik, membakar jiwanya dengan rasa rindu yang teramat dalam. Dulu, di malam-malam yang dingin atau saat hujan turun deras membasahi atap seng, Rendy akan selalu berbaring di sisi kosong itu. Pria itu akan menarik tubuh Clarissa rapat-rapat ke dalam dekapan dadanya yang tegap dan hangat dari belakang.

Clarissa memejamkan mata erat-erat, meremas kain sprei dingin itu seraya menarik napas pendek yang patah-patah. Dalam benaknya, ia seolah masih bisa merasakan gesekan kehangatan kulit dada Rendy yang kokoh menempel di punggungnya. Ia merindukan sentuhan jemari kasar Rendy yang melingkari pinggangnya secara protektif, merindukan hembusan napas hangat suaminya yang mengusap leher belakangnya hingga menyebarkan getaran panas yang memanjakan seluruh persendiannya.

Mas Rendy... bisik Clarissa dalam hati, air matanya kembali meleleh basah menembus bantal kusam.

Gairah, kehangatan, dan ketenangan mutlak yang pernah diberikan Rendy di atas kasur sederhana ini tidak akan pernah bisa digantikan oleh harta atau perhiasan berharga di dunia. Di sini, di balik pintu tertutup ini, Rendy adalah pelindungnya. Namun, ia telah membiarkan pria itu diusir dan dinistakan. Keputusasaan dan rasa bersalah membelit dada Clarissa begitu erat hingga jalurnya bernapas terasa amat menyiksa.

BRAK!

Pintu kamar mendadak didorong kasar dari luar, memutus lamunan pilu Clarissa. Ibu Rosma melangkah masuk dengan raut wajah panik bercampur harapan liar, diikuti oleh Hendra dan Dion.

"Clarissa! Bangun kamu!" panggil Rosma setengah berteriak, menyambar lengan putrinya agar berdiri dari kasur. "Jangan cuma menangis tidak jelas di kamar! Keluarga kita sedang terancam hancur!"

Clarissa menegakkan tubuhnya dengan tatapan kosong. "Apalagi yang Ibu mau? Bukankah Ibu sudah berhasil mengusir Mas Rendy? Bukankah Ibu sudah mendapatkan apa yang Ibu inginkan?"

"Jangan membawa-bawa nama orang miskin itu lagi!" bentak Rosma gusar. Ia menoleh ke arah Hendra. "Hendra, katakan padanya! Apakah benar-benar tidak ada cara lain untuk menyelamatkan bisnis keluarga kita?!"

Hendra menarik napas panjang, merapikan kemejanya yang kusut seraya menatap Clarissa dengan mata berbinar licik. "Ada satu-satunya harapan tersisa, Bu."

"Harapan apa?!" tanya Dion cepat.

"Baru saja sekretaris utama dari Pradipta Group mengirimkan dokumen resmi," ujar Hendra dengan suara bergetar bercampur rasa tak percaya. "Di tengah kehancuran modal kita, konglomerat terbesar Pradipta Group secara mengejutkan menyatakan ketertarikan untuk mengambil alih seluruh utang dan menyuntikkan dana investasi tak terbatas untuk menyelamatkan perusahaan kita!"

Mata Rosma seketika berbinar terang bak mendapat mukjizat. "Pradipta Group?! Perusahaan raksasa yang menguasai bursa saham itu?! Aduh, Hendra! Kamu memang menantu yang hebat! Bagaimana bisa mereka mau membantu kita?!"

"Bukan aku, Bu..." gumam Hendra canggung, melirik ke arah Clarissa. "Pihak Pradipta Group menegaskan bahwa bantuan ini bukan karena perusahaanku, melainkan ada syarat khusus yang harus dipenuhi."

"Syarat apa?" tanya Rosma tak sabar.

Hendra melangkah mendekati Clarissa, memegang bahu adik iparnya itu secara tegas. "Investor tunggal dan pemilik kuasa tertinggi Pradipta Group meminta pertemuan tertutup malam ini di ruang VIP hotel bintang lima. Dan beliau menyaratkan secara khusus... bahwa Clarissa harus hadir sendirian untuk menemuinya secara langsung."

Clarissa mengerutkan dahi, hatinya mendadak berdesir oleh firasat asing yang tak tertahankan. "Aku? Kenapa harus aku yang menemui pimpinan Pradipta Group itu?"

"Mana aku tahu?!" potong Rosma cepat, meraih kedua tangan Clarissa dan menggenggamnya erat-erat dengan raut wajah memohon yang tak pernah diperlihatkannya sebelumnya. "Clarissa, tolong Ibu! Tolong keluarga kita! Ini satu-satunya cara agar kita tidak diusir ke jalanan dan menjadi pengemis! Kamu harus berdandan yang paling cantik malam ini dan temui investor agung itu!"

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!