Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahat Kamu Mas!
"Mas buka pintunya!! Kamu nggak bisa mengurung aku seperti ini!"
"Mas Angga!!"
Elena berteriak dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangannya pun terasa sakit karena memaksa diri untuk menggedor keras pintu kayu yang tetap tidak dihiraukan oleh Angga.
Pria itu benar-benar mengurung Elena. Kilatan posesif di pandangan matanya tadi, ternyata benar-benar nyata.
Angga tidak ingin Elena pergi dari hidupnya, dan apapun akan ia lakukan selama itu bisa mempertahankan Elena di sisinya.
Elena menangis lirih. Tubuhnya merosot di balik pintu dengan perlahan hingga terduduk di lantai. Ia memeluk kedua lututnya, dan menyembunyikan wajahnya di sana.
Elena pun kembali menangis tersedu-sedu dengan dada yang sesak. Satu-satunya barang yang ada di genggamannya hanyalah ponsel. Ia ingat jika ia menyimpan benda itu di saku dress-nya.
Elena pun merogoh sakunya untuk mencari ponsel itu. Ia ingin meminta pertolongan kepada Siska, namun ia tidak menemukan ponselnya.
"Dimana ponselku?"
Elena berusaha memeriksa saku dress nya lagi, namun tetap tidak menemukan benda pipih itu.
"Mas Angga..."
"Ini pasti ulahnya!!"
"Kapan dia mengambil ponsel itu dari saku bajuku? kenapa dia bisa tahu aku menyimpan ponsel?"
"Arrrggghhhh!!"
Elena pun kesal. Dengan berat ia berdiri dari pintu lalu berjalan ke arah jendela. Ia mencoba membuka jendela itu. Namun baru saja ia membukanya, beberapa laki-laki berpakaian hitam telah berdiri di balik jendela.
"Kalian—"
"Maaf, Nyonya. Tuan memerintahkan kami untuk menjaga nyonya," tutur salah satu diantaranya.
"Apa??"
"Silahkan kembali ke tempat tidur, nyonya. karena kami akan berjaga di sini."
"Aku mau keluar!"
"Maaf Nyonya, sesuai perintah Tuan, nyonya tidak boleh pergi kemanapun. Mohon kerja samanya, nyonya."
Elena mengeraskan rahang lalu mengusap airmata nya dengan kasar. Ia pun kembali duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong.
Hingga tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Elena menoleh, dan melihat Suster Eni serta Iroh datang membawa vitamin dan juga makanan.
"Nyonya Elena..."
"Pergilah, aku tidak lapar."
Iroh terdiam sejenak, lalu memaksakan diri untuk melangkah lebih dekat
"Nyonya..."
"Aku bilang aku tidak mau makan, Roh."
"Nyonya, makanlah sedikit. Dari kemarin anda belum makan apapun," pinta Suster Eni.
"Aku tidak lapar!"
Iroh pun menatap Elena dengan pandangan memohon.
"Nyonya, saya mohon makan ya? Kalau tidak, Tuan akan memecat saya dan menghukum saya," pinta Iroh dengan mata berkaca-kaca.
"APA??"
Elena menoleh kesal, lalu memperhatikan Iroh yang nampak bersedih.
Jahat kamu, mas!
"Bisa suapi aku?" tanya Elena pada akhirnya.
Mata Iroh pun berbinar. "Bisa nyonya, bisa. Terima kasih, nyonya Elena."
Elena hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit. lalu ia pun mulai membuka mulutnya untuk memakan makanan yang diberikan Iroh.
"Nyonya, saya berikan vitamin, nanti diminum setelah makan ya," ucap suster.
Elena hanya mengangguk pelan. Tiba-tiba saja airmata menetes di wajahnya, membuat Iroh dan suster Eni pun berpandangan.
Sepertinya aku harus memastikan saat ini juga, siapa dokter yang bisa merawat nyonya Elena di rumah ini.
Suster Eni pun pamit meninggalkan kamar dan pergi ke rumah sakit untuk memastikan jadwal psikiater yang sedang berjaga hari ini. Ia tidak tega melihat Elena yang bahkan hanya bisa menangis.
"Nyonya, apa makanannya enak? Saya tadi memasaknya khusus untuk anda," ujar Iroh mencoba menghibur Elena.
"Enak, makasih ya Roh."
Nyonya Elena menjawabku. Syukurlah, kondisi nyonya masih terpantau baik.
Setelah makanan hampir habis, Elena meminta Iroh menyudahinya. Iroh pun menurut. Ia menghentikan suapan nya dan pamit keluar setelah memastikan Elena meminum vitaminnya.
****
Beberapa jam kemudian, Suster Eni telah kembali bersama psikiater rumah sakit tempatnya bekerja. Baru saja masuk ke pintu utama, mereka bertemu dengan Angga yang hendak ke kamar tamu (kamar yang ditempati Elena).
"Siang Tuan," sapa suster Eni.
Angga menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Apa dia psikiater yang akan memeriksa istri saya?"
"Benar, Tuan. Hanya ada satu dokter yang bisa merawat nyonya di rumah ini, jadi saya membawa beliau untuk bertemu dengan anda."
Angga mengangguk, lalu menghampiri psikiater itu. Tubuhnya tegap dan tinggi, hampir menyamai tingginya.
"Selamat siang, Tuan. Saya Evan," ucap dokter itu mengenalkan diri seraya mengulurkan tangan.
Angga membalas uluran tangan tersebut.
"Angga."
Evan tersenyum lalu mengikuti Angga berjalan ke kamar tamu. Angga menggerakkan kunci pintunya dengan cepat hingga pintu kamar itu terbuka lebar.
Elena terlonjak kaget mendengar pintu terbuka. Ia segera menoleh dan beranjak dari ranjang untuk berjalan ke arah pintu.
Namun langkahnya terhenti saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu bersama suaminya.
Evan terdiam. Tubuhnya menegang seketika, melihat wanita lusuh dan menyedihkan yang berdiri di hadapannya.
Elena??