Bab 5 - Perjodohan Alif

Alif bersiap lebih cepat dari biasanya. Pria berusia 29 tahun itu sudah siap dengan setelan jas hitam dan jam tangan di pergelangan tangannya.

Alif tersenyum kecil. Tidak sabar untuk menjemput Luna dan kedua anaknya sebelum pergi ke kantor. Dia bergegas keluar dari kamar.

Di meja makan, kedua orang tuanya sedang menyantap sarapan. Suasananya hening dan khidmat.

“Mom, Dad, Alif pergi dulu,” ucap Alif.

“Kamu tidak sarapan dulu, Alif?” tanya Alea.

Alif menggeleng. “Tidak, Mom. Alif langsung pergi saja.”

Alea memicing. “Kamu pasti mau menemui perempuan itu lagi?”

Alif menghela napas panjang. Perdebatan seperti ini tidak ada henti-hentinya.

“Perempuan itu punya nama, Bun. Namanya Luna.”

Alea meletakkan sendoknya di atas piring. “Mommy tidak peduli nama perempuan itu. Mommy tidak pernah menyukainya.”

“Mom,” ucap Alif lelah.

Alea menghela napas pelan. “Kamu duduk dulu. Mommy mau bicara serius dengan kamu." 

Alif menurut, menarik satu kursi dan ikut duduk.

Alea menatap Alif. Tatapannya melembut. “Mommy ingin menjodohkan kamu dengan Zara, anak teman Mommy.”

Kedua bola mata Alif melebar sempurna. “Mom.”

“Dia perempuan baik-baik dari keluarga terpandang. Dia juga sangat cantik, baik, dan sopan.”

“Alif tidak mau Mom,” tolak Alif mentah-mentah.

“Mommy tidak tanya pendapat kamu sekarang Alif. Mommy mau kamu temui Zara. Dia sudah lama menyukai kamu.”

“Mom, Zara itu masih kuliah. Lagipula jarak umur Alif dengan Zara itu jauh.”

“Umur tidak menjadi masalah. Jarak umur Mommy dengan Daddy mu juga sepuluh tahun. Tidak ada masalah. Yang penting itu Zara perempuan baik-baik dan dari keluarga baik-baik.”

Alif bangun dari tempat duduknya. “Alif tidak mau, Mom.”

Alea menatap Alif tajam. “Lihatlah. Perempuan itu membawa pengaruh buruk pada kamu, Alif. Kamu jadi sering memotong dan membantah ucapan Mommy.”

“Itu sama sekali bukan karena Luna, Mommy,” jawab Alif tegas. Dadanya naik turun dengan cepat.

Suara dentingan sendok terdengar. Alea dan Alif menoleh pada Arya, ayah Alif. Dia sudah meletakkan sendoknya di atas piring. Tatapan matanya tertuju lurus ke depan.

“Kalian ini… selalu saja membuat nafsu makan Daddy hilang,” ucapnya penuh penekanan. 

Daddy menatap Alif. “Kamu mau temui perempuan itu, kamu mau menikahinya, silahkan. Tapi Daddy harap kamu tahu konsekuensinya, termasuk posisi dan nama baik kamu yang jadi taruhannya.”

Alea terbelalak. “Tidak bisa begitu, Dad.”

Arya menoleh pada Alea dengan gerakan pelan. “Alif pria dewasa dan matang. Dia terbiasa mengambil keputusan besar. Dia juga bisa mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya, termasuk mencari pasangan yang dia inginkan.”

“Tapi dia memilih perempuan yang salah, Dad.”

Arya menatap lurus ke depan. “Pilihan itu benar atau salah, Alif akan tahu setelah memilihnya.”

...***...

Dasar perempuan murahan! Kamu pasti menggoda Gala untuk memeras hartanya, kan?!

Kamu mau mengikat Gala dengan anak haram itu?

Kasihan sekali Gala harus terjebak dengan jalang seperti kamu!

