Manusia mana yang tahu mengenai takdir yang lebih dulu akan datang. Jika katanya rejeki, maut dan jodoh telah ditentukan.
Artasyani Puji Rahayu adalah Seorang gadis yang memiliki sikap yang sangat sulit untuk ditebak. Putri tunggal dari pasangan keluarga yang sederhana. Serta selalu teguh pendirian dan berpegang teguh dalam prinsipnya.
Very Hermansyah Al fatoni, sahabat yang telah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Asya. Pria yang memiliki kecerdasan tinggi dan merupakan pengusaha termuda. Namun, mengalami broken home.
Kedua remaja ini sama-sama menyimpan rasa yang cukup sulit untuk diartikan sebagai rasa apa. Akan tetapi, siapa yang tahu bahwa hati tidak semudah itu menerima. Hati yang mudah di bolak-balikkan, mau seberapa lama perkenalan tidak akan menjamin hati untuk bertahan.
Apakah persahabatan ini akan berubah menjadi cinta? Atau akan menemukan pasangan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImaYatus S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan membawa harapan
Seorang wanita sedang duduk bersantai diruang tamu sembari menatap layar televisi. Dikejutkan dengan suara klakson mobil yang memasuki halaman rumah, tanpa dikenalnya. Selama Very dan keluarganya pindah ke kota, Very dan keluarganya memang jarang berkabar kepada sanak saudaranya di kampung halaman. Hampir tidak pernah. Wanita itu masih berdiri diruang tamu, melihat siapa pemilik mobil tersebut. Wanita yang sekitar dua tahun lebih tua dibanding almarhumah mama Very.
Very keluar dari mobilnya dan begitu juga dengan wanita itu, wanita tersebut membuka pintu rumah dan berdiri masih tidak mengenal Very yang hampir lima tahun tidak melihat wajahnya.
"Assalamualaikum, Bude. Apa kabar?" Very mengucap salam dan meraih tangan wanita itu untuk bersalaman.
"Baik, ini siapa ya?" Tanya wanita itu bingung
"Ini aku, Very Hermansyah Al Fatoni." Jawab Baru menyebut nama lengkapnya.
"Yaampun, ini keponakan bude. Kamu sudah dewasa rupanya. Ganteng pula." Puji wanita itu.
"Kan emang udah dari lahir, hehe" Ucap Very percaya diri dan terkekeh.
"Ayo masuk"
Mereka pun masuk dan Very segera membersihkan dirinya untuk siap-siap beristirahat. Perjalanan hari ini sangat membuatnya merasa kelelahan, namun ia tidak pernah menampakkan kelelahannya dihadapan orang lain. Sedangkan Wanita tadi, ibu Risa yang merupakan kakak dari almarhumah mamanya sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga Very.
"Ver, ayo kita makan malam dulu." Panggil ibu Risa dari meja makan.
"Iya, Bude. Sebentar" Sahut Very yang masih menyisir rambutnya
Very keluar dari kamarnya dan makan malam bersama sang Bude. Di pertengahan makan malamnya mereka pun mengobrol. Budenya menanyakan bagaimana kabar sang adik dan ayahnya. Bude Risa sudah mengetahui kepergian sang adik saat melahirkan putrinya. meskipun mereka sudah lama tak jumpa, keluarga very masih sempat memberi kabar walau tak sering dan kabar terakhirnya adalah kepergian sang adik.
Very ingin sekali berbagi cerita dengan sang Bude tentang istri Ayahnya. Namun, Very tidak ingin menambah beban pikiran budenya. Budenya akan sangat mengkhawatirkan dirinya terutama adiknya, Velyn. Very hanya memilih diam, menganggap semuanya baik-baik saja.
"Velyn sudah kelas berapa Ver?" Tanya bude menanyakan keponakan satunya yang tidak pernah ia tau bagaimana wajahnya.
"Velyn, baru TK Bude. Oiya, Bude belum tahu kan wajah adikku seperti apa, dia sangat cantik mirip sekali dengan wajah almarhumah mama" Ucap Very yang membuka layar ponselnya dan menunjukkan foto adik tercintanya kepada sang Bude.
"Wah, ponakan bude cantik sekali. Kenapa ngga kamu bawa?" Tanya bude. Very lupa menceritakan kedatangannya kesini karena apa.
"Oiya, Very lupa. Very datang kesini tanpa sengaja dan rencana bude. Bude masih ingatkan anak om Bagas dan Tante Helin. Yang rumahnya di seberang jalan rumah Very dulu. Nah, om Bagas sakit. Jadi aku mengantarkan Asya pulang yang kebetulan Asya kuliah di kota yang dekat dengan tempat tinggal ku." Very menceritakannya kepada Sang Bude.
Setelah selesai makan malam. Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Di atas kasur empuk, Very menenggelamkan tubuh tegasnya. Very sangat menikmati suasana kamar yang saat ini ia singgahi. Meskipun bukan rumahnya sendiri dimana ia dulu tinggal. Tapi kamar yang saat ini Very tempati adalah kamar khusus very dari sejak kecil jika ia menginap di rumah bude Risa.
Banyak sekali kenangan dalam ruangan sederhana ini. Foto kecil very masih terpajang rapi di dinding kamar bersama seorang gadis kecil tak lain adalah Asya. Very tersenyum melihat foto itu. Diambilnya dan dibawanya kembali menenggelamkan tubuhnya hingga tertidur dalam keadaan memeluk foto tersebut.
***
Asya sangat merindukan kamar pribadinya. berbagai macam buku masih tertata rapi di rak kecil samping meja belajarnya. Asya mengelilingi setiap sudut kamarnya bak seseorang yang sangat merindukan satu yang bertahun-tahun lamanya tak pernah mengunjungi tempat tersebut. Padahal baru beberapa bulan Asya meninggal rumahnya untuk pergi merajut cita-citanya.
Langkah Asya terhenti disalah satu pojokan kamar dekat salah satu fentilasi kamar tersebut. Di atas meja kecil, samping lampu tidur terdapat pigura kecil yang berisikan fotonya bersama Very disaat keduanya masih kecil. Terlihat senyumnya, betapa bahagianya seorang gadis kecil yang cantik memeluk erat tubuh seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya. Anak laki-laki itu tak kalah bahagianya, ia membalas pelukan gadis kecil itu dan tersenyum hingga menampakkan giginya yang berjejer rapi.
Asya tersenyum, saat mengingat foto itu diambil. Sebelum Very meninggalkannya. Very adalah satu-satunya laki-laki yang mampu membuat Asya merasa aman dan nyaman. Bahkan hingga saat ini, setelah sekian lama berpisah dan dipertemukan kembali. Rasa kantuk mulai menghampiri kedua mata Asya. Diletakkannya kembali pigura kecil tersebut dan ia menaikkan kedua kakinya, ditarik sebuah selimut lembut kesayangannya. Tak perlu menunggu waktu lama Asya pun terlelap dalam tidurnya.
***
Tok tok tok
"Ver, bangun nak. Sholat subuh dulu" Ibu Risa mengetok pintu kamar Very untuk membangunkan agar segera melaksanakan sholat subuh.
Very bukan tipe orang yang susah dibangunkan. Very segera bangun setalh mendengar panggilan sang Bude.
"Iya, Bude. Very sudah bangun" Jawabnya yang masih berada di dalam kamarnya.
Suara orang mengaji yang terdengar dari speaker masjid yang bertabrakan dengan suara ayam yang sedang asyik berkokok. Udara segar di pagi-pagi buta, menyusuri ruangan dari jendela yang dibuka oleh Very. Suasana diluar ruangan, tampak begitu indah. Kabut tipis yang masih menyelimuti tubuh dataran tinggi yang berada di samping rumah itu, membawa pikiran Very untuk ingin sekali mengunjunginya.
Setelah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Very berkeinginan untuk pergi jalan-jalan pagi dan mengajak Asya. Kaos hitam polos dengan bawahan celana pendek berwarna cream dan tak lupa aerphone ia kenakan ditelinganya.
Tanpa memberitahu Asya terlebih dahulu, Very langsung berangkat menuju rumah Asya dengan membawa sepeda motor milik sopir Budenya. Saat melajukan sepeda motor keluar dari halaman rumah ibu Risa semua mata kembali tertuju kepada wajah tampan Very. Ibu-ibu yang berjalan kaki hendak pergi bertani seketika terhenti saat melihat Very melintas di depannya.
"Assalamualaikum, Asya, Tante, Om..." Very memanggil satu persatu seisi rumah Asya bak anak kecil yang sedang mengajak temannya untuk bermain.
Asya pun keluar dari rumahnya masih dengan daster kesayangannya.
"Waalaikumsalam, Very. Bukanya kita bakalan balik nanti siang. Kok jam segini udah kesini, kenapa ga ngabari aku dulu. Biar aku bisa siap-siap" Ucap Asya yang tergesa-gesa dengan kehadiran Very di pagi hari ini.
"Asya, tenang! Aku kesini pagi-pagi mau ngajak kamu jalan-jalan pagi. Udah lama kan kita ga keliling sekitar desa." Ujar Very yang tersenyum melihat reaksi Asya.
"Duh, kamu itu. Bilang dong, aku mau ganti baju dulu" Titahnya dan kembali masuk kerumah
"Kek gitu juga gapapa, Sya. Siapa tau dikira ibu-ibu mau belanja" Ucap Very sedikit berteriak dan terdengar oleh Asya. Asya pun menggerutu dalam hatinya mendengar teriakan Very.
Setelah itu, mereka pun pergi mengelilingi desa dengan berjalan kaki. Menikmati suasana desa kecil di pagi hari. Dalam hati, Very selalu berharap akan selamanya bisa bersama Asya seperti pagi ini. Menjadi orang pertama yang ia cari disetiap bangun tidurnya. Orang yang selalu ada untuk Asya kapan pun ia membutuhkannya. Iya, Very menyukai Asya. Semenjak dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama sebelum dirinya meninggalkan Asya. Pertama kalinya Asya mengenal akan jatuh cinta. Meski pada masa itu para pemuda menyebutnya cinta monyet. Namun, rasa yang Very simpan selama ini masih hingga dirinya di pertemukan kembali dengan Asya.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
ganbatte
smoga lulus dan dpet nilai yg bgus..
semangat kak😍😍