Andrea si gadis tomboy petakilan, penggemar novel misteri, dan detektif, ingin memburu penulis favoritnya yang sudah dua bulan tidak mengupload bab baru novelnya. Padahal dia sudah susah payah menyisihkan uang jajannya hanya untuk pergi ke warnet, saking sukanya dia dengan novel misteri buatan penulis dengan nama pena author gagal move on.
Dibantu temannya yang bernama Atika, dan anggota genk somplaknya dia akhirnya mendapatkan identitas si penulis. Namun, saat mereka bertemu, Rea tidak tahu dunianya jungkir balik, dan menumbuhkan benih-benih kesesatan bernama cinta di hatinya.
Akan tetapi, kenyataan tak semanis ekspetasi ketika Dimas Alexander, nama si penulis favoritnya tak sebaik yang dia kira. Pemuda itu cenderung kaku, sok dingin, dan hobi membuat Andrea kesal setiap hari, dan lebih parahnya pemuda itu mengira Andrea adalah laki-laki, membuatnya risih dengan si tomboy.
Namun, sebuah kejadian, membuat mereka harus mendadak menikah, dan dirahasiakan.
Bagaimana kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winter Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Masih Gengsi
"Dim bukain baju gue dong?"
Mata sipit pemuda itu mendelik. "Apa? Ngawur, ganti baju di kamar mandi. Jangan aneh-aneh." Dia mencoba melarikan matanya ke sana ke mari, asal tak menatap Rea.
Bukan apa-apa jantungnya sudah bergejolak aneh sejak saat melangsungkan akad nikah. Apalagi saat gadis itu memakai kebaya dengan make up tipis, sungguh berbeda sekali dengan sosok Rea yang tomboy, dan nyaris menyerupai laki-laki.
"Tau, gue cuma minta bantuan lo bukain resleting, ntar gue gantinya di kamar mandi."
Mendengus pemuda itu menatap Rea ketus. "Nggak, di luar ada Mami, sama Kak Vero. Minta tolong sama mereka jangan padaku, aku yakin pasti tuh di dalam pikiranmu udah merencanakan sesuatu," tuduhnya.
Rea mengeryit, rencana apa? Dia hanya meminta tolong, bukan. Hanya membuka resleting saja, apa harus ada yang direncanakan. Sungguh pemikiran pemuda yang sudah sah menjadi suaminya ini terlalu teoritis.
"Pikiran lo terlalu jauh, nyebelin. Gue kan cuma—"
"Keluar, minta tolong Kak Vero."
Rea yang kesal hanya bisa mendelikkan matanya. "Iya, bawel. Lagian cuma bukain resleting doang, takut banget lo, kaya anak perawan mau diperkaos mafia."
Tatapan tajam itu menghunus ke arahnya, sebelum Dimas marah, Rea sudah buru-buru keluar dari kamar pemuda itu dengan membawa baju ganti. Menyisakan Dimas seorang diri di dalam kamarnya.
Pemuda itu kemudian duduk di atas ranjang, satu tangannya terangkat untuk memijit dahinya.
"Mimpi apa aku bisa nikah sama tuh cewek aneh."
***
Rea kembali dengan tubuh segar, dia sudah berganti baju dengan kaos oblong berwarna hitam, dan celana pendek selutut berwarna cokelat muda yang menjadi favoritnya.
Dia masuk ke dalam kamar dengan mengendap-endap, takut kalau saja si manusia es batu itu masih terjaga, dan melayangkan tatapan tajam padanya.
Rea melongokkan kepalanya ke dalam, dan melihat ke atas ranjang, ternyata pemuda dingin itu sudah tertidur dengan tubuh terbungkus selimut, dan ada guling besar di tengah kasur sebagai penyekat.
"Aman udah tidur ternyata tuh orang." Dia bergumam. Lalu berjalan seperti pencuri. Mendekati ranjang berukuran sedang itu. Beruntunglah tubuhnya dan Dimas itu kategori kurus, jadi ranjang itu bisa ditempati berdua.