Perempuan rendahan seperti kamu itu tidak pantas untuk Gala! Dasar jalang!

Luna memejamkan mata. Kalimat itu sering kali masih terdengar di telinganya tanpa alasan. 

Luna membuka matanya lagi. Tatapannya tertuju pada pantulan wajahnya di cermin. Luna baru saja selesai memakai make up, bersiap untuk pergi ke kantor.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar Luna diketuk dari luar. Perlahan, pintu itu terbuka. El berdiri di ambang pintu. Tubuh kecilnya sudah terbalut seragam sekolah.

“Bunda," panggil El.

Luna menoleh. Senyumnya langsung mengembang sempurna. Dia bergeser sedikit menghadap El.

“You are so pretty, Bunda," ucap El tulus.

Luna tersenyum haru. “Thank you, my boy." 

Luna memeluk El sejenak, mengusap lembut kepalanya.

“Are you looking for me?” tanya Luna.

El mengangguk. Da memegang lengan Luna. “Yes. It’s breakfast time. Let’s eat together! El sudah lama tidak sarapan bersama Bunda." 

Luna terkekeh pelan. “Okay. Kita sarapan sama-sama ya." 

El mengangguk semangat.

Luna bangun dari tempatnya. Tapi belum sempat dia melangkah, ponselnya berdering pelan. Luna mengarahkan layar ponselnya yang menunjukkan panggilan masuk kepada El.

“Hmm, I think I should answer this call first.”

Luna menatap El lagi, tersenyum lembut. “El makan dulu sama Lily, nanti Bunda menyusul ya." 

El mengangguk. Dia berjalan cepat keluar dari kamar Luna.

Di meja makan, Lily sedang menyantap sarapannya tanpa minat. Wajahnya cemberut.

“Lily kenapa?" tanya El sambil duduk di sebelahnya.

Lily menghela napas pelan. “Lily pengen diantar Bunda ke sekolah. Bunda bisa nggak ya, El?" 

“Bunda harus kerja, Lily. Lily nggak boleh manja,” balas El.

Lily mencebikkan bibirnya. “Pasti nanti Lily diledekin Gamma lagi karena diantar sopir ke sekolah." 

Gamma adalah teman sekelas Lily. Lily sering dibuat menangis olehnya karena selalu meledek Lily tidak punya papa. 

Hal yang membuat Lily selalu menanyakan keberadaan papanya pada Luna.

“Lily nggak usah ladenin kata Gamma." 

Lily menatap El tajam. “Gamma duluan, El. Dia selalu cari gara-gara sama Lily.”

El berdecak pelan. “Lily susah dibilangin. Bunda jadi sedih kalau Lily tanya papa terus.”

“Tapi Lily pengen ketemu papa. Emang El nggak mau punya papa kayak temen-temen di sekolah?”

El terdiam sejenak.

“Halo, kesayangannya Om Alif!" 

El dan Lily sontak menoleh ketika mendengar suara khas yang familiar itu. 

Alif berdiri di ambang pintu dengan senyum hangat yang merekah.

“Om Alif!" seru Lily ceria.

El dan Lily melompat turun dari kursi dan segera menghampiri Alif. Mereka memeluk Alif erat. 

Alif berjongkok dan membalas pelukan mereka. Kedua tangannya melingkar di punggung El dan Lily.

“Gimana tidur kalian? Nyenyak?”

El dan Lily mengangguk semangat.

“Nyenyak soalnya Om bacain dongeng sebelum tidur,” jawab Lily.

Alif tersenyum lembut. Dia mengedarkan pandangannya. “Bunda dimana?” 

“Bunda lagi telepon di kamar,” jawab El.

Alif mengangguk semangat.

“Om anterin Lily ke sekolah ya, Om. Lily pengen diantar Om Alif,” pinta Lily pelan.

Alif tersenyum. Dia menoleh hidung Lily. “Iya, hari ini Om yang akan antar El dan Lily ke sekolah. Sama Bunda juga." 

Kedua bola mata Lily membesar sempurna. “Ohya? Yeay! Lily senang sekali!" ucapnya sambil melompat-lompat girang.

El tetap diam, tapi bibirnya mengulas senyum senang.

“Alif.”

Alif menoleh ketika mendengar suara lembut dan hangat yang familiar di telinganya.

Luna berjalan menghampirinya.

Alif berdiri, tersenyum lembut, lalu menghampirinya.

“Kamu udah sampai,” ucap Luna lagi.

“Iya.”

Alif tersenyum, tapi senyuman itu tidak sampai di matanya. Luna dapat melihatnya.

“Apa ada masalah, Al?" tanya Luna hati-hati.

Alif menatap Luna, tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya… senang sekali.”

Luna tersenyum kecil.

Alif mengusap punggung Luna lembut. “Kamu tidur nyenyak tadi malam?”

Luna tersenyum. “Iya. Kamu udah sarapan belum?”

“Belum.”

“Kalau gitu kita sarapan sama-sama." 

Alif tersenyum. “Memang itu tujuanku.”

Di tempatnya, El menyenggol lengan Lily. Tatapannya tetap tertuju pada Alif dan Luna yang berdiri di depannya.

“Sekarang, El memang nggak punya papa. Dan itu bukan salah siapa-siapa

...----------------...

