Papa Untuk Si Kembar
“Bunda, kenapa Lily tidak punya Papa?"
Gerakan tangan Luna terhenti. Ujung jarinya masih menyentuh rambut Lily.
Luna tidak langsung menjawab. Dadanya naik turun perlahan.
Tatapan Luna beralih pada Lily yang berbaring di sampingnya. Anak perempuan berusia enam tahun itu menatap Luna dengan tatapan sendu. Cahaya lampu tidur yang redup tidak dapat menyembunyikan matanya berkaca-kaca.
El yang berbaring di samping Lily ikut menoleh. “Lily, kenapa Lily tanya seperti itu pada Bunda?”
Lily menoleh pada El. “Lily hanya ingin tahu, El.”
Lily kembali menatap Luna. “Papa Lily dimana, Bunda?"
Luna terdiam cukup lama untuk memikirkan jawaban yang tepat. Perlahan, tangannya kembali bergerak mengusap lembut rambut Lily.
“Papa Lily… harus pergi dulu.”
“Pergi ke mana, Bunda?"
“Ke tempat yang jauh sekali dari sini."
“Kenapa? Apa Papa tidak sayang Lily?"
Luna menggigit bibir, menahan gejolak di dalam dadanya. Dia menghela napas pelan, lalu tersenyum pada Lily.
“Papa Lily sayang sama Lily, sama El juga."
Senyum Luna menghilang dengan cepat.
El sedikit menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Luna.
“Kalau Papa sayang Lily, kenapa Papa tidak pulang?" tanya Lily lagi
“Karena Papa belum bisa pulang. Papa belum bisa jaga El dan Lily,” jawab Luna dengan suara bergetar pelan.
Lily menghembuskan napas pelan. “Terus kapan Papa bisa pulang, Bunda?”
Luna menarik Lily ke dalam pelukannya. Satu tangannya mengusap lembut wajah El di belakang Lily. El menatap wajah Luna.
“Bunda belum tahu, sayang.”
Dada Luna terasa sesak dan tenggorokannya terasa tercekat. Tanpa diinginkan, satu bulir air mata Luna menetes. Dan El… melihatnya dengan jelas.
...***...
Setelah beberapa saat menemani El dan Lily, mereka akhirnya tertidur lelap.
Luna bangun dari tempat tidur. Dia menaikkan selimut menutupi tubuh El dan Lily hingga bahu, lalu mengecup kening mereka satu persatu.
Luna mengusap wajah El dengan lembut, lalu beralih mengusap wajah Lily. Sentuhannya bertahan lebih lama. Wajah Luna berubah sendu ketika mengingat pertanyaan Lily.
Ini bukan pertama kalinya Lily menanyakan hal itu. Hampir setiap Luna menemani mereka tidur, Luna harus mencari alasan tentang keberadaan ayah mereka.
Bibirnya tersenyum getir. “Maafin Bunda, sayang. Bunda nggak bisa kasih papa buat Lily. Maafin, Bunda.”
Luna mengecup kening Lily lagi, kali ini lebih lama. Air matanya kembali menetes dan jatuh di kening Lily.
Luna menegakkan kepala. Dia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Baru setelah itu, Luna keluar dari kamar itu dengan punggung tegak seakan tidak terjadi apa-apa.
Luna menutup pintu kamar anaknya perlahan.
“Luna."
Luna menoleh.
Dewi, ibu Luna sudah berdiri di belakangnya. Perempuan paruh baya itu sudah memakai piyama bersiap tidur. Keriput halus terlihat di wajahnya.
“Ibu, Ibu belum tidur?" tanya Luna.
“Ini Ibu baru mau tidur, nak. Anak-anak sudah tidur?"
Luna mengangguk, tersenyum.
“Sudah lama sekali kamu tidak menemani mereka tidur. Setiap hari mereka menanyakan kamu.”
Luna tersenyum getir.
Dewi mendekat, mengusap lengan putri semata wayangnya dengan lembut. “Kamu tidak perlu bekerja terlalu keras, Luna. Kamu lihat hidup kita sekarang.”
Luna mengedarkan pandangannya menatap seisi rumah yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri. Rumah dua lantai itu tidak terlalu besar tapi sudah menjadi milik Luna sendiri.
Berbeda dengan hidupnya 7 tahun lalu, mengontrak di sebuah rumah satu petak. Itu pun sering ditagih pemiliknya karena telat bayar.
“Hidup kita sudah lebih dari cukup, Luna."
Luna mengangguk, menatap Dewi lembut. “Luna tahu, Bu. Tapi ini belum cukup."
Luna menatap pintu kamar El dan Lily yang sudah tertutup rapat. Tatapannya tidak fokus tertuju pada pintu itu, mengawang jauh entah kemana. Luna menghela napas pelan.
“Luna harus memastikan El dan Lily memiliki hidup yang layak dan berkecukupan. Mereka sudah tidak punya ayah, Luna tidak mau mereka direndahkan dan dibedakan hanya karena miskin.”
Rahang Luna mengeras.
Dewi menatap Luna sendu. “Maafkan ayah dan ibumu ya, Nak."
Luna menoleh pada Dewi lagi. “Tidak, Ibu. Ibu tidak perlu minta maaf. Itu bukan salah ibu, bukan juga salah almarhum ayah. Kalian sudah memberikan yang terbaik untuk Luna, meskipun Luna telah mengecewakan kalian."
Luna menatap Dewi lebih lama. “Ibu dan ayah tetap mau menerima Luna, melindungi Luna, bahkan menerima anak-anak Luna. Meskipun kalian harus menderita karena Luna.”
Tatapan Luna berubah sendu. Setiap cacian, hujatan, dan penghinaan yang Luna dengar 7 tahun lalu kembali terdengar di telinganya. Baik cacian untuknya, maupun kedua orang tuanya.
Dewi mengusap lengan Luna lembut. “Kamu anak ayah dan ibu. Bagaimana kami bisa meninggalkanmu? El dan Lily juga cucu Ibu, Ibu menyayangi mereka, terlepas dari bagaimana mereka bisa ada di dunia ini.”
Luna menatap Dewi lekat, lalu mengangguk.
“Iya, Ibu. Bagaimanapun mereka anak Luna. Mereka malaikat kecil Luna. Jadi Luna akan memberikan yang terbaik untuk mereka. El, Lily, dan Ibu, Luna akan pastikan kita tidak akan kekurangan lagi dan tidak ada yang boleh merendahkan kita lagi.”
Dewi mengangguk. “Ibu percaya itu. Terima kasih, Nak.”
Luna mengangguk. “Iya, Ibu.”
Dewi terdiam sejenak. Tangannya masih berada di lengan Luna, tapi genggamannya sedikit menguat, menimbang sesuatu di dalam pikirannya.
“Luna,” panggil Dewi.
“Iya, Ibu.”
“Ibu cuma mau tanya, tidak memaksa.”
Luna masih diam, menunggu ucapan Dewi.
“Apa kamu tidak ada rencana untuk menikah?" tanya Dewi hati-hati.
Luna tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu tidak mengejutkan tapi tetap saja seperti membuat dadanya tertekan pelan.
Dewi menghela napas pelan. “Seharian ini Lily menangis. Dia terus bertanya apakah dia tidak punya Papa. Ibu pikir mereka membutuhkan sosok ayah, Luna.”
Luna masih diam. Tapi kini tatapannya menjadi tidak fokus.
“Kamu… kamu juga membutuhkan suami. Kamu sudah cukup lama menanggung semuanya sendirian. Ibu cuma takut kamu terlalu menutup diri.”
Luna perlahan menoleh pada Dewi. Tatapannya lembut. “Ibu, Luna belum berpikir sampai sana. Fokus Luna sekarang hanya anak-anak. Luna mau memastikan hidup mereka berjalan dengan baik. Dan Lily…”
Luna menghela napas pelan. “Lily pasti akan mengerti."
“Lalu bagaimana dengan Alif?"
Luna terdiam. Nama itu selalu datang dengan perlahan, tapi terasa begitu berat.
“Dia sudah menunggu kamu cukup lama, Nak. Alif laki-laki yang baik, sabar, penyayang, dan bertanggung jawab. Dia bahkan sudah merawat El dan Lily dengan sangat baik. Dia seperti menjadi sosok ayah untuk mereka. Alif selalu ada untuk El dan Lily, Dia juga selalu ada untuk kamu, bahkan ketika kamu merasa tidak perlu ditemani siapapun. Apa kamu tidak ingin membuka hati kamu untuk dia?”
Luna terdiam cukup lama. Tatapannya kembali tidak fokus. Dia menghela napas pelan. “Luna… Luna tidak pantas untuk Alif, Ibu.”
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments