Hidup Kuman berubah saat ibunya memaksa dia mencari seorang gadis untuk diajak berkencan.
Kurnia Mahadana, biasa dipanggil dengan sebutan Kuman adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang masih menjomblo. Atas desakan ibunya, Kuman memberanikan diri untuk mencari gadis yang bisa dia ajak berkencan di sebuah situs perjodohan. Tapi alangkah terkejutnya Kuman setelah tahu gadis yang hendak dia kencani adalah salah satu manusia terkuat di dunia.
Sebuah cerita klasik dimana unsur fantasi dan urban saling terhubung.
*Semua gambar yang ada di novel ini berasal dari google dan pinterest dengan tujuan mempermudah ilustrasi semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon orpmy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LWTW 14 : Kemunculan Dungeon
Selesai mencuci aku segera menjemur pakaian basah di halaman belakang. Hari begitu cerah, aku dapat melihat monster hijay seperti anak kecil sedang menatap rumahku dari kejauhan.
Goblin, sebuah makhluk fantasi yang hanya memiliki tubuh setara dengan anak-anak usia 15 tahun, namun ada juga yang lebih tinggi setara dengan orang dewasa. Mereka adalah goblin yang telah berevolusi menjadi Hob Goblin.
“Ah, mereka pasti marah karena Rumi membunuh beberapa dari mereka.”
Ada sebuah perkampungan yang terletak dua kilometer dari rumahku, perkampungan yang telah ditinggalkan oleh oleh manusia karena terus di serang oleh monster. Saat ini perkampungan itu telah beralih fungsi dari tempat berkumpulnya manusia menjadi tempat para goblin menetap.
Kira-kira mereka sudah berada di sana selama tujuh tahun, lebih lama dari keluargaku saat pertama tiba di rumah kami yang dimulai lima tahun lalu.
Rumah kami sering mendapatkan penyerangan oleh kelompok goblin dari desa itu, beruntung ibu dan aku selalu berhasil mengalahkan sekawanan monster yang termasuk dalam kategori kelas D+.
Kami pernah mengajukan permintaan pemusnahan perkampungan goblin, permintaan kami diterima lalu sebuah tim penaklukan di kerahkan, semua goblin diperkirakan lenyap waktu itu.
Tapi monster hijau itu seperti rumput liar yang terus tumbuh di musim hujan. Setiap kali koloni goblin dimusnahkan, hanya butuh beberapa bulan untuk koloni itu kembali dibentuk.
Pada akhirnya karena tidak terlalu menguntungkan melakukan pemusnahan koloni goblin, pihak pemerintah maupun asosiasi Hunter tidak lagi mengirimkan pasukan pemusnah mereka.
Banyak orang meyakini jika ada sebuah dungeon yang merupakan asal dari para goblin di suatu tempat dalam desa, tapi saat dicari tidak ada seorangpun yang menemukannya.
“Nyai, apa Nyai bisa buat alat untuk mendeteksi keberadaan dungeon?.” aku mencoba bertanya pada Nyai. Jika menang alat seperti itu ada mungkin aku bisa hidup lebih tenang karena tidak perlu lagi khawatir oleh serangan goblin.
<
“Heeeh! Benarkah?.” aku sangat senang ketika mendengar jawaban Nyai Lampir.
Tapi kesenangan itu segera berakhir ketika nyai Lampir mengatakan jika aku tidak mungkin untuk membuat alat tersebut saat ini karena level yang dibutuhkan adalah Expert Runecraft sama seperti item sihir Appraisal.
<
“Tapikan semua Blue print item sihir yang diberikan Nyai memerlukan bahan-bahan monster, semuanya harus dikumpulin dulu dan itu butuh biaya.”
<
“Pacar mana ada!.” seketika aku merasakan wajahku terbakar, menyadari itu Nyai terus menggodaku. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membuatnya diam jadi aku hanya mendiamkannya tidak menghiraukan perkataan wanita tua itu.
Hingga akhirnya selesai menjemur pakaian. Merasa lapar aku menuju ke dapur untuk menikmati sarapan yang sudah dibuat sebelumnya. Rumi kembali ke kamarnya setelah sarapan dia merapikan pakaiannya karena akan berangkat kuliah.
Aku mengambil sarapanku yang berupa roti panggang dengan telur ditemani secangkir kopi dengan gula. Sambil menonton acara berita di televisi, aku menikmati sarapanku dengan begitu nikmat.
Kreeess!
“Emmmhh.”
Renyahnya roti panggang, mentega yang lumer dan lezatnya telur, semua menyatu dalam satu gigitan.
[Note: ini iklan yak?]
Mataku terpejam ketika menikmati lezatnya roti panggang yang aku buat.
[Note: lah terus ngapain TV nya dinyalain kalo mata Lo merem]
Sarapan pagi yang luar biasa, jika saja ibu ada di sini bersamaku menikmati sarapan pasti semuanya akan menjadi sempurna.
Berrrrrrr.….
“Wat the…”
Tiba-tiba bumi berguncang hebat membuat seisi rumah menjadi berantakan, bahkan televisi yang sedang aku tonton terjatuh.
“Kyaaaah!.” terdengar teriakan dari kamar Rumi. Karena khawatir aku segera mengunakan kemampuan teleportasi untuk berpindah dari lantai satu ke lantai dua.
“Rumi kau tidak apa-apa?.” aku berteriak di depan pintu kamar Rumi.
“A… aku tidak apa-apa, hanya terkejut.” balas Rumi yang masih berada di dalam kamar.
“Syukurlah. segera keluar dari rumah karena mungkin gempa akan semakin besar.”
“Tidak masalah, aku tidak akan mati dengan mudah hanya karena tertimpa tembok rumah yang runtuh.”
“O…. Oke.”
Terkadang aku lupa jika gadis secantik yang mengontrak salah satu kamar di rumahku adalah seorang Hunter rank S.
Kembali mengunakan kemampuan teleportasi, aku berpindah ke luar rumah. Sangat sulit berdiri di tengah lapangan terbuka saat tanah tidak berhenti berguncang. Tatapanku tertuju pada rumah yang terus di guncang gempa, aku terus berdoa agar rumah itu tetap bertahan. Rumi terbang keluar dari rumah melalui jendela kamarnya. Dia sama sepertiku yang terus menatap ke arah rumah.
Gempa akhirnya berhenti setelah 10 menit berlalu, aku menghela nafas lega saat melihat rumahku masih berdiri kokoh.
“Itu terasa begitu dekat.” ucap Rumi yang melayang turun menuju ke arahku.
“Benar, aku harus mencari dimana itu dan melaporkannya.” balasku.
Gempa yang baru saja kami alami sering terjadi setelah kemunculan Emperor Dragon sepuluh tahun lalu. Gempa yang bukan berasal akibat pergerakan lempeng bumi, melainkan hasil dari lahirnya sebuah sarang Monster.
“Dungeon.” dengan bantuan Nyai Lampir, aku berhasil menemukan letak dungeon yang ternyata berada di dalam garasi rumah.
“Ah… padahal aku berniat untuk menggunakan tempat ini sebagai bengkel pembuatan item sihir” dengan wajah sedih aku menatap lubang besar yang hampir mencakup setengah garasi. Semua peralatan yang aku letakkan di dalam garasi terjatuh di dalam lubang tersebut.
“Kau yakin itu dungeon nya? Terlihat begitu kecil.” ucap Rumi.
“Ini karena dungeon baru tercipta jadi masih kecil, tapi seiring dengan bertambahnya waktu dungeon akan membesar.”
Aku terus melihat peralatan yang tergeletak di dasar dungeon, aku pikir untuk mengambilnya.
“Kau ingin masuk?.” tanya Rumi. Aku hanya menjawab dengan anggukan.
Menggunakan tangga kayu aku menuruni lubang besar yang hanya setinggi tiga meter hingga sampai di lantai pertama dungeon.
DING!
Bunyi bel kembali terdengar ketika aku menginjakkan kaki di lantai pertama.
Hanya beberapa saat setelah menginjakkan kaki di lantai pertama, tiba-tiba seekor kelabang raksasa setinggi dua meter menyerang ku dari kegelapan. Beruntung aku dapat menghindar serangan kelabang itu.
“Yah, setidaknya aku sudah mengkonfirmasi jika ini memang bukan sebuah lubang bisa.” ucapku sambil terus menatap kelabang raksasa.
Mengambil sebuah obeng yang tergeletak tidak jauh dari tempat ku berada, aku menggunakan obeng itu sebagai senjata. Kelabang raksasa menyerang lebih dulu, aku tidak bisa menghindarinya karena tempat ku berada begitu sempit.
“Tapi jika kau memiliki kemampuan berpindah tempat maka tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” menggunakan skill teleportasi instan, aku berpindah di belakang kepala kelabang raksasa lalu menusuk salah satu matanya menggunakan obeng.
Kreaaak! Teriakan kesakitan kelabang raksasa terdengar, merasa kesakitan kelabang raksasa itu mengamuk setelah melakukan serangan acak. Bahkan karena kesulitan memprediksi kemana kelabang akan menyerang membuat aku hampir ditelan olehnya.
Kreeeaaak!
“Sial!.”
Ginn!.
Aku menghindari gigitan kelabang raksasa menggunakan tangan buatan yang terbuat dari tulang monster. Saat kelabang raksasa terus mencoba mematahkan tangan buatan, aku melakukan serangan balasan dengan menusuk bagian bawah kepala kelabang dengan obeng.
Kreeeaaak! Kelabang kembali memberontak sehingga aku kembali melakukan tusukan beberapa kali sampai kelabang akhirnya tewas.
“Kerja bagus.” ucap Rumi yang masih ada dia tas permukaan. Saat aku melihat ke atas dimana Rumi berada, aku dapat melihatnya, melihat sesuatu yang berada di dalam rok gadis itu.
‘Hari ini dia memakai yang hitam.’ pikirku
***
END.