Episodes
1 Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2 Bab 2 - Aluna Prameswari
3 Bab 3 - Seperti Keluarga
4 Bab 4 - Membuka Hati
5 Bab 5 - Perjodohan Alif
6 Bab 6 - Kembali Pulang
7 Bab 7 - Om Punya Anak?
8 Bab 8 - Bukan Papa Lily
9 Bab 9 - Tulip dan Matahari
10 Bab 10 - Family Time?
11 Bab 11 - Lily Hilang
12 Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13 Bab 13 - Retakan Kecil
14 Bab 14 - Kehadiran Alif
15 Bab 15 - Tetap Bertahan
16 Bab 16 - Kucing Ngambek
17 Bab 17 - Kerja Sama
18 Bab 18 - Bola Jatuh
19 Bab 19 - Anak Kamu
20 Bab 20 - Berat?
21 Bab 21 - Hari Berbeda
22 Bab 22 - Lily Sadar
23 Bab 23 - Pesawat Cepat
24 Bab 24 - Alif Jemput
25 Bab 25 - Seperti Biasa
26 Bab 26 - Bunga Atau Pita
27 Bab 27 - Sepatu Baru
28 Bab 28 - Gerai Es Krim
29 Bab 29 - Dijemput Gala
30 Bab 30 - Bunda Sibuk
31 Bab 31 - Dijemput Lagi
32 Bab 32 - Kontak Darurat
33 Bab 33 - Wali Kelas
34 Bab 34 - Lily Pingsan
35 Bab 35 - Gala Datang
36 Bab 36 - Ayahnya
37 Bab 37 - Luna Tahu
38 Bab 38 - Baru Mulai
39 Bab 39 - Bunda Sedih?
40 Bab 40 - Om Papa Lily?
41 Bab 41 - Pulang Kemana?
42 Bab 42 - Lily Punya Papa
43 Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44 Bab 44 - Sama Papa
45 Bab 45 - Bola Basket
46 Bab 46 - Mobil Mogok
47 Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48 Bab 48 - Masuk Rumah
49 Bab 49 - Om Alif Datang
50 Bab 50 - Luna Menunggu
51 Bab 51 - Hari Minggu
52 Bab 52 - Mereka Aman
53 Bab 53 - Cerita Lily
54 Bab 54 - Memberi Waktu
55 Bab 55 - Garis Batas
56 Bab 56 - Cafe Luna
57 Bab 57 - Melanggar Batas
58 Bab 58 - Kebun Binatang
59 Bab 59 - Kakak Sahabat
60 Bab 60 - Tanpa Izin
61 Bab 61 - Pulang Terlambat
62 Bab 62 - Luna Marah
63 Bab 63 - Larangan
64 Bab 64 - Meja Dingin
65 Bab 65 - Sayang Kalian
66 Bab 66 - Pergi, Gala!
67 Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68 Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69 Bab 69 - Ke Rumah Papa
70 Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71 Bab 71 - Rumah Gala
72 Bab 72 - Kamar Berbeda
73 Bab 73 - Rumah Baru
74 Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75 Bab 75 - Kembalikan Lily
76 Bab 76 - Maafin Papa
77 Bab 77 - Sayang Bunda
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2
Bab 2 - Aluna Prameswari
3
Bab 3 - Seperti Keluarga
4
Bab 4 - Membuka Hati
5
Bab 5 - Perjodohan Alif
6
Bab 6 - Kembali Pulang
7
Bab 7 - Om Punya Anak?
8
Bab 8 - Bukan Papa Lily
9
Bab 9 - Tulip dan Matahari
10
Bab 10 - Family Time?
11
Bab 11 - Lily Hilang
12
Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13
Bab 13 - Retakan Kecil
14
Bab 14 - Kehadiran Alif
15
Bab 15 - Tetap Bertahan
16
Bab 16 - Kucing Ngambek
17
Bab 17 - Kerja Sama
18
Bab 18 - Bola Jatuh
19
Bab 19 - Anak Kamu
20
Bab 20 - Berat?
21
Bab 21 - Hari Berbeda
22
Bab 22 - Lily Sadar
23
Bab 23 - Pesawat Cepat
24
Bab 24 - Alif Jemput
25
Bab 25 - Seperti Biasa
26
Bab 26 - Bunga Atau Pita
27
Bab 27 - Sepatu Baru
28
Bab 28 - Gerai Es Krim
29
Bab 29 - Dijemput Gala
30
Bab 30 - Bunda Sibuk
31
Bab 31 - Dijemput Lagi
32
Bab 32 - Kontak Darurat
33
Bab 33 - Wali Kelas
34
Bab 34 - Lily Pingsan
35
Bab 35 - Gala Datang
36
Bab 36 - Ayahnya
37
Bab 37 - Luna Tahu
38
Bab 38 - Baru Mulai
39
Bab 39 - Bunda Sedih?
40
Bab 40 - Om Papa Lily?
41
Bab 41 - Pulang Kemana?
42
Bab 42 - Lily Punya Papa
43
Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44
Bab 44 - Sama Papa
45
Bab 45 - Bola Basket
46
Bab 46 - Mobil Mogok
47
Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48
Bab 48 - Masuk Rumah
49
Bab 49 - Om Alif Datang
50
Bab 50 - Luna Menunggu
51
Bab 51 - Hari Minggu
52
Bab 52 - Mereka Aman
53
Bab 53 - Cerita Lily
54
Bab 54 - Memberi Waktu
55
Bab 55 - Garis Batas
56
Bab 56 - Cafe Luna
57
Bab 57 - Melanggar Batas
58
Bab 58 - Kebun Binatang
59
Bab 59 - Kakak Sahabat
60
Bab 60 - Tanpa Izin
61
Bab 61 - Pulang Terlambat
62
Bab 62 - Luna Marah
63
Bab 63 - Larangan
64
Bab 64 - Meja Dingin
65
Bab 65 - Sayang Kalian
66
Bab 66 - Pergi, Gala!
67
Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68
Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69
Bab 69 - Ke Rumah Papa
70
Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71
Bab 71 - Rumah Gala
72
Bab 72 - Kamar Berbeda
73
Bab 73 - Rumah Baru
74
Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75
Bab 75 - Kembalikan Lily
76
Bab 76 - Maafin Papa
77
Bab 77 - Sayang Bunda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!