Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. Cemburu? Oh.. Tidak.

Hari itu, Arsen Group mengadakan pertemuan dengan klien baru di sebuah ruang pertemuan yang lebih besar dari biasanya. Naira tiba lebih awal, membawa beberapa sampel kain dan sketsa yang sudah disiapkannya sejak pagi. Ia meletakkan semuanya di atas meja, lalu berdiri di dekat jendela sambil menunggu orang-orang lain datang.

Pintu terbuka. Mikael masuk bersama seorang perempuan.

Perempuan itu mengenakan setelan jas berwarna krem yang sangat elegan. Rambutnya yang hitam panjang tergerai indah di punggungnya. Ia tersenyum sambil berbicara dengan antusias, dan Mikael... Mikael tersenyum balik.

Bukan senyum sopan yang biasa ia tunjukkan kepada orang lain. Bukan juga senyum jahil yang selalu ia berikan kepada Naira. Melainkan senyum yang tulus, hangat, dan begitu akrab.

Naira merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Sesuatu yang panas dan menyesakkan.

"Mikael, desainmu tahun lalu benar-benar luar biasa," kata perempuan itu sambil berjalan berdampingan dengan Mikael. "Sampai sekarang masih banyak orang membicarakannya."

"Terima kasih, Sarah," jawab Mikael sambil menahan pintu untuk perempuan itu. "Aku hanya beruntung punya tim yang hebat."

"Tentu saja termasuk dirimu sendiri." Sarah tertawa pelan, lalu menatap Mikael dengan tatapan yang begitu intens. "Aku senang sekali kita bisa bekerja sama lagi. Sudah lama sekali ya sejak terakhir kali kita bertemu?"

"Sudah hampir dua tahun," jawab Mikael.

Naira berdiri mematung di sudut ruangan. Tangannya yang memegang sebuah sampel kain meremas bahan itu tanpa disadarinya. Siapa perempuan itu? Mengapa mereka begitu akrab? Mengapa Mikael terlihat begitu bahagia di sampingnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul satu per satu, dan bersama mereka datanglah rasa yang tidak asing namun tidak pernah ia rasakan untuk Mikael sebelumnya. Rasa cemburu.

Naira menggeleng pelan. Apa yang aku rasakan? Ini tidak masuk akal. Kami hanya bersandiwara. Dia bebas berbicara dengan siapa pun yang dia mau.

Namun alasan itu tidak menenangkan hatinya. Justru sebaliknya, semakin ia mencoba meyakinkan diri sendiri, semakin ia merasa kesal.

Orang-orang lain mulai berdatangan. Rapat pun dimulai. Sarah ternyata adalah kepala tim dari perusahaan mitra yang baru.

Sepanjang rapat berlangsung, Naira duduk di ujung meja, berusaha fokus pada apa yang dibicarakan. Tapi matanya terus melirik ke arah depan, di mana Sarah dan Mikael duduk berdampingan.

Setiap kali Sarah berbicara, Mikael mendengarkan dengan penuh perhatian. Setiap kali Sarah bercanda, Mikael tertawa. Setiap kali Sarah menunjuk sesuatu di layar, kepala mereka berdekatan, berbisik-bisik seolah-olah memiliki rahasia bersama.

Naira merasa perutnya mulas. Ia menekan ujung pulpennya hingga jari-jarinya memutih.

Berlebihan, Naira. Kamu berlebihan. Ini semua cuma pekerjaan.

Tapi ia tidak bisa menahan perasaannya. Ia merasa seperti orang asing yang menonton dua orang yang seharusnya saling mencintai, padahal kenyataannya... ah, apa kenyataannya? Mereka memang tidak benar-benar bersama. Jadi kenapa ia merasa punya hak untuk cemburu?

Rapat selesai lebih dari dua jam kemudian. Orang-orang beranjak keluar, berjabat tangan dan saling bertukar kata. Naira segera membereskan barang-barangnya, berniat keluar secepat mungkin sebelum Sarah dan Mikael selesai berbicara.

"Naira, tunggu sebentar."

Suara Mikael terdengar dari belakangnya. Naira tidak berhenti berjalan. Ia justru melangkah lebih cepat. Namun kakinya yang pendek tidak bisa mengalahkan langkah panjang Mikael. Dalam sekejap, pria itu sudah berada di sampingnya dan menahan lengannya pelan.

"Kamu terburu-buru sekali," kata Mikael sambil menatap wajah Naira. "Ada yang salah?"

"Tidak ada yang salah," jawab Naira singkat, menarik lengannya dari genggaman Mikael. "Aku cuma mau pulang."

Mikael mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk melihat wajah Naira yang memalingkan muka. "Kamu marah?"

"Kenapa aku harus marah?" Naira berbalik menatapnya, matanya berkilat karena emosi yang ia tahan. "Kamu bebas berbicara dengan siapa pun, Mikael. Termasuk perempuan cantik seperti Sarah. Kenapa aku harus peduli?"

Mikael terdiam sejenak. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang semakin lebar.

Naira melotot. "Kenapa kamu malah tersenyum? Aku sedang kesal padamu dan kamu tersenyum?"

"Kamu cemburu," ucap Mikael.

"Aku tidak cemburu!" Naira membelalakkan mata. "Aku hanya... aku hanya merasa tidak sopan kalau kita berlama-lama di sini. Itu saja!"

"Kamu cemburu," ulang Mikael lebih yakin. Ia semakin mendekat, hingga Naira terpaksa mundur selangkah sampai punggungnya menyentuh dinding koridor. "Dan itu membuatku sangat senang."

Naira menelan ludah. "Kamu... kamu gila ya? Apa yang menyenangkan dari melihat orang lain kesal?"

"Karena itu artinya..." Mikael menatap matanya lekat-lekat, suaranya merendah dan lembut "Kamu mulai benar-benar peduli padaku. Bukan lagi sekadar pura-pura."

Naira membuka mulutnya untuk membantah, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia ingin berteriak bahwa tidak, ia tidak peduli, bahwa ini semua tidak berarti apa-apa. Tapi saat ia menatap mata Mikael yang bersinar penuh harapan dan kebahagiaan itu, ia tahu, ia sudah ketahuan.

"Aku..." suaranya terdengar lemah. "Aku cuma tidak suka kamu begitu akrab dengan perempuan lain di depan semua orang. Orang-orang akan bertanya-tanya."

"Ah, jadi alasannya demi citra kita ya?" Mikael tersenyum menggoda, namun matanya penuh kelembutan. "Bukan karena hatimu yang sakit melihatku dekat dengan perempuan lain?"

Naira memalingkan wajah. "Sudah kubilang tidak seperti itu."

Mikael mengangkat jari telunjuknya dan perlahan memutar dagu Naira agar kembali menatapnya. "Sarah adalah teman lamaku. Dia sudah menikah dan punya dua anak. Dia juga salah satu rekan kerja terbaikku. Itu saja."

Naira tertegun. "Dia... sudah menikah?"

"Ya. Dan suaminya adalah orang yang sangat baik. Aku bahkan pernah menjadi saksi pernikahan mereka." Mikael menatapnya sambil tersenyum kecil.

"Jadi kamu tidak perlu khawatir bersaing dengan siapa pun, Naira. Tidak ada yang perlu ditakuti. Karena hatiku..." ia menunjuk dadanya sendiri "Sudah ada pemiliknya. Dan dia sedang berdiri tepat di depanku sekarang."

Naira merasa wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Ia tidak sanggup menatap mata Mikael lebih lama lagi. Ia menunduk, memainkan ujung tasnya dengan gugup.

"Kamu memang menyebalkan," gumamnya pelan. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku sudah malu sendirian di dalam sana."

"Karena aku suka melihat sisi ini darimu," bisik Mikael. "Sisi yang cemburu. Sisi yang menunjukkan bahwa kamu tidak sekuat yang kamu pura-pura. Sisi yang menunjukkan bahwa kamu manusia biasa yang juga bisa merasa takut kehilangan."

"Aku tidak takut kehilanganmu!" Naira mendongak cepat, tapi matanya tidak bisa berbohong.

Mikael tertawa rendah. Tawa yang terdengar begitu bahagia. "Baiklah, baiklah. Katakan apa pun yang membuatmu tenang. Tapi aku tahu yang sebenarnya." Ia meraih tangan Naira dan menggenggamnya erat.

"Dan aku akan mengingatkanmu setiap hari kalau perlu. Bahwa di antara semua orang di dunia ini, hanya kamu yang ada di hatiku. Hanya kamu yang aku pilih."

Naira menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Panas yang awalnya ada di dadanya kini berubah menjadi kehangatan yang lembut dan menenangkan.

Ia merasa malu sekaligus bahagia. Malu karena cemburunya ternyata tidak beralasan, tapi bahagia karena menyadari bahwa perhatian Mikael sepenuhnya miliknya.

Mikael mengangkat tangan Naira dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Mulai sekarang, setiap kali aku tersenyum, setiap kali aku berbicara, setiap kali aku melihat, semuanya akan untukmu. Hanya untukmu."

Naira tersenyum tipis, senyum yang tulus dan bahagia. "Kamu jangan berjanji apa-apa, El.''

"Tidak. Aku memang ingin berjanji." Mikael menatapnya dalam-dalam. "Dan ingat satu hal, Naira. Cemburu itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa kita peduli lebih dari yang kita akui. Dan aku... aku sangat bahagia kamu merasa begitu."

Mereka berdiri di sana sejenak, saling memandang di lorong yang sepi. Tidak ada yang berbicara, tapi tidak perlu kata-kata untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Untuk pertama kalinya, Naira tidak lagi merasa ragu atau takut. Ia tahu perasaannya. Ia tahu siapa yang ada di hatinya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menyembunyikannya lagi.

"Ayo pulang," kata Mikael pelan. "Aku akan mengantarmu."

Naira mengangguk. "Iya."

Saat mereka berjalan berdampingan keluar dari gedung, tangan mereka tetap saling menggenggam. Bukan lagi karena sandiwara. Bukan lagi demi penampilan di depan orang lain.

Tapi karena mereka berdua butuh kehadiran satu sama lain. Karena untuk pertama kalinya, mereka berdua tahu bahwa di antara semua kebohongan ini, ada satu hal yang paling nyata, perasaan mereka satu sama lain.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!