Alif bersiap lebih cepat dari biasanya. Pria berusia 29 tahun itu sudah siap dengan setelan jas hitam dan jam tangan di pergelangan tangannya.
Alif tersenyum kecil. Tidak sabar untuk menjemput Luna dan kedua anaknya sebelum pergi ke kantor. Dia bergegas keluar dari kamar.
Di meja makan, kedua orang tuanya sedang menyantap sarapan. Suasananya hening dan khidmat.
“Mom, Dad, Alif pergi dulu,” ucap Alif.
“Kamu tidak sarapan dulu, Alif?” tanya Alea.
Alif menggeleng. “Tidak, Mom. Alif langsung pergi saja.”
Alea memicing. “Kamu pasti mau menemui perempuan itu lagi?”
Alif menghela napas panjang. Perdebatan seperti ini tidak ada henti-hentinya.
“Perempuan itu punya nama, Bun. Namanya Luna.”
Alea meletakkan sendoknya di atas piring. “Mommy tidak peduli nama perempuan itu. Mommy tidak pernah menyukainya.”
“Mom,” ucap Alif lelah.
Alea menghela napas pelan. “Kamu duduk dulu. Mommy mau bicara serius dengan kamu."
Alif menurut, menarik satu kursi dan ikut duduk.
Alea menatap Alif. Tatapannya melembut. “Mommy ingin menjodohkan kamu dengan Zara, anak teman Mommy.”
Kedua bola mata Alif melebar sempurna. “Mom.”
“Dia perempuan baik-baik dari keluarga terpandang. Dia juga sangat cantik, baik, dan sopan.”
“Alif tidak mau Mom,” tolak Alif mentah-mentah.
“Mommy tidak tanya pendapat kamu sekarang Alif. Mommy mau kamu temui Zara. Dia sudah lama menyukai kamu.”
“Mom, Zara itu masih kuliah. Lagipula jarak umur Alif dengan Zara itu jauh.”
“Umur tidak menjadi masalah. Jarak umur Mommy dengan Daddy mu juga sepuluh tahun. Tidak ada masalah. Yang penting itu Zara perempuan baik-baik dan dari keluarga baik-baik.”
Alif bangun dari tempat duduknya. “Alif tidak mau, Mom.”
Alea menatap Alif tajam. “Lihatlah. Perempuan itu membawa pengaruh buruk pada kamu, Alif. Kamu jadi sering memotong dan membantah ucapan Mommy.”
“Itu sama sekali bukan karena Luna, Mommy,” jawab Alif tegas. Dadanya naik turun dengan cepat.
Suara dentingan sendok terdengar. Alea dan Alif menoleh pada Arya, ayah Alif. Dia sudah meletakkan sendoknya di atas piring. Tatapan matanya tertuju lurus ke depan.
“Kalian ini… selalu saja membuat nafsu makan Daddy hilang,” ucapnya penuh penekanan.
Daddy menatap Alif. “Kamu mau temui perempuan itu, kamu mau menikahinya, silahkan. Tapi Daddy harap kamu tahu konsekuensinya, termasuk posisi dan nama baik kamu yang jadi taruhannya.”
Alea terbelalak. “Tidak bisa begitu, Dad.”
Arya menoleh pada Alea dengan gerakan pelan. “Alif pria dewasa dan matang. Dia terbiasa mengambil keputusan besar. Dia juga bisa mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya, termasuk mencari pasangan yang dia inginkan.”
“Tapi dia memilih perempuan yang salah, Dad.”
Arya menatap lurus ke depan. “Pilihan itu benar atau salah, Alif akan tahu setelah memilihnya.”
...***...
Dasar perempuan murahan! Kamu pasti menggoda Gala untuk memeras hartanya, kan?!
Kamu mau mengikat Gala dengan anak haram itu?
Kasihan sekali Gala harus terjebak dengan jalang seperti kamu!
Perempuan rendahan seperti kamu itu tidak pantas untuk Gala! Dasar jalang!
Luna memejamkan mata. Kalimat itu sering kali masih terdengar di telinganya tanpa alasan.
Luna membuka matanya lagi. Tatapannya tertuju pada pantulan wajahnya di cermin. Luna baru saja selesai memakai make up, bersiap untuk pergi ke kantor.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Luna diketuk dari luar. Perlahan, pintu itu terbuka. El berdiri di ambang pintu. Tubuh kecilnya sudah terbalut seragam sekolah.
“Bunda," panggil El.
Luna menoleh. Senyumnya langsung mengembang sempurna. Dia bergeser sedikit menghadap El.
“You are so pretty, Bunda," ucap El tulus.
Luna tersenyum haru. “Thank you, my boy."
Luna memeluk El sejenak, mengusap lembut kepalanya.
“Are you looking for me?” tanya Luna.
El mengangguk. Da memegang lengan Luna. “Yes. It’s breakfast time. Let’s eat together! El sudah lama tidak sarapan bersama Bunda."
Luna terkekeh pelan. “Okay. Kita sarapan sama-sama ya."
El mengangguk semangat.
Luna bangun dari tempatnya. Tapi belum sempat dia melangkah, ponselnya berdering pelan. Luna mengarahkan layar ponselnya yang menunjukkan panggilan masuk kepada El.
“Hmm, I think I should answer this call first.”
Luna menatap El lagi, tersenyum lembut. “El makan dulu sama Lily, nanti Bunda menyusul ya."
El mengangguk. Dia berjalan cepat keluar dari kamar Luna.
Di meja makan, Lily sedang menyantap sarapannya tanpa minat. Wajahnya cemberut.
“Lily kenapa?" tanya El sambil duduk di sebelahnya.
Lily menghela napas pelan. “Lily pengen diantar Bunda ke sekolah. Bunda bisa nggak ya, El?"
“Bunda harus kerja, Lily. Lily nggak boleh manja,” balas El.
Lily mencebikkan bibirnya. “Pasti nanti Lily diledekin Gamma lagi karena diantar sopir ke sekolah."
Gamma adalah teman sekelas Lily. Lily sering dibuat menangis olehnya karena selalu meledek Lily tidak punya papa.
Hal yang membuat Lily selalu menanyakan keberadaan papanya pada Luna.
“Lily nggak usah ladenin kata Gamma."
Lily menatap El tajam. “Gamma duluan, El. Dia selalu cari gara-gara sama Lily.”
El berdecak pelan. “Lily susah dibilangin. Bunda jadi sedih kalau Lily tanya papa terus.”
“Tapi Lily pengen ketemu papa. Emang El nggak mau punya papa kayak temen-temen di sekolah?”
El terdiam sejenak.
“Halo, kesayangannya Om Alif!"
El dan Lily sontak menoleh ketika mendengar suara khas yang familiar itu.
Alif berdiri di ambang pintu dengan senyum hangat yang merekah.
“Om Alif!" seru Lily ceria.
El dan Lily melompat turun dari kursi dan segera menghampiri Alif. Mereka memeluk Alif erat.
Alif berjongkok dan membalas pelukan mereka. Kedua tangannya melingkar di punggung El dan Lily.
“Gimana tidur kalian? Nyenyak?”
El dan Lily mengangguk semangat.
“Nyenyak soalnya Om bacain dongeng sebelum tidur,” jawab Lily.
Alif tersenyum lembut. Dia mengedarkan pandangannya. “Bunda dimana?”
“Bunda lagi telepon di kamar,” jawab El.
Alif mengangguk semangat.
“Om anterin Lily ke sekolah ya, Om. Lily pengen diantar Om Alif,” pinta Lily pelan.
Alif tersenyum. Dia menoleh hidung Lily. “Iya, hari ini Om yang akan antar El dan Lily ke sekolah. Sama Bunda juga."
Kedua bola mata Lily membesar sempurna. “Ohya? Yeay! Lily senang sekali!" ucapnya sambil melompat-lompat girang.
El tetap diam, tapi bibirnya mengulas senyum senang.
“Alif.”
Alif menoleh ketika mendengar suara lembut dan hangat yang familiar di telinganya.
Luna berjalan menghampirinya.
Alif berdiri, tersenyum lembut, lalu menghampirinya.
“Kamu udah sampai,” ucap Luna lagi.
“Iya.”
Alif tersenyum, tapi senyuman itu tidak sampai di matanya. Luna dapat melihatnya.
“Apa ada masalah, Al?" tanya Luna hati-hati.
Alif menatap Luna, tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya… senang sekali.”
Luna tersenyum kecil.
Alif mengusap punggung Luna lembut. “Kamu tidur nyenyak tadi malam?”
Luna tersenyum. “Iya. Kamu udah sarapan belum?”
“Belum.”
“Kalau gitu kita sarapan sama-sama."
Alif tersenyum. “Memang itu tujuanku.”
Di tempatnya, El menyenggol lengan Lily. Tatapannya tetap tertuju pada Alif dan Luna yang berdiri di depannya.
“Sekarang, El memang nggak punya papa. Dan itu bukan salah siapa-siapa
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments