Ini bukan soal pelangi, ini tentang Calista Natalie, yang kehadirannya selalu dinanti oleh seorang laki-laki bernama Gavin Nathaniel.
Calista sempat menghilang setelah kasus pembunuhan yang beredar mengenai dirinya dan dia kembali menjadi orang lain yang tidak dikenal oleh siapapun, layaknya terlahir kembali.
Akankah takdir mengharuskan dirinya untuk pergi lagi layaknya pelangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alsha_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Jealous
"Makasih Dra, tebengannya. Karena ada lo jadi irit deh uang gue, gak perlu naik bis atau taksi," ujar Zeline setelah turun dari motor.
Setelah pulang dari Gavin, Zeline tidak langsung ke rumah. Gadis itu pergi ke satu tempat yang sudah menjadi tempat favoritnya untuk sekedar menenangkan dirinya, bahkan mengingat kenangannya bersama Gavin di sana.
Setelah merasa cukup berada di tempat itu, Zeline memutuskan untuk pulang entah memang kebetulan atau apa, Calandra datang tepat waktu sebelum satu menit bus datang.
"Santai aja. Sekarang masuk gih udah malam,", ucap Calandra yang masih terduduk di atas motornya.
Dehaman seseorang membuat Zeline dan Calandra menoleh ke arah tersebut. Di halaman rumah Zeline, Gavin terduduk santai sembari memasang mata ke depan. Dan tanpa mereka ketahui mulut Gavin bergumam kesal melihat pemandangan yang mampu membuat hatinya tergores.
'Sialan, kenapa mereka malah berduaan.'
"Lo naik ke atas pagar, Vin? Bener-bener ya setan!" Tebaknya. Pagar rumah Zeline tidak begitu tinggi jadi bisa dengan mudahnya dipanjat.
"Enak bener cewek kalo ngomong! Gue tuh baik, Zeline Raveena ..." ucap Gavin sembari beranjak dari kursi.
"Denger ya, dari tadi gue nunggu di sini karena pagar rumah lo gak dikunci. Gimana kalo ada maling masuk?" tanya Gavin sambil berkacak pinggang.
"Gue say hi aja terus gue ajak ngopi." Dengan raut wajah datar Zeline menjawab pertanyaan Gavin, lalu ia berjalan ke arah pintu.
"Lo pikir artis Korea," gumam Gavin sembari melirik Zeline.
Setelah pandangannya melirik ke arah Zeline, Gavin pun menoleh ke arah depan di mana Calandra berdiri. "Pulang lo, ngapain masih di sini?" tanya Gavin pada Calandra sedikit ketus.
"Dih, suka-suka gue orang gue mau main dulu di rumah Zeline juga." Calandra menyimpan helm di atas motor, lalu ia berjalan menghampiri Zeline yang tengah membuka kunci.
Kedua cowok itu berdiri secara berdampingan di belakang Zeline. Mereka terus memperhatikan Zeline yang sedang kesusahan membuka pintu. Selang beberapa detik, pintu itu akhirnya bisa dibuka. Baru saja Zeline melangkahkan kakinya akan tetapi, ia berhenti sejenak setelah mengingat sesuatu yang lupa.
"Pagar belum dikunci." Sontak Zeline terkejut saat membalikkan tubuhnya mendapati Gavin dan Calandra yang sedang menatapnya.
"Lo berdua ngapain masih di sini bukannya pulang?" tanya Zeline.
"Gak diajarin tata krama ya, lo? Gak ada terima kasihnya gue udah jagain rumah lo, Calandra udah anterin lo pulang. Kasih minum kek atau kasih sayang," ujar Gavin.
Zeline memutarkan bola matanya malas, lalu ia pun berkata, "Ya udah ayo masuk."
Gavin dan Calandra duduk di sofa secara berhadapan menunggu Zeline yang katanya menyiapkan teh dan camilan di dapur. Gavin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Melihat ruangan ini membuat Gavin teringat kenangan bersama Calista, di mana dirinya duduk berdua di sofa sembari menonton film kesukaan Calista–Rafunzel.
"Ciri-ciri maling kayak gini nih, lihat-lihat dulu, ngincer barang yang bagus. Nanti pas sepi langsung comot. Biasanya gitu," ujar Calandra.
Entah kenapa Gavin merasa sikap cowok itu kini menjadi menyebalkan. Bahkan sepertinya Calandra ingin mendaftar menjadi musuh Gavin setelah Leon. "Lo mau daftar jadi musuh gue sekarang?" tanya Gavin.
"Waktu gue terlalu sibuk untuk mengurus hal-hal gak berfaedah kayak gitu. Sorry, tapi kalo gue lagi luang ayo aja," jawab Calandra memasang tampang sombong.
"Baru aja jadi ketua OSIS belum lagi jadi presiden udah belagu aja. Gue tunggu waktu luang lo!" ketus Gavin.
"Heh! Bukan tempat berantem di sini! Kalo lo berdua mau berantem, pulang sana! Atau gue siram pakai teh panas, nih!" teriak Zeline dari arah dapur setelah mendengar perdebatan Gavin dan Calandra.
Kedua cowok itu pun sontak mengatupkan mulutnya. Kini, mereka lebih memilih menatap layar ponselnya masing-masing. Zeline kembali ke ruang tengah dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh dan beberapa macam biskuit, ia meletakkan nampan itu di atas meja.
"Makasih, Ze," ujar Calandra sembari meraih secangkir teh, lalu disusul oleh Gavin. Zeline menepis tangan Gavin yang sedang mengambil secangkir teh membuat Gavin mengurungkan niatnya, lalu menoleh- menatapnya heran.
"Ini teh gue," ucap Zeline.
"Terus punya gue mana?" tanya Gavin sembari menahan rasa emosi.
"Di dapur. Gue lupa-ambil sendiri gih."
Gavin menyentil dahi Zeline terlebih dahulu sebelum dirinya beranjak dari kursi. Zeline meringis kesakitan bahkan ini lebih sakit dari biasanya. Baru kali ini Gavin menjadi tamu dan disuruh untuk mengambil minum sendiri untungnya Gavin sayang pada Zeline.
...***...
"Thanks Ze, kapan-kapan kita main lagi bertiga," ujar Calandra sembari menyalakan motornya.
Gavin yang sedang memakai helm langsung ikut bicara, "Apaan bertiga, gue sama Zeline aja kali!"
"Gue cuma basa-basi. Siapa juga yang mau main sama lo dua kali!" sahut Calandra.
"Ih, stop! Gue sumpal mulut lo berdua pakai sandal. Ribut mulu kek bocah," ketus Zeline sembari bertengger di pagar menunggu mereka berdua benar-benar pergi dari rumahnya.
Semenjak kehadiran Zeline keakraban Gavin dan Calandra pecah belah. Mungkin kini Gavin merasa tersaingi oleh Calandra, padahal Calandra belum tentu mempunyai perasaan pada Zeline. Siapa tau ia hanya iseng saja membuat Gavin jealous.
...***...
Tangan Zeline merogoh pada laci nakas mencari ikat rambutnya akan tetapi, ia tidak menemukan. Yang Zeline temukan malah sebuah foto bersama keluarga kecilnya dulu. Membuat air matanya mengalir di pagi hari merasakan kerinduan yang amat terdalam.
Walaupun di benak Zeline, ia benci pada kedua orang tuanya yang tega membiarkan dirinya, tetapi rasa rindu pasti ada di dalam hati Zeline.
"Gue gak tau gimana rasanya ketika membuka mata disambut hangat oleh orang tua dan kepergian gue dinantikan kepulangannya oleh orang tua. Gue juga pengen rasain itu ... gak pantaskah gue untuk–"
Air mata Zeline semakin deras mengalir, bibirnya tak kuasa untuk melanjutkan kalimatnya. Ia hanya bisa memeluk foto tersebut.
"Zeline, kamu belum siap-siap se–" Ucapan Belva terhenti setelah mendapati Zeline yang sedang menangis.
"Loh, kenapa?" tanya Belva cemas yang langsung mendapati gelengan kepala dari Zeline sebagai jawaban.
"Lalu?" tanya Belva kembali.
"Zeline rindu Mama sama Papa ... Zeline ngerasa kalo Zeline terlahir untuk sendiri di dunia ini," jelas Zeline sembari terisak.
"Astaga Ze ... sampai kapan kamu gak anggap aku sebagai orang yang ada di samping kamu?" tanya Belva.
"B-bukan aku gak anggap Kak Bel ... cuma- beda aja suasananya kalo tanpa orang tua," ucap Zeline.
"Iya ... aku ngerti, tapi please Ze, jangan berpikir kamu sendiri di dunia ini. Ada aku yang akan selalu sama kamu percayalah kebahagiaan akan datang untuk kamu, Ze, cepat atau lambat," jelas Belva sembari mengusap pundak Zeline.
Belva menghapus air mata Zeline yang membasahi pipi sambil berkata, "Udah ya, sekarang kamu mandi terus siap-siap ke sekolah. Aku antar hari ini."
"Oke," sahut Zeline.
Belva memasukkan kembali foto yang berada di atas ranjang ke dalam laci nakas. Sekalian dirinya menata barang-barang yang berada di laci tersebut.
Ia sempat terheran-heran ketika menyadari tak ada gelang di laci nakas itu, padahal setau dirinya gelang itu gelang kesayangan Zeline pemberian Oma nya dan selalu ia pakai saat dulu sebagai Calista.
"Zeline pindahin kali ya, soalnya waktu itu dia bilang Kirey sama Ratu mau ke rumah. Mungkin, dia takut dua temannya lihat gelang itu," batin Belva.
Pandangan Belva beralih pada ponsel Zeline yang berdering dua kali. Ia meraih ponselnya membuka siapa yang mengirim pesan di pagi hari. Mata Belva membulat menatap layar ponsel tersebut, lalu ia tertawa sembari menggelengkan kepalanya.
"Kak Bel, ayo!" ajak Zeline sembari memegang kedua tali pada tasnya.
"Mau pergi sama siapa?" tanya Belva.
"Sama Kak Belva bukan? Emangnya sama siapa lagi?" sahut Zeline.
"Ya, siapa tau sama dua cowok yang chat kamu, tuh," ujar Belva sembari menunjuk ponsel Zeline.
Dengan cepat Zeline meraih ponselnya. Benar saja, Gavin dan Calandra mengirimi chat dengan kalimat yang sama. Mereka berdua mengajak Zeline untuk pergi ke sekolah bersama.
Jujur Zeline merasa pusing sekarang setelah kehadiran Calandra yang terlihat seperti ingin mendapatkan hatinya dan Gavin yang terlihat tidak ingin Zeline bersamanya.
Zeline menggeleng cepat menatap ke arah Belva, lalu ia berkata, "Duh! Enggak-enggak. Enggak deh Kak Bel, mending berangkat sama Kakak aja ayo."
"Loh kenapa? Mereka berdua pada ganteng loh sayang kalo ditolak, Ze," goda Belva sembari terkekeh.
"Astaga Kak Belva ... udah ayo sama Kak Belva aja. Mereka berdua tuh ribet," ujar Zeline sembari menarik lengan Belva untuk segera mengantarnya pergi ke sekolah.
...***...
Sebagian anak The Feared tengah berkumpul di koridor depan kelas. Mereka saling mengobrol dan bercanda. Pemandangan yang indah bagi cewek-cewek High School, mereka bisa mencuci mata melihat ketampanan dari masing-masing anak The Feared.
Selain mencuci mata mereka pun bisa melegakan pernapasan karena rata-rata parfum yang digunakan oleh anak The Feared tercium sangat soft.
"Zeline!" panggil Calandra.
"Hai, Dra! Kertas apa itu?" tanya Zeline setelah melihat Calandra membawa beberapa kertas di tangannya.
"Oh, ini pengumuman. Nanti gue bagiin perkelas. Karena sebentar lagi bel dan gue mau bagiin kertas ini ke kelas IPA dulu, jadi bareng ke atasnya," ajak Calandra.
"Oke, yuk!" sahut Zeline semangat.
"Pagi Gavin! Gue bawa minuman chocolate buat lo," ujar Ratu sembari menyodorkan satu botol minuman.
Gavin mengernyit heran menatap Ratu. Tak lama ia menerima minuman pemberian Ratu itu sembari tersenyum, lalu berkata, "Makasih Ra, padahal lo ngomong aja kal-"
"Nih, buat lo juga, Ky. Minuman chocolate ini oleh-oleh dari Italia. Kemarin Kakak gue baru pulang dari sana. Jadi hari ini gue bagi-bagi buat anak-anak di kelas dan yang lainnya," jelas Ratu.
"Nanti kalo lihat Zeline sama Kirey langsung suruh ke kelas ya, gue mau kasih ini ke mereka," ujar Ratu sebelum melangkah pergi ke kelas.
Gavin mengatupkan mulutnya setelah merasa kalimatnya tak perlu dilanjutkan. Ia merasa malu ingin sekali dirinya menjatuhkan diri dari rooftop. Tadinya Gavin pikir Ratu gagal move on sampai memberi minuman cokelat ini.
Ternyata dirinya terlalu percaya diri Baru saja ia merasa sejuk saat meneguk minuman chocolate yang masih dingin. Kini hatinya terasa panas setelah melihat Zeline dan Calandra berjalan berdua.
"Sialan!" gumam Gavin sembari meremas botol yang digenggamnya.
Gavin berjalan menghampiri Zeline-merebut permen lollipop yang ada di mulutnya. Sontak Zeline melotot tak terima baru saja ia menjilat berapa kali permennya. Kini permen itu malah dimakan oleh Gavin.
"Gavin, permen gue!" bentak Zeline.
"Makanan lo–makanan gue juga," sahut Gavin.
"Apa-apaan sih? Gak ada dari sananya kayak gitu!" ketus Zeline.
Gavin mengabaikan perkataan Zeline. Pandangannya teralihkan pada seseorang yang baru ia lihat semasa hidupnya. Pandangannya terus mengikuti langkah orang itu berjalan. Membuat Zeline ikut menoleh dan mencari orang yang menjadi target tatapan Gavin.
"Permisi, gue mau tanya kelas 11 IPA 6 di mana ya?"
"Di lantai 3," sahut Gavin.
Tiba-tiba perempuan itu menggandeng tangan Gavin, membuat mata Zeline membulat melihatnya. "Em, boleh anterin gue ke sana gak? Soalnya takut nyasar, gue capek bulak baliknya," ucapnya dengan nada manja.
"Ayo," jawab Gavin.
"Permen gue?" tanya Zeline.
"Istirahat gue ganti," sahut Gavin sembari melangkahkan kakinya.
"Lebay banget sih tuh orang jadi cewek," gumam Zeline, tetapi terdengar oleh Calandra.
Sontak Calandra menoleh ke samping di mana Zeline berdiri. Tangan Calandra mengacak gemas rambut Zeline sembari berkata, "Udah jangan cemberut, jeleknya keliatan."
"Ih! Apaan sih, Dra!" ketus Zeline.
...***...
Terdengar semua orang sedang membicarakan murid baru di kelas 11 IPA 6, murid baru tersebut bernama Cathline. Ratu yang terkenal sebagai Ratu gosip, ia ikut nimbrung sejenak dengan anak-anak yang sedang memulai acara ghibah.
"Gak pantas tuh anak dikasih nama Ratu Shalleta, pantasnya dikasih nama Ratu Ghibah," ujar Kirey sembari menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang tak pernah berubah.
"Ratu gosip," tambah Zeline.
Aktifitas mereka terhenti setelah Gavin ikut bergabung. Jika hanya Gavin sendiri tidak masalah bagi Zeline dan Kirey, tapi kini Gavin membawa Cathline untuk duduk bersamanya-ya, murid baru itu. Sontak mereka Zeline dan Kirey saling menatap.
"Lo ngapain di sini?" tanya Zeline.
"Ikut gabunglah. Biasanya gue gabung, lo gak pernah nanya kayak gitu," jawab Gavin sembari menyerahkan tiga permen pada Zeline sebagai ganti tadi pagi.
"Itu karena biasanya lo sendiri," ujar Zeline sembari meraih permen tersebut.
"Kenapa? Cemburu?" tanya Gavin sembari terkekeh.