Jam kerja sudah usai. Semua pekerjaan Luna sudah selesai. Dia segera membereskan barang-barangnya, lalu keluar dari gedung perusahaan.
Di depan pintu keluar, langkah Luna terhenti.
Seorang laki-laki berdiri beberapa meter di depannya. Posturnya tegap dengan kemeja putih panjang yang digulung hingga siku, menampilkan otot-otot lengannya. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya terlihat lelah tapi senyum hangat tercipta di wajahnya.
“Alif," panggil Luna.
Alif tersenyum semakin lebar.
Luna segera mendekatinya. Dia berhenti satu langkah di depan Alif. Ada binar kecil di matanya.
“Alif, kamu kok ada di sini? Bukannya kamu masih di luar negeri?"
“Kejutan," ucap Alif ceria.
Luna mengerutkan kening.
Alif terkekeh pelan. “Urusanku selesai lebih cepat, jadi aku bisa pulang cepat."
Luna memicing. “Kamu pasti memaksakan jadwal ya?"
“Sedikit."
Luna menghela napas pelan.
Alif memiringkan kepala, menatap Luna lebih lekat. “Aku nggak suka lama-lama disana. Sepi."
“Kan ada sekretaris kamu."
Alif tertawa pelan. “Beda dong. Sekretaris itu urusan kerja. Sepi itu urusan lain."
Alif Jonathan Wijaya. Dia adalah seorang CEO di perusahaan keluarga yang bergerak di bidang fintech.
Luna mengenalnya sudah cukup lama, sudah lima tahun. Mereka pertama kali bertemu di salah satu seminar bisnis ketika Luna baru saja kembali kuliah setelah melahirkan El dan Lily. Setelah itu, mereka menjadi sering bertemu, bahkan Alif sering kali datang ke rumahnya untuk bermain dengan El dan Lily yang saat itu masih balita sampai sekarang.
Alif menemaninya di saat hidupnya berat. Menjadi ibu baru tanpa suami, berkuliah, dan bekerja sampingan untuk membayar biaya kuliah karena beasiswanya dicabut.
Alif selalu menemaninya.
Luna menatap Alif dengan lembut. “Kamu kapan sampai?”
“Baru aja.”
“Baru? Terus langsung ke sini?” tanya Luna terkejut.
Alif mengangguk tanpa ragu.
“Alif, kamu seharusnya pulang dulu. Istirahat di rumah.”
Alif tersenyum tipis. Matanya menatap dalam ke arah Luna. “Aku tahu. Tapi aku tidak bisa istirahat jika belum bertemu denganmu dan anak-anak.”
Pandangan mata Luna turun ke bawah. "Alif, aku–
“Sssttt. Aku tahu. Aku tidak masalah Luna. Kamu tidak perlu memaksakan apapun, aku akan tunggu sampai kamu siap.”
Luna menunduk sebentar, lalu kembali menegakkan kepala, menatap Alif.
“Makasih, Alif.”
Alif mengangguk. “Kalau begitu, lebih baik kita pulang ke rumahmu. Aku juga ingin bertemu dengan El dan Lily. Aku rindu sekali dengan mereka.”
“Tapi, aku bawa mobil.”
“Mobil kamu ditinggal saja disini. Kita pulang sama-sama. Besok pagi, aku antar kamu ke kantor.”
“Aku jadi merepotkan kamu.”
Alif tersenyum lembut. “Enggak, Luna. Aku dengan senang hati melakukannya.”
...***...
El dan Lily duduk bersebelahan di ruang keluarga. Buku-buku dan alat tulis tersebar di lantai. Di meja belajar lipat, satu buku terbuka. Isinya soal-soal matematika penjumlahan yang sedang dikerjakan. El susah selesai sejak setengah jam yang lalu. Dia kini menunggu Lily menyelesaikan tugasnya.
Wajah El cemberut, sedikit merah menahan kesal karena sejak tadi Lily tidak paham-paham dengan soal itu. Padahal El sudah menjelaskan berkali-kali hingga bosan.
“Lily, ini gampang banget, kamu cuma tinggal jumlahin aja. 6 ditambah 5 kayak yang diajarin ibu guru,” ujar El sambil menunjuk angka di bukunya.
Lily mengerutkan kening.“Lily nggak ngerti, El."
El menghela napas panjang. “Come on, Lily! It’s just simple addition!” ucapnya dengan nada setengah kesal.
Lily cemberut. “Kamu ngomong apa sih? Lily nggak ngerti."
El mengangkat bahu dan setengah bergumam, “Damn it! Aku udah capek banget ngajarin kamu. Penjumlahan nggak bisa, bahasa inggris nggak paham. Padahal Bunda udah ajarin setiap di rumah.”
Lily semakin kesal. Tangannya terlipat di depan dada. “Kamu itu sombong banget! Aku bukan kamu, El!”
