Zahra menolong seorang wanita bersama gadis kecil, wanita itu pingsan dan Zahra pun membawanya ke rumah Sakit. Ternyata wanita itu adalah istri dari dosen paling killer di kampus. Dan dosen yang paling Zahra hindari.
Wanita yang di tolong Zahra meminta Zahra untuk menikahi suaminya dan menjadi ibu dari anaknya sebagai permintaan terakhirnya.
Akankah Zahra menerima atau menolaknya????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renav Renren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. pindah
Habis magrib kami pun berangkat ke rumah yang bekas khayra tempati dulu. Dan Chantika sangat senang begitu tahu mereka akan tinggal di rumah itu. Mereka pun mampir dulu ke rumah orang tua Zahra.
" Assalamualaikum."
" Walaikum salam."
Mereka pun masuk ke dalam rumah ada umi, zafra dan Yusuf yang sedang menonton tv.