Seorang gadis yang berharap penuh akan cintanya yang terbalas oleh seorang pria idamannya. Hingga ia merelakan miliknya yang berharga untuk pria itu. Namun, impiannya menjadi pupus saat pria itu menghilang dari kehidupannya, untuk memilih wanita lain yang memiliki segalanya daripada dirinya untuk menjadi milik pria itu.
Tapi semesta mempertemukan gadis itu dengan sahabatnya. Sahabat lama yang telah jatuh cinta padanya. Bagaimana nasib gadis itu selanjutnya? Ikuti terus cerita ini jangan terlewatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengaku Kalah
Bagaimana perutmu apa sudah berkurang mualnya?," tanya Bian sambil menyendok nasi ke mulutnya.
"Sayang, apa kamu lupa kalau sore nanti kan jadwal periksa ke dokter kandungan,"tukas Bian dengan memperhatikan istrinya yang sibuk membuat juice jeruk.
"Oh ya, hampir lupa untung kamu ingatkan,"jawab Liany spontan dengan menepuk dahinya, lalu tersenyum ke arah Bian, "makasih sayang sudah mengingat jadwal periksaku."
"Ya dong, namanya juga suami idaman plus suami siaga buat istri,"jawab Bian cengar-cengir dengan menaik turun kan alisnya.
"Huh gede rasa amat suamiku," sela Liany terkekeh geli dengan usilnya Bian.
"Sayang aku kok jadi pengen makan bubur ayam di dekat sekolah SMA kita dulu, apa kamu masih ingat bang Toyib," ujar Liany dengan raut wajah memelas.
Selesai membuat juice jeruk lalu menuangkan ke gelas.
"Ini juicenya mau di minum sekarang?," tanya Liany lalu mendekati suaminya membawakan segelas juice jeruk.
"Iya sayang mau, oh ya bubur ayam bang Toyib, apa masih jual?, kamu lagi ngidam sayang?," Bian mengerutkan dahinya seraya menatap istrinya.
Liany pun mengangguk malu.
"Masih kok, sebelum hamil aku sempat makan disana sama Ratih, sewaktu kami pulang dari belanja beli kain, tapi sudah 8 bulan yang lalu, bang Toyib pun sudah terlihat tua," jelas Liany, Bian hanya manggut-manggut menyimak .
"Ternyata istriku masih suka bernostalgia masa SMA, sampai ngidamnya pun ikut nostalgia" kekeh Bian tersenyum lebar dengan meraih pinggang istrinya untuk duduk di pangkuannya.
"Iya dong, masa SMA masa paling indah,"cicit Liany dengan bibirnya menyungging senyum.
"Oke baiklah nanti sore kita akan bernostalgia, sekalian pergi periksa ke dokter kandungan," janji Bian sambil mengecup bibir istrinya.
"Iya sayang, trimakasih," balas Liany dengan mengecup pipi suaminya.
Selesai sarapan Bian bersiap untuk berangkat ke kantor karena hari ini banyak relasi yang akan di temuinya, dia pun juga akan menemui seseorang yang selama ini ingin bertemu dengannya namun terus dia tunda.
Liany berjalan cepat menuju kamar menyusul Bian, ia pun memasangkan dasi suaminya serta membantu memakaikan jas dan sedikit merapikannya.
"Sayang nanti aku jemput jam 4 sore, akan aku usahakan bisa pulang lebih cepat,"ucap Bian lalu mendaratkan kecupan di bibir istrinya, Liany pun tersenyum menatap suaminya dan membalas kecupan mesra di bibir Bian.
"Terimakasih sayang sudah mau mencintaiku,"ucap Liany sendu, matanya basah oleh genangan air mata lalu turun membasahinya pipinya.
"Jangan terus bersedih, aku berangkat dulu, terimakasih sayang karena sudah mau mengurusiku," Bian merangkul pinggang Liany dan mengecup keningnya.
Perlakuan Bian yang manis membuat hati Liany menghangat.
"Hati-hati sayang, semangat kerjanya, aku menunggumu,"Liany tersenyum bahagia, dalam hati pun dia berdoa, agar kebahagiaan ini jangan pernah berlalu.
"Aku cuma punya hati, yang ingin membalas cintamu dengan cintaku, aku akan terus belajar untuk mencintai dirimu seutuhnya," batin Liany sedih, dan setelah itu ia berjalan masuk ke dalam rumah setelah mengantar Bian sampai ke halaman rumah mereka, Bian pun sudah pergi melajukan mobilnya.
-----------------
"Apa maksudmu ingin bertemu denganku?," Tanya Bian ke Denny yang sudah lama ingin mengajak bertemu, dan baru hari ini Bian mengabulkannya.
"Tolong ceraikan Liany, aku ingin menikahinya, lepaskan dia, aku mencintainya, dia pun mengandung anakku." Ucapnya penuh harap, sementara Bian mengepalkan telapak tangan menahan emosi.
"Kamu kekanakan Den, kamu sudah membuang Liany, dan akan menikahi wanita lain, sekarang kamu minta aku menceraikannya?,"
Sahut Bian dengan menatap tajam ke wajah Denny.
"Apabila kamu mencintainya, biarkan dia bahagia denganku, dan jika tujuanmu ingin memisahkan aku dengan Liany, maka tujuanmu itu gagal. Hentikan pikiranmu yang ingin memiliki Liany kembali, aku akan menjaga dan mencintainya sampai aku mati, akupun akan menyayangi anaknya walau dia dari benihmu," sarkas Bian tegas, hingga dia melihat raut geram di wajah Denny.
Denny menghembus nafas dengan kasar, wajahnya memerah menahan emosi.
"Aku dan Liany saling mencintai, lepaskan dia dan beri kami kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal, aku akan memberi apapun yang kau mau asal lepaskan dia untuk ku," jawab Denny dengan sikap memaksa yang terlihat jelas dari setiap perkataannya, Bian semakin larut dalam emosinya dengan sikap Denny yang arogan.
"Berhenti mendamba istri orang, Denny!, Berhentilah berharap dan terimalah dengan iklas kalau kalian tidak berjodoh!," jelas Bian dengan tajam.
Denny tidak bisa memungkiri semua itu, dan apa yang terjadi karena kesalahan dan
keegoisannya.
"Aku mencintainya, aku benci saat tidak diberikan kesempatan lagi untuk memperbaiki diriku dari kesalahan, aku ingin membuktikan bahwa aku mampu untuk membahagiakan dia dan anakku."
Ada rasa sakit dan sesal dalam kalimat yang terucap dari bibir Denny, sementara Bian menahan rasa cemburu melihat kesungguhan Denny yang mencintai wanitanya.
"Mencintai?, apa benar katamu?, sedangkan kamu sudah tega merendahkan dan menghina wanita yang kau cintai? Bahkan kamu sudah membuat wanita itu terlihat menyedihkan," decih Bian dengan panas hati, saat mengingat Liany yang kebingungan untuk menutupi aibnya hingga menerima pernikahan dengannya.
Hati Bian sedikit melunak saat melihat kilatan rasa penyesalan dan kesedihan di mata Denny.
"Terimalah kenyataan yang ada, Den. Kalau Liany telah menjadi milikku, sebesar apapun cinta dan penyesalanmu kini semuanya telah terlarang, karena Liany milikku dan istriku yang sah, relakan dia untuk menjadi milikku dan lupakan dia, bukankah kamu juga akan menikah dalam waktu dekat ini?," Bian menekan emosinya karena dia ingin menyelesaikan masalah dengan jalan damai tanpa ada keributan.
Denny hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku telah membatalkannya, karena aku baru menyadari kalau aku tidak bisa hidup tanpa Liany.
Tapi saat aku menyadari semuanya terlambat." Gumam Denny dengan nada yang mulai lunak. Pandangan matanya terlihat kosong.
Bian hanya menatapnya.
"Baiklah aku mengaku kalah, dan aku memberikan kesempatan padamu untuk membahagiakannya, jangan pernah menyakiti dirinya.
Sekali kamu melukai dan membuat dia menderita, aku pastikan kalau aku akan mengambilnya dan tidak akan pernah melepaskan lagi," ucap Denny tegas dengan menatap tajam Bian, lalu dia pun segera bangkit berdiri dan berlalu dari hadapan Bian sebelum Bian menjawabnya.
Denny juga menyadari dirinya tidak mungkin memaksa Liany untuk kembali dengannya, karena Liany pun masih sakit hati dan kecewa terhadap sikapnya yang arogan.
Denny sadar sikapnya yang memaksa akan melahirkan rasa sedih dihati Liany.
Bian hanya tersenyum tipis menatap kepergian Denny yang telah hilang dari pandangan matanya.
"Aku mencintai Liany sepenuhnya bahkan dia hidupku, mana mungkin aku akan membuatnya menderita. Kesempatanmu untuk memilikinya telah tertutup selamanya, Den. Terimakasih karena kamu telah memberikan mutiara yang berharga untukku," monolog Bian sendiri, bayangan senyum istrinya melintas di pikirannya hingga ia menjadi rindu akan wanitanya.
Sepertinya dia ingin segera pulang untuk menuntaskan rindunya.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Lian, cintaku mungkin sebesar jagat raya, dan seluas samudra," Bian tersenyum sendiri dengan gombalan dalam hatinya, rasa rindu terhadap sang istri semakin membuncah dan tak dapat di tahan.
_________________________
Widih gombalnya Bian nge gas moga bahagia
selalu bang Bian 😘👍. Jangan lupa untuk like dan comment ya!
laki2 gk tau diri...