Eleana harus berjuang mendapatkan kembali cinta Aaron setelah lelaki itu mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya kehilangan ingatan.
Bukan hanya melupakannya, Aaron bahkan berniat menikahi Naura, sang mantan kekasih yang dulu pernah meninggalkannya.
Akankah Eleana terus berjuang mendapatkan Aaron kembali meskipun beribu kesakitan terus menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGHIBUR ELEANA
Rania baru saja sampai di kost-kostan Eleana. Perempuan cantik itu membawa beberapa kantong berisi makanan untuk sahabatnya.
Hari sudah malam saat Eleana dengan malas membuka pintu kamar kostnya. Wajah perempuan berambut gelombang itu terlihat pucat membuat Rania yang baru saja sampai di depan pintu merasa terkejut.
"Elea, kamu sakit lagi? Wajah kamu terlihat sangat pucat dan ini ...." Rania memindai wajah Eleana.
"Kedua matamu juga sembab. Apa kamu habis menangis seharian? Kenapa kedua mata kamu sampai bengkak begini?" Rania merasa sangat khawatir. Perempuan itu meletakkan barang bawaannya begitu saja, kemudian langsung memeluk Eleana.
Perempuan itu sangat yakin jika Eleana saat ini sedang tidak baik-baik saja dan sesuatu telah terjadi pada sahabatnya itu.
"Ada apa, Elea? Apa terjadi sesuatu padamu yang tidak aku ketahui?" Rania mengusap punggung Eleana yang bergerak naik turun. Eleana menangis.
"Elea, ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu saat aku tidak ada? Katakan padaku, siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" Rania terus berbicara. Wanita itu mengungkapkan kekesalan dan kekhawatirannya terhadap Eleana.
Namun, Eleana tidak menjawab semua pertanyaannya. Wanita itu justru terus menangis dalam pelukan Rania.
Rania yang tidak mendapatkan jawaban apa pun akhirnya terdiam. Istri dari Damar itu ikut menangis melihat Eleana menangis dengan penuh kesedihan.
Tak berapa lama kemudian, Damar pun datang. Saat pria itu datang, Eleana sedang berbaring di tempat tidur. Sementara istrinya, duduk di depan Eleana sambil mengusap punggung wanita itu.
Eleana masih sesenggukan. Perempuan itu sudah menceritakan tentang Aaron dan Naura pada sahabatnya. Rania yang mendengar cerita Eleana tentang pertunangan suaminya dengan Naura, ikut merasakan sedih dan sakit hati.
Dia sungguh merasa prihatin dengan nasib yang menimpa sahabatnya. Dalam hati, dia berdoa, semoga Eleana kuat menghadapi masalah yang saat ini menimpanya.
"Semoga saja, Eleana baik-baik saja," batin Rania.
"Sayang, ada apa? Kenapa Elea menangis?" Suara Damar membuyarkan lamunan Rania.
Rania menghela napas panjang, menatap suaminya dengan sendu.
"Sayang, ada apa?" Damar yang khawatir mendekati istrinya. Lelaki itu memeluk Rania saat perempuan yang sangat dicintainya itu merentangkan tangannya.
"Perempuan gatal itu berhasil merebut suaminya Eleana," ucap Rania lirih.
"Sayang, apa maksudmu?" Damar belum bisa mencerna ucapan istrinya. Lelaki itu cukup terkejut sekaligus panik melihat istri dan sahabatnya terlihat menangis.
"Hari ini, Eleana pergi ke rumah mertuanya untuk menemui Aaron. Tapi,
sesampainya di sana, dia melihat suaminya sedang menyematkan cincin di jari wanita lain. Eleana menyaksikan Aaron dan Naura bertunangan."
"Ya, Tuhan ...."
Damar menatap Eleana dengan rasa iba di hatinya. Lelaki itu ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Kasihan Elea, Mas." Rania berucap lirih dengan air mata yang mengalir di pipinya.
***
Rania dan Damar menemani Eleana yang sedang terpuruk. Sepasang suami istri itu bekerja sama menjaga Eleana yang sedang tidak baik-baik saja.
Mereka berdua merasa sangat iba melihat keadaan Eleana. Dari dulu, perempuan itu selalu saja mengalami hal buruk yang membuatnya bersedih.
"Sepertinya, Tuhan masih ingin menguji Elea. Tapi aku yakin, Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan. Aku yakin, Elea bisa melalui ini semua," ucap Damar sambil menatap Eleana yang masih berbaring di atas ranjang.
Damar merangkul bahu Rania dan menenggelamkan perempuan itu ke dalam pelukannya. Rania selalu menangis saat melihat keadaan Eleana yang terlihat begitu terpukul karena mengetahui suaminya bertunangan dengan Naura.