El mendelik. “I’m not trying to be mean! Tapi kamu harus ngerti juga, aku udah jelasin berkali-kali, Lily.”
“Ya udah! Aku nyerah! Nggak mau belajar lagi!” seru Lily sambil membanting pensilnya ke meja.
“Ada apa ini ribut-ribut?"
Suara bass hangat itu terdengar di telinga El dan Lily membuat mereka sontak mengalihkan pandangan.
Alif berdiri bersisian dengan Luna di ambang pintu. Bibirnya mengulas senyum lebar.
“Om Alif!"
El dan Lily langsung berdiri dan berlari ke arahnya. Lily sempat tersandung meja dan jatuh, tapi segera berlari lagi menghampiri Alif.
Alif menekuk kaki, menyejajarkan tinggi mereka.
El dan Lily langsung menghamburkan tubuh mereka ke pelukan Alif.
Alif terkekeh pelan. Satu lengan Alif melingkar ringan di punggung El, satu lagi menahan tubuh Lily agar tidak jatuh. Gerakannya tenang, protektif, seolah memastikan keduanya aman di tempat yang sama.
“Lily kangen sekali dengan Om Alif!” seru Lily ceria. Wajahnya yang tadi mendung, kembali cerah ketika melihat Alif.
El mengangguk mengiyakan.
“Om juga kangen sekali dengan kalian,” jawab Alif.
Luna yang berdiri di sisi Alif hanya bisa tersenyum lembut. Hatinya menghangat melihat kedekatan El dan Lily dengan Alif. Tapi rasa hangat itu datang bersamaan dengan rasa nyeri lembut.
Alif perlahan melepas pelukan, tapi tetap merangkul El dan Lily. “Kalian sudah makan?"
El dan Lily mengangguk semangat.
“Om lama sekali perginya,” keluh Lily.
“Maaf, Lily. Om ada kerjaan di luar negeri jadi harus pergi. Tapi sekarang… Om sudah pulang buat temenin Lily sama El.”
“Sekarang Om nggak akan pergi lagi, kan?" tanya El.
“Iya, pokoknya Om Alif nggak boleh pergi lama-lama lagi,” sahut Lily.
Luna ikut berjongkok di samping Alif. “Lily, nggak boleh gitu dong, Sayang. Om Alif kan kerja. Lily nggak boleh melarang Om Alif pergi-pergi.”
“Tapi Lily nggak suka ditinggal pergi.”
Alif tersenyum lembut. “Sekarang, Om nggak pergi. Kapan-kapan mungkin Om akan pergi lagi. Tapi Lily harus tahu, Om akan selalu pulang buat temuin Lily lagi.”
Alif menoel hidung Lily gemas.
Lily mengulas senyum, lalu mengangguk semangat.
Alif tersenyum, lalu mengerutkan kening. “Om denger tadi El dan Lily berdebat, ada apa?”
“El marah-marah sama Lily, Om!” sahut Lily cepat.
El mengerutkan kening. “El nggak marah-marah. El ajarin Lily penjumlahan, tapi Lily nggak bisa-bisa.”
“El ngomongnya pake bahasa inggris. Lily nggak paham!” balas Lily lagi.
Alif mengangguk pelan, mencoba memahami situasinya. “Oh, jadi El ngajarin pake bahasa Inggris, ya? Mungkin Lily butuh penjelasan yang lebih gampang.”
El menggeleng. “Tapi El udah coba jelasin pake bahasa Indonesia juga, Om.”
Lily mengerutkan dahi. “Tapi El sering buru-buru dan langsung ngomong pake bahasa Inggris. Lily bingung, jadi kesal.”
Alif tersenyum lembut, lalu berkata, “Kalau gitu, gimana kalau sekarang El ajarin Lily pelan-pelan, pakai bahasa yang mudah dimengerti? Om akan bantu. Kita belajar sama-sama. Okay?"
El dan Lily mengangguk semangat. “Okay!"
“Good job.”
Alif bangun perlahan. Tapi Lily langsung menyentuh kakinya sambil mendongak.
“Lily mau digendong Om Alif.”
“Lily, Lily udah besar loh. Lily berat, kasihan Om Alif,” tegur Luna lembut.
Alif tersenyum kecil. Dia langsung mengangkat tubuh Lily dan menggendongnya. “Selama Om masih kuat gendong Lily, Lily tetap anak kecil di mata Om. Jadi Lily boleh minta gendong Om kapanpun Lily mau.”
Lily tersenyum.
Alif menunduk, menoleh pada El. “El mau digendong juga?”
El menggeleng. Tapi dia langsung memeluk lengan Alif yang berada di sisi tubuhnya.
Alif terkekeh pelan. “Ayo kita belajar!”
Sementara satu tangan El lagi yang bebas kini menggenggam tangan Luna. “Bunda ikut juga ya,” ucap El.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments