IG : @ekytamaa
Ini tentang Bayu. Hidup penuh ketepurukan dalam bayang-bayang masa lalu. Membuat ia mengalami trauma dan depresi, sehingga tak mampu untuk ia hindari.
Kehilangan mama, papa, dan orang yang ia cintai, menimbulkan sejuta penyesalan begitu kentara. Saat itu, di pesta ulang tahunnya, peristiwa tragis terjadi. Tubuh Bayu membeku, kedua orang tua juga kekasih yang Bayu cintai mati terbunuh oleh sekelompok orang yang tak dikenal.
Lantas, bagaimana kehidupan Bayu selanjutnya dengan bayang-bayang masa masa lalu menyakitkan yang terus bergelut dalam hidupnya? apakah ia mampu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eky Tama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
...Kamu tak pernah tahu apa yang terjadi dalam hidupku. Setelah sekian lamanya aku hidup dalam kurungan rasa penyesalan tak pernah habisnya. Dan tak tahu sampai kapan aku bertahan. Mungkin mati itu lebih baik, agar penyesalan itu lenyap tanpa bekas....
^^^Satya Bayu W.^^^
Bayu membuka matanya perlahan. Hal pertama kali menyapanya ialah ada sorot cahaya yang masuk dari ventilasi jendela kamar itu, sehingga menyilaukan matanya. Ia menelisik pada sekitar kamar itu. Kamar ini seperti bukan kamarnya. Kamar ini berdindingkan cat putih polos dan jendela kaca terletak tepat sebelah ranjang tempat ia berbaring sekarang, dan di sebelahnya lagi terdapat sebuah nakas dengan laci bersusun tiga.
Bayu bingung, kenapa ia bisa berada di sini. Terakhir kali ia ada di rumah. Spontan Bayu ingat kejadian tadi. Kejadian beberapa jam lalu pemuda bermata cokelat itu sempat mengamuk pada Ella, lalu mengusirnya dari kamar. Lantas menghancurkan semua barang, dan ... ia pingsan ketika habis meminum obat penenang.
'Tempat ini ... rumah sakit,' gumam Bayu seperti berbisik.
Bayu mencoba bangkit dari ranjang. Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak seperti ada yang mengunci. Mata Bayu benggeliat pada tubuhnya, sontak saja Bayu terkejut mendapati kedua tangannya terikat dengan tali pada sisi ranjang kiri dan kanan, bagian kaki pun terikat. Bayu memberontak, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencoba melepaskan diri dari ikatan tali tersebut.
Keadaan Bayu sungguh memprihatinkan, ia seperti tawanan penjahat yang sangat berbahaya. Tanpa belas kasihan dari orang yang mau melepaskannya.
"Sialan!"
Bayu terus menggerakan badannya lagi. Namun sekuat apa pun Bayu berusaha, tetap saja Bayu tidak akan bisa melepaskan ikatan tali itu yang mengunci kedua tangan dan kakinya. Keringat pun mulai menetes pada area lekukan parasnya yang putih.
"AARHH!"
Cklek
"Bayu?"
Pandu melangkahkan kakinya mendekati ranjang Bayu. Wajahnya terlihat begitu cemas. Ketika Pandu menemukan Bayu tergeletak pingsan begitu mengenaskan di balkon kamar, membuat pemuda berwajah oval itu kalang kabut. Pandu benar-benar takut akan terjadi hal buruk pada adik bungsunya itu.
"Dek, akhirnya kamu sudah sadar." Pandu mengusap peluh yang mengucur di wajah Bayu dengan tangannya.
"Kenapa Kak Pandu ikat tangan aku? Lepasin, Kak," pintanya dengan lirih.
"Maaf, Dek. Enggak bisa."
"LEPAS!" teriak Bayu sembari terus bergerak dengan sekuat tenaga, mengupayakan agar ia terlepas dari kungkuhan itu.
"Kamu tenang dulu."
"LEPAS!"
"Kakak mohon. Tenanglah, Dek," pinta Pandu dengan rasa sabar.
Hati Pandu begitu nyeri melihat kondisi Bayu seperti ini lagi. Tidak pernah terpikirkan olehnya, semenjak peristiwa itu Bayu akan melupakan semuanya. Namun, Pandu salah besar. Bayu malah terus dihantui oleh bayang-bayang kejadian yang menyakitkan itu sepanjang hidupnya. Sehingga menimbulkan rasa penyesalan tak habis-habisnya. Entah bagaimana caranya pemuda berusia sembilan belas itu akan terbebas dari keterikatan lingkaran hitam masa lalunya. Mungkinkah hidup Bayu selamanya akan seperti ini?
"LEPASIN!"
"Bayu te---"
Cuih
Belum sempat Pandu meneruskan kalimatnya, Bayu meludahi wajah sang kakak. Tubuh Pandu jadi membeku. Ada rasa getir menyakitkan kian terasa di kalbu pemuda itu. Ia ingin marah, karena sikap Bayu yang semakin menjadi-jadi sulit terkendalikan lagi. Tapi marah tidak mengubah keadaan Bayu lebih baik. Pandu hanya bisa bersabar menghadapi sikap adiknya itu. Terus memberontak tanpa henti.
Pandu merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Lalu mencari nomor kontak seseorang untuk ia hubungi. Setelah mendapatkannya, Pandu mendial tombol panggilan dan menempelkan benda persegi itu ke telingannya. Akhirnya tersambung.
"Ada apa Pandu?"
"Tolong ke kamar inap Bayu sekarang Yon, gue enggak bisa ngendaliin Bayu."
"Sebentar, gue ke sana."
Beberapa menit kemudian, seorang pemuda memakai seragam khas dokter masuk ke ruang inap Bayu. Ia mengambil langkah cepat mendekati ranjang Bayu yang masih memberontak.
"Yon ...."
Pemuda itu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat berbentuk cairan dalam saku jasnya. Lalu mengambil jarum suntik di atas nakas yang memang sudah tersedia. Kemudian ia memasukkan obat cairan itu ke dalam jarum suntik tersebut, dan menyuntikannya pada selang infus yang tertancap di punggung tangan Bayu.
"Arrhh!"
Bayu meringis kesakitan, ketika obat itu terasa sangat perih menyentuh kulit putihnya. Obat itu akan segera bereaksi, Bayu berangsur sedikit lebih tenang dan tak memberontak lagi. Perlahan matanya pun sudah terpejam sempurna. Bayu tertidur, napasnya menjadi teratur tidak seperti tadi terdengar menderu tak karuan.
Pandu akhirnya merasa lega. Ia cukup tenang, senyum tipis terbias pada wajah pemuda itu, kala memandangi Bayu tidur yang tampak polos seperti balita.
"Dia sudah tidur, Pan," kata pemuda itu pada Pandu.
"Makasih, Yon, gue bingung harus bagaimana mengendalikannya. Dia ngamuk tangan dan kakinya kita ikat. Kalau dilepas, gue takut Bayu ngelakuin itu lagi."
"Lepasin aja ikatannya, Pan."
"Tapi ...."
"Gue jamin, dia enggak akan apa-apa. Lihat tangan Bayu memerah gitu."
"Baiklah, nanti gue lepasin. gue ingin Bayu seperti dulu, Yon," ucap Pandu lirih.
"Lo harus bersabar. Jangan pernah berhenti untuk berusaha mengembalikan adik lo seperti dulu lagi. Gue yakin, lo pasti bisa," jelas pemuda itu menatap Bayu yang kini tidur dengan damai.
"Apa Bayu bisa disembuhkan, Yon?"
"Insyaallah, Pan. Kita berdoa saja, meminta sama Allah."
...--- Selamanya ---...
"Sus, di mana ruangan pasien atas nama Satya Bayu wardhana?" tanya Arya pada suster bagian informasi.
"Oh ... ruang mawar no. 102, lantai dua, Mas," jawab suster itu.
"Terima kasih, Sus."
Arya berlari menyusuri koridor demi koridor menuju tempat yang dicarinya atas informasi dari suster penjaga tadi. Arya memencet lift itu hingga terbuka, lalu membawa kakinya melangkah masuk ke lift dan menekan tombol angka dua sesuai informasi tadi yang didapatkannya.
Setelah sampai di lantai dua, Arya terlihat celingak-celinguk mencari ruangan No. 102, di mana kamar inap Bayu tempati. Merasa kebingungan, Arya berjalan ke arah kiri. Sesaat langkah Arya berhenti, matanya menyipit ketika melihat seorang pemuda yang ia kenal baru saja keluar dari ruangan itu.
"Kak Pandu!"
Merasa terpanggil, pemuda yang tak lain adalah Pandu menoleh ke asal suara itu. Pandu menemukan Arya berdiri beberapa centi dari jaraknya tempat ia berdiri.
"Pras."
Arya atau dikenal dengan sebutan Pras melangkah dan menghampiri Pandu.
"Kak, keadaan Bayu gimana?" tanya Arya.
Pandu mendesah pelan. Mimik wajahnya tersirat sendu. "Keadaannya masih sama."
"Maaf, Kak, waktu kejadian itu. Aku enggak ada dan aku benar-benar enggak tahu kalau ... kalau Bayu bisa seperti ini," ungkap Arya merasa sedih dan sesal. "Aku malah tahunya, dari mama."
Pandu tersenyum memaklumi. Ia sangat mengerti, memang Pandu sengaja tidak memberitahukan perihal kejadian silam yang menimpa keluarganya, karena Arya waktu itu dalam masa ujian semester. Jadi Pandu tak mau mengganggunya dulu. Orang tua mereka meninggal begitu tragis oleh orang-orang berhati jahanam, membuat Bayu mengalami trauma dan depresi. Pandu dan Ella memang ada di tempat kejadian itu. Tapi mereka berhasil lolos dari serangan senjata tajam yang hendak melenyapkan mereka. Bukan hanya orang tuanya menjadi korban. Ada korban lainnya juga, di antaranya; dua orang kolega Pandu berasal dari Bandung, penjaga Villa milik keluarga Pandu, dan seorang teman dari Bayu bernama Kinar.
"Enggak apa-apa, Pras. Kamu kapan sampai? Kenapa enggak telpon Kakak dulu? Kan, bisa Kakak jemput kamu di bandara."
"Barusan sejam yang lalu. Tadinya aku mau kasih kejutan dengan kedatanganku ini sama kalian. Tapi dengar kabar dari Pak Arman, kalo Bayu sakit. Aku langsung ke sini aja," ujar Arya.
"Bayu sudah tidur. Kamu sudah makan?"
Arya menggelengkan kepalanya.
"Kita makan dulu yuk, sambil ngobrol-ngobrol, gimana?" ajak Pandu.
"Iya Kak, aku mau," sahut Arya antusias sambil mengelus-elus perutnya yang datar. "Aku udah lapar banget."
Pandu terkekeh dengan semangat Arya ketika mendengarkan kata 'makan'. Lalu ia berjalan meninggalkan kamar inap Bayu dan di susul oleh Arya. Pemuda itu pun berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Pandu.
"Kamu mau makan apa, Pras?"
"Nasi uduk aja, Kak. Udah lama aku enggak makan nasi uduk." Arya terkekeh. Mengingat nasi uduk adalah makanan favoritnya, apalagi ingin memakannya, sangatlah tidak ada ia temui di Korea.
"Memangnya di Korea enggak ada nasi uduk?"
"Susah carinya. Mama juga jarang enggak bikinin aku nasi uduk semenjak sibuk kerja."
"Oh begitu? Ayo kita makan ... Biar kakak yang traktir kamu."
...--- Selamanya ---...