Istrinya Damar itu merasa tidak tega melihat kesedihan sahabatnya. Apalagi, sekarang Eleana terlihat seperti kehilangan semangat hidup.
"Kamu harus bangkit, Elea. Aku yakin, kamu kuat. Kamu tidak boleh terus menyiksa dirimu seperti ini." Suara Rania terdengar serak karena sedari tadi dia ikut menangis melihat Eleana menangis.
"Kamu mencintai suami kamu bukan?"
"Kalau aku tidak mencintainya, aku tidak mungkin sehancur ini, Ran. Aku mencintainya lebih dari apa pun di dunia ini," sahut Eleana sambil terisak.
"Kalau kamu mencintainya, kenapa kamu tidak berjuang untuk merebutnya kembali dari Naura? Bukankah kamu bilang, suamimu itu sangat mencintaimu? Sebelum kecelakaan itu terjadi, hubungan kalian berdua baik-baik saja bukan?"
Eleana mengangguk mendengar ucapan Rania. Hubungannya dengan Aaron memang baik-baik saja sebelum kecelakaan itu terjadi. Aaron bahkan sudah menyiapkan tiket liburan untuk mereka berdua.
Pria itu sangat mencintai Eleana. Rasa cintanya yang begitu besar membuat Aaron seringkali bersitegang dengan Miranda dan Alex Wijaya saat kedua orang tuanya itu dengan begitu terang-terangan tidak menyukai Eleana.
"Bangkit, Elea! Kamu harus jadi wanita kuat. Kamu jangan lemah!" Damar ikut memberikan semangat.
"Eleana yang aku kenal dulu adalah gadis kuat yang tidak pantang menyerah. Bukan Eleana yang bisanya hanya menangis dan pasrah pada keadaan," lanjut Damar membuat Eleana langsung menatapnya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kamu kuat, Eleana! Dari dulu, meskipun kamu disakiti oleh Naura dan kedua orang tuanya, tapi kamu tetap baik-baik saja. Kenapa sekarang kamu begitu lemah, Elea? Bukankah kamu bilang Aaron sangat mencintaimu? Kalau benar dia mencintaimu, saat ingatannya kembali pulih, dia pasti akan mengingatmu." Rania dan Damar berbicara panjang lebar pada Eleana agar perempuan malang itu kembali bersemangat.
"Kamu dan Aaron saling mencintai. Jangan sampai keserakahan Naura dan kedua orang tuanya benar-benar berhasil mengambil Aaron darimu."
"Saat ini juga mereka sudah berhasil mengambil Aaron dariku, Rania. Mereka sudah bertunangan!" Eleana menatap sahabatnya. Air matanya kembali mengalir saat mengingat Aaron.
"Mereka belum menikah bukan? Mereka baru bertunangan. Itu artinya kamu masih punya kesempatan untuk merebut suamimu kembali!
Ingat, Elea! Kamu ini istri sahnya. Aku yakin, mereka tidak akan berani menikahkan Aaron dan Naura secara terbuka. Bukankah kamu bilang, suami dan mertuamu adalah seorang pengusaha yang cukup terkenal?"
Eleana mengangguk pelan. Ingatannya kembali ke masa lalu. Di mana dia saat itu menjadi pengantin pengganti karena Naura kabur. Pesta pernikahannya waktu itu dihadiri oleh banyak tamu undangan yang rata-rata adalah rekan bisnis Aaron dan Alex Wijaya.
"Tidak mungkin mereka menikahkan anaknya secara terang-terangan, sedangkan anak mereka masih terikat pernikahan dengan wanita lain." Rania kembali meyakinkan Eleana.
"Mereka orang kaya, Rania. Mereka bisa melakukan apa pun dengan uang mereka, " ucap Eleana pelan. Air matanya kembali mengalir.
Eleana sungguh merasa kehilangan semangat hidup. Bagi Eleana, Aaron adalah segala-galanya. Entah bagaimana dia menjalani hidup setelah pria itu tidak lagi di sisinya.
Semenjak kecil, Eleana selalu hidup menderita. Tinggal bersama paman dan bibi yang hanya berpura-pura menyayangimu. Begitupun dengan Naura yang terkadang berpura-pura bersikap baik, tetapi, ujung-ujungnya menikamnya dari belakang.
Kehadiran Aaron adalah anugrah terbesar untuk Eleana. Meskipun di awal pernikahan pun, awalnya tidak mudah untuk Eleana. Aaron bersikap dingin dan seringkali marah padanya.
Pernikahan mereka yang dilakukan karena terpaksa dan rasa cinta Aaron pada Naura yang berujung kecewa membuat Aaron begitu membenci Eleana saat itu. Namun, rasa cinta dan kasih sayang Eleana, akhirnya mampu meluluhkan hati Aaron yang sedingin es.
Lelaki itu jatuh cinta pada Eleana dan memperlakukan wanita itu dengan baik dan selalu berusaha membuatnya bahagia. Aaron sungguh sangat mencintai Eleana yang telah berhasil membuatnya melupakan masa lalunya dengan Naura yang begitu menyakitkan.
Aaron pernah memberikan hatinya pada Naura. Memberikan segalanya untuk perempuan itu dan selalu berusaha membahagiakannya. Namun, ketulusan cintanya pada Naura justru dibalas dengan kesakitan yang membuat pria itu hampir saja menyerah.
Seandainya Aaron tidak bertemu dengan Eleana, mungkin, saat ini pria itu masih terus tenggelam dalam masa lalunya yang menyakitkan.
"Tapi jika benar, suamimu sangat mencintai kamu, aku yakin, suatu saat dia pasti akan mengingatmu, Elea," ucap Rania masih meyakinkan sahabatnya itu agar tidak terpuruk.
"Entahlah, Ran. Aku benar-benar tidak bisa berpikir untuk saat ini. Hatiku sakit!"
"Elea ...." Rania mendekati wanita itu kemudian memeluknya.
Eleana kembali menumpahkan tangisnya.
"Bagaimana kalau kamu melamar kerja saja? Kalau kamu bekerja, aku yakin, kamu tidak akan terpuruk seperti ini. Kamu tidak akan punya waktu untuk menangisi lelaki itu kalau kamu bekerja." Damar memberikan usul untuk Eleana.
Rania melepaskan pelukannya pada Eleana. Istrinya Damar itu menatap lelaki yang sangat dicintainya yang kini juga sedang menatapnya.
"Aku setuju denganmu, Mas. Eleana memang butuh kesibukan agar dia tidak terus menerus memikirkan masalah yang saat ini sedang dialaminya." Rania menatap Damar, tangannya terulur untuk mengusap rahang pria itu.
"Bagaimana, Elea, apa kamu setuju jika kamu bekerja?" Pandangan mata Rania berpindah ke arah Eleana.
"Aku tidak tahu. Aku benar-benar belum bisa berpikir sekarang," jawab Eleana.
"Kalau kamu mau, kebetulan, perusahaan tempatku bekerja sedang membutuhkan karyawan baru. Memang sih, hanya pegawai biasa, tapi, daripada kamu bersedih terus seperti ini, mending kamu mencari kesibukan, El," jelas Rania.
Eleana mengembuskan napas panjang. Memikirkan ucapan kedua sahabatnya itu.
"Kalau nggak, kamu coba saja melamar kerja di perusahaan suamimu. Bukankah kamu bilang, suamimu itu adalah seorang pemilik perusahaan? Siapa nama lengkap suamimu?" Rania kembali merayu.
"Aaron Wijaya."
"Apa? Aaron Wijaya? Putra dari Alex Wijaya, pemilik perusahaan Wijaya?" Rania sangat terkejut mengetahui kalau suami dari Eleana itu adalah Aaron yang sama. Pria yang menjadi pemilik perusahaan di tempat dia bekerja.
Eleana mengangguk, membuat Rania menutup mulutnya. "Ya, Tuhan ...."
"Mas Damar, ternyata Eleana ini seorang istri pengusaha yang sangat terkenal." Rania menatap Damar yang juga sama-sama terkejut.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu menikah dengan pria hebat seperti Aaron Wijaya, Elea. Kamu tidak sedang berbohong 'kan?" Rania menatap sahabatnya dengan rasa tak percaya.
Eleana membuka ponselnya, kemudian, memberikan benda pipih itu pada Rania.
"Itu adalah foto pernikahanku dengan Aaron dan juga foto-foto kebersamaanku dengannya."
Kedua mata Rania berbinar saat melihat foto-foto mesra Aaron dan Eleana di galeri ponsel wanita itu.
"Eleana, kamu harus bersiap. Besok pagi, kamu siapkan lamaran kerja ke perusahaan suamimu. Aku akan menolongmu agar kamu bisa masuk ke sana. Apa kamu tahu, pekerjaan ini akan membuatmu sering bertemu dengan suamimu nantinya." Rania berkata dengan kedua mata berbinar.
"Benarkah?"
"Benar, Elea. Kamu akan bertemu setiap hari dengan suamimu. Aku yakin, dengan setiap hari bertemu dengannya, laki-laki itu pasti akan kembali mengingatmu!"
terimakasih author maaf juga mungkin di kala buat koment ada yng kebablasan 🤭
lope lope author Nazwa ❤❤
beberapa typho thor 💪💪