Bab 2 - Aluna Prameswari

Lift berhenti di lantai dua puluh tiga.

Pintu terbuka bersamaan dengan langkah Luna yang sudah siap bahkan sebelum lift itu berhenti. Langkahnya tenang dan stabil. Tidak tergesa tapi jelas. Sepatunya berdetak pelan dengan lantai marmer. Punggungnya tegak sempurna. Sorot mata tenang dan dingin tertuju lurus ke depan, tanpa menoleh ke kanan kiri.

Aluna Prameswari, begitu nama yang tertera di ID card miliknya. Tablet sudah di tangannya sejak tadi. Grafik dan angka bergerak cepat di layar. Perempuan berusia 27 tahun itu bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan internasional. 

“Selamat pagi, Bu Luna,” sapa seorang rekan kerja yang berpapasan dengannya.

Luna melirik sekilas tanpa memperlambat langkahnya. “Pagi.”

Lorong menuju ruang rapat cukup ramai pagi itu. Beberapa rekan kerja lain berjalan searah dan berlawanan arah dengan Luna.

Di depan jendela, dua orang rekan kerja terlihat sedang mengobrol. Tatapan mereka beralih ketika melihat Luna datang dari kejauhan.

“Itu Bu Luna, manajer keuangan termuda itu ya?” tanya seorang laki-laki pada temannya, perempuan.

Perempuan itu menoleh pada Luna. “Iya. Auranya beda banget ya,” gumam perempuan itu hampir kagum.

Laki-laki di sebelahnya mengangguk. “Mana cantik banget.”

“Iya, cantik.”

“Pasti udah punya suami,” ucap laki-laki itu.

Perempuan di sampingnya menggeleng. “Belum." 

“Oh belum." Senyum tipis tanpa sadar tersungging di wajah laki-laki itu.

“Tapi udah punya anak. Dua. Udah agak gede kok." 

Laki-laki itu menoleh. “Janda?" 

Perempuan itu menggeleng lagi. “Bukan. Dia belum pernah menikah. Ya… gitu deh." 

“Oh.” Laki-laki itu bergumam pelan.

Luna semakin mendekat ke arah mereka.

Perempuan itu tersenyum dan mengangguk singkat. “Pagi, Bu Luna.”

“Pagi,” jawab Luna singkat. 

Dia melangkah melewati dua orang itu. Percakapan mereka tentu saja didengar oleh Luna. Tapi dia tidak bereaksi apapun. Itu fakta. Lagipula Luna sudah terbiasa mendengar hal-hal seperti itu, bahkan lebih parah.

Luna berhenti di depan ruang rapat. Dia menarik napas dalam, kebiasaannya sebelum melakukan sesuatu yang besar. Luna mendorong pintu itu perlahan.

Ruang rapat itu sudah terisi setengah. Beberapa kepala menoleh ketika Luna masuk.

Luna duduk di kursinya. 

Tidak lama kemudian, rapat itu berlangsung.

Luna membuka file di tablet miliknya. File yang sama sekali sudah tidak asing baginya.

“Proyeksi kerugian kalau kita tunda ekspansi?” tanya Luna langsung.

Seorang staf menelan ludah. “Sekitar dua belas persen, Bu. Tapi risikonya—”

“Bisa ditekan dengan skema pembiayaan yang sudah saya kirim kemarin sore,” potong Luna. Suaranya datar.

Beberapa orang saling pandang.

“Atasan regional meminta kita lebih hati-hati. Mereka khawatir pasar belum stabil.”

Luna mengangkat wajahnya. Tatapannya membuat ruangan hening.

“Pasar tidak pernah stabil. Yang stabil itu keputusan. Masuk sekarang atau kita kehilangan kesempatan emas untuk enam bulan ke depan.”

Staf itu akhirnya mengangguk. “Baik. Kami ikuti rekomendasi anda." 

Rapat kembali berlangsung. Luna tidak banyak bicara, dia hanya berbicara ketika penting dan tidak bertele-tele.

“Bu Luna, nanti sore pihak bank meminta untuk mengadakan rapat dadakan. Ibu bisa hadir?" tanya seorang staf.

“Tidak. Kirimkan notulen dan angka finalnya saja.” 

“Tapi, Bu—

“Kamu bisa handle rapat itu sendiri. Jadwal saya sudah penuh,” jawab Luna tenang.

Staf itu mengangguk. “Baik, Bu." 

...***...

Sore datang tanpa terasa. Jam kerja sudah usai. Luna juga sudah menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Tidak ada lembur.

Dia keluar dari gedung perusahaan, mengambil mobilnya di basement, lalu pergi. 

Luna tidak langsung pulang. Dia mampir ke cafe tidak jauh dari gedung perusahaan. 

Luna tidak datang untuk bersantai, dia harus mengurus satu masalah di sana. Selain bekerja sebagai manajer keuangan, Luna memiliki satu bisnis cafe yang baru berdiri dua tahun terakhir. Itu bukan cafe premium, hanya cafe biasa yang berdiri di letak strategis sehingga pelanggannya cukup ramai.

Cafe itu dibangun tidak hanya dari tabungannya, setengah dananya didapatkan dari pinjaman modal kerja bank, sehingga Luna harus membayar cicilan cafe setiap bulannya.

Luna sampai di depan cafe yang berada di tepi jalan. Dia melangkah masuk. 

Kasir dan waiters yang sedang mengelap meja mengangguk hormat ketika Luna datang. 

Luna mengedarkan pandangan. Cafe itu tidak terlalu ramai, tapi hidup. Beberapa orang duduk di meja depan jendela besar sambil membuka laptop, beberapa duduk di sofa, beberapa lagi duduk di meja kayu di luar ruangan. 

AC menyala. Lampu tidak ada yang mati. Musik mengalun pelan.

Luna mendekat ke meja kasir. 

“Selamat sore, Bu Luna,” sapa kasir perempuan itu.

Luna mengangguk. “Sore. Kamu panggil Dimas.”

Kasir itu mengangguk, lalu pergi ke belakang memanggil supervisor operasional cafe. 

Sambil menunggu, Luna menatap ke arah dapur. Matanya dengan cepat mengecek bahan-bahan dan area cuci. Tidak ada cucian kotor ataupun sampah berantakan. Luna mengangguk kecil.

“Sore, Bu Luna." 

Luna menoleh. Dimas datang dengan membawa map tipis. Lengan kemejanya digulung hingga siku.

Dimas menyerahkan map itu pada Luna. Luna membuka halaman pertama.

“Penjualan stabil. Weekend kemarin naik, tapi weekday tetap sama.”

Luna membaca cepat, jarinya menahan satu halaman.

“Supplier susu naik harga. Mereka meminta penyesuaian mulai minggu depan.”

Luna berhenti sebentar. Alisnya sedikit berkerut, menghitung.

“Kontrak kita masih tiga bulan. Tolak kenaikan,” ucap Luna datar.

Dimas mencatat.

“Cari alternatif supplier. Bandingkan harga dan kualitas. Dua hari lagi saya mau lihat.”

“Baik, Bu.”

“Bagaimana laporan keuangan bulanan?" tanya Luna.

“Sudah saya siapkan di ruangan Ibu." 

Luna mengangguk. “Oke. Ikut saya ke belakang." 

Dimas mengangguk. Dia mengikuti langkah Luna menuju ke satu ruangan kecil di belakang. Ruang kerja Luna, tapi jarang Luna gunakan. Ruangan itu tidak besar hanya berisi meja kerja sederhana serta rak dan laci berisi file-file penting cafe.

Di ruangan itu Luna membahas hal-hal lebih detail tentang kondisi cafe dan keuangannya dengan Dimas.

Setelah cukup berdiskusi, Luna melangkah keluar dari ruangannya. Begitu juga dengan Dimas.

Luna kembali ke area cafe. Beberapa pengunjung sudah beranjak pergi. Karyawan mulai membereskan meja.

Ketika berjalan keluar, tatapan Luna tanpa sengaja berhenti di satu meja dekat jendela. Langkah Luna terhenti. 

Dia meja itu ada satu vas bunga berisi bunga lily putih.

Tatapan Luna tertahan pada bunga itu lebih lama dari yang seharusnya. Wajahnya datar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Setelah beberapa saat, Luna menoleh pada seorang karyawan yang sedang membersihkan meja di dekat Luna.

“Dito," panggil Luna.

Dito mendekat. “Iya, Ibu." 

“Mulai besok, bunga di meja diganti. Pakai daisy atau krisan saja yang tahan lama.”

Dito mengangguk. “Baik, Ibu.”

“Lily cepat layu dan banyak perawatan. Kita butuh yang praktis," lanjut Luna dengan suara profesional.

Luna kembali melanjutkan langkahnya keluar cafe. Baru ketika pintu cafe tertutup, wajahnya sedikit melunak. Dia berhenti sejenak di depan, menatap jalanan yang mulai padat. 

Tanpa menoleh ke belakang lagi, Luna berjalan menuju mobilnya, membiarkan bunga lily itu tetap berada di dalam cafe untuk terakhir kalinya.

...----------------...

Episodes
1 Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2 Bab 2 - Aluna Prameswari
3 Bab 3 - Seperti Keluarga
4 Bab 4 - Membuka Hati
5 Bab 5 - Perjodohan Alif
6 Bab 6 - Kembali Pulang
7 Bab 7 - Om Punya Anak?
8 Bab 8 - Bukan Papa Lily
9 Bab 9 - Tulip dan Matahari
10 Bab 10 - Family Time?
11 Bab 11 - Lily Hilang
12 Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13 Bab 13 - Retakan Kecil
14 Bab 14 - Kehadiran Alif
15 Bab 15 - Tetap Bertahan
16 Bab 16 - Kucing Ngambek
17 Bab 17 - Kerja Sama
18 Bab 18 - Bola Jatuh
19 Bab 19 - Anak Kamu
20 Bab 20 - Berat?
21 Bab 21 - Hari Berbeda
22 Bab 22 - Lily Sadar
23 Bab 23 - Pesawat Cepat
24 Bab 24 - Alif Jemput
25 Bab 25 - Seperti Biasa
26 Bab 26 - Bunga Atau Pita
27 Bab 27 - Sepatu Baru
28 Bab 28 - Gerai Es Krim
29 Bab 29 - Dijemput Gala
30 Bab 30 - Bunda Sibuk
31 Bab 31 - Dijemput Lagi
32 Bab 32 - Kontak Darurat
33 Bab 33 - Wali Kelas
34 Bab 34 - Lily Pingsan
35 Bab 35 - Gala Datang
36 Bab 36 - Ayahnya
37 Bab 37 - Luna Tahu
38 Bab 38 - Baru Mulai
39 Bab 39 - Bunda Sedih?
40 Bab 40 - Om Papa Lily?
41 Bab 41 - Pulang Kemana?
42 Bab 42 - Lily Punya Papa
43 Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44 Bab 44 - Sama Papa
45 Bab 45 - Bola Basket
46 Bab 46 - Mobil Mogok
47 Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48 Bab 48 - Masuk Rumah
49 Bab 49 - Om Alif Datang
50 Bab 50 - Luna Menunggu
51 Bab 51 - Hari Minggu
52 Bab 52 - Mereka Aman
53 Bab 53 - Cerita Lily
54 Bab 54 - Memberi Waktu
55 Bab 55 - Garis Batas
56 Bab 56 - Cafe Luna
57 Bab 57 - Melanggar Batas
58 Bab 58 - Kebun Binatang
59 Bab 59 - Kakak Sahabat
60 Bab 60 - Tanpa Izin
61 Bab 61 - Pulang Terlambat
62 Bab 62 - Luna Marah
63 Bab 63 - Larangan
64 Bab 64 - Meja Dingin
65 Bab 65 - Sayang Kalian
66 Bab 66 - Pergi, Gala!
67 Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68 Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69 Bab 69 - Ke Rumah Papa
70 Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71 Bab 71 - Rumah Gala
72 Bab 72 - Kamar Berbeda
73 Bab 73 - Rumah Baru
74 Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75 Bab 75 - Kembalikan Lily
76 Bab 76 - Maafin Papa
77 Bab 77 - Sayang Bunda
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2
Bab 2 - Aluna Prameswari
3
Bab 3 - Seperti Keluarga
4
Bab 4 - Membuka Hati
5
Bab 5 - Perjodohan Alif
6
Bab 6 - Kembali Pulang
7
Bab 7 - Om Punya Anak?
8
Bab 8 - Bukan Papa Lily
9
Bab 9 - Tulip dan Matahari
10
Bab 10 - Family Time?
11
Bab 11 - Lily Hilang
12
Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13
Bab 13 - Retakan Kecil
14
Bab 14 - Kehadiran Alif
15
Bab 15 - Tetap Bertahan
16
Bab 16 - Kucing Ngambek
17
Bab 17 - Kerja Sama
18
Bab 18 - Bola Jatuh
19
Bab 19 - Anak Kamu
20
Bab 20 - Berat?
21
Bab 21 - Hari Berbeda
22
Bab 22 - Lily Sadar
23
Bab 23 - Pesawat Cepat
24
Bab 24 - Alif Jemput
25
Bab 25 - Seperti Biasa
26
Bab 26 - Bunga Atau Pita
27
Bab 27 - Sepatu Baru
28
Bab 28 - Gerai Es Krim
29
Bab 29 - Dijemput Gala
30
Bab 30 - Bunda Sibuk
31
Bab 31 - Dijemput Lagi
32
Bab 32 - Kontak Darurat
33
Bab 33 - Wali Kelas
34
Bab 34 - Lily Pingsan
35
Bab 35 - Gala Datang
36
Bab 36 - Ayahnya
37
Bab 37 - Luna Tahu
38
Bab 38 - Baru Mulai
39
Bab 39 - Bunda Sedih?
40
Bab 40 - Om Papa Lily?
41
Bab 41 - Pulang Kemana?
42
Bab 42 - Lily Punya Papa
43
Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44
Bab 44 - Sama Papa
45
Bab 45 - Bola Basket
46
Bab 46 - Mobil Mogok
47
Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48
Bab 48 - Masuk Rumah
49
Bab 49 - Om Alif Datang
50
Bab 50 - Luna Menunggu
51
Bab 51 - Hari Minggu
52
Bab 52 - Mereka Aman
53
Bab 53 - Cerita Lily
54
Bab 54 - Memberi Waktu
55
Bab 55 - Garis Batas
56
Bab 56 - Cafe Luna
57
Bab 57 - Melanggar Batas
58
Bab 58 - Kebun Binatang
59
Bab 59 - Kakak Sahabat
60
Bab 60 - Tanpa Izin
61
Bab 61 - Pulang Terlambat
62
Bab 62 - Luna Marah
63
Bab 63 - Larangan
64
Bab 64 - Meja Dingin
65
Bab 65 - Sayang Kalian
66
Bab 66 - Pergi, Gala!
67
Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68
Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69
Bab 69 - Ke Rumah Papa
70
Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71
Bab 71 - Rumah Gala
72
Bab 72 - Kamar Berbeda
73
Bab 73 - Rumah Baru
74
Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75
Bab 75 - Kembalikan Lily
76
Bab 76 - Maafin Papa
77
Bab 77 - Sayang Bunda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!