Bab 4 - Membuka Hati

Alif berada cukup lama rumah Luna. Dia membantu El dan Lily belajar, tertawa pelan ketika Lily melakukan hal aneh, lalu melerai ketika mereka berdebat.

Seperti seorang ayah pada anaknya.

Di sisi lain, Luna duduk menghadap mereka. Di depannya ada laptop yang menyala. Luna fokus mengerjakan pekerjaannya, sesekali melirik El, Lily, dan Alif, lalu kembali fokus.

“Bunda, we’re going to sleep now,” ucap El sambil berjalan mendekati Luna.

Lily mengangguk di sampingnya. Tangannya menggandeng Alif. "Om Alif temenin tidur. Iya, kan, Om?" 

Lily menoleh pada Alif. Alif mengangguk sambil tersenyum.

“Alright, sleep well and don’t stay up too late,” jawab Luna.

El dan Lily mengangguk cepat. 

El menoleh pada Lily, memicing. "Lily tahu Bunda ngomong apa?”

Lily menggeleng cepat. Senyuman tetap terulas di bibirnya. “Pokoknya intinya tidur." 

Luna terkekeh, mengusap rambut Lily lembut. “Iya, tidur yang nyenyak dan jangan begadang. Jangan buat Om Alif nemenin terlalu lama.”

Lily mengangguk semangat. 

El mencium pipi Luna. “Good night, Bunda.” 

Lily ikut. “Good night, Bunda." 

“Good night, my dear." 

El dan Lily berlari menuju kamarnya.

Alif mendekat, senyum terulas hangat di bibir. Dia mengusap lembut puncak kepala Luna. “Sebentar ya, aku temenin anak-anak tidur dulu." 

Luna balas menatap Alif, lalu tersenyum. “Makasih, Alif." 

Alif mengangguk.

“Om! Ayo temenin kita tidur!" Kepala Lily menyembul dari balik pintu kamar.

“Iya," balas Alif.

Dia menoleh pada Luna lagi. Tatapan hangatnya tertuju lurus pada Luna. Dia mengusap lembut puncak kepala Luna sekali lagi, lalu berjalan ke kamar menyusul El dan Lily.

...***...

Setelah beberapa saat, Alif keluar dari kamar El dan Lily, lalu menghampiri Luna. 

Luna masih sibuk dengan aktivitasnya. Cahaya layar laptop menerangi wajahnya yang serius. Jari-jarinya bergerak cepat menari di atas keyboard.

“El dan Lily sudah tidur nyenyak,” suara Alif mengisi keheningan.

Luna menoleh, tersenyum.

“Kamu harusnya istirahat juga, Luna.”

Tangan Alif terulur mengusap punggung Luna lembut.

Luna menggeleng. “Ini harus selesai malam ini, Al. Besok aku nggak akan punya waktu.”

Alif menarik kurus di sebelah Luna, lalu duduk tanpa suara.

Beberapa menit berlalu, Luna berhenti mengetik. Matanya melembut, dia memejamkan mata sejenak. 

Alif mengulurkan tangan, meraih tangan Luna dengan perlahan. “Tanganmu dingin.”

Luna membuka mata, menoleh pada Alif. Ada ketulusan di matanya yang membuat dada Luna berdebar. Tapi rasa itu selalu datang dengan rasa nyeri halus.

Meskipun begitu, Luna tidak menolak genggaman tangan itu.

Alif tersenyum. Jemarinya mengusap punggung tangan Luna. 

“Kamu kesulitan? Ada yang bisa aku bantu?" 

Luna menatap Alif lama, lalu beralih menatap layar laptopnya.

“Penjualan di cafe tiga bulan terakhir ini stagnan, sementara harga bahan baku naik. Setelah dikurang pembayaran cicilan ke bank, aku takut laba bulan ini nggak akan cukup untuk menutup biaya operasional bulan depan. Sementara aku nggak bisa menaikkan harga lagi,” ucap Luna.

“Boleh aku lihat laporannya?”

Luna mengangguk. Dia menggeser laptopnya ke arah Alif, agar Alif bisa ikut membaca. 

Alif mengamati layar laptop Luna dengan seksama. “Kamu ada data tren pengunjung harian dan demografis pelanggan?”

Luna mengangguk. Dia menarik laptopnya lagi, lalu membuka satu file lain. 

Alif membacanya lagi dengan cepat.

“Tiga bulan ini terjadi penurunan pelanggan di weekdays dan weekend cenderung stabil. Sepertinya kamu perlu menyesuaikan strategi pemasaran lagi,” ucap Alif.

Luna mengerutkan kening. 

Alif menunjuk satu angka di layar, lalu mulai menjelaskan perlahan kepada Luna. 

Luna menatap layar itu sembari mendengarkan, kemudian sesekali menoleh pada Alif sambil mengangguk. 

Luna menatap layar laptopnya, mengetik dengan cepat tentang strategi pemasaran yang baru. Sesekali dia menoleh pada Alif. Alif hanya mengangguk.

Beberapa saat berlalu, Alif bangun dari tempat duduknya, beralih ke belakang Luna agar bisa melihat layar laptopnya dengan lebih jelas. 

Alif sedikit membungkuk, menunjuk satu angka di layar laptop yang nyaris terlewat oleh Luna. Luna meringis kecil menyadari itu.

Luna segera memperbaikinya dengan dipantau oleh Alif. 

Setelah beberapa saat, pekerjaannya selesai. Luna menghela napas panjang, lega.

Alif ikut tersenyum.

“Akhirnya. Makasih, Alif," ucap Luna.

Luna menoleh perlahan. Tatapannya berhenti pada wajah Alif yang berada tidak jauh dari bahunya. 

Alif balas menatapnya penuh arti. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain. 

Hening. Hanya terdengar suara detak jam dinding dan napas mereka yang nyaris saling menyentuh. 

Pandangan Alif turun ke bibir Luna. Alif menahan napas sejenak.

Dengan hati-hati, dia mengangkat tangan, ujung jarinya menyentuh pipi Luna dengan lembut. Luna membeku, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Aku ada disini. Sama kamu," bisik Alif dengan suara rendah.

Luna masih tidak bergerak. Tatapan matanya terkunci pada Alif. Hatinya bergolak hebat. Bukan karena Luna tidak mencintainya, bukan juga karena Luna mencintainya. Entahlah. Luna tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan pada Alif. Tapi rasanya semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Ditambah semua luka lama dan kemarahan yang belum usai. 

Ada satu ruang kosong di hatinya yang belum benar-benar terisi dengan kehadiran Alif. Tapi kehadiran Alif mengisi banyak ruang kosong di hatinya.

Perlahan, Alif mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Luna. Kecupannya hangat dan lembut.

Luna memejamkan mata. Diam. Tidak membalas, tidak juga menolak kecupan itu. 

Alif menyadarinya. Jadi, dia segera menjauhkan wajahnya.

Namun Luna memegang lengannya. Gerakan ringan yang membuat Alif berhenti untuk mundur.

Luna kembali merapatkan bibirnya dengan bibir Alif, menghilangkan jarak yang ada. Tidak hanya menyentuh, Luna mencium bibir Alif dengan lembut, penuh keraguan namun begitu tulus. Ciuman itu membawa hangat dan dingin bersamaan, membuka pintu yang selama ini terkunci rapat di dalam hatinya.

Mungkin, aku harus membuka hatiku dan menerima Alif, bisik Luna dalam hatinya.

Alif terdiam sejenak. Tidak menyangka akan hal itu. Tapi dia juga bahagia.

Tangannya segera beralih menahan tengkuk Luna, lalu membalas ciuman itu dengan hangat dan lembut. 

...***...

Alif pulang ke rumahnya dengan wajah berseri-seri. Senyumnya tidak kunjung pudar. Sesekali dia menyentuh bibir bawahnya, lalu menutup wajah sambil terkekeh pelan.

Itu adalah ciuman pertama mereka, bagaimana Alif tidak bahagia?

“Ehem." 