Dia berjongkok di depan ranjang, di mana suaminya itu tengah tertidur.
"Muka lo cakep banget sumpah, tapi kenapa mulut lo pedes sih. Tuh tatapan lo kaya mau ngebunuh orang, jadi istri lo tekanan batin nggak sih?" Detik berikutnya Rea terkekeh.
Dia yang minim pengalaman, membayangkan bagaimana rasanya berciuman dengan lawan jenis.
"Kata si Rosyid kissing itu bikin nge fly, mumpung nih orang tidur gue cobain ah, udah halal ini. Nggak dosa kan nyium suami sendiri, mumpung orangnya nggak sadar. Kalau sadar gue bisa ditabok nih."
Bibirnya terkikik lirih, Rea memajukan wajahnya, jantungnya berdebar-debar. Ini pengalaman pertamanya, bibirnya masih perawan. Maju lagi hingga jarak mereka makin menipis, namun tiba-tiba....
Duag.
"Aduh!" jerit Rea, saat tubuhnya didorong ke belakang, dan pantatnya membentur lantai. Dimas tiba-tiba terbangun karena merasakan ada napas hangat menyerbu wajahnya. Dia itu tipe yang jika tidur pasti masih bisa merasakan sesuatu. Tidak seperti Rea yang lupa daratan jika matanya sudah terpejam.
"Mau ngapain kamu?"
"Nggak ngapa-ngapain, cuma mau nepok nyamuk di bibir lo tuh. Takutnya tuh bibir lo diisep nyamuk, ntar malah ciuman pertama lo diambil nyamuk, ya kalau nyamuknya jantan. Kalau betina, terus minta pertanggung jawaban gimana? Mending sama gue yang udah pro."
"Nggak tau malu."
"Lah kenapa mesti malu, kan udah sah, udah halal."
Dimas menggelengkan kepalanya, sudahlah bicara dengan Rea dia akan lelah sendiri.
"Itu kan maunya Mami, bukan aku. Kita tuh nikah karena paksaan, karena gosip konyol nggak jelas itu. Jadi jangan sok-sokan kita pengantin baru yang romantis, paham?"
"Paham kok, nggak usah lo jelasin panjang lebar kali tinggi. Nih otak gue udah berasap kalau mikirin rumus phytagoras, nggak usah lo tambahin. Ya ya ya, terserah lo aja deh, bodo amat ah. Gue juga nggak tau jadinya kek gini. Aslinya ya gue nggak punya cita-cita tuh nikah sama orang good looking kalau sikapnya sulit dijangkau kek lo. Mending nikah sama orang biasa aja, yang penting pantes di ajak kondangan." Rea mencebilkan bibirnya.
Kebiasaannya jika kesal adalah dengan memajukan bibirnya.
Dimas menatapnya sekilas, ludahnya ditelan paksa, sebelum melarikan tatapannya ke arah lain.
Pemandangan Rea mencebilkan bibirnya itu bikin kewarasan otaknya terkikis.
"Tidur."
"Huh, nggak jadi lanjut debatnya nih."
"Silakan debat sendiri, aku nggak mau menghabiskan energi positif di malam hari."
"Emang kapan energi lo positif? Perasaan negatif terus deh. Udah gitu wajah lo yang nyeremin itu bikin bocah-bocah kena sawan."
"Tidur atau kusuruh tidur di luar!" sentaknya.
"Yaelah, ampun Bang. Oke, oke jangan galak-galak, napa. Oke, oke gue tidur, tapi masa malam pengantin kit—"
"Nggak tidur kulempar keluar."
Dimas kembali membungkus tubuhnya dengan selimut. Membiarkan Rea dengan segala sumpah serapahnya yang hanya dipendam di dalam hati.
Rea memilih berdiri, dia berjalan memutari ranjang, dan tidur di sebelah pemuda itu.
Dia masih ragu, seumur hidupnya dia tak pernah tidur bersebelahan dengan lawan jenis.
Gadis itu memandangi punggung suaminya dari belakang. Tangannya diangkat ke udara, namun kemudian diturunkan kembali, dan memilih ikut berbaring membelakangi suaminya.
"Ya udah selamat tidur, Mr. Perfect yang dinginnya ngalahin kutub selatan."
Sepuluh menit berlalu, Dimas merasakan tak ada pergerakan dari sisi kirinya. Dia berbalik pelan, dan melihat Rea sudah tertidur pulas. Pemuda itu memilih duduk. Melongokkan kepalanya, melihat wajah Rea yang damai saat tertidur, tanpa sadar bibirnya tersenyum, meskipun teramat tipis.
***
Rea bangun lebih pagi, bukan kebiasaannya memang. Namun, karena dia sadar sekarang berada di rumah mertua, tentu dia ingin imagenya terbangun bagus.
Dia melihat Dimas yang masih tertidur. Tak mau menganggu, gadis itu berjalan keluar kamar, dan berjalan ke arah dapur. Harum aroma masakan sudah tercium di indera penciumnya. Buru-buru dia berjalan ke sana, dan mendapati asisten rumah tangga keluarga Wu tengah memasak.
"Pagi Mbak Dini," sapanya pada asisten rumah tangga yang usianya masih muda, mungkin kisaran 30 tahunan.
"Eh, Mbak Rea udah bangun. Masih pagi banget lho, Mbak."
"Udah nggak ngantuk, Mbak Dini bikin apa?" tanyanya.
"Nasi goreng telur kesukaannya Mas Dimas."
Rea melongokkan kepalanya pada wajan berisi nasi goreng yang masih dibolak-balik oleh Dini.
"Oh, dia suka nasi goreng, ya?"
"Iya, nanti Mbak Rea buatin aja nasi goreng buat sarapan Mas Dimas, pasti seneng."
"Aku nggak bisa masak, Mbak Din?"
Dini bergerak menatap Rea yang bersandar pada tembok dapur. "Kenapa? Serius lho aku nggak bisa masak, Mbak Din. Tuh bumbu dapur aja aku nggak ngerti, taunya kunyit. Soalnya warnanya kuning ya pasti kunyit." Rea tergelak sendiri, dan Dini hanya geleng-geleng kepala.
"Belajar dong, Mbak. Kalau udah nikah sih harus belajar masak. Soalnya masakan istri itu pasti spesial buat suami."
"Aku aslinya nggak siap nikah, tapi dipaksa karena omongan warga udah nggak enak. Eh tapi Mbak Dini mau ngajarin aku masak, nggak?"
Dini mengangguk, dan Rea yang senang reflek memeluk Dini dari samping sembari meloncat-loncat, hal itu tak luput dari tatapan Dimas yang memang sudah bangun sejak Rea keluar dari kamar. Sengaja mengikuti si tomboy itu, dan di sinilah dia berada menjadi penguntit akan kegiatan istrinya.
Kepalanya menggeleng, bibirnya tersenyum, sebelum dia berlalu dari sana.
"Ada-ada aja kelakuannya."
***
"Turun." Dimas menghentikan motornya tepat di dekat pangkalan ojek, sekitar satu kilometer dari kampusnya.
Awalnya dia enggan untuk membonceng Rea hingga kampusnya. Namun, karena paksaan sang ayah, terpaksa dia iyakan, dan justru kini dia menurunkan Rea di dekat pangkalan ojek.
"Lah kok turun di sini, Dim?"
"Mau kita ketahuan sama anak-anak kampus?"
Rea mendengus, dia terpaksa turun dari motor suaminya.
"Emang kenapa kalau ketahuan? Gue nggak keberatan."
"Kamu nggak, aku iya. Jangan banyak protes, atau aku puter balik, tuh aku turunin di deket sawah-sawah sana, mau?"
"Sorry, makasih. Di sini aja, kejem banget lo jadi suami. Gue doain lo jadi bucin sama gue."
"Nggak bakal," ujarnya.
Bibir Rea mencebil. "Pede banget lo, lihat aja ntar ... Terus lo turunin gue di sini. Gue ke kampusnya naik apa, Dek?"
Tidak menjawab, justru Dimas menunjuk beberapa tukang ojek yang tengah mangkal tak jauh dari dia menghentikan motornya.
Rea mengikuti arah pandang telunjuk suaminya. Dia kembali mendengus, percuma menikah jika endingnya dia disuruh naik ojek juga. Padahal kan dia ingin naik motor dengan Dimas, bisa memeluknya dari belakang, membayangkannya saja otak Rea sudah ke mana-mana.
"Nggak usah berkhayal!" seru Dimas.
"Apa sih orang gue lagi ngebayangin diboncengin Jerry Yan. Cemburu ya, hayo ngaku," godanya.
"Ngawur, udah sana naik ojek."
Rea kesal sendiri dia kemudian merogoh saku celananya, sial dia tidak punya uang sekarang.
"Nggak punya duit, pinjem duit lo ya?"
"Kebiasaan." Sebelum Dimas mengambil uangnya, dia lebih dulu memanggil tukang ojek. Salah satu dari mereka menghampiri Rea.
"Ojek, Mas?"
Dimas mengangguk. "Iya tolong anterin is ... Dia ke fakultasnya, Bang. Berapa sampai fakultas pendidikan?"
Rea agak kesal karena Dimas tidak mau mengakuinya sebagai istri.
"Lima ribu, Mas."
Pemuda itu lalu mengambil dompetnya di dalam tas, dan menyerahkan selembar uang lima ribuan pada si tukang ojek. Rea yang kesal akhirnya memilih berbalik, namun sebelum dia naik ke motor si tukang ojek, Dimas kembali memanggilnya.
"Rea!"
"Apaan lagi?" decaknya.
"Mendekat sini."
Rea dengan kesal melangkah kembali ke arah Dimas.
"Apaan lagi?"
"Siniin tangannya."
Dia kemudian mengambil selembar uang dengan nominal seratus ribu dari dompetnya, lalu memberikannya pada istrinya itu.
"Jangan boros, jangan beli yang mahal-mahal, jangan buat ke warnet di rumah ada komputer," ujarnya dengan tatapan wajah yang dilarikan ke sana ke mari, yang penting tidak menatap Rea. Sungguh dia malu.
"Huh, buat gue, Dim?"
"Kalau nggak mau balikin."
Rea buru-buru mengantongi uangnya ke dalam saku celananya. "Enak aja, makasih ya."
Dia hampir berbalik lagi, namun Dimas kembali memanggilnya.
"Rea!"
"Apaan lagi?" tanyanya.
Pemuda itu mengulurkan tangannya, namun Rea hanya diam. Bingung dengan kelakuan suaminya ini.
"Ngapain?"
"Dicium tangannya toh Mbak. Itu pacar atau suaminya? Cie pagi-pagi udah bikin saya jadi wafer nih," goda si tukang ojek.
Rea terkekeh. "Oh." Dia tersenyum sebelum mencium tangan suaminya, dan langsung naik ke boncengan si tukang ojek.
Selepas Rea menghilang dari sana, dia mengikutinya dari belakang sampai istrinya tiba di depan fakultasnya. Merasa istrinya sudah aman, dan berjalan masuk ke fakultasnya, dia baru pergi dari sana dengan senyum teramat tipis berpendar di bibirnya.
seru nih ceritanya thor, kok gk dilanjut lagi. sayang banget sama ceritanya
please dilanjut ya thor
seru banget loh ceritanya sayang banget nanggung gini