Seorang gadis desa yang sangat cantik dan latar belakang tinggal dipedalaman hutan kalimantan.
Bertertemu jodoh yang tak disangka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Yenti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#PUTRI DESA
...Gadis cantik yang konon bukan wanita biasa itu bernama Siti”...
Sebuah kisah tentang seorang pemuda miskin. Sepeninggal orang tuanya, ia hidup sebatang kara di sebuah gubuk tempat ia menunggui kebun. Di usianya yang sudah cukup matang, pemuda itu belum juga menikah, sebab dalam impiannya ia ingin menikah dengan seorang wanita yang parasnya secantik bidadari seperti yang selalu ia dengar dalam dongeng yang diceritakan almarhum Ibunya.
Pagi yang cerah, pemuda itu pergi ke kebun untuk melihat beberapa tanaman bunga yang ia tanam tempo hari , terutama tanaman bunga Krisan yang memang selalu ia jaga. Sebab, bunga itu tumbuh di dekat sebuah sumur dalam area kebun miliknya. Bunga Krisan tersebut tidak pernah ada yang memetik kecuali daun dan bunganya gugur sendiri di makan waktu.
Sore menjelang. Langit tampak mendung, setelah bekerja seharian di kebun, pemuda itu berniat kembali ke gubuknya dan beristirahat, ia melihat kembali bunga Krisan untuk menyiramnya, namun alangkah terkejutnya tatkala mendapati bunga Krisannya tak satupun yang melekat pada tangkainya.
“Siapa gerangan yang berani memetik bunga Krisan ini?,” ia menggerutu dalam hati. Pemuda itu pulang ke gubuknya dengan perasaan kesal.
***
Seminggu kemudian, ia baru kembali memeriksa bunga Krisannya, ia berpikir setelah seminggu pucuk bunga itu pasti telah tumbuh lagi. Tetapi, ia kembali dikejutkan oleh keadaan bunga Krisan yang hanya ada beberapa kuntum yang melekat pada tangkai. Sementara banyak daun yang berguguran di bawahnya.
“Tidak salah lagi, pasti ada orang yang memetik bunga Krisanku. Awas! Besok akan kucari tahu siapa yang berani merusaknya,” pemuda itu berlalu dengan kemarahan.
Esok hari, ia memilih untuk tidak bekerja di kebun seperti biasanya, melainkan berjaga-jaga di sekitar sumur, tak jauh dari bunga Krisan tumbuh. Ia menutupi tubuhnya dengan daun-daun kelapa dan bersembunyi di balik tembok sumur, niatnya untuk mengintai siapa yang memetik bunganya. Rupanya dari pagi hingga sore hari tak ada tanda-tanda bahwa ada orang yang mendekati tangkai Krisan itu.
Karena lelah menunggu, ia tertidur pulas. Tiba-tiba aroma semerbak menusuk indera penciumannya, bau yang sangat harum itu semakin kental dan semakin mendekat. Begitu ia membuka mata ia terperangah melihat tujuh wanita cantik dengan pakaian berwarna putih sedang duduk bercanda ria di area sumur sambil memetik bunga Krisan yang masih tersisa beberapa kuntum di tangkainya.
“Bukankah ini para bidadari? Wajahnya sangat cantik dengan tubuhnya menyebarkan wangi. Persis seperti apa yang diceritakan Ibu,” pemuda itu semakin terbelalak melihat gadis-gadis cantik itu ketika membuka pakaiannya kemudian mandi di sumur. Secara refleks, pemuda itu kemudian mengambil salah satu pakaian mereka yang ia tanggalkan.
“ Saya mencium bau manusia di sekitar sini Dinda, cepat kenakan pakaian kalian!. Kita harus segera pergi dari sini sebelum matahari tenggelam,” seru salah satu dari gadis itu.
“Di mana pakaianku, Ayunda? Aku tak menemukan pakaianku, ” Gadis yang tampak paling muda di antara ketujuh gadis itu panik.
“Apa yang terjadi Dinda? di mana pakaianmu?,” semuanya ikut panik, sementara si pemuda terus mengintai di balik daun-daun kelapa.
“Kami tak bisa menunggu Dinda, kami harus segera pulang ke istana kerajaan sebelum matahari tenggelam. Carilah pakaianmu! Ketika kau menemukannya, kembalilah! Jaga dirimu!,” keenam gadis itu tiba-tiba menghilang entah ke mana. Sementara, gadis yang kehilangan
Gadis cantik yang konon bukan wanita biasa itu bernama Siti, ia mengiyakan dan menikah dengan pemuda dan dikaruniai seorang anak laki-laki, mereka hidup rukun dan bahagia. Suatu hari ketika pemuda tersebut pergi ke kebun seperti biasanya. Dalam perjalanan ke kebun, ia bertemu dengan temannya dan berkata.
“Suara istrimu kalau sedang menyanyi sangatlah merdu, barusan aku mendengarnya ketika sedang melewati rumahmu”.
“Benarkah? Aku tak pernah mendengarnya menyanyi sebelumnya,” jawab si pemuda.
Sesampainya di rumah. Ia segera meminta istrinya untuk bernyanyi, namun istrinya menolak untuk melakukannya. Tetapi pemuda itu terus memaksa.
“Baiklah, tapi dengan satu syarat. Kita berdua masuk ke dalam sarung, kemudian ujungnya diikat, barulah aku akan menyanyi. Dan mulai besok pagi juga sore hari, angkatlah seember air ke atap,” pinta istrinya.
Pemuda itupun menyanggupi, kemudian melakukan syarat yang diminta istrinya untuk masuk ke dalam sarung. Terdengarlah suara merdu istrinya mengalun hingga sang suami tertidur. Esok pagi ketika terbangun, istinya telah menghilang. Ia sudah mencari ke mana-mana tapi istrinya benar-benar telah menghilang tanpa jejak.
***
Amanah istrinya tetap ia jalankan. Setiap pagi dan sore hari ia menyimpan seember air di atas atap dan membawa anaknya. Setiap pagi dan sore hari terdengar air tumpah. Konon setiap hari istrinya datang untuk memandikan dan menyusui anaknya di atap rumah.
Di sebuah desa hiduplah seorang tua yang renta bersama Samir. Kehidupannya sangat tentram dan bahagia.Samir sangat mencintai ibunya. Sampai suatu saat Samir ingin merubah nasibnya pergi ke kota. Perjalanan menuju ke kota cukup jauh karena desa tempat tinggal mereka cukup jauh. Akhirnya dengan restu ibunya, Samir pergi ke kota untuk menacri pekerjaan.
Setelah sampai di kota Samirpun melihat seorang bapak yang tertabrak mobil. Akhirnya Samir menolong dan membawa ke rumah bapak tersebut. Ternyata bapak yang ditolong Samir seorang pedagang kaya. Setelah itu Samir pamit untuk pulang. Bapak yang ditolong Samir melarangnya dan menyuruhnya tinggal bersama. Setelah itu Samir diberikan pekerjaan untuk membantu bapak tersebut. Dengan kejujurannya Samir akhirnya diberikan kepercayaan untuk memegang usaha bapak tersebut.
Bertahun tahun Samir mengelola usaha bapak tersebut mengalami kemajuan yang pesat. Dan akhirnya bapak tersebut memberikan kepercayaan untuk memegang usaha yang dikelolanya, Setelah meninggal bapak tersebut, Samirpun menjadi pedang kaya.
Akhirnya Samir berniat pulang ke desa tempatnya tinggal. Sukacita ibu melihat Samir berhasil. akhirnya ibunya dibawanya ke kota untuk menemani Samir. Doa ibu Samir mengiringi keberhasilan anaknya mereka hidup bahagia.
Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi anak desa lainnya. Dan selalu ikhlas dan sabar untuk berusaha serta berbakti kepada orang tua.
#Cerita singkat anaknya
SEORANG anak laki-laki (sebut saja Murid) dari salah satu Desa pulau Sumatera sedang menimbah ilmu di negeri Jawa kepada seorang guru bijak yang kaya raya. Guru bijak adalah seorang pegusaha terkenal memiliki banyak usaha dan bisnis seperti perhotelan, perkebunan, bahkan tambang. Motivasi si Murid ingin belajar karena ingin sukses dan membahagiakan kedua orang tuanya.
Suatu hari tepatnya Jumat legi, Murid yang
Suatu hari tepatnya Jumat legi, Murid yang sudah disekolahkan kurang lebih satu bulan di salah satu sekolah di negeri nan jauh, itu tiba-tiba mengeluh dan berkata kepada guru bijak. Murid berkata bahwa dia tidak mau lagi belajar di sekolah.
Guru bijak kaget bukan kepalang mendengar keluhan si murid. Padahal, sepengetahuan guru bijak, murid itu adalah anak yang rajin dan ulet. Bahkan motivasinya untuk belajar adalah ingin membahagiakan kedua orang tuanya.
Guru bijak tadinya tengah asyik membaca buku, meletakkan buku itu di atas meja kemudian bertanya pada si murid. Terjadilah dialog singkat antara guru bijak dan murid.
Guru bijak tadinya tengah asyik membaca buku, meletakkan buku itu di atas meja kemudian bertanya pada si murid. Terjadilah dialog singkat antara guru bijak dan murid.
“Nak, apa yang menyebabkan dirimu sampai tidak mau lagi belajar di sekolah itu? bukankah dirimu yang saya kenal adalah anak yang rajin, ulet dan pantang menyerah,” tanya guru bijak.
“Begini ceritanya guru. Setiap saya sedang serius belajar, saya melihat sebagian murid tengah asyik bermain gadgate nya dan sebagiannya lagi asyik bercerita. Saya tertanggu guru dan tidak fokus,” kata si Murid.
Setelah mendengar si murid dan tahu apa yang menjadi alasanya. Guru bijak pun sudah tahu solusi untuk anak ini. Dengan santai dan tenang, guru bijak kembali bertanya kepada sang murid.
“Nak, sebenarnya apa yang menjadi tujuanmu untuk belajar menimbah ilmu disini?” tanya guru lagi.
Murid pun menjawab dengan tegas “Saya ingin pintar dan sukses seperti guru. Saya dilahirkan susah, tapi saya tidak mau menyusahkan orang tua saya. Ketika sukses nanti, cita-cita saya adalah membahagiakan orang tua saya. Saya ingin membelikan mereka rumah, mobil dan memberangkatkan mereka ke haji,” kata si murid
Mendengar impian anak tersebut, Guru
Mendengar impian anak tersebut, Guru bijak pun terenyuh dan terharu sembari meneteskan air mata. Sebab di benak hati guru bijak, motivasi anak itu tidak ada bedanya ketika dia masih kecil dulu. Guru bijak adalah anak yatim piatu dan susah, tapi ingin menjadi orang sukses.
Untuk memastikan impian si murid, guru bijak kembali mengulangi pertanyan kepada si murid.
“Apakah benar itu yang menjadi impian dan tujuanmu hidup yang katanya kamu sungguh-sungguh ingin belajar,” tanya guru.
“Iya guru, itulah impian saya,” jawab Murid singkat.
Apakah benar itu yang menjadi impian dan tujuanmu hidup yang katanya kamu sungguh-sungguh ingin belajar,” tanya guru.
“Iya guru, itulah impian saya,” jawab Murid singkat.
“Kenapa kalau kamu ada impian membahagiakan orang tua kamu seketika kamu ingin berhenti belajar. Bagaimana dengan imipian mu itu nanti?” kata guru.
Si Murid pun menjelaskan, bahwa dia merasa terganggu dengan kondisi belajar dan teman-teman sekolah itu. Guru bijak yang sudah ada solusi untuk si Murid pun berkata, “Kalau begitu besok saya berikan kamu tugas,” kata guru bijak.
Murid dengan riang siap menerima tugas dari guru bijak.
“Siap guru! Akan saya kerjakan tugas itu asalkan saya tidak terganggu lagi disaat belajar di sekolah,” jawab Murid.
Pagi harinya, Murid yang sudah siap berangkat ke sekolah dipanggil oleh guru bijak.
“Nak, seperti apa yang bapak sampaikan semalam, hari ini bapak kasih kamu tugas ya,” kata guru.
Guru bijak pun menyuruh si Murid mengambil sebuah gelas kaca di dapur untuk dibawa ke sekolah.
Diambillah gelas itu oleh si Murid dan dimasukkanlah ke dalam tasnya.
Murid yang penasaran bertanya kepada guru bijak untuk apa gelas kaca itu. Guru bijak pun menjelaskan nanti di sekolah disaat gurumu mulai mengajar, kamu izin keluar dari kelas dan bawa gelas itu kemudian isi air hingga penuh.
“Untuk apa guru?” tanya Murid.
Guru bijak menjawab selama pelajaran berlangsung, kamu harus mengelilingi kelas mu itu sebanyak 10 kali. Dan ingat, jaga agar air yang berada di dalam gelas agar tidak tumpah sedikitpun.
Akhirnya si Murid mengerjakan apa yang ditugaskan oleh guru bijak. Dia mengelilingi kelas sembari menjaga air yang di dalam gelas agar tidak tumpah setetes pun seperti yang ditugaskan oleh guru bijak. Akhirnya tuntaslah tugas itu dan waktu pulang sekolah pun tiba.
Murid yang sudah berhasil menyelesaikan tugas itu dengan sempurna bergegas berlari pulang, tak sabar ingin menyampaikan keberhasilannya itu kepada guru bijak.
Tiba di rumah, murid melaporkan bahwa tugas yang diberikan sudah dikerjakanya dengan sempurna. Guru bijak yang sedang duduk santai di teras belakang rumah sambil menikmati secangkir kopi mulai bertanya kepada si Murid.