Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14.

Hari-hari yang dijalani Ruby di mansion megah itu terasa seperti mimpi yang sangat tenang. Tubuhnya yang dahulu penuh luka dan lebam kini perlahan membaik berkat perawatan medis tanpa henti dan asupan makanan gizi tinggi. Luka-luka di kulitnya mulai mengering dan memudar, meninggalkan bekas tipis yang tak lagi menyakitkan.

Meski ia dibebaskan untuk berjalan-jalan mengitari mansion yang sangat luas dan indah itu, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya. Sudah beberapa minggu berlalu sejak malam di mana pria misterius itu mengintimidasi dan memberinya peringatan dingin. Sejak hari itu, sosok bertubuh tegap berwajah tampan bagai es tersebut tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di depan Ruby.

Sore itu, Ruby melangkah pelan di lorong lantai dua yang megah, ditemani oleh Bi Ratna satu-satunya pelayan senior kepercayaan sang tuan rumah yang selalu berada di sampingnya.

"Bi Ratna..." panggil Ruby pelan, menghentikan langkahnya di dekat jendela besar yang menghadap ke taman.

"Iya, Miss Ruby? Ada yang terasa sakit atau butuh sesuatu?" sahut Bi Ratna dengan senyum ramah dan penuh rasa hormat.

Ruby menggeleng halus. Jemarinya meremas pelan gaun kain katun lembut yang dikenakannya. Setelah mengumpulkan keberanian yang tertahan selama berminggu-minggu, ia akhirnya menatap mata pelayan tua itu.

"Ruby boleh tanya sesuatu, Bi?"

"Tentu saja, Miss. Mau tanya apa?"

"Pria yang... yang punya rumah ini..." Ruby menelan ludah, suaranya sedikit memelan. "Siapa dia sebenarnya, Bi? Kenapa tempat ini dijaga ketat banget, dan kenapa semua orang di sini sepertinya sangat patuh sekaligus takut sama dia? Bahkan... Ruby nggak pernah tahu siapa namanya."

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah hangat Bi Ratna mendadak berubah sedikit kaku. Pelayan tua itu menyapu pandangannya ke sekeliling lorong yang sepi sebelum kembali menatap Ruby dengan tatapan serba salah.

"Maafkan Bibi, Miss Ruby..." bisik Bi Ratna penuh kehati-hatian. "Bukan maksud Bibi ingin merahasiakan sesuatu dari Miss. Tapi kami semua di rumah ini punya aturan ketat. Kami tidak memiliki hak untuk menceritakan identitas atau urusan pribadi Tuan kepada siapa pun."

"Bi, Ruby cuma mau tahu nama orang yang udah selamatkan nyawa Ruby..." bujuk Ruby dengan tatapan penuh harap. "Ruby cuma merasa aneh, tinggal di rumah orang asing tanpa tahu siapa dia."

Bi Ratna tersenyum tipis, lalu memegang lembut tangan Ruby. "Tuan adalah orang yang sangat tertutup, Miss. Jika Miss Ruby benar-benar ingin tahu siapa beliau dan apa alasannya menampung Miss di sini... akan jauh lebih baik jika Miss menanyakannya secara langsung saat Tuan kembali nanti."

"Memangnya... kapan dia bakal pulang, Bi?"

"Biasanya tidak akan lama lagi, Miss," jawab Bi Ratna misterius. "Dan kalau waktunya tiba, Bibi sarankan Miss Ruby bicara baik-baik dengan beliau."

Ruby menghela napas pelan, menyandarkan tubuhnya di tepi jendela. Jawaban Bi Ratna tidak mengikis rasa penasarannya, justru makin menambah teka-teki besar di kepalanya. Siapa sebenarnya pria dingin yang telah menariknya dari neraka Kavano itu?

Langkah kaki berdentum teratur di atas lantai marmer, memecah keheningan koridor utama. Pria itu baru saja kembali. Jas hitamnya terpasang sempurna, dan di belakangnya, sang asisten berjalan patuh membawa tas dokumen tebal. Aura dingin dan dominan yang dibawanya seketika memenuhi seluruh lorong, persis seperti yang diingat Ruby beberapa minggu lalu.

Mata elang pria itu bertabrakan dengan pandangan Ruby yang berdiri di dekat jendela. Langkahnya melambat, menyapu penampilan Ruby dari ujung kepala hingga ujung kaki—meneliti fisik gadis itu yang kini jauh lebih sehat, segar, dan bersinar dibandingkan sosok mengenaskan yang hampir membusuk di bagasi mobilnya.

Jantung Ruby berdegup kencang. Mengingat pesan Bi Ratna dan kebaikan fasilitas yang telah menyelamatkan nyawanya, Ruby mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. Ia melangkah perlahan mendekati pria tegap itu.

"T-Tuan..." panggil Ruby penuh kehati-hatian, menghentikan langkahnya dalam jarak dua meter.

Pria itu ikut menghentikan langkahnya. Posisinya yang menjulang tinggi membuat bayangannya jatuh menutupi tubuh ringkih Ruby. Tatapannya datar, kaku, dan sulit diartikan.

Ruby menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk penghormatan. "Saya mau mengucapkan terima kasih banyak... Terima kasih sudah izinkan dokter dan para pelayan merawat saya sampai sembuh seperti sekarang. Kalau bukan karena Tuan, saya pasti sudah mati."

Suara Ruby terdengar tulus, tanpa ada lagi kepanikan atau ketakutan yang berlebihan.

Namun, pria itu tidak menjawab.

Satu detik... dua detik... keheningan yang mencekam merayapi udara di antara mereka. Pria itu hanya menatap lurus ke dalam iris mata Ruby dengan raut wajah yang sama sekali tak tertebak tanpa ekspresi ramah, tanpa tolakan, dan tanpa rasa peduli.

Seolah ucapan terima kasih dari Ruby hanyalah angin lalu yang tak memicu reaksi apa pun dalam dirinya, pria itu kembali melangkah. Ia melewati Ruby begitu saja, membiarkan aroma maskulin bermotif kayu cendana yang mahal menyapu wajah gadis itu.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu berjalan lurus menuju ruang kerja pribadinya di ujung lorong, meninggalkan Ruby yang berdiri terpaku sendirian di tengah koridor yang megah dan dingin.

Perasaan canggung dan campur aduk langsung menyergap dada Ruby. Wajahnya memanas karena malu; ucapan terima kasihnya yang tulus baru saja diabaikan begitu saja seolah-olah dirinya adalah makhluk transparan yang tak berharga. Namun, di saat yang sama, rasa takut kembali merayapi benaknya. Sikap pria itu yang terlalu dingin, tidak tertebak, dan penuh rahasia mulai memicu paranoia dalam diri Ruby.

*Apakah pria ini sebenarnya jauh lebih jahat dan kejam daripada Kavano?* bisik hatinya cemas. Keterdiaman pria itu terasa jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan kasar Kavano.

Melihat raut wajah Ruby yang mendadak pucat dan bingung, Bi Ratna mendekat dengan langkah pelan. Pelayan senior itu mengelus lembut lengan Ruby, mencoba mengalirkan kehangatan untuk menenangkan gadis yang terpaku itu.

"Jangan dimasukkan ke dalam hati ya, Miss Ruby," bujuk Bi Ratna dengan nada suara yang sangat lembut. "Tuan memang sosok yang sangat dingin dan tidak banyak bicara pada siapa pun. Tapi percaya sama Bibi, Tuan bukan orang jahat."

Ruby hanya menunduk gundah, menatap ujung kakinya. "Tapi Bi... dia bahkan nggak sudi cuma buat sekadar membalas ucapan Ruby."

"Tuan hanya tidak terbiasa mengekspresikan perhatiannya dengan kata-kata," jawab Bi Ratna sembari tersenyum menenangkan. "Daripada memikirkan hal itu sampai pusing, bagaimana kalau Bibi temani Miss jalan-jalan ke taman belakang? Di sana banyak bunga-bunga segar dan tanaman asri. Udara sore di luar sangat bagus untuk pemulihan."

Ruby menghela napas panjang, mencoba mengusir gumpalan sesak di dadanya. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Boleh, Bi... Ruby juga butuh udara segar."

Mereka berdua berjalan menuju area luar belakang mansion. Begitu pintu kaca besar terdorong terbuka, pemandangan luar biasa langsung menyapa indra penglihatan Ruby. Taman belakang mansion ini sangat luas dan terawat sempurna, dihiasi hamparan rumput hijau yang rapi, pepohonan rindang, serta berbagai jenis bunga mekar beraneka warna yang memancarkan aroma wangi nan alami.

Angin sore bertiup sepoi-sepoi, menerbangkan helai rambut halus Ruby dan menyapu sisa-sisa ketegangannya. Berada di antara keindahan tanaman dan bunga-bunga yang bermekaran membuat dada Ruby sedikit merasa lega, memberinya ketenangan sementara dari misteri besar yang menyelimuti pria pemilik rumah ini.

Dari balik tirai tipis jendela balkon lantai dua yang redup, pria itu berdiri menjulang. Tubuh tegapnya bersandar kaku, sementara jemarinya yang panjang memegang segelas wiski yang belum tersentuh. Iris mata elangnya yang dingin menembus kaca, terkunci lurus pada sosok gadis di bawah sana.

Ruby terlihat sangat berbeda di bawah pendar sinar matahari sore.

Gadis yang empat bulan lalu tergeletak mengenaskan bagai bangkai berlumuran darah di bagasi mobilnya, kini melangkah pelan di antara semak bunga mawar yang bermekaran. Rambutnya yang mulai panjang bertiup halus dibelai angin. Ia membungkuk sedikit, memejamkan mata menghirup aroma kelopak bunga, lalu tertawa kecil bersama Bi Ratna.

Suara tawa ringannya yang samar-samar terbawa angin hingga ke balkon lantai atas terasa begitu asing di telinga sang penguasa mansion.

Pria itu menyesap minuman di gelasnya pelan, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya. Sikap dingin dan kebisuannya tadi di koridor bukanlah tanpa alasan. Bertahun-tahun ia membangun kediaman ini sebagai benteng yang kedap dari emosi, kelemahan, dan gelak tawa orang asing. Namun kini, kehadiran Ruby yang polos dan penuh penderitaan mulai mengusik ketenangan yang selama ini ia jaga rapat-rapat.

Ia memperhatikan bagaimana jemari halus Ruby menyentuh dedaunan dengan penuh kehati-hatian seolah gadis itu baru saja menemukan kembali kehidupannya yang sempat direnggut paksa oleh kekejaman Kavano.

"Tuan," suara sang asisten terdengar pelan dari arah pintu kamar, memecah kesunyian. "Laporan mengenai pergerakan Kavano Archelio sudah siap."

Pria itu tidak langsung memutar badan. Matanya masih tertuju pada senyum tipis di bibir Ruby yang terlihat begitu rapuh namun sekaligus tangguh.

"Simpan di meja," sahutnya pendek, suaranya mengalun sangat rendah dan datar.

Ia memiringkan gelasnya sedikit, membiarkan es batu beradu gemerincing di dalam kaca, sebelum akhirnya menarik tirai tebal untuk menutup pemandangan taman di bawah mengurung kembali sosok Ruby dari pandangannya, meski bayangan tawa riang gadis itu telah terlanjur membekas di benaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!