Lift berhenti di lantai dua puluh tiga.
Pintu terbuka bersamaan dengan langkah Luna yang sudah siap bahkan sebelum lift itu berhenti. Langkahnya tenang dan stabil. Tidak tergesa tapi jelas. Sepatunya berdetak pelan dengan lantai marmer. Punggungnya tegak sempurna. Sorot mata tenang dan dingin tertuju lurus ke depan, tanpa menoleh ke kanan kiri.
Aluna Prameswari, begitu nama yang tertera di ID card miliknya. Tablet sudah di tangannya sejak tadi. Grafik dan angka bergerak cepat di layar. Perempuan berusia 27 tahun itu bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan internasional.
“Selamat pagi, Bu Luna,” sapa seorang rekan kerja yang berpapasan dengannya.
Luna melirik sekilas tanpa memperlambat langkahnya. “Pagi.”
Lorong menuju ruang rapat cukup ramai pagi itu. Beberapa rekan kerja lain berjalan searah dan berlawanan arah dengan Luna.
Di depan jendela, dua orang rekan kerja terlihat sedang mengobrol. Tatapan mereka beralih ketika melihat Luna datang dari kejauhan.
“Itu Bu Luna, manajer keuangan termuda itu ya?” tanya seorang laki-laki pada temannya, perempuan.
Perempuan itu menoleh pada Luna. “Iya. Auranya beda banget ya,” gumam perempuan itu hampir kagum.
Laki-laki di sebelahnya mengangguk. “Mana cantik banget.”
“Iya, cantik.”
“Pasti udah punya suami,” ucap laki-laki itu.
Perempuan di sampingnya menggeleng. “Belum."
“Oh belum." Senyum tipis tanpa sadar tersungging di wajah laki-laki itu.
“Tapi udah punya anak. Dua. Udah agak gede kok."
Laki-laki itu menoleh. “Janda?"
Perempuan itu menggeleng lagi. “Bukan. Dia belum pernah menikah. Ya… gitu deh."
“Oh.” Laki-laki itu bergumam pelan.
Luna semakin mendekat ke arah mereka.
Perempuan itu tersenyum dan mengangguk singkat. “Pagi, Bu Luna.”
“Pagi,” jawab Luna singkat.
Dia melangkah melewati dua orang itu. Percakapan mereka tentu saja didengar oleh Luna. Tapi dia tidak bereaksi apapun. Itu fakta. Lagipula Luna sudah terbiasa mendengar hal-hal seperti itu, bahkan lebih parah.
Luna berhenti di depan ruang rapat. Dia menarik napas dalam, kebiasaannya sebelum melakukan sesuatu yang besar. Luna mendorong pintu itu perlahan.
Ruang rapat itu sudah terisi setengah. Beberapa kepala menoleh ketika Luna masuk.
Luna duduk di kursinya.
Tidak lama kemudian, rapat itu berlangsung.
Luna membuka file di tablet miliknya. File yang sama sekali sudah tidak asing baginya.
“Proyeksi kerugian kalau kita tunda ekspansi?” tanya Luna langsung.
Seorang staf menelan ludah. “Sekitar dua belas persen, Bu. Tapi risikonya—”
“Bisa ditekan dengan skema pembiayaan yang sudah saya kirim kemarin sore,” potong Luna. Suaranya datar.
Beberapa orang saling pandang.
“Atasan regional meminta kita lebih hati-hati. Mereka khawatir pasar belum stabil.”
Luna mengangkat wajahnya. Tatapannya membuat ruangan hening.
“Pasar tidak pernah stabil. Yang stabil itu keputusan. Masuk sekarang atau kita kehilangan kesempatan emas untuk enam bulan ke depan.”
Staf itu akhirnya mengangguk. “Baik. Kami ikuti rekomendasi anda."
Rapat kembali berlangsung. Luna tidak banyak bicara, dia hanya berbicara ketika penting dan tidak bertele-tele.
“Bu Luna, nanti sore pihak bank meminta untuk mengadakan rapat dadakan. Ibu bisa hadir?" tanya seorang staf.
“Tidak. Kirimkan notulen dan angka finalnya saja.”
“Tapi, Bu—
“Kamu bisa handle rapat itu sendiri. Jadwal saya sudah penuh,” jawab Luna tenang.
Staf itu mengangguk. “Baik, Bu."
...***...
Sore datang tanpa terasa. Jam kerja sudah usai. Luna juga sudah menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Tidak ada lembur.
Dia keluar dari gedung perusahaan, mengambil mobilnya di basement, lalu pergi.
Luna tidak langsung pulang. Dia mampir ke cafe tidak jauh dari gedung perusahaan.
Luna tidak datang untuk bersantai, dia harus mengurus satu masalah di sana. Selain bekerja sebagai manajer keuangan, Luna memiliki satu bisnis cafe yang baru berdiri dua tahun terakhir. Itu bukan cafe premium, hanya cafe biasa yang berdiri di letak strategis sehingga pelanggannya cukup ramai.
Cafe itu dibangun tidak hanya dari tabungannya, setengah dananya didapatkan dari pinjaman modal kerja bank, sehingga Luna harus membayar cicilan cafe setiap bulannya.
Luna sampai di depan cafe yang berada di tepi jalan. Dia melangkah masuk.
Kasir dan waiters yang sedang mengelap meja mengangguk hormat ketika Luna datang.
Luna mengedarkan pandangan. Cafe itu tidak terlalu ramai, tapi hidup. Beberapa orang duduk di meja depan jendela besar sambil membuka laptop, beberapa duduk di sofa, beberapa lagi duduk di meja kayu di luar ruangan.
AC menyala. Lampu tidak ada yang mati. Musik mengalun pelan.
Luna mendekat ke meja kasir.
“Selamat sore, Bu Luna,” sapa kasir perempuan itu.
Luna mengangguk. “Sore. Kamu panggil Dimas.”
Kasir itu mengangguk, lalu pergi ke belakang memanggil supervisor operasional cafe.
Sambil menunggu, Luna menatap ke arah dapur. Matanya dengan cepat mengecek bahan-bahan dan area cuci. Tidak ada cucian kotor ataupun sampah berantakan. Luna mengangguk kecil.
“Sore, Bu Luna."
Luna menoleh. Dimas datang dengan membawa map tipis. Lengan kemejanya digulung hingga siku.
Dimas menyerahkan map itu pada Luna. Luna membuka halaman pertama.
“Penjualan stabil. Weekend kemarin naik, tapi weekday tetap sama.”
Luna membaca cepat, jarinya menahan satu halaman.
“Supplier susu naik harga. Mereka meminta penyesuaian mulai minggu depan.”
Luna berhenti sebentar. Alisnya sedikit berkerut, menghitung.
“Kontrak kita masih tiga bulan. Tolak kenaikan,” ucap Luna datar.
Dimas mencatat.
“Cari alternatif supplier. Bandingkan harga dan kualitas. Dua hari lagi saya mau lihat.”
“Baik, Bu.”
“Bagaimana laporan keuangan bulanan?" tanya Luna.
“Sudah saya siapkan di ruangan Ibu."
Luna mengangguk. “Oke. Ikut saya ke belakang."
Dimas mengangguk. Dia mengikuti langkah Luna menuju ke satu ruangan kecil di belakang. Ruang kerja Luna, tapi jarang Luna gunakan. Ruangan itu tidak besar hanya berisi meja kerja sederhana serta rak dan laci berisi file-file penting cafe.
Di ruangan itu Luna membahas hal-hal lebih detail tentang kondisi cafe dan keuangannya dengan Dimas.
Setelah cukup berdiskusi, Luna melangkah keluar dari ruangannya. Begitu juga dengan Dimas.
Luna kembali ke area cafe. Beberapa pengunjung sudah beranjak pergi. Karyawan mulai membereskan meja.
Ketika berjalan keluar, tatapan Luna tanpa sengaja berhenti di satu meja dekat jendela. Langkah Luna terhenti.
Dia meja itu ada satu vas bunga berisi bunga lily putih.
Tatapan Luna tertahan pada bunga itu lebih lama dari yang seharusnya. Wajahnya datar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Setelah beberapa saat, Luna menoleh pada seorang karyawan yang sedang membersihkan meja di dekat Luna.
“Dito," panggil Luna.
Dito mendekat. “Iya, Ibu."
“Mulai besok, bunga di meja diganti. Pakai daisy atau krisan saja yang tahan lama.”
Dito mengangguk. “Baik, Ibu.”
“Lily cepat layu dan banyak perawatan. Kita butuh yang praktis," lanjut Luna dengan suara profesional.
Luna kembali melanjutkan langkahnya keluar cafe. Baru ketika pintu cafe tertutup, wajahnya sedikit melunak. Dia berhenti sejenak di depan, menatap jalanan yang mulai padat.
Tanpa menoleh ke belakang lagi, Luna berjalan menuju mobilnya, membiarkan bunga lily itu tetap berada di dalam cafe untuk terakhir kalinya.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments