Kisah seorang gadis berusia 18 tahun, yang harus menelan pil kepahitan di hidupnya. Aileen Fathia, dia harus berjuang untuk membalaskan dendam sang adik yang terus saja di bully oleh teman-teman sekolahnya. berhubungan wajahnya yang kembar dengan sang adik, Aileen Fathia menyamar sebagai sang adik, Alana Fathia.
Perselisihan orang-orang yang memperjuangkan nilai sekolah, yang lemah selalu di tekan oleh yang kuat dan yang miskin selalu di remehkan oleh orang yang kaya, Aileen dan juga Alana mempunyai seorang ibu yang bekerja sebagai agen properti, dan kehidupannya pun tidak ketercukupan.
Sang adik yang selalu diam saja saat di rundung dan membuatnya harus di larikan ke rumah sakit dan mengalami koma, karena itulah Aileen harus berubah menjadi Alana, gadis itu harus mati-matian untuk mendapatkan nilai yang sempurna, tapi selalu di kalahkan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan.
"Indah, tapi dia membawamu pulang."
Jadwal up: Rabu dan Minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NG STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Keesokan harinya...
Begitu Aileen memasuki kelas, ia sudah di hadang oleh keempat siswa yang selalu menjadi sorotan di Indepty High School. Haikal, Miri, Meryl dan juga Helen membawa Aileen pergi ke kolam renang yang ada di sekolah tersebut.
Aileen terjatuh ke kolam begitu Meryl mendorongnya, ketiga sahabatnya itu tertawa saat melihat ekspresi Aileen yang menurutnya itu lucu.
Meryl berjongkok di hadapan Aileen, ia mengeluarkan beberapa lembaran uang bewarna merah di dalam sakunya lalu melemparkannya tepat di wajah Aileen yang saat itu sedang menahan kesal.
"Lo gila!" teriak Aileen.
"Um, gue takut banget sama Alana yang sekarang." lirih Helen sambil memeluk lengan Miri.
"Vidio dia, Kal." titah Miri yang tidak habis-habisnya tertawa.
Haikal pun mengeluarkan ponselnya lalu mengambil vidio Aileen yang masih ada di kolam, "Gue bakal upload vidio ini ke komunitas sekolah, lo bakal viral."
Aileen berusaha untuk keluar dari kolam, sedangkan Meryl berdiri untuk melihat kemalangan seorang gadis yang sering di rundungnya karena alasan jika gadis tersebut tidak memiliki kekayaan, tidak seperti dirinya yang keinginannya selalu terpenuhi.
"Haikal, Miri, Meryl!" suara bariton yang begitu tegas seketika menghentikan aktivitas mereka bertiga, semuanya menatap kesumber suara, dimana Arshaq tengah berjalan menghampiri mereka.
"Apa kesalahan Alana sehingga kalian bersikap seperti ini?" tanyanya.
Meryl tersenyum miring, dengan berani ia melangkah mendekati Arshaq yang sedang menatapnya dengan tajam. "Bapak nanya, apa kesalahan dia sehingga kami bersikap seperti ini?" Meryl balik bertanya.
"Karena dia hidup seperti itu, miskin yang membuat dia selalu salah!" teriak Meryl.
"Miskin, lagi dan lagi?!"
"Benar, aku membenci orang seperti itu. selain mencari perhatian, orang sepertinya tidak tahu berterima kasih!" jawab Meryl.
"Dengan seenaknya lo ngerundung gue karena masalah itu, lagi? gue juga gak mau hidup kayak gini! lo merasa bener setelah ngelakuin hal kayak gitu, kalian semua benar-benar bajing*n!" teriak Aileen sambil terengah-engah.
"Ah, sialan. lo ngebuat kuping gue sakit," seru Miri.
"Apakah kalian tidak di ajarkan sopan santun oleh orang tua kalian sendiri? bagaimana anak SMA seperti kalian bisa sejahat ini?" tanya Arshaq.
"Apa yang bapak tahu tentang sopan santun? bahkan bapak hanya guru sementara yang bahkan tidak mempunyai keterampilan dan juga pengalaman sebagai seorang guru, dengan seenaknya bapak mengajari kami sopan santun?" sahut Haikal.
"Kau!"
"Gue salah mengartikan selama ini, bukan sekolah yang salah tapi orang-orang sampah seperti kalian sehingga sekolah ini terkutuk!"
"Apa yang lo bilang tadi?" tanya Helen yang hendak menghampiri Aileen tapi dihadang oleh Arshaq.
"Jika kalian masih merundung Alana, bapak akan melaporkan masalah ini kepimpinan sekolah, bukankah masalah sistem sekolah ini sudah cukup menjadi masalah bagi orang tua murid? dengan informasi tambahan tentang perundungan antar pelajar itu akan membuat orang tua murid semakin marah, kalian tidak malu? bagaimana tanggapan orang tua kalian nanti."
Meryl, Miri, Helen dan juga Haikal terkekeh pelan setelah mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Arshaq barusan. "Hei, guru gadungan. bukankah itu ancaman yang akan membuat takut orang-orang seperti kalian? untuk apa kita mempunyai koneksi banyak jika itu tidak di pergunakan sama sekali," imbuh Miri.
"Kalian hanya bisa menggunakan uang dan juga konseksi yang di miliki oleh orang tua kalian saja, bahkan masalah sebasar atau sekecil apapun, kalian tidak bisa menyelesaikannya dengan mandiri." kata Aileen yang sudah mengepalkan telapak tangannya dari tadi.
"Jaga mulut kotor lo!" ucap Haikal.
"Sekali lagi jika bapak melihat kalian merundung murid-murid lain, bapak tidak akan segan-segan melaporkannya!" ancam Arshaq lalu setelah itu membawa pergi Aileen dari sana.
Meryl, Miri, Helen dan juga Haikal menatap kepergian mereka berdua dengan santai, seolah ancaman Arshaq barusan hanya mainan saja.
Sedangkan Arshaq membawa Aileen ke atap sekolah, ia membuka jas kerjanya lalu memberikannya kepada Aileen yang saat itu sudah basah kuyup karena Meryl mendorongnya ke kolam.
"Kamu membawa seragam olahraga bukan, pakailah pakaian itu untuk sementara waktu."
"Terima kasih, pak."
Arshaq tersenyum dan mengangguk samar, "Itu sudah menjadi kewajiban bapak untuk melindungi murid-murid yang tidak dapat keadilan disini, mereka memang selalu seenaknya."
Aileen cukup terkejut setelah mendengar perkataan Arshaq, "Bapak mengetahui seluk beluk Indepty High School?" tanyanya.
"Tidak banyak, bapak juga sedang mencari tahu semuanya."
Aileen menghembuskan nafasnya. "Kadang aku berpikir, siapa yang akan melindungi aku saat berhadapan dengan orang-orang seperti itu dan juga... psikopat yang mengincar keluargaku, siapa yang akan membantuku untuk menghadapi semua ini?" lirih Aileen hendak menangis, tapi dengan kuat ia menahannya.
Arshaq terdiam cukup lama, entah apa yang ia pikirkan tapi laki-laki itu bisa mendengar suara isakan yang keluar dari mulut Aileen. walaupun semua ini sangat melelahkan dan juga membingungkan, Arshaq harus menyelesaikannya dengan baik.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekati mereka berdua, Aileen dan juga Arshaq menoleh kebelakang saat mendengar suara pintu terbuka, terlihat Calvin yang sedang mengatur nafasnya sendiri.
"Sepertinya bapak harus pergi, ganti pakaianmu." pamit Arshaq yang langsung di angguki oleh Aileen.
Setelah kepergian Arshaq, Calvin melangkah semakin dekat dengan Aileen yang saat itu sedang menyender di tembok pembatas. Calvin berdiri di sebelahnya, merasakan sepoi-sepoi angin yang menerpa wajahnya.
"Lo di bully lagi?" tanya Calvin setelah sesaat terdiam.
"Lo nanya? padahal itu sahabat-sahabat lo." jawab Aileen seraya terkekeh pelan.
"Maafin gue, seharusnya gue ngehentiin mereka."
"Lo sama aja kayak mereka, gue gak perlu perhatian lo!" ucap Aileen yang langsung berbalik badan dan hendak meninggalkan atap sekolah.
"Gue bisa bantuin lo," perkataan Calvin seketika membuat langkah Aileen terhenti.
"Gue bisa bantuin lo, Aileen." lanjutnya diiringi dengan senyuman samar-samar.
Aileen mengerutkan keningnya lalu menatap Calvin dengan tatapan bingung. "Gimana lo bisa tau nama asli gue, sedangkan gue rahasia in itu."
"Gue udah curiga dari awal, Alana yang harusnya koma tapi dia balik sekolah dengan keadaan sehat, bahkan sikap lo yang tidak menunjukan jika diri lo itu Alana."
"Omong kosong, lo mau bantuin gue dengan cara apa?"
Calvin tersenyum lalu melangkah mendekati Aileen. "Dengan bilang ke semua orang kalau lo itu milik gue, pacar gue."