Jakarta. 2005.
Seorang wanita gemuk bermake-up tebal menunjuk pintu berbahan triplek yang ada di belakang Mila, enggan membuang waktu, Mila pun segera memasuki pintu itu, pintu yang terhubung dengan sebuah lorong kecil.
"Gila, nggak nyangka aku bisa berada di tempat seperti ini." Gumam Mila sambil tak henti menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya dirinya akan berada ditempat aneh ini, dan yang membuatnya lebih merasa aneh lagi ketika akhirnya ia tahu bahwa Kakaknya selama ini telah bekerja sebagai seorang mucikari, bekerja sama dengan germo itu.
Gara-gara disepelekan terus olah ketiga sahabatnya yang terlahir dari keluarga kaya raya, apa yang terjadi hari ini akan menjadi awal sebuah perubahan di dalam hidup Mila. Menjadi seorang pelacur, pelakor, pengkhianat, bahkan mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
Selanjutnya hidup Mila pun semakin hancur setelah Ayahnya menikah lagi dengan gadis mantan seorang waitress kafe yang kini telah bekerja sebagai model majalah dewasa, pernikahan yang membuat sang Ayah terjebak kedalam kasus penggelapan uang perusahaan dan kemudian dipenjara.
Hidup miskin membuat Mila semakin menggila, bahkan meski sudah menikah pun ia tega mengkhianati Suaminya dan hamil oleh Keponakan Suaminya sendiri.
Bagaimanakah nasib Mila selanjutnya?
Lantas karma apa yang akan didapatkan oleh para perempuan penggoda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erbi Ananta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pisau Lipat Dalam Saku Celana
"Dengar baik-baik, jangan pernah sekalipun kau sakiti Mila, karena kalau itu terjadi, aku sendiri yang akan tusuk kau dengan pisau ini.” Ancam Arkana sambil kemudian merogoh pisau lipat yang dibawanya di dalam saku celana, benda kecil yang kerap dibawanya kemanapun ia pergi.
Joni segera melihat ke arah benda yang dikeluarkan Arkana dari saku celana jeansnya itu, dan ia terhenyak, netranya mendadak terbuka lebar, tidak pernah mengira Arkana akan mengancamnya hingga seperti itu, tapi setidaknya Joni lega, karena dari ucapan Arkana barusan Joni langsung paham bahwa Arkana sudah mulai memberikan lampu hijau kepadanya.
“Mila itu satu-satunya adikku, dan aku sangat sayang kepadanya, aku yang selama ini jaga dia, tapi sebentar lagi aku harus melepaskan dia dan menyerahkannya kepadamu, jadi tolong jaga dia baik-baik.”
“Okay Bro, Untuk Mila dan juga demi persahabatan kita apa pun akan aku lakukan, dan akan kujadikan dia permaisuri di rumah kami nanti."
“Meskipun kau harus berdarah darah dalam mencari nafkah?”
Joni mengangguk yakin.
“Meskipun kau harus kehilangan nyawa untuk dia?”
Joni mengangguk lagi.
“Awas saja kalau sampai aku melihat dia menangis gara-gara kau, lihat apa yang bakal aku lakukan sama kau, akan aku tusuk perut kau itu lalu akan aku buang ke jurang. "
Tatapan Arkana semakin tajam, tatapan yang sama dengan ketika Arkana dalam keadaan marah dan hendak menyerang lawannya saat tawuran.
Joni bergidik ngeri, diam-diam kedua kakinya gemetar, betapa tidak, meskipun belum lama bergabung di dalam geng motor yang diketuai oleh Arkana, namun Joni sudah cukup mengenal karakter ketua gengnya itu, selama ini Arkana tidak pernah main-main dengan ucapannya, jika sudah tersinggung, apalagi untuk hal yang menyangkut keluarganya, terlebih lagi persoalan yang menyangkut harga dirinya, maka Arkana yang tadinya bersikap kalem bisa mendadak berubah jadi garang.
Sedangkan bekas luka goresan pisau di lengan kiri dan pipi kanannya cukup untuk menunjukan bahwa ia memang seorang petarung, itulah yang membuat Arkana disegani oleh semua anggota gengnya, selain itu Arkana juga punya pengaruh yang kuat, banyak anggota gengnya yang tadinya penakut sekarang jadi sama beraninya seperti dirinya.
“Aku janji, dan kalau sampai aku melanggar janjiku kau boleh hukum aku.” Ujar Joni dengan mantap, ia begitu yakin bahwa dirinya akan mampu melaksanakan janjinya itu.
“Baiklah kalau begitu.”
Tiba-tiba Joni memeluk Arkana dengan erat.
"Iiisssh.. lepasin bodoh! Nanti dikira homo kalau sampai Mama sama Mila melihat kita berpelukan seperti ini!"
"Sebentar bro, aku sedang ingin memelukmu." Bisik Joni ditelinga Arkana, suaranya yang pelan membuat Arkana makin geli.
"Ikh...!" Teriak Arkana sambil mendorong tubuh Joni, namun rupanya tenaga Arkana sedang kalah dengan kekuatan dari rasa syukur dan haru yang keluar dari lubuk hati Joni yang paling dalam, sehingga menciptakan pelukan yang begitu erat.
”Bro, terimakasih kau sudah mau menerima aku untuk jadi calon adik iparmu.” Bisik Joni lagi, suaranya mendadak parau, ia hampir menangis, ia benar-benar terharu melihat ketulusan Arkana yang sudah mau menerima dirinya untuk menjadi salah satu bagian dari keluarganya. Joni sama sekali tidak menangkap ekspresi yang janggal di wajah Arkana.
"Lagi pada ngomongin apa sih, serius banget?” Tanya Mila yang tiba-tiba muncul di samping mereka.
Keduanya terkejut dan segera melepaskan pelukannya masing masing.
“What’s happening here? Jangan-jangan selama ini kalian berdua…ng…” Goda Mila seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah mereka. lalu berteriak memanggil Mamanya. ”Mama………………!"
Arkana segera mendekap tubuh Mila dan membekap mulutnya.
Sambil terus tertawa Mila berusaha melepaskan diri, hingga akhirnya berhasil.
“Jadi nggak sih jalan-jalannya?” Tanya Mila kemudian, kepada Joni.
“Jadi dong.”
“Ya udah ayo cepetan berangkat, nanti keburu sore.”
“Oke, sayang. Yuk.”
Joni baru saja akan meraih tangan Mila untuk menggandengnya, namun diluar dugaan mereka tiba-tiba Arkana mendorong tubuh Joni hingga terhuyung.
“Heh! Berani sekali kau tak ajak aku jalan-jalan?”
Mila spontan melotot marah.
“Abang! Jangan kasar kau sama pacarku!” Bentaknya kepada Arkana, Mila mulai tidak suka melihat Arkana memperlakukan kekasihnya itu dengan semena-mena.”
Joni yang tidak paham dengan situasi tersebut malah tertawa.
“Haha…si bodoh itu malah tertawa.” Bisik Arkana kepada Mila.
“Abang!” Mila segera menarik tangan Arkana untuk menjauh dari Joni.
“Denger baik-baik ya Bang, walaupun niat aku awalnya cuma mau morotin duitnya dia aja, tapi aku nggak terima kalau Abang memperlakukan dia semena-mena seperti itu, karena aku sayang sama dia.”
Arkana malah tertawa, membuat Mila semakin geram.
“Issshh..dasar!”
Tanpa perduli, Arkana malah meninggalkan Mila begitu saja, menghampiri Joni lagi.
“Yuk Jon, berangkat.” Ajak Arkana sambil menarik tangan Joni.
“Nanti belikan aku sepatu bermerek ya, sepatuku bawahnya sudah tipis.” Ujar Arkana, kemudian melirik Mila, ingin tahu reaksi Mila.
“Siiip.” Jawab Joni dengan senang hati.
Diam-diam Mila mengacungkan jari tengahya ke arah Arkana, coba mengancam, namun Arkana malah mengangkat alisnya seraya mencibirksn mulutnya untuk meledek Mila.
Sebelum pergi, Mila masuk dulu ke dalam rumah untuk pamit kepada Mamanya.
“Ma... kami pergi dulu ya!”
“Iya...!” Jawab Bu Suaidah dari dalam kamarnya.
“Aku juga pamit ya, Tante...!” Ujar Joni pula.
“Iya sayang, hati-hati ya.....!”
Arkana langsung membelalakan matanya.
“Anjaaay…! Pintar juga kau mencuri hati Mamaku! Sama kau Mamaku bilang sayang, tapi sama kami tidak!”
“Hahaha...!” Joni tertawa ngakak, hatinya sedang berbunga-bunga. Selanjutnya dengan hati yang diliputi bahagia, mereka pergi ke sebuah mall untuk berbelanja.
Sementara itu Arkana sedang senyam-senyum juga, ia merasa senang karena sudah berhasil membodohi Joni.