Suara deheman pelan menghancurkan euforia kebahagiaan Alif. Alif menoleh ke depan dan baru menyadari bahwa Alea, ibunya, sudah duduk di sofa dengan sorot dingin tertuju lurus padanya. Kakinya bersilang santai, tapi rahangnya terlihat sedikit mengeras.

“Mommy," panggil Alif pelan.

Alif melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul satu pagi. 

“Kenapa Mommy belum tidur? Ini sudah jam satu malam.”

“Seharusnya Mommy yang tanya sama kamu. Pesawat kamu mendarat jam setengah lima sore. Sedangkan kamu baru sampai rumah jam satu malam.”

Alif diam. 

Alea menghela napas panjang, frustasi dengan kelakukan putra sulungnya. Dia meluruskan kaki. Tatapannya tetap tertuju pada Alif.

“Mommy mengirimkan sopir bukan menjemput koper kamu saja, Alif. Kamu malah pergi bawa mobil, meminta sopir kita pulang membawa koper kamu naik taksi. Sedangkan kamu?" 

Alea berdecak pelan. “Kamu pasti pergi ke rumah perempuan itu lagi, kan, Alif." 

“Mom–

“Kamu tahu Mommy tidak setuju kamu dekat dengannya. Dia tidak pantas untuk kamu, Alif. Dia hanya seorang single mom tanpa ikatan yang jelas. Dia bukan perempuan baik-baik Alif.”

Tatapan Alif yang tadi hangat berubah dingin. “Jangan bicara seperti itu tentang Luna, Mom. Luna perempuan baik-baik." 

Alea berdiri, menatap Alif tajam. "Kalau dia perempuan baik-baik, dia tidak akan punya anak tanpa ikatan pernikahan, Alif.”

“Itu hanya masa lalu–

“Tapi masa lalu itu menunjukkan bagaimana buruknya perilaku dia sebagai seorang perempuan.”

...----------------...

Terpopuler

Comments

R⁷

R⁷

waaahh blm apa2 sudah di hina

2026-03-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2 Bab 2 - Aluna Prameswari
3 Bab 3 - Seperti Keluarga
4 Bab 4 - Membuka Hati
5 Bab 5 - Perjodohan Alif
6 Bab 6 - Kembali Pulang
7 Bab 7 - Om Punya Anak?
8 Bab 8 - Bukan Papa Lily
9 Bab 9 - Tulip dan Matahari
10 Bab 10 - Family Time?
11 Bab 11 - Lily Hilang
12 Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13 Bab 13 - Retakan Kecil
14 Bab 14 - Kehadiran Alif
15 Bab 15 - Tetap Bertahan
16 Bab 16 - Kucing Ngambek
17 Bab 17 - Kerja Sama
18 Bab 18 - Bola Jatuh
19 Bab 19 - Anak Kamu
20 Bab 20 - Berat?
21 Bab 21 - Hari Berbeda
22 Bab 22 - Lily Sadar
23 Bab 23 - Pesawat Cepat
24 Bab 24 - Alif Jemput
25 Bab 25 - Seperti Biasa
26 Bab 26 - Bunga Atau Pita
27 Bab 27 - Sepatu Baru
28 Bab 28 - Gerai Es Krim
29 Bab 29 - Dijemput Gala
30 Bab 30 - Bunda Sibuk
31 Bab 31 - Dijemput Lagi
32 Bab 32 - Kontak Darurat
33 Bab 33 - Wali Kelas
34 Bab 34 - Lily Pingsan
35 Bab 35 - Gala Datang
36 Bab 36 - Ayahnya
37 Bab 37 - Luna Tahu
38 Bab 38 - Baru Mulai
39 Bab 39 - Bunda Sedih?
40 Bab 40 - Om Papa Lily?
41 Bab 41 - Pulang Kemana?
42 Bab 42 - Lily Punya Papa
43 Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44 Bab 44 - Sama Papa
45 Bab 45 - Bola Basket
46 Bab 46 - Mobil Mogok
47 Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48 Bab 48 - Masuk Rumah
49 Bab 49 - Om Alif Datang
50 Bab 50 - Luna Menunggu
51 Bab 51 - Hari Minggu
52 Bab 52 - Mereka Aman
53 Bab 53 - Cerita Lily
54 Bab 54 - Memberi Waktu
55 Bab 55 - Garis Batas
56 Bab 56 - Cafe Luna
57 Bab 57 - Melanggar Batas
58 Bab 58 - Kebun Binatang
59 Bab 59 - Kakak Sahabat
60 Bab 60 - Tanpa Izin
61 Bab 61 - Pulang Terlambat
62 Bab 62 - Luna Marah
63 Bab 63 - Larangan
64 Bab 64 - Meja Dingin
65 Bab 65 - Sayang Kalian
66 Bab 66 - Pergi, Gala!
67 Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68 Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69 Bab 69 - Ke Rumah Papa
70 Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71 Bab 71 - Rumah Gala
72 Bab 72 - Kamar Berbeda
73 Bab 73 - Rumah Baru
74 Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75 Bab 75 - Kembalikan Lily
76 Bab 76 - Maafin Papa
77 Bab 77 - Sayang Bunda
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2
Bab 2 - Aluna Prameswari
3
Bab 3 - Seperti Keluarga
4
Bab 4 - Membuka Hati
5
Bab 5 - Perjodohan Alif
6
Bab 6 - Kembali Pulang
7
Bab 7 - Om Punya Anak?
8
Bab 8 - Bukan Papa Lily
9
Bab 9 - Tulip dan Matahari
10
Bab 10 - Family Time?
11
Bab 11 - Lily Hilang
12
Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13
Bab 13 - Retakan Kecil
14
Bab 14 - Kehadiran Alif
15
Bab 15 - Tetap Bertahan
16
Bab 16 - Kucing Ngambek
17
Bab 17 - Kerja Sama
18
Bab 18 - Bola Jatuh
19
Bab 19 - Anak Kamu
20
Bab 20 - Berat?
21
Bab 21 - Hari Berbeda
22
Bab 22 - Lily Sadar
23
Bab 23 - Pesawat Cepat
24
Bab 24 - Alif Jemput
25
Bab 25 - Seperti Biasa
26
Bab 26 - Bunga Atau Pita
27
Bab 27 - Sepatu Baru
28
Bab 28 - Gerai Es Krim
29
Bab 29 - Dijemput Gala
30
Bab 30 - Bunda Sibuk
31
Bab 31 - Dijemput Lagi
32
Bab 32 - Kontak Darurat
33
Bab 33 - Wali Kelas
34
Bab 34 - Lily Pingsan
35
Bab 35 - Gala Datang
36
Bab 36 - Ayahnya
37
Bab 37 - Luna Tahu
38
Bab 38 - Baru Mulai
39
Bab 39 - Bunda Sedih?
40
Bab 40 - Om Papa Lily?
41
Bab 41 - Pulang Kemana?
42
Bab 42 - Lily Punya Papa
43
Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44
Bab 44 - Sama Papa
45
Bab 45 - Bola Basket
46
Bab 46 - Mobil Mogok
47
Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48
Bab 48 - Masuk Rumah
49
Bab 49 - Om Alif Datang
50
Bab 50 - Luna Menunggu
51
Bab 51 - Hari Minggu
52
Bab 52 - Mereka Aman
53
Bab 53 - Cerita Lily
54
Bab 54 - Memberi Waktu
55
Bab 55 - Garis Batas
56
Bab 56 - Cafe Luna
57
Bab 57 - Melanggar Batas
58
Bab 58 - Kebun Binatang
59
Bab 59 - Kakak Sahabat
60
Bab 60 - Tanpa Izin
61
Bab 61 - Pulang Terlambat
62
Bab 62 - Luna Marah
63
Bab 63 - Larangan
64
Bab 64 - Meja Dingin
65
Bab 65 - Sayang Kalian
66
Bab 66 - Pergi, Gala!
67
Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68
Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69
Bab 69 - Ke Rumah Papa
70
Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71
Bab 71 - Rumah Gala
72
Bab 72 - Kamar Berbeda
73
Bab 73 - Rumah Baru
74
Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75
Bab 75 - Kembalikan Lily
76
Bab 76 - Maafin Papa
77
Bab 77 - Sayang Bunda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!