"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Sore harinya, udara desa mulai terasa sejuk. Nadia yang sudah berdandan rapi keluar dari kamarnya sambil membawa dompet kecil. Ia melihat Akbar dan Aqil yang baru saja bangun tidur dan sedang duduk mengucek mata di ruang tengah.
"Akbar, Aqil, mau ikut Tante Nadia keluar beli jajan ngga?" tawar Nadia dengan senyum hangat.
Mendengar kata 'jajan', mata kedua bocah itu langsung terbuka lebar. "Mau, Tante Nadia! Mau!" seru mereka kompak.
Arya yang sedang duduk bersandar di kursi ruang tamu sambil memegangi bahu kirinya bergegas hendak berdiri. "Biar aku saja yang belikan, Nad. Kamu mau jajan apa? Nanti aku sama Akbar-Aqil yang berangkat."
Nadia dengan cepat menggeleng dan menahan pergerakan Arya. "Nggak usah, Mas Arya di sini saja. Aku mau jalan-jalan sore sebentar sama mereka biar segar. Mas Arya itu lagi luka, harus banyak istirahat."
Abi yang sedang menyeduh kopi di meja makan melirik ke arah mereka bertiga sambil tersenyum menggoda. "Cie, udah baikan nih ceritanya?" sahut Abi santai.
Pipi Nadia seketika merona merah. "Apaan sih, Mas Abi! Sok tahu banget!" sanggah Nadia cepat untuk menutupi rasa malunya.
Nadia lalu kembali menatap kedua keponakannya. "Ayo, mau ikut ngga?"
"Mau, Tante Nadia, mau!" jawab Akbar dan Aqil bersemangat sambil melompat kecil.
Sebelum mereka melangkah ke luar pintu, Nadia membungkuk sebentar dan berbisik pelan di telinga Akbar dan Aqil. "Minta uang jajannya sama Ayah ya, bilang Tante Nadia nggak punya uang..."
Kedua bocah itu mengangguk mantap. Dengan kompak, Akbar dan Aqil langsung berbalik dan menghampiri Abi yang baru mau menyeruput kopinya.
"Ayah! Minta uang jajan dong, kata Tante Nadia suluh minta Ayah!" seru Aqil polos tanpa dosa sambil menadahkan tangannya, disusul Akbar yang ikut menadahkan tangan.
Abi mendengus pelan sambil memutar bolanya, menatap Nadia yang berpura-pura sibuk melihat-lihat ujung bajunya dengan wajah polos tak berdosa.
"Akal-akalan Tante Nadia kamu ini," gumam Abi terkekeh. Meskipun bersungut-sungut, tangan Abi tetap terulur merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua lembar uang lima belasan ribu yang masih mulus.
Abi menyerahkan lembaran uang itu ke telapak tangan Akbar dan Aqil. "Ini uangnya. Ingat, belinya jangan yang aneh-aneh, jangan beli es terus! Kasihan tenggorokannya nanti batuk."
"Siap, Ayah! Te'ima kasih Ayah!" seru Aqil girang sambil memasukkan uangnya ke dalam saku celana pendeknya, walau sedikit mencuat karena kesempitan. Akbar mengangguk mantap sambil tersenyum lebar.
"Ayo, Tante!" ajak Akbar tak sabar, menarik-narik ujung baju Nadia.
Nadia tertawa puas melihat kejahilannya berhasil. Sebelum melangkah keluar pintu, ia sempat melirik ke arah Arya yang masih memperhatikannya dari kursi tamu. Tatapan Nadia sedikit melembut, tidak sedingin tadi pagi.
"Mas Arya mau menitip sesuatu ngga?" tanya Nadia pelan, suaranya halus.
Arya tersenyum tipis, matanya berbinar mendapatkan perhatian itu. "Enggak usah, Nad. Kamu sama mereka saja. Hati-hati di jalan ya."
"Ya sudah, kami berangkat dulu," pamit Nadia sambil menuntun kedua keponakannya.
Begitu pintu depan tertutup dan suara tawa Akbar serta Aqil mulai menjauh di sepanjang jalan desa, suasana ruang tamu kembali hening. Abi menghirup kopi hangatnya pelan, lalu mendudukkan diri di kursi kayu tak jauh dari Arya.
Abi memperhatikan raut wajah Arya yang masih sedikit pucat dan gerakan tubuhnya yang tampak serba kaku untuk menahan nyeri di bahu kiri.
"Luka tembaknya benar-benar cuma rekoset?" tanya Abi tiba-tiba, suaranya tenang tapi sarat akan rasa ingin tahu sebagai seorang kakak.
Arya menghela napas panjang, merubah posisi duduknya pelan-pelan agar bahu kirinya tidak terlalu menegang. Ia menatap Abi yang kini duduk serong di hadapannya.
"Cuma rekoset, Mas Abi," jawab Arya jujur. "Serpihan pelurunya menyenggol bagian atas bahu, jadi nggak sampai bersarang di dalam. Tapi tetap saja dijahit dan bikin lumayan ngilu kalau dibuat gerak."
Abi mengangguk-angguk paham, menyesap kembali kopi hitamnya yang masih berasap tipis. "Lalu foto itu? Kenapa bisa sampai Nadia dapat foto itu dan bisa salah paham?"
Arya tersenyum getir sambil menggeleng pelan. "Itu foto bukan saya, Mas. Itu Fahri, teman satu angkatan saya. Kalau dari belakang postur dan perawakannya memang lumayan mirip sama saya, makanya Nadia sampai salah orang dan terkecoh pas lihat foto itu."
Arya menatap mata Abi dengan sorot yang sangat serius. "Demi Allah, Mas. Saya ke sini bukan cuma mau meluruskan salah paham, tapi memang mau serius sama Nadia. Saya nggak akan pernah ada niat sekecil apa pun untuk mendua atau main-main sama perasaan adik Mas Abi."
Abi menatap calon adik iparnya itu cukup lama. Sorot mata Arya tenang dan tegas, khas seorang prajurit yang tidak sedang berbohong. Senyum tipis akhirnya terbit di wajah Abi.
"Aku percaya sama kamu, Ya," kata Abi
"Nadia itu kelihatannya saja galak dan cuek, tapi hatinya lembut banget. Dia cuma kaget dan terlanjur panik waktu lihat foto itu."
"Saya tahu, Mas. Makanya saya bersyukur banget dia mau mendengarkan," sahut Arya lega.
Di sisi lain, Nadia, Akbar, dan Aqil berjalan menyusuri jalan setapak desa menuju warung kelontong yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Udara sore yang sejuk membuat perjalanan terasa menyenangkan, ditambah celotehan riang dua bocah itu.
"Jangan lari-lari, Aqil! Nanti jatuh!" panggil Nadia melihat keponakan kecilnya itu mulai memacu langkahnya di depan.
Aqil menoleh sambil memperlambat jalannya, memamerkan deretan gigi kecilnya. "Ngga kok, Tante. Hehe..."
Tak lama kemudian, mereka bertiga sampai di warung. Di sana tampak seorang gadis sedang memilah-milah barang belanjaan.
"Kakak!" sapa Akbar gembira saat mengenali sosok tersebut.
Kayla menoleh dan tersenyum lebar. "Eh, Akbar, Aqil! Mau jajan juga?"
"Iya, Kakak. Tante Nadia ngajak kami," sahut Akbar antusias.
Aqil yang matanya sudah berbinar melihat deretan wadah jajanan langsung menunjuk salah satu toples. "Mau ini ya, Tante?" ucap Aqil polos.
Nadia tersenyum mengusap kepala Aqil. "Ambil aja. Tapi jangan banyak-banyak ya."
Kayla yang melihat keberadaan Nadia lantas melempar sapaan ramah. "Lagi berkunjung, Nad?"
"Iya, kangen sama ni dua bocah," jawab Nadia sambil terkekeh pelan. "Kamu sendiri udah ngga tinggal sama nenekmu?"
Kayla mendengus pelan sambil menggeleng. "Ngga, cape tinggal di sana. Kena omel mulu," jawabnya jujur, lalu matanya berganti menatap perut Nadia yang mulai membuncah. "Udah berapa bulan tuh perut?"
"Baru tujuh bulan," sahut Nadia sambil mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. "Kamu kapan nyusul?"
Kayla tertawa hambar mendengar pertanyaan itu. "Nyusul hamil? Kan belum ada lakiknya! Nanti tiba-tiba hamil heboh sekabupaten."
"Hahaha, iya sih," gelak Nadia merespons balik. Namun sejenak kemudian, Nadia melirik jahil ke arah Kayla. "Sama bapaknya dua orang ini aja. Aman kok."
Kayla sempat tertegun sejenak sebelum menyadari arah pembicaraan kawan lamanya itu. "Maksud kamu Mas Abi?"
"Iya," goda Nadia dengan cengiran makin lebar.
Kayla langsung mengibaskan tangannya cepat sambil tertawa lepas. "Sorry ya, Nad... Biar masmu itu ganteng, aku masih doyan yang bujangan!"
Nadia tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban jujur Kayla, sampai-sampai beberapa orang yang lewat di depan warung sempat menoleh.
"Alah, sok-sokan bujangan! Nanti kalau Mas Abi makin perhatian, meleyot juga kamu, Kay," goda Nadia lagi sambil menyikut pelan lengan Kayla.
"Ih, Nadia! Nggak ya! Lagian Mas Abi itu galak kalau sama anak-anaknya kalau lagi nakal, serem ah," balas Kayla sambil menahan senyum, pura-pura fokus memilih bumbu dapur di meja warung untuk menutupi wajahnya yang sedikit memerah.
Sementara kedua wanita itu asyik bergosip, Akbar dan Aqil sudah sibuk memeluk jajanan masing-masing. Di tangan Aqil sudah ada satu bungkus kue pancong dan es krim, sedangkan Akbar memegang biskuit cokelat favoritnya.
"Tante Nadia, udah nih jajan nya!" panggil Akbar sambil menepuk pelan pinggang Nadia.
Nadia menoleh, lalu tersenyum melirik kantong belanjaan dua keponakannya. "Udah semua? Ya sudah, yuk. Kay, aku duluan ya. Jangan lupa main ke rumah kalau senggang!"
"Iya, Nad, hati-hati jalannya. " panggil Kayla sambil melambaikan tangan ke arah dua bocah yang berjalan mendahului Nadia.
"Siap Kakak Kayla!" seru Aqil riang dari depan.
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti