Bab 3 - Seperti Keluarga

Jam kerja sudah usai. Semua pekerjaan Luna sudah selesai. Dia segera membereskan barang-barangnya, lalu keluar dari gedung perusahaan. 

Di depan pintu keluar, langkah Luna terhenti. 

Seorang laki-laki berdiri beberapa meter di depannya. Posturnya tegap dengan kemeja putih panjang yang digulung hingga siku, menampilkan otot-otot lengannya. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya terlihat lelah tapi senyum hangat tercipta di wajahnya.

“Alif," panggil Luna.

Alif tersenyum semakin lebar.

Luna segera mendekatinya. Dia berhenti satu langkah di depan Alif. Ada binar kecil di matanya.

“Alif, kamu kok ada di sini? Bukannya kamu masih di luar negeri?" 

“Kejutan,"  ucap Alif ceria. 

Luna mengerutkan kening.

Alif terkekeh pelan. “Urusanku selesai lebih cepat, jadi aku bisa pulang cepat." 

Luna memicing. “Kamu pasti memaksakan jadwal ya?" 

“Sedikit." 

Luna menghela napas pelan.

Alif memiringkan kepala, menatap Luna lebih lekat. “Aku nggak suka lama-lama disana. Sepi." 

“Kan ada sekretaris kamu." 

Alif tertawa pelan. “Beda dong. Sekretaris itu urusan kerja. Sepi itu urusan lain." 

Alif Jonathan Wijaya. Dia adalah seorang CEO di perusahaan keluarga yang bergerak di bidang fintech. 

Luna mengenalnya sudah cukup lama, sudah lima tahun. Mereka pertama kali bertemu di salah satu seminar bisnis ketika Luna baru saja kembali kuliah setelah melahirkan El dan Lily. Setelah itu, mereka menjadi sering bertemu, bahkan Alif sering kali datang ke rumahnya untuk bermain dengan El dan Lily yang saat itu masih balita sampai sekarang.

Alif menemaninya di saat hidupnya berat. Menjadi ibu baru tanpa suami, berkuliah, dan bekerja sampingan untuk membayar biaya kuliah karena beasiswanya dicabut.

Alif selalu menemaninya.

Luna menatap Alif dengan lembut. “Kamu kapan sampai?”

“Baru aja.”

“Baru? Terus langsung ke sini?” tanya Luna terkejut.

Alif mengangguk tanpa ragu.

“Alif, kamu seharusnya pulang dulu. Istirahat di rumah.”

Alif tersenyum tipis. Matanya menatap dalam ke arah Luna. “Aku tahu. Tapi aku tidak bisa istirahat jika belum bertemu denganmu dan anak-anak.”

Pandangan mata Luna turun ke bawah. "Alif, aku–

“Sssttt. Aku tahu. Aku tidak masalah Luna. Kamu tidak perlu memaksakan apapun, aku akan tunggu sampai kamu siap.”

Luna menunduk sebentar, lalu kembali menegakkan kepala, menatap Alif.

“Makasih, Alif.”

Alif mengangguk. “Kalau begitu, lebih baik kita pulang ke rumahmu. Aku juga ingin bertemu dengan El dan Lily. Aku rindu sekali dengan mereka.”

“Tapi, aku bawa mobil.”

“Mobil kamu ditinggal saja disini. Kita pulang sama-sama. Besok pagi, aku antar kamu ke kantor.”

“Aku jadi merepotkan kamu.”

Alif tersenyum lembut. “Enggak, Luna. Aku dengan senang hati melakukannya.”

...***...

El dan Lily duduk bersebelahan di ruang keluarga. Buku-buku dan alat tulis tersebar di lantai. Di meja belajar lipat, satu buku terbuka. Isinya soal-soal matematika penjumlahan yang sedang dikerjakan. El susah selesai sejak setengah jam yang lalu. Dia kini menunggu Lily menyelesaikan tugasnya. 

Wajah El cemberut, sedikit merah menahan kesal karena sejak tadi Lily tidak paham-paham dengan soal itu. Padahal El sudah menjelaskan berkali-kali hingga bosan.

“Lily, ini gampang banget, kamu cuma tinggal jumlahin aja. 6 ditambah 5 kayak yang diajarin ibu guru,” ujar El sambil menunjuk angka di bukunya.

Lily mengerutkan kening.“Lily nggak ngerti, El." 

El menghela napas panjang. “Come on, Lily! It’s just simple addition!” ucapnya dengan nada setengah kesal.

Lily cemberut. “Kamu ngomong apa sih? Lily nggak ngerti." 

El mengangkat bahu dan setengah bergumam, “Damn it! Aku udah capek banget ngajarin kamu. Penjumlahan nggak bisa, bahasa inggris nggak paham. Padahal Bunda udah ajarin setiap di rumah.”

Lily semakin kesal. Tangannya terlipat di depan dada. “Kamu itu sombong banget! Aku bukan kamu, El!”

El mendelik. “I’m not trying to be mean! Tapi kamu harus ngerti juga, aku udah jelasin berkali-kali, Lily.”

“Ya udah! Aku nyerah! Nggak mau belajar lagi!” seru Lily sambil membanting pensilnya ke meja.

“Ada apa ini ribut-ribut?" 

Suara bass hangat itu terdengar di telinga El dan Lily membuat mereka sontak mengalihkan pandangan.

Alif berdiri bersisian dengan Luna di ambang pintu. Bibirnya mengulas senyum lebar.

“Om Alif!" 

El dan Lily langsung berdiri dan berlari ke arahnya. Lily sempat tersandung meja dan jatuh, tapi segera berlari lagi menghampiri Alif.

Alif menekuk kaki, menyejajarkan tinggi mereka. 

El dan Lily langsung menghamburkan tubuh mereka ke pelukan Alif. 

Alif terkekeh pelan. Satu lengan Alif melingkar ringan di punggung El, satu lagi menahan tubuh Lily agar tidak jatuh. Gerakannya tenang, protektif, seolah memastikan keduanya aman di tempat yang sama.

“Lily kangen sekali dengan Om Alif!” seru Lily ceria. Wajahnya yang tadi mendung, kembali cerah ketika melihat Alif.

El mengangguk mengiyakan.

“Om juga kangen sekali dengan kalian,” jawab Alif.

Luna yang berdiri di sisi Alif hanya bisa tersenyum lembut. Hatinya menghangat melihat kedekatan El dan Lily dengan Alif. Tapi rasa hangat itu datang bersamaan dengan rasa nyeri lembut.

Alif perlahan melepas pelukan, tapi tetap merangkul El dan Lily. “Kalian sudah makan?" 

El dan Lily mengangguk semangat.

“Om lama sekali perginya,” keluh Lily.

“Maaf, Lily. Om ada kerjaan di luar negeri jadi harus pergi. Tapi sekarang… Om sudah pulang buat temenin Lily sama El.”

“Sekarang Om nggak akan pergi lagi, kan?" tanya El.

“Iya, pokoknya Om Alif nggak boleh pergi lama-lama lagi,” sahut Lily.

Luna ikut berjongkok di samping Alif. “Lily, nggak boleh gitu dong, Sayang. Om Alif kan kerja. Lily nggak boleh melarang Om Alif pergi-pergi.”

“Tapi Lily nggak suka ditinggal pergi.”

Alif tersenyum lembut. “Sekarang, Om nggak pergi. Kapan-kapan mungkin Om akan pergi lagi. Tapi Lily harus tahu, Om akan selalu pulang buat temuin Lily lagi.”

Alif menoel hidung Lily gemas. 

Lily mengulas senyum, lalu mengangguk semangat.

Alif tersenyum, lalu mengerutkan kening. “Om denger tadi El dan Lily berdebat, ada apa?”

“El marah-marah sama Lily, Om!” sahut Lily cepat.

El mengerutkan kening. “El nggak marah-marah. El ajarin Lily penjumlahan, tapi Lily nggak bisa-bisa.”

“El ngomongnya pake bahasa inggris. Lily nggak paham!” balas Lily lagi. 

Alif mengangguk pelan, mencoba memahami situasinya. “Oh, jadi El ngajarin pake bahasa Inggris, ya? Mungkin Lily butuh penjelasan yang lebih gampang.”

El menggeleng. “Tapi El udah coba jelasin pake bahasa Indonesia juga, Om.”

Lily mengerutkan dahi. “Tapi El sering buru-buru dan langsung ngomong pake bahasa Inggris. Lily bingung, jadi kesal.”

Alif tersenyum lembut, lalu berkata, “Kalau gitu, gimana kalau sekarang El ajarin Lily pelan-pelan, pakai bahasa yang mudah dimengerti? Om akan bantu. Kita belajar sama-sama. Okay?" 

El dan Lily mengangguk semangat. “Okay!" 

“Good job.”

Alif bangun perlahan. Tapi Lily langsung menyentuh kakinya sambil mendongak.

“Lily mau digendong Om Alif.”

“Lily, Lily udah besar loh. Lily berat, kasihan Om Alif,” tegur Luna lembut.

Alif tersenyum kecil. Dia langsung mengangkat tubuh Lily dan menggendongnya. “Selama Om masih kuat gendong Lily, Lily tetap anak kecil di mata Om. Jadi Lily boleh minta gendong Om kapanpun Lily mau.”

Lily tersenyum.

Alif menunduk, menoleh pada El. “El mau digendong juga?”

El menggeleng. Tapi dia langsung memeluk lengan Alif yang berada di sisi tubuhnya. 

Alif terkekeh pelan. “Ayo kita belajar!” 

Sementara satu tangan El lagi yang bebas kini menggenggam tangan Luna. “Bunda ikut juga ya,” ucap El.

...----------------...

Episodes
1 Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2 Bab 2 - Aluna Prameswari
3 Bab 3 - Seperti Keluarga
4 Bab 4 - Membuka Hati
5 Bab 5 - Perjodohan Alif
6 Bab 6 - Kembali Pulang
7 Bab 7 - Om Punya Anak?
8 Bab 8 - Bukan Papa Lily
9 Bab 9 - Tulip dan Matahari
10 Bab 10 - Family Time?
11 Bab 11 - Lily Hilang
12 Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13 Bab 13 - Retakan Kecil
14 Bab 14 - Kehadiran Alif
15 Bab 15 - Tetap Bertahan
16 Bab 16 - Kucing Ngambek
17 Bab 17 - Kerja Sama
18 Bab 18 - Bola Jatuh
19 Bab 19 - Anak Kamu
20 Bab 20 - Berat?
21 Bab 21 - Hari Berbeda
22 Bab 22 - Lily Sadar
23 Bab 23 - Pesawat Cepat
24 Bab 24 - Alif Jemput
25 Bab 25 - Seperti Biasa
26 Bab 26 - Bunga Atau Pita
27 Bab 27 - Sepatu Baru
28 Bab 28 - Gerai Es Krim
29 Bab 29 - Dijemput Gala
30 Bab 30 - Bunda Sibuk
31 Bab 31 - Dijemput Lagi
32 Bab 32 - Kontak Darurat
33 Bab 33 - Wali Kelas
34 Bab 34 - Lily Pingsan
35 Bab 35 - Gala Datang
36 Bab 36 - Ayahnya
37 Bab 37 - Luna Tahu
38 Bab 38 - Baru Mulai
39 Bab 39 - Bunda Sedih?
40 Bab 40 - Om Papa Lily?
41 Bab 41 - Pulang Kemana?
42 Bab 42 - Lily Punya Papa
43 Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44 Bab 44 - Sama Papa
45 Bab 45 - Bola Basket
46 Bab 46 - Mobil Mogok
47 Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48 Bab 48 - Masuk Rumah
49 Bab 49 - Om Alif Datang
50 Bab 50 - Luna Menunggu
51 Bab 51 - Hari Minggu
52 Bab 52 - Mereka Aman
53 Bab 53 - Cerita Lily
54 Bab 54 - Memberi Waktu
55 Bab 55 - Garis Batas
56 Bab 56 - Cafe Luna
57 Bab 57 - Melanggar Batas
58 Bab 58 - Kebun Binatang
59 Bab 59 - Kakak Sahabat
60 Bab 60 - Tanpa Izin
61 Bab 61 - Pulang Terlambat
62 Bab 62 - Luna Marah
63 Bab 63 - Larangan
64 Bab 64 - Meja Dingin
65 Bab 65 - Sayang Kalian
66 Bab 66 - Pergi, Gala!
67 Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68 Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69 Bab 69 - Ke Rumah Papa
70 Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71 Bab 71 - Rumah Gala
72 Bab 72 - Kamar Berbeda
73 Bab 73 - Rumah Baru
74 Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75 Bab 75 - Kembalikan Lily
76 Bab 76 - Maafin Papa
77 Bab 77 - Sayang Bunda
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?
2
Bab 2 - Aluna Prameswari
3
Bab 3 - Seperti Keluarga
4
Bab 4 - Membuka Hati
5
Bab 5 - Perjodohan Alif
6
Bab 6 - Kembali Pulang
7
Bab 7 - Om Punya Anak?
8
Bab 8 - Bukan Papa Lily
9
Bab 9 - Tulip dan Matahari
10
Bab 10 - Family Time?
11
Bab 11 - Lily Hilang
12
Bab 12 - Happy Birthday, Luna
13
Bab 13 - Retakan Kecil
14
Bab 14 - Kehadiran Alif
15
Bab 15 - Tetap Bertahan
16
Bab 16 - Kucing Ngambek
17
Bab 17 - Kerja Sama
18
Bab 18 - Bola Jatuh
19
Bab 19 - Anak Kamu
20
Bab 20 - Berat?
21
Bab 21 - Hari Berbeda
22
Bab 22 - Lily Sadar
23
Bab 23 - Pesawat Cepat
24
Bab 24 - Alif Jemput
25
Bab 25 - Seperti Biasa
26
Bab 26 - Bunga Atau Pita
27
Bab 27 - Sepatu Baru
28
Bab 28 - Gerai Es Krim
29
Bab 29 - Dijemput Gala
30
Bab 30 - Bunda Sibuk
31
Bab 31 - Dijemput Lagi
32
Bab 32 - Kontak Darurat
33
Bab 33 - Wali Kelas
34
Bab 34 - Lily Pingsan
35
Bab 35 - Gala Datang
36
Bab 36 - Ayahnya
37
Bab 37 - Luna Tahu
38
Bab 38 - Baru Mulai
39
Bab 39 - Bunda Sedih?
40
Bab 40 - Om Papa Lily?
41
Bab 41 - Pulang Kemana?
42
Bab 42 - Lily Punya Papa
43
Bab 43 - Rumah Kecil Itu
44
Bab 44 - Sama Papa
45
Bab 45 - Bola Basket
46
Bab 46 - Mobil Mogok
47
Bab 47 - Alif Ke Sekolah
48
Bab 48 - Masuk Rumah
49
Bab 49 - Om Alif Datang
50
Bab 50 - Luna Menunggu
51
Bab 51 - Hari Minggu
52
Bab 52 - Mereka Aman
53
Bab 53 - Cerita Lily
54
Bab 54 - Memberi Waktu
55
Bab 55 - Garis Batas
56
Bab 56 - Cafe Luna
57
Bab 57 - Melanggar Batas
58
Bab 58 - Kebun Binatang
59
Bab 59 - Kakak Sahabat
60
Bab 60 - Tanpa Izin
61
Bab 61 - Pulang Terlambat
62
Bab 62 - Luna Marah
63
Bab 63 - Larangan
64
Bab 64 - Meja Dingin
65
Bab 65 - Sayang Kalian
66
Bab 66 - Pergi, Gala!
67
Bab 67 - Nggak Boleh Nangis
68
Bab 68 - Tidak Boleh, Lily
69
Bab 69 - Ke Rumah Papa
70
Bab 70 - Bukan Kecelakaan
71
Bab 71 - Rumah Gala
72
Bab 72 - Kamar Berbeda
73
Bab 73 - Rumah Baru
74
Bab 74 - El, Ayo Ikut Lily
75
Bab 75 - Kembalikan Lily
76
Bab 76 - Maafin Papa
77
Bab 77 - Sayang Bunda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!