Papa Untuk Si Kembar

Papa Untuk Si Kembar

Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?

“Bunda, kenapa Lily tidak punya Papa?" 

Gerakan tangan Luna terhenti. Ujung jarinya masih menyentuh rambut Lily. 

Luna tidak langsung menjawab. Dadanya naik turun perlahan.

Tatapan Luna beralih pada Lily yang berbaring di sampingnya. Anak perempuan berusia enam tahun itu menatap Luna dengan tatapan sendu. Cahaya lampu tidur yang redup tidak dapat menyembunyikan matanya berkaca-kaca.

El yang berbaring di samping Lily ikut menoleh. “Lily, kenapa Lily tanya seperti itu pada Bunda?”

Lily menoleh pada El. “Lily hanya ingin tahu, El.”

Lily kembali menatap Luna. “Papa Lily dimana, Bunda?" 

Luna terdiam cukup lama untuk memikirkan jawaban yang tepat. Perlahan, tangannya kembali bergerak mengusap lembut rambut Lily.

“Papa Lily… harus pergi dulu.”

“Pergi ke mana, Bunda?" 

“Ke tempat yang jauh sekali dari sini." 

“Kenapa? Apa Papa tidak sayang Lily?" 

Luna menggigit bibir, menahan gejolak di dalam dadanya. Dia menghela napas pelan, lalu tersenyum pada Lily.

“Papa Lily sayang sama Lily, sama El juga." 

Senyum Luna menghilang dengan cepat.

El sedikit menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Luna.

“Kalau Papa sayang Lily, kenapa Papa tidak pulang?" tanya Lily lagi

“Karena Papa belum bisa pulang. Papa belum bisa jaga El dan Lily,” jawab Luna dengan suara bergetar pelan.

Lily menghembuskan napas pelan. “Terus kapan Papa bisa pulang, Bunda?”

Luna menarik Lily ke dalam pelukannya. Satu tangannya mengusap lembut wajah El di belakang Lily. El menatap wajah Luna.

“Bunda belum tahu, sayang.”

Dada Luna terasa sesak dan tenggorokannya terasa tercekat. Tanpa diinginkan, satu bulir air mata Luna menetes. Dan El… melihatnya dengan jelas.

...***...

Setelah beberapa saat menemani El dan Lily, mereka akhirnya tertidur lelap.

Luna bangun dari tempat tidur. Dia menaikkan selimut menutupi tubuh El dan Lily hingga bahu, lalu mengecup kening mereka satu persatu. 

Luna mengusap wajah El dengan lembut, lalu beralih mengusap wajah Lily. Sentuhannya bertahan lebih lama. Wajah Luna berubah sendu ketika mengingat pertanyaan Lily.

Ini bukan pertama kalinya Lily menanyakan hal itu. Hampir setiap Luna menemani mereka tidur, Luna harus mencari alasan tentang keberadaan ayah mereka.

Bibirnya tersenyum getir. “Maafin Bunda, sayang. Bunda nggak bisa kasih papa buat Lily. Maafin, Bunda.”

Luna mengecup kening Lily lagi, kali ini lebih lama. Air matanya kembali menetes dan jatuh di kening Lily.

Luna menegakkan kepala. Dia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Baru setelah itu, Luna keluar dari kamar itu dengan punggung tegak seakan tidak terjadi apa-apa. 

Luna menutup pintu kamar anaknya perlahan.

“Luna." 

Luna menoleh. 

Dewi, ibu Luna sudah berdiri di belakangnya. Perempuan paruh baya itu sudah memakai piyama bersiap tidur. Keriput halus terlihat di wajahnya.

“Ibu, Ibu belum tidur?" tanya Luna.

“Ini Ibu baru mau tidur, nak. Anak-anak sudah tidur?" 

Luna mengangguk, tersenyum.

“Sudah lama sekali kamu tidak menemani mereka tidur. Setiap hari mereka menanyakan kamu.”

Luna tersenyum getir.

Dewi mendekat, mengusap lengan putri semata wayangnya dengan lembut. “Kamu tidak perlu bekerja terlalu keras, Luna. Kamu lihat hidup kita sekarang.”

Luna mengedarkan pandangannya menatap seisi rumah yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri. Rumah dua lantai itu tidak terlalu besar tapi sudah menjadi milik Luna sendiri. 

Berbeda dengan hidupnya 7 tahun lalu, mengontrak di sebuah rumah satu petak. Itu pun sering ditagih pemiliknya karena telat bayar. 

“Hidup kita sudah lebih dari cukup, Luna." 

Luna mengangguk, menatap Dewi lembut. “Luna tahu, Bu. Tapi ini belum cukup." 

Luna menatap pintu kamar El dan Lily yang sudah tertutup rapat. Tatapannya tidak fokus tertuju pada pintu itu, mengawang jauh entah kemana. Luna menghela napas pelan.

“Luna harus memastikan El dan Lily memiliki hidup yang layak dan berkecukupan. Mereka sudah tidak punya ayah, Luna tidak mau mereka direndahkan dan dibedakan hanya karena miskin.”

Rahang Luna mengeras. 

Dewi menatap Luna sendu. “Maafkan ayah dan ibumu ya, Nak." 

Luna menoleh pada Dewi lagi. “Tidak, Ibu. Ibu tidak perlu minta maaf. Itu bukan salah ibu, bukan juga salah almarhum ayah. Kalian sudah memberikan yang terbaik untuk Luna, meskipun Luna telah mengecewakan kalian." 

Luna menatap Dewi lebih lama. “Ibu dan ayah tetap mau menerima Luna, melindungi Luna, bahkan menerima anak-anak Luna. Meskipun kalian harus menderita karena Luna.”

Tatapan Luna berubah sendu. Setiap cacian, hujatan, dan penghinaan yang Luna dengar 7 tahun lalu kembali terdengar di telinganya. Baik cacian untuknya, maupun kedua orang tuanya.

Dewi mengusap lengan Luna lembut. “Kamu anak ayah dan ibu. Bagaimana kami bisa meninggalkanmu? El dan Lily juga cucu Ibu, Ibu menyayangi mereka, terlepas dari bagaimana mereka bisa ada di dunia ini.”

Luna menatap Dewi lekat, lalu mengangguk. 

“Iya, Ibu. Bagaimanapun mereka anak Luna. Mereka malaikat kecil Luna. Jadi Luna akan memberikan yang terbaik untuk mereka. El, Lily, dan Ibu, Luna akan pastikan kita tidak akan kekurangan lagi dan tidak ada yang boleh merendahkan kita lagi.”

Dewi mengangguk. “Ibu percaya itu. Terima kasih, Nak.”

Luna mengangguk. “Iya, Ibu.”

Dewi terdiam sejenak. Tangannya masih berada di lengan Luna, tapi genggamannya sedikit menguat, menimbang sesuatu di dalam pikirannya.

“Luna,” panggil Dewi.

“Iya, Ibu.”

“Ibu cuma mau tanya, tidak memaksa.”

Luna masih diam, menunggu ucapan Dewi.

“Apa kamu tidak ada rencana untuk menikah?" tanya Dewi hati-hati.

Luna tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu tidak mengejutkan tapi tetap saja seperti membuat dadanya tertekan pelan.

Dewi menghela napas pelan. “Seharian ini Lily menangis. Dia terus bertanya apakah dia tidak punya Papa. Ibu pikir mereka membutuhkan sosok ayah, Luna.”

Luna masih diam. Tapi kini tatapannya menjadi tidak fokus.

“Kamu… kamu juga membutuhkan suami. Kamu sudah cukup lama menanggung semuanya sendirian. Ibu cuma takut kamu terlalu menutup diri.”

Luna perlahan menoleh pada Dewi. Tatapannya lembut. “Ibu, Luna belum berpikir sampai sana. Fokus Luna sekarang hanya anak-anak. Luna mau memastikan hidup mereka berjalan dengan baik. Dan Lily…”

Luna menghela napas pelan. “Lily pasti akan mengerti." 

“Lalu bagaimana dengan Alif?" 

Luna terdiam. Nama itu selalu datang dengan perlahan, tapi terasa begitu berat.

“Dia sudah menunggu kamu cukup lama, Nak. Alif laki-laki yang baik, sabar, penyayang, dan bertanggung jawab. Dia bahkan sudah merawat El dan Lily dengan sangat baik. Dia seperti menjadi sosok ayah untuk mereka. Alif selalu ada untuk El dan Lily, Dia juga selalu ada untuk kamu, bahkan ketika kamu merasa tidak perlu ditemani siapapun. Apa kamu tidak ingin membuka hati kamu untuk dia?” 

Luna terdiam cukup lama. Tatapannya kembali tidak fokus. Dia menghela napas pelan. “Luna… Luna tidak pantas untuk Alif, Ibu.”

...----------------...

Episodes
1 Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2 Bab 2 - Aluna Prameswari
3 Bab 3 - Seperti Keluarga
4 Bab 4 - Membuka Hati
5 Bab 5 - Perjodohan Alif
6 Bab 6 - Kembali Pulang
7 Bab 7 - Om Punya Anak?
8 Bab 8 - Bukan Papa Lily
9 Bab 9 - Tulip dan Matahari
10 Bab 10 - Family Time?
11 Bab 11 - Lily Hilang
12 Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13 Bab 13 - Retakan Kecil
14 Bab 14 - Kehadiran Alif
15 Bab 15 - Tetap Bertahan
16 Bab 16 - Kucing Ngambek
17 Bab 17 - Kerja Sama
18 Bab 18 - Bola Jatuh
19 Bab 19 - Anak Kamu
20 Bab 20 - Berat?
21 Bab 21 - Hari Berbeda
22 Bab 22 - Lily Sadar
23 Bab 23 - Pesawat Cepat
24 Bab 24 - Alif Jemput
25 Bab 25 - Seperti Biasa
26 Bab 26 - Bunga Atau Pita
27 Bab 27 - Sepatu Baru
28 Bab 28 - Gerai Es Krim
29 Bab 29 - Dijemput Gala
30 Bab 30 - Bunda Sibuk
31 Bab 31 - Dijemput Lagi
32 Bab 32 - Kontak Darurat
33 Bab 33 - Wali Kelas
34 Bab 34 - Lily Pingsan
35 Bab 35 - Gala Datang
36 Bab 36 - Ayahnya
37 Bab 37 - Luna Tahu
38 Bab 38 - Baru Mulai
39 Bab 39 - Bunda Sedih?
40 Bab 40 - Om Papa Lily?
41 Bab 41 - Pulang Kemana?
42 Bab 42 - Lily Punya Papa
43 Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44 Bab 44 - Sama Papa
45 Bab 45 - Bola Basket
46 Bab 46 - Mobil Mogok
47 Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48 Bab 48 - Masuk Rumah
49 Bab 49 - Om Alif Datang
50 Bab 50 - Luna Menunggu
51 Bab 51 - Hari Minggu
52 Bab 52 - Mereka Aman
53 Bab 53 - Cerita Lily
54 Bab 54 - Memberi Waktu
55 Bab 55 - Garis Batas
56 Bab 56 - Cafe Luna
57 Bab 57 - Melanggar Batas
58 Bab 58 - Kebun Binatang
59 Bab 59 - Kakak Sahabat
60 Bab 60 - Tanpa Izin
61 Bab 61 - Pulang Terlambat
62 Bab 62 - Luna Marah
63 Bab 63 - Larangan
64 Bab 64 - Meja Dingin
65 Bab 65 - Sayang Kalian
66 Bab 66 - Pergi, Gala!
67 Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68 Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69 Bab 69 - Ke Rumah Papa
70 Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71 Bab 71 - Rumah Gala
72 Bab 72 - Kamar Berbeda
73 Bab 73 - Rumah Baru
74 Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75 Bab 75 - Kembalikan Lily
76 Bab 76 - Maafin Papa
77 Bab 77 - Sayang Bunda
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2
Bab 2 - Aluna Prameswari
3
Bab 3 - Seperti Keluarga
4
Bab 4 - Membuka Hati
5
Bab 5 - Perjodohan Alif
6
Bab 6 - Kembali Pulang
7
Bab 7 - Om Punya Anak?
8
Bab 8 - Bukan Papa Lily
9
Bab 9 - Tulip dan Matahari
10
Bab 10 - Family Time?
11
Bab 11 - Lily Hilang
12
Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13
Bab 13 - Retakan Kecil
14
Bab 14 - Kehadiran Alif
15
Bab 15 - Tetap Bertahan
16
Bab 16 - Kucing Ngambek
17
Bab 17 - Kerja Sama
18
Bab 18 - Bola Jatuh
19
Bab 19 - Anak Kamu
20
Bab 20 - Berat?
21
Bab 21 - Hari Berbeda
22
Bab 22 - Lily Sadar
23
Bab 23 - Pesawat Cepat
24
Bab 24 - Alif Jemput
25
Bab 25 - Seperti Biasa
26
Bab 26 - Bunga Atau Pita
27
Bab 27 - Sepatu Baru
28
Bab 28 - Gerai Es Krim
29
Bab 29 - Dijemput Gala
30
Bab 30 - Bunda Sibuk
31
Bab 31 - Dijemput Lagi
32
Bab 32 - Kontak Darurat
33
Bab 33 - Wali Kelas
34
Bab 34 - Lily Pingsan
35
Bab 35 - Gala Datang
36
Bab 36 - Ayahnya
37
Bab 37 - Luna Tahu
38
Bab 38 - Baru Mulai
39
Bab 39 - Bunda Sedih?
40
Bab 40 - Om Papa Lily?
41
Bab 41 - Pulang Kemana?
42
Bab 42 - Lily Punya Papa
43
Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44
Bab 44 - Sama Papa
45
Bab 45 - Bola Basket
46
Bab 46 - Mobil Mogok
47
Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48
Bab 48 - Masuk Rumah
49
Bab 49 - Om Alif Datang
50
Bab 50 - Luna Menunggu
51
Bab 51 - Hari Minggu
52
Bab 52 - Mereka Aman
53
Bab 53 - Cerita Lily
54
Bab 54 - Memberi Waktu
55
Bab 55 - Garis Batas
56
Bab 56 - Cafe Luna
57
Bab 57 - Melanggar Batas
58
Bab 58 - Kebun Binatang
59
Bab 59 - Kakak Sahabat
60
Bab 60 - Tanpa Izin
61
Bab 61 - Pulang Terlambat
62
Bab 62 - Luna Marah
63
Bab 63 - Larangan
64
Bab 64 - Meja Dingin
65
Bab 65 - Sayang Kalian
66
Bab 66 - Pergi, Gala!
67
Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68
Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69
Bab 69 - Ke Rumah Papa
70
Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71
Bab 71 - Rumah Gala
72
Bab 72 - Kamar Berbeda
73
Bab 73 - Rumah Baru
74
Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75
Bab 75 - Kembalikan Lily
76
Bab 76 - Maafin Papa
77
Bab 77 - Sayang Bunda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!