Alif berada cukup lama rumah Luna. Dia membantu El dan Lily belajar, tertawa pelan ketika Lily melakukan hal aneh, lalu melerai ketika mereka berdebat.
Seperti seorang ayah pada anaknya.
Di sisi lain, Luna duduk menghadap mereka. Di depannya ada laptop yang menyala. Luna fokus mengerjakan pekerjaannya, sesekali melirik El, Lily, dan Alif, lalu kembali fokus.
“Bunda, we’re going to sleep now,” ucap El sambil berjalan mendekati Luna.
Lily mengangguk di sampingnya. Tangannya menggandeng Alif. "Om Alif temenin tidur. Iya, kan, Om?"
Lily menoleh pada Alif. Alif mengangguk sambil tersenyum.
“Alright, sleep well and don’t stay up too late,” jawab Luna.
El dan Lily mengangguk cepat.
El menoleh pada Lily, memicing. "Lily tahu Bunda ngomong apa?”
Lily menggeleng cepat. Senyuman tetap terulas di bibirnya. “Pokoknya intinya tidur."
Luna terkekeh, mengusap rambut Lily lembut. “Iya, tidur yang nyenyak dan jangan begadang. Jangan buat Om Alif nemenin terlalu lama.”
Lily mengangguk semangat.
El mencium pipi Luna. “Good night, Bunda.”
Lily ikut. “Good night, Bunda."
“Good night, my dear."
El dan Lily berlari menuju kamarnya.
Alif mendekat, senyum terulas hangat di bibir. Dia mengusap lembut puncak kepala Luna. “Sebentar ya, aku temenin anak-anak tidur dulu."
Luna balas menatap Alif, lalu tersenyum. “Makasih, Alif."
Alif mengangguk.
“Om! Ayo temenin kita tidur!" Kepala Lily menyembul dari balik pintu kamar.
“Iya," balas Alif.
Dia menoleh pada Luna lagi. Tatapan hangatnya tertuju lurus pada Luna. Dia mengusap lembut puncak kepala Luna sekali lagi, lalu berjalan ke kamar menyusul El dan Lily.
...***...
Setelah beberapa saat, Alif keluar dari kamar El dan Lily, lalu menghampiri Luna.
Luna masih sibuk dengan aktivitasnya. Cahaya layar laptop menerangi wajahnya yang serius. Jari-jarinya bergerak cepat menari di atas keyboard.
“El dan Lily sudah tidur nyenyak,” suara Alif mengisi keheningan.
Luna menoleh, tersenyum.
“Kamu harusnya istirahat juga, Luna.”
Tangan Alif terulur mengusap punggung Luna lembut.
Luna menggeleng. “Ini harus selesai malam ini, Al. Besok aku nggak akan punya waktu.”
Alif menarik kurus di sebelah Luna, lalu duduk tanpa suara.
Beberapa menit berlalu, Luna berhenti mengetik. Matanya melembut, dia memejamkan mata sejenak.
Alif mengulurkan tangan, meraih tangan Luna dengan perlahan. “Tanganmu dingin.”
Luna membuka mata, menoleh pada Alif. Ada ketulusan di matanya yang membuat dada Luna berdebar. Tapi rasa itu selalu datang dengan rasa nyeri halus.
Meskipun begitu, Luna tidak menolak genggaman tangan itu.
Alif tersenyum. Jemarinya mengusap punggung tangan Luna.
“Kamu kesulitan? Ada yang bisa aku bantu?"
Luna menatap Alif lama, lalu beralih menatap layar laptopnya.
“Penjualan di cafe tiga bulan terakhir ini stagnan, sementara harga bahan baku naik. Setelah dikurang pembayaran cicilan ke bank, aku takut laba bulan ini nggak akan cukup untuk menutup biaya operasional bulan depan. Sementara aku nggak bisa menaikkan harga lagi,” ucap Luna.
“Boleh aku lihat laporannya?”
Luna mengangguk. Dia menggeser laptopnya ke arah Alif, agar Alif bisa ikut membaca.
Alif mengamati layar laptop Luna dengan seksama. “Kamu ada data tren pengunjung harian dan demografis pelanggan?”
Luna mengangguk. Dia menarik laptopnya lagi, lalu membuka satu file lain.
Alif membacanya lagi dengan cepat.
“Tiga bulan ini terjadi penurunan pelanggan di weekdays dan weekend cenderung stabil. Sepertinya kamu perlu menyesuaikan strategi pemasaran lagi,” ucap Alif.
Luna mengerutkan kening.
Alif menunjuk satu angka di layar, lalu mulai menjelaskan perlahan kepada Luna.
Luna menatap layar itu sembari mendengarkan, kemudian sesekali menoleh pada Alif sambil mengangguk.
Luna menatap layar laptopnya, mengetik dengan cepat tentang strategi pemasaran yang baru. Sesekali dia menoleh pada Alif. Alif hanya mengangguk.
Beberapa saat berlalu, Alif bangun dari tempat duduknya, beralih ke belakang Luna agar bisa melihat layar laptopnya dengan lebih jelas.
Alif sedikit membungkuk, menunjuk satu angka di layar laptop yang nyaris terlewat oleh Luna. Luna meringis kecil menyadari itu.
Luna segera memperbaikinya dengan dipantau oleh Alif.
Setelah beberapa saat, pekerjaannya selesai. Luna menghela napas panjang, lega.
Alif ikut tersenyum.
“Akhirnya. Makasih, Alif," ucap Luna.
Luna menoleh perlahan. Tatapannya berhenti pada wajah Alif yang berada tidak jauh dari bahunya.
Alif balas menatapnya penuh arti. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain.
Hening. Hanya terdengar suara detak jam dinding dan napas mereka yang nyaris saling menyentuh.
Pandangan Alif turun ke bibir Luna. Alif menahan napas sejenak.
Dengan hati-hati, dia mengangkat tangan, ujung jarinya menyentuh pipi Luna dengan lembut. Luna membeku, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aku ada disini. Sama kamu," bisik Alif dengan suara rendah.
Luna masih tidak bergerak. Tatapan matanya terkunci pada Alif. Hatinya bergolak hebat. Bukan karena Luna tidak mencintainya, bukan juga karena Luna mencintainya. Entahlah. Luna tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan pada Alif. Tapi rasanya semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Ditambah semua luka lama dan kemarahan yang belum usai.
Ada satu ruang kosong di hatinya yang belum benar-benar terisi dengan kehadiran Alif. Tapi kehadiran Alif mengisi banyak ruang kosong di hatinya.
Perlahan, Alif mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Luna. Kecupannya hangat dan lembut.
Luna memejamkan mata. Diam. Tidak membalas, tidak juga menolak kecupan itu.
Alif menyadarinya. Jadi, dia segera menjauhkan wajahnya.
Namun Luna memegang lengannya. Gerakan ringan yang membuat Alif berhenti untuk mundur.
Luna kembali merapatkan bibirnya dengan bibir Alif, menghilangkan jarak yang ada. Tidak hanya menyentuh, Luna mencium bibir Alif dengan lembut, penuh keraguan namun begitu tulus. Ciuman itu membawa hangat dan dingin bersamaan, membuka pintu yang selama ini terkunci rapat di dalam hatinya.
Mungkin, aku harus membuka hatiku dan menerima Alif, bisik Luna dalam hatinya.
Alif terdiam sejenak. Tidak menyangka akan hal itu. Tapi dia juga bahagia.
Tangannya segera beralih menahan tengkuk Luna, lalu membalas ciuman itu dengan hangat dan lembut.
...***...
Alif pulang ke rumahnya dengan wajah berseri-seri. Senyumnya tidak kunjung pudar. Sesekali dia menyentuh bibir bawahnya, lalu menutup wajah sambil terkekeh pelan.
Itu adalah ciuman pertama mereka, bagaimana Alif tidak bahagia?
“Ehem."
Suara deheman pelan menghancurkan euforia kebahagiaan Alif. Alif menoleh ke depan dan baru menyadari bahwa Alea, ibunya, sudah duduk di sofa dengan sorot dingin tertuju lurus padanya. Kakinya bersilang santai, tapi rahangnya terlihat sedikit mengeras.
“Mommy," panggil Alif pelan.
Alif melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul satu pagi.
“Kenapa Mommy belum tidur? Ini sudah jam satu malam.”
“Seharusnya Mommy yang tanya sama kamu. Pesawat kamu mendarat jam setengah lima sore. Sedangkan kamu baru sampai rumah jam satu malam.”
Alif diam.
Alea menghela napas panjang, frustasi dengan kelakukan putra sulungnya. Dia meluruskan kaki. Tatapannya tetap tertuju pada Alif.
“Mommy mengirimkan sopir bukan menjemput koper kamu saja, Alif. Kamu malah pergi bawa mobil, meminta sopir kita pulang membawa koper kamu naik taksi. Sedangkan kamu?"
Alea berdecak pelan. “Kamu pasti pergi ke rumah perempuan itu lagi, kan, Alif."
“Mom–
“Kamu tahu Mommy tidak setuju kamu dekat dengannya. Dia tidak pantas untuk kamu, Alif. Dia hanya seorang single mom tanpa ikatan yang jelas. Dia bukan perempuan baik-baik Alif.”
Tatapan Alif yang tadi hangat berubah dingin. “Jangan bicara seperti itu tentang Luna, Mom. Luna perempuan baik-baik."
Alea berdiri, menatap Alif tajam. "Kalau dia perempuan baik-baik, dia tidak akan punya anak tanpa ikatan pernikahan, Alif.”
“Itu hanya masa lalu–
“Tapi masa lalu itu menunjukkan bagaimana buruknya perilaku dia sebagai seorang perempuan.”
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
R⁷
waaahh blm apa2 sudah di hina
2026-03-02
0