Indonesia
NovelToon NovelToon
Papa Untuk Si Kembar

Papa Untuk Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Wanita Karir / Menikah Karena Anak
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Bunda, kenapa Lily tidak punya Papa?"

Luna hidup sebagai single mom dengan dua anak kembar yaitu El dan Lily. Gala, kekasihnya meninggalkannya ketika Luna sedang mengandung anak mereka.

Setelah 7 tahun berselang, Gala kembali ke hidupnya. Tapi hidup Luna sudah berubah. Ada Alif di sisinya.

Luna belum siap untuk membuka hati. Tapi Lily selalu menanyakan hal yang sama kenapa dia tidak punya Papa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Kehadiran Alif

Alif sangat muak sekarang. 

Perempuan di depannya tidak berhenti menatapnya sejak tadi.

Zara.

Tatapan itu terlalu lama, terlalu penuh harap. Senyum lembut yang terus dipertahankan justru membuat Alif semakin tidak nyaman.

Makanan di meja mereka masih utuh. Tidak ada yang menyentuh sama sekali. Zara masih sibuk menatap Alif, sementara Alif tidak memiliki nafsu makan sama sekali.

Zara duduk dengan punggung tegak. Tangannya sesekali merapikan serbet di pangkuannya. Dia tersenyum, berusaha terlihat santai tapi rasa senangnya tidak dapat disembunyikan.

“Kak Alif, aku seneng banget hari ini bisa makan sama Kakak," ucap Zara jujur. Matanya berbinar kecil.

Alif menghela napas pelan. Dia kini menatap Zara tepat di matanya. Sorot matanya dingin.

“Zara, aku mau ngomong sesuatu," ucap Alif tenang.

Zara tersenyum kecil. "Apa?”

“Aku berterima kasih karena kamu sudah mencintaiku." 

Zara mengangguk. Senyumnya masih mengembang sempurna.

“Tapi maaf, aku nggak bisa balas perasaan kamu," jelas Alif tenang.

Senyum Zara memudar perlahan.

“Aku tau ini menyakitkan, tapi bagiku lebih baik jujur sekarang sebelum aku membuatmu semakin menderita karena berharap terlalu banyak padaku." 

Zara menelan ludah. Tangannya yang semula di atas meja perlahan mengepal.

“Kenapa?" 

Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Zara.

Alif tidak langsung menjawab. “Alasannya tidak mengubah apapun. Aku tetap tidak bisa menerima perjodohan ini.”

Zara masih mencoba untuk tetap tenang di depan Alif, meskipun sorot matanya tidak bisa bohong bahwa dia terluka.

“Kamu cantik, Zara. Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik.”

Zara menunduk sebentar, lalu kembali menatap Alif. “Aku maunya sama Kak Alif," ucap Zara pelan.

Alif diam. Tidak berniat menjawab ucapan Zara. 

Lalu, ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Nama Luna terlihat di layar. Alif segerah meraih dan mengangkatnya. 

“Halo," ucap Alif pelan. 

Dia berdiri dan menjauh beberapa langkah dari Zara. 

Di ujung telepon, Luna tidak mengatakan apapun. Alif hanya dapat mendengar suara napas Luna yang terdengar berat dan satu isakan kecil yang cukup untuk membuat jantungnya berdegup kencang.

“Luna, kamu kenapa Luna?" 

Di tempat duduknya, Zara menoleh mendengar ucapan Alif. 

“Alif," ucap Luna lirih. Suaranya serak.

“Aku ke rumah sekarang. Kamu tunggu ya," ucap Alif.

Alif mematikan sambungan teleponnya. Dia menoleh pada Zara. Wajahnya tenang tapi sorot matanya jelas khawatir.

“Maaf, aku harus pergi." 

Tanpa menunggu jawaban Zara, Alif segera melangkah meninggalkannya. 

Zara terdiam di tempat duduknya. Tubuhnya membeku.

“Luna," gumam Zara.

...***...

Alif berdiri di depan pintu kamar Luna cukup lama. 

Dewi mengatakan padanya bahwa Luna ada di kamar dan belum keluar lagi sejak sampai di rumah.

Dengan gerakan pelan, Alif mengetuk pintu kamar Luna.

“Luna,” panggil Alif dengan suara rendah. 

Tidak ada jawaban.

Alif menunggu beberapa detik lagi, sebelum akhirnya membuka pintu perlahan.

Lampu kamar redup. Tirai jendela tertutup rapat.

Luna duduk di lantai, bersandar di sisi ranjang. Lututnya dipeluk ke dada. Rambutnya berantakan. Wajahnya tertunduk.

Alif berhenti di ambang pintu. Menatap Luna tanpa suara selama beberapa saat.

“Boleh aku masuk?" 

Luna tidak menjawab. Tidak juga menatapnya. Hanya bahunya bergetar kecil dan terdengar isakan pelan dari bibir Luna.

Alif menutup pintu perlahan, tanpa menimbulkan suara. Dia melangkah masuk. Lalu, duduk di lantai dengan jarak satu lengan. Posisinya sejajar dengan Luna.

Alif tetap diam. 

Tapi keberadaannya sudah cukup untuk Luna.

Luna menghela napas berat. “Aku pikir… aku kuat, Alif.”

Alif tetap tenang. Tatapannya tetap tertuju pada Luna. “Kamu bisa bertahan sampai sekarang. Kamu kuat, Luna.”

Luna tertawa getir tanpa suara. Dia menggigit bibir. Air matanya kembali jatuh.

“Dia kembali, Alif." 

Luna menegakkan kepalanya, membuat Alif dapat melihat matanya yang sembab dan berlinang air mata. 

Itu cukup untuk membuat hati Alif sakit.

“Gala,” lanjut Luna.

Rahang Alif mengeras sesaat, lalu kembali mengendur. Tangannya juga terkepal kuat selama beberapa detik.

“Aku memarahi Lily, Alif. Padahal Lily nggak tahu apa-apa,” ucap Luna pelan.

Luna menelan ludah dengan susah payah. “Aku takut… aku takut semua yang udah aku bangun ini runtuh, Alif.”

Alif menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Dia mengangkat satu tangannya, kaku berhenti di udara.

“Boleh?" 

Luna tidak menjawab. Dia langsung memeluk Alif. Tubuhnya yang kaku melemah dalam pelukan Alif. Isakannya kembali terdengar pelan. Luna memejamkan matanya erat-erat.

Alif tidak banyak bicara. Dia hanya mengusap punggung Luna lembut dan membiarkannya bersandar.

“Nggak papa, Luna. Aku disini." 

Waktu berlalu cukup lama untuk Luna dapat menenangkan diri. Napas Luna yang semula tersengal perlahan menjadi lebih teratur. Bahunya berhenti bergetar.

Setelah merasa cukup stabil, Luna melepaskan pelukannya.

Alif menatap Luna lembut. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut Luna yang berantakan ke belakang telinga.

“Semua yang kamu bangun nggak akan runtuh, Luna. Aku percaya itu.”

Tangan Alif turun, menggenggam kedua tangan Luna erat. Matanya tetap tertuju pada Lana. Sorot matanya hangat. 

“Karena aku tahu, kamu kuat. Kamu perempuan paling kuat yang pernah aku kenal." 

Luna menunduk. Jari-jarinya mengerat di genggaman Alif. Dadanya terasa sesak, tapi kali ini bukan karena takut. Lebih seperti lelah yang akhirnya diizinkan keluar.

Luna menghela napas pelan. “Lily. Aku nggak sengaja bentak Lily." 

Alif tersenyum hangat. “Nggak papa. Kamu nggak sengaja lakuin itu. Aku akan bantu ngomong pelan-pelan ke Lily. Lily pasti ngerti." 

Luna menatap Alif lama, lalu mengangguk pelan.

Luna kembali menunduk dalam. “Aku takut, Alif. Aku takut aku nggak bisa lagi sembunyikan kebenaran ini dari El dan Lily." 

Alif menarik napas dalam. Tatapannya turun, bukan menghindar, tapi menimbang kata.

“Kebenaran memang nggak bisa disembunyikan selamanya,” ucapnya jujur. “Tapi itu bukan berarti kamu harus mengatakannya sekarang.”

Luna mengangkat wajahnya sedikit. Matanya merah.

“Aku nggak siap,” bisiknya.

"Kamu nggak perlu siap sekarang. Kamu juga nggak perlu pikirkan itu sekarang. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah tetap berdiri menjadi dirimu sendiri.”

Luna mengangguk pelan.

Alif tersenyum lembut. “Ya sudah. Sekarang kamu istirahat. Kamu capek sekali hari ini." 

“Aku mau lihat El dan Lily," ucap Luna pelan.

Alif mengangguk cepat. “Iya." 

Luna bangun dengan ditumpu oleh Alif. Mereka keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar El dan Lily.

Luna membuka pintunya perlahan, tanpa menimbulkan suara apapun.

Kamar itu sudah remang. Lampu utama sudah mati, hanya tersisa dua lampu tidur di kanan kiri tempat tidur. El dan Lily berbaring disana, tertidur lelap. 

Luna melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Dia duduk di sisi tempat tidur Lily. Melihat dua wajah anak kecil tanpa dosa itu, jantung Luna mencelos.

Tangannya terulur menyentuh rambut Lily dan juga El. Sorot Matanya sendu. 

Ingatan kejadian di mobil teringat lagi di kepala Luna membuat rasa bersalahnya semakin menyeruak.

Tangan Luna bergerak pelan mengusap rambut El dan Lily bergantian. Bibirnya kembali bergetar.

“Maafin, Bunda, sayang “

Alif tetap berdiri di ambang pintu. Tatapannya tertuju lurus pada Luna, El, dan Lily. Rahangnya mengeras. 

Nama itu kembali terlintas di kepalanya.

Gala.

Dan untuk pertama kalinya, Alif tahu  kalau laki-laki itu berani menyakiti Luna lebih jauh, dia tidak akan diam.

...----------------...

1
Rena Patris
kangen sama El
Puji Astuti
Aku sudah menunggu nunggu kak, nggak sabar banget
Puji Astuti
Kak, s2 anak untuk rayyan kapan rilis nya kak
Rena Patris
Seandainya tdi keluarga Alif menerima Luna dan anak2 nya aku dukung Luna sama Alif
Rena Patris
Luna hrus mengambil langkah bijak demi anak2 nya
wry5786
jgn egois lunamaya.....
Rena Patris
Sedih lihat Lily
La Rue
Gala memenangkan hati Lily
La Rue
kasihan El 😢
La Rue
kasihan si kembar
Rena Patris
Saya tim Gala-Luna.Krn kalo pun Luna sama Alif percuma...blm apa2 keluarga Alif pasti ga terima kalo Alif menikah sama perempuan yg punya anak 2.El dan Lily pasti tidak nyaman
La Rue
El anak yg dewasa sebelum waktunya bisa memahami suasana hati Mamanya . Entahlah siapa akhirnya yg menjadi Papa mereka, semoga semua berakhir baik 😊
Rena Patris
Bagus banget ceritanya..tpi ga sabar nunggu tiap kamis dan minggu👍
Rena Patris
Senang baca ceritanya.Tpi jgn 2x seminggu munculnya.Tiap hri donk
La Rue
Semangat
awesome moment
koqntetoba jd pengin mun2 y baca gaya Zara. mmg hrs bgitu? ngerangsek bgts. hrus? g bisa gitu elegant. memahami.
awesome moment: ato mo disatuin lg sm Gala. yg sdh main tinggalin mrk gitu j? buang alif saat udh g butuh.
total 1 replies
awesome moment
smg judulnya g bikin alif yg sdh berkorban buanyak...jd terpinggirkan.
R⁷
semoga lily lekas pulih sehat kembali
R⁷
masih ga mau ngakuin mereka gal? 🤔
R⁷
sa ae oom Alif ngedongeng nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!