Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Aisha bergegas melangkah membelah udara sore kota Edinburgh yang mulai menusuk tulang. Ia terus menyusuri trotoar hingga akhirnya menemukan sebuah toko pakaian pria.
Tring!
Lonceng pintunya berdenting begitu Aisha mendorong pintu kaca toko.
Seorang pelayan toko berparas ramah dengan seragam rapi segera melangkah mendekat sambil tersenyum hangat.
"Selamat sore, Miss! Ada yang bisa saya bantu hari ini?" sapa pelayan toko itu dengan ramah.
Aisha tersenyum canggung, membetulkan letak tali tasnya. "Sore... Saya cari kaos polos atau kemeja kasual ukuran L. Sama celana bahan atau jeans yang santai ukuran L juga."
Pelayan itu mengangguk paham dan membimbing Aisha menuju rak koleksi terbaru.
"Mari sebelah sini, Miss. Untuk kemeja atau kaos, kami punya bahan cotton-blend premium yang sangat lembut di kulit."
Aisha mulai memilah-milah gantungan baju dengan raut wajah amat serius. Tangannya bergerak dari satu setel ke setel lainnya.
"Bagaimana dengan kemeja flanel warna navy-grey ini, Miss?" tawar pelayan toko seraya menunjukkan satu setel pakaian. "Modelnya sangat pas dipadukan dengan celana chinos warna krem ini."
Aisha menatap kemeja flanel itu lekat-lekat. Dalam bayangannya, wajah tampan Zavran dengan rambut sedikit berantakan mendadak terlintas. Pria itu tinggi dan bertubuh proporsional, warna gelap seperti navy tentu akan sangat cocok padanya.
"Boleh, Ma'am! Warna ini bagus sekali," ujar Aisha. "Tolong celananya juga ukuran L ya."
"Pilihan yang sangat luar biasa, Miss! Warna navy ini sangat cocok untuk pria dengan pembawaan tenang dan berkharisma. Pacar Miss pasti bakal makin tampan memakainya."
DEG!
Aisha seketika membeku. Kedua matanya membelalak kaget, dan dalam hitungan detik, warna kemerahan langsung menjalar cepat ke seluruh pipinya.
"P-pacar?!" jerit Aisha, refleks mengibaskan kedua tangannya panik. "B-bukan! Bukan pacar saya, Ma'am! Asli, demi apa pun bukan pacar saya!"
"Ah, masa sih, Miss? Tapi dari cara Miss memilah bajunya tadi... kelihatan perhatian banget, lho. Detail memilih bahannya, ukurannya... biasanya cuma pasangan yang sangat perhatian seperti itu, Miss"
Aisha makin salah tingkah. Pipinya terasa panas.
"Aduh, Ma'am... demi Allah, pria yang mau saya belikan baju ini itu bukan pacar saya!" sergah Aisha. "Dia itu... musuh saya! Orang paling galak dan paling sombong yang pernah saya temui!"
Pelayan toko itu makin tertawa geli mendengarkan celotehan Aisha. "Benci dan cinta itu bedanya tipis sekali, Miss. Banyak pelanggan saya yang awalnya bilang begitu, tapi akhirnya malah naik ke pelaminan."
"Hah?! Ya Allah, jangan sampai!" cerocos Aisha heboh sambil mengetuk-ngetuk meja kasir dengan jarinya. " Ma'am, please...Jangan mendoakan yang aneh-aneh, dong!"
"Baik, baik, maafkan saya, Miss," ujar pelayan toko itu dengan tawa hangat seraya memasukkan kemeja dan celana ke dalam kantong belanja. "Totalnya jadi delapan puluh lima Poundsterling."
Aisha dengan tangan sedikit gemetar menarik beberapa lembar uang kertas dari dompetnya.
"Ini ya, Ma'am. Pas."
"Thank you so much, Miss. Semoga pacarnya...eh maksud saya, rekannya...suka dengan bajunya, ya!" goda pelayan toko itu saat menyerahkan tas belanjaan.
"I-iya... you are welcome, Ma'am!"
***
Klek.
Pintu kamar rawat inap terdorong pelan. Aisha melangkah masuk tanpa banyak bicara, berusaha bersikap senormal mungkin demi menutupi wajahnya yang sempat memerah di toko tadi.
Ia langsung menyodorkan tas belanjaan kertas itu ke hadapan Zavran.
"Nih! Baju dan celananya sudah saya belikan," ujar Aisha singkat menunjuk tas tersebut.
"Terima kasih.."
"Kamu ganti baju dulu, saya tunggu di luar!" ucap Aisha seraya pergi keluar.
"Oke..."
Zavran perlahan menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, merapikan duduknya dengan perlahan. Meskipun rasa pusing di kepalanya masih berdenyut amat menyiksa akibat benturan dan jahitan.
Zavran mulai membuka kancing baju pasiennya, lalu mengenakan kemeja flanel navy dan celana chinos pilihan Aisha.
Klek.
Pintu kamar rawat inap terdorong pelan dari dalam. Aisha yang sedang berdiri bersandar di dinding koridor rumah sakit, menegakkan tubuhnya dan menoleh.
Sosok Zavran melangkah keluar.
Aisha seketika membeku di tempat. Kedua mata bulatnya membelalak sempurna, bibirnya sedikit terbuka tanpa sanggup melontarkan sepatah kata pun.
Pakaian yang dibelinya di toko tadi melekat sangat sempurna di tubuh jangkung dan dada bidang Zavran. Tampilan Zavran berubah drastis dari pasien rumah sakit yang lemas menjadi sosok pria maskulin yang sangat elegan dan berkharisma. Perban putih di kepalanya justru memberi kesan tangguh yang misterius.
DEG!
Jantung Aisha berdegup kencang tak beraturan.
'Astagfirullahaladzim... Ternyata omongan Mbak-Mbak toko tadi benar lagi!' batin Aisha heboh, berusaha keras menutupi keterkejutannya.
'Kenapa dia bisa kelihatan makin ganteng begini, sih?!'
Zavran menghentikan langkahnya tepat di hadapan Aisha, menatap gadis berhijab itu dengan sebelah alis terangkat heran.
"Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Zavran. "Ada yang salah dengan bajunya?"
Aisha tersentak kaget, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain seraya berdehem kencang untuk menetralkan rasa gugupnya.
"E-ehem! N-nggak kok!" cerocos Aisha heboh.
"B-biasa saja! Maksud saya, bajunya pas di tubuh kamu, tidak kekecilan dan tidak kedodoran!"
"Terima kasih. Selera kamu ternyata tidak jelek."
"Dih! Tetap saja pujiannya setengah-setengah!" cibir Aisha.
"Ya sudah, ayo cepat ke bagian administrasi! Katanya mau buru-buru keluar!"
Aisha melangkah mendahului Zavran dengan gerakan cepat dan agak kaku demi menutupi rasa salah tingkahnya, sementara Zavran berjalan menyusul di belakangnya dengan langkah sedikit tertatih.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju lantai dasar. Begitu sampai di bagian administrasi dan pembayaran, petugas kasir tersenyum ramah menyambut mereka.
"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?" sapa petugas kasir tersebut.
"Saya mau menyelesaikan seluruh administrasi dan biaya perawatan atas nama Zavran," ujar Zavran singkat.
Zavran mengeluarkan kartu kredit cadangan bernuansa hitam elegan dari saku dalam dompetnya yang selamat dan menyerahkannya kepada petugas kasir.
Petugas kasir memproses pembayaran tersebut dengan cepat. "All settled, Sir. Here is your receipt and card."
"Terima kasih," jawab Zavran datar seraya menerima kembali kartu dan bukti pembayarannya.
Aisha melongo menatap kartu hitam eksklusif itu.
'Ternyata memang orang have , ya.' Batinnya yang tidak percaya melihat kartu ditangan Zavran.
Mereka kemudian melangkah keluar membelah pintu kaca utama Royal Infirmary Hospital. Udara sore kota Edinburgh yang dingin dan berangin langsung menyapa wajah mereka.
"Kamu bisa bawa mobil sendiri, kan?" ujar Aisha sembari menyodorkan kunci mobil Zavran yang sejak tadi ia simpan aman di dalam tasnya.
Zavran menerima kunci itu, jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan jari Aisha, mengirimkan getaran halus yang membuat Aisha cepat-cepat menarik tangannya.
"Mobilnya masih aman kok, meski depannya agak rusak," lanjut Aisha seraya menunjuk ke arah pelataran parkir tempat sedan hitam milik Zavran terparkir.
"Besok mending langsung dibawa ke bengkel saja buat diperbaiki. Sekarang, kamu langsung pulang ke rumah, istirahat! Jangan aneh-aneh lagi."
Zavran memandangi kunci mobil di telapak tangannya, lalu mengalihkan pandangan tajamnya pada Aisha. "Terima kasih."
Aisha mengangguk. "Nah, Urusan kita selesai di sini ya, semoga tidak ada lagi kejadian aneh yang menimpa kita" celetuk Aisha.
Zavran berdehem pelan. "Saya antar kamu kembali ke kantor."
"Hah?! N-Nggak usah!" sergah Aisha cepat sambil melambaikan kedua tangannya heboh.
"Lagian saya tidak balik ke kantor lagi kok. Jam kantor sudah mau selesai, jadi saya bakal langsung pulang aja."
"Kamu sudah membantu saya seharian. Membiarkan kamu naik bus atau jalan kaki sendirian itu sama sekali tidak sopan."
"Sopan santunnya disimpan aja buat keluarga di rumah, ya! Saya sudah biasa jalan sendirian kok. Mending kamu fokus menyetir dengan selamat, sampai rumah, terus tidur!"
"Kamu benar-benar keras kepala ya?"
"Saya bukan keras kepala, Pak! Saya cuma realistis dan menyayangi nyawa saya!" balas Aisha santai dengan senyum kemenangan.
"Sudah ya. Saya mau ke halte bus di depan. Jangan kangen sama omelan saya!"
Aisha berbalik dan melangkah cepat meninggalkan trotoar rumah sakit.
Zavran berdiri membisu di tepi jalan, memandangi punggung gadis berhijab itu hingga benar-benar menghilang di balik kerumunan pejalan kaki.