Tamara, seorang aktris yang tak seberapa tenar, tiba-tiba divonis menderita leukemia di usianya yang masih sangat muda. Dokter menyarankannya untuk mencari donor sumsum tulang belakang.
Ada satu donor yang cocok, yaitu Direktur Evan Presdir dari Group Li. Tetapi, tidak mudah untuk membujuk Evan untuk menjadi donornya. Evan bersedia menjadi donornya hanya jika Tamara mau memenuhi syaratnya... yaitu menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Disukainya Adalah Aku?
Evan membuka sedikit jendelanya untuk Sania dan beralasan kalau dia kemari cuma lewat saja. Sandi langsung berusaha menggoda Evan dan mengajaknya ngobrol sekarang juga. "Apa kamu ada waktu?"
"Ada." jawab Evan yang kontan dapat cubitan keras dari Tamara sampai membuatnya meringis kesakitan.
Sania heran melihatnya dan langsung ngotot minta dibukain pintu, dia mau lihat keadaan Evan. Evan mengklaim alau dia baik-baik saja, dia cuma digigit nyamuk.
"Aku baru ingat ada masalah di perusahaanku. Aku harus pergi sekarang." ujar Evan lalu bergegas ngebut meninggalkan Sania.
Dia baru berhenti setelah mereka sudah cukup jauh dan aman. Tamara kesal, "Kau itu tadi sengaja yah? Bagaimana dia bisa mengenal Sania?"
Evan berkata jika, "Sania adalah model brand terbaru Group Li,"
"Kurasa, sepertinya dia tertarik padamu?"
"Kau cemburu?"
Canggung, Tamara buru-buru menghindar. Evan jadi semakin bersemangat, "Kamu kan sudah terlambat, jadi mending kamupergi ke kantor secepatnya. Deh!"
Tapi begitu jauh dari Evan, Tamara langsung melepaskan cincinnya. Sekarang dia jadi makin bingung, Evan itu benar-benar pintar berurusan dengan cewek. Dan apakah semalam dia mendapatkan jawaban? Kenapa semalam dia malah mabuk sih? Bego banget!
"Setiap hari dia memerintahku begini dan begitu. Dia pikir aku ini pembantunya apa?" gerutu Tamara kesal.
**
Tamara baru saja naik lift, tepat di saat Aron lagi-lagi muncul di hadapannya. Tamara langsung membatin sebal, "Kenapa si breng sek ini selalu mengikuti aku ke mana-mana?"
Alhasil mereka diam-diaman di dalam lift. Tapi begitu lift membuka dan Tamara hendak keluar, Aron tiba-tiba memanggilnya. Dia tahu tujuan Tamara datang kemari pasti untuk mencari kesempatan biar bisa menghadiri festival film.
"Demi si tua bangka Evan, akan kuberitahu kau caranya." ujar Aron dengan senyum licik, lalu mengacak-acak rambut Tamara dengan gemas.
"Ngapain sih?"
"Kau terlihat lebih cantik dengan rambut menutupi mukamu." goda Aron membuat Tamara seperti hantu dalam berpenampilan "Kau akan mendapatkan kesempatan kalau kau melakukan itu. Percayalah padaku."
Tamara terpaksa harus masuk kamar kecil untuk merapikan penampilannya kembali. Saat dia masuk salah satu bilik, tak sengaja dia mendengar dua pegawai bergosip tentang Sania.
"Tadi Sania pergi ke departemen PR hanya untuk mencari informasi tentang Direktur Evan. Sepertinya selain jadi model untuk Group Li, Sania juga akan memanfaatkan kesempatan ini biar bisa menjadi istrinya Evan,"
Mendengar Sania ternyata benar-benar menyukai Evan, Tamara mendadak punya ide licik. Karena dia tidak bisa mendekati Sania, maka akan dibuat Sania sendiri yang mendekatinya.
"Maaf yah, Bos Li. Aku harus memanfaatkanmu dengan sebaik-baiknya."
Maka kemudian dia keluar dan mengaku pada kedua pegawai itu bahwa dia mengenal Evan Li. Dan seolah punya firasat dirinya sedang diomongin, Evan mendadak bersin tanpa sebab di dalam kantornya.
Rencananya berhasil dengan cepat, Sania langsung muncul menemui Tamara dengan antusias. Dia dengar kalau Tamara mengenal seorang pembantu yang kerja di rumahnya Evan
**
Tamara baru memakai cincinnya kembali begitu tiba di rumah malam harinya. Tapi Evan masih belum pulang, maka dari itu, Tamara memanfaatkan saat itu untuk tanya-tanya tentang hal pribadi Evan pada Bibi pelayanan.
"Bibi,, apa yang paling Evan sukai?"
"Dari kecil sampai dewasa, tidak ada yang paling dia sukai. Eh, tapi sekarang dia punya sesuatu yang paling dia sukai."
"Apa?"
"Anda-lah yang paling dia sukai." jawab Bibi dengan jujur.
Tamara nyengir garing mendengarnya. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan, maka Tamara memutuskan untuk masuk ke kamar Evan dan mencari-cari sesuatu.
Tak ada satupun benda yang tampak menyolok, rata-rata isi kamar itu cuma buku-buku. Tapi saat dia membuka laci nakas, Tamara menemukan sebuah pigura foto masa kecil Evan yang tampak memegang sebuah robot mainan.
"Dia imut juga waktu masih kecil. Tapi tak ada satupun yang berguna di sini. Pasti ada di ruang belajar."
Maka dari itu, Tamara pun memutuskan untuk keluar dan langsung membeku di tempat melihat sang suami yang baru datang.
aku dah deg2an pas tamara minum wine
takut diapa²in
curiga aku apa yg mau dibuat sama natsya dan si gio
anjingya si kasih penyadap nggak tuh?
waak itu si bos perhatian amat
terus siapa cowo misterius itu???
wahh ga terjadi apa²!