Rate 21+
Almira adalah seorang gadis cantik yang berasal dari sebuah Desa terpencil, hidup jauh dari peradaban kota, namun semangatnya untuk menimba ilmu tidak pernah pudar, terus berjuang untuk mewujudkan mimpi juga cita-citanya sepenuh hati.
Hingga pada suatu hari, keadaan memang tidak sejalan dengan rencana, Almira harus melepaskan mimpi-mimpinya demi kelangsungan hidup keluarganya.
Batinnya mulai berperang, Almira di hadapkan pada sebuah pilihan yang sulit, antara mimpi, cita, dan cinta.
Pilihan mana yang akan Mira ambil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Neng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Flashback
“Ra ... beberapa minggu lagi, kita akan menghadapi ujian akhir sekolah” Arka menggenggam tanganku erat, tersenyum dengan sangat antusias, sementara itu tangan sebelah kirinya meraih bunga teh yang bertengger cantik, mentari pagi ini bersinar begitu cerah, secerah hati kami yang tengah sengaja menikmati pemandangan alam yang tidak pernah berhenti kami kagumi, ciptaan Tuhan memang selalu sesempurna itu.
“Iya, gak berasa ya, tiga tahun sekolah di kota dengan perjuangan yang sangat berat, dan sebentar lagi kita akan ujian dan segera lulus” aku tidak kalah antusias, bayanganku sekarang adalah tentang kelulusan, dan kembali melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
“Hemmhh ... aku gak sabar Ra, aku mau kita segera lulus SMA, kuliah, lalu kita akan memiliki pekerjaan yang lebih baik, agar kita segera mewujudkan mimpi-mimpi kita Ra” Arka memetik bunga teh berwarna putih tersebut, lalu menyelipkannya di antara telingaku.
“Kamu cantik Ra, berjanjilah untuk tetap setia menungguku” Arka menatapku dalam, terlihat gurat kekhawatiran di sana, aku terkekeh, lalu balik menatapnya, tersenyum lembut berusaha menenangkan hatinya.
“Ka ... kamu jangan khawatir Ka, aku pasti setia kok, mimpi kita sama Ka, jadi bagaimana mungkin aku meninggalkan mimpiku” aku menatap wajah Arka yang kini sudah berubah, tersenyum lega.
“Janji ya Ra” Arka menautkan jari kelingkingnya, seperti anak-anak, ya ... kadang Arka memiliki sifat seperti itu juga.
“Janji” Aku menerima tautan tangan Arka, kami bertukar senyum, saling menguatkan saling mengingatkan, lalu saling berjanji, merangkai masa depan yang begitu indah dan sulit di lupakan.
Flashback End
***
Aku berdiri di ambang pintu menuju ruangan utama rumah ini, mengedarkan pandangan dengan teko di tanganku, bekas menyiram tanaman di halaman depan. Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki di tempat ini, tapi kenapa bayangan itu tidak pernah sirna di benakku.
Bayangan itu kembali berkelebat dalam ingatanku, datang silih berganti, seperti puzle.
“Silahkan masuk” pria itu menuntun tanganku lembut, tersenyum lalu berjalan di depanku, sementara aku mengikuti langkahnya dari belakang.
Rumah ini terasa asing, aku mengedarkan pandangan, di dalam sana sudah ada beberapa orang yang menyambutku, tatapan mereka berbeda-beda.
“Selamat datang di rumah kami Ra” dia Mamih mertuaku, perempuan ini menatapku dengan tatapan tidak sukanya, meskipun kata-katanya di tata sedemikian manisnya, tapi aku merasakan aura peperangan dari tatapan matanya.
“Terimakasih Juragan” aku menundukkan kepalaku takut.
“Haha ... jangan panggil Juragan, dia Mamih mertuamu, panggil dia Mamih, dan panggil aku Papih, seperti Arga memanggilku” kini terdengar suara pria yang berada di samping perempuan tadi, dia adalah Papih mertuaku.
Aku semakin menunduk takut, bagaimanapun aku hanyalah gadis kecil yang tiba-tiba di nikahi oleh pria kaya, baru sehari menikah aku langsung di boyong ke rumah keluarganya, aku harus beradaptasi sendiri di rumah seluas ini, dengan anggota keluarga baruku. Sungguh miris.
“Selamat datang Mira, semoga kamu betah tinggal di sini” kini pelukan lembut itu datang dari Kak Risya, perempuan ini terkesan begitu lembut dan baik, jika di lihat dari anggak-ungguk dan juga tutur bahasanya, pelukannya membuat hatiku begitu tenang.
“Terimakasih Kak” aku kembali menundukkan kepalaku, setelah pelukan Kak Risya meloggar dari tubuhku.
“Hay, selamat datang” tangan itu menjulur begitu saja, seorang pria yang dari tadi sudah mengedipkan matanya padaku tengah tersenyum kini, senyuman menyebalkan dan membuatku jengkel, bahkan dari pertama kali kedatangannya ke rumahku saat acara pernikahan kami waktu itu.
“Terimakasih” hanya kata itu yang mampu aku ucapkan.
“Arga, bawa istrimu ke kamar, ajak dia istirahat, perjalanan kalian cukup jauh” suara Papih mertua menginterupsi.
“Baik Pih”
Pria itu kembali menuntun tanganku lembut, aku mengekorinya dari belakang, kini langkah pria itu menuju lantai dua rumah besar ini, mungkin kamarnya terletak di sana.
Kkrriieettt ...
Pintu kamar di buka, aku melongo, kamar ini sungguh jauh dari khayalanku, halusinasiku tentang rumah dan kamar orang kaya, rupanya terlalu dangkal, aku hanya berkhayal tentang kamar dengan luas dan benda-benda di dalamnya yang sederhana, tapi nyatanya semuanya jauh di luar ekspektasiku, kamar ini terlihat begitu mewah, indah, juga sangat rapi, mungkin para asisten rumah tangga di rumah ini begitu telaten.
“Selamat datang di kamarmu sayang” pria itu melempar tas jinjing milikku yang sedari tadi di tentengnya ke sembarang arah, aku mengerjap, pikiranku segera kembali kedunia nyata, kala tangan itu tiba-tiba memelukku dengan posesif, setelah sebelumnya pikiranku berkelana di dunia fantasi yang ku ciptakan sendiri.
“Emmhh!! Lepaskan!!” aku menghempaskan tangan itu dengan kasar, rasanya hatiku begitu murka mendapatkan perlakuan seenaknya darinya.
“Kenapa??” dia mengerutkan keningnya dalam, menatapku dengan kilatan amarah, merasa tidak terima dengan sikapku.
“Aku tidak sudi di sentuh oleh pria jahat seperti dirimu!!” tegasku lantang.
“Apa?? Aku suamimu sekarang Mira! Aku berhak atas tubuhmu!” pria itu menunjuk tubuhku.
Tubuhku sedikit bergetar, aku harus bisa menyembunyikan rasa takutku, aku harus bisa melawannya, di tempat asing ini, tidak akan ada orang yang mampu menolongku selain diriku sendiri.
“Tapi aku tidak menyukaimu! Aku tidak pernah mencintaimu! Kamu hanyalah laki-laki egois yang sudah dengan berani merusak masa depanku!!” aku berapi-api, dadaku terasa sesak, aku tidak bisa menerima kenyataan ini.
“Apa kamu bilang?? Aku mencintaimu Mira! Harusnya kamu bersyukur di nikahi oleh pria sepertiku!”
Cih! Dengan nada sombongnya, pria itu meninggikan suaranya, aku semakin membencinya.
“Jangan pernah berharap, jika aku akan mengikuti semua inginmu! Terutama harus meladeni nafsumu! Aku tidak sudi!” setengah menjerit, aku memukul dadaku yang kian tersayat.
“Apa?? Jaga nada bicaramu! Suka atau tidak suka, tapi aku adalah suamimu sekarang! Aku berhak melakukan apapun padamu!!” suaranya kian menggelegar.
“Mau ku buktikan? Jika kekuasaanku bisa membuatmu bertekuk lutut padaku??” dia tersenyum menyeringai, mendekati tubuhku yang terus mundur ke belakang, hingga ku rasakan ada benda yang menghalangiku disana.
“Ja jangan” aku menggeleng, menyilangkan kedua tanganku di dadaku, aku paham, alarm tanda bahaya tengah berdenting sekarang. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pasrah begitu saja? Tidak! Aku harus melawannya!.
“Mungkin, di mata hukum dan agama, kau adalah suamiku secara sah, tapi di mataku, di hatiku, kamu tidak lebih dari seorang pria egois! Pria brengsek, yang sudah dengan tega memaksaku untuk mengikuti semua keinginanmu!!” aku kembali berteriak, kala tangan itu dengan kasar sudah menarik tubuhku.
“Jaga bicaramu Almiraaaaaaa!!!” suaranya begitu menggelegar dalam pendengaranku.
Ssrreeeettt!!!
Dalam sekali tarikan tangannya berhasil menarik paksa bajuku, pria itu melempar tubuh kecilku dengan sekali hempasan, aku bagaikan seonggok daging ayam yang siap di cincang, mataku mulai mengembun, aku ingin menangis tapi aku tidak boleh menangis, aku bersumpah! Di hadapannya aku adalah perempuan kuat!!.
“Jangan membantahku Mira!!”
Bibirnya mulai aktif menciumi bagian tubuhku, aku tahu persis, akan berakhir di mana pertengkaran kali ini, dia melakukan semuanya dengan sangat kasar, aku begitu trauma. Rasa takut mendominasi, tapi dia tidak peduli!.
***
“AAAAAAAAAARRRRGGGGHHHH!!!”
Tanpa sadar aku melempar teko yang berada di genggamanku, napasku begitu terengah, ku jambak rambutku dengan prustasi. Dadaku terasa sesak.
“Non gak apa-apa??” ku rasakan tangan itu menyentuh bahuku, aku semakin ketakutan
“AAAARRGGGHHHH!!” aku kembali histeris.
“MIRAAA!!” suara berat itu meneriakkan namaku, aku semakin takut.
“Jangan sentuuhhh!!!”
“MIRAAA! Kamu kenapa??”
“Jangan sentuh!!”
Derap langkah kaki semakin mendekatiku.
Tidak!!
Semua hanya ilusiku saja! Aku baik-baik saja! Aku kuat! Aku tidak apa-apa!!.
“Ra??!!”
“JANGGAAANNN!!!”
Semuanya gelap!.
17-05-2021
hukum apa namanya suami modelan bigini. enak klo itunya gak bisa bangun lagi.
apalgi di novel ini wanitanya masih sangat kecil menikahnya 15 tahun.danmasih kecil sdah mengonsumsi itu maka kandunganya bisa mengkerut dan kering.
si ibu gk tau kehidpn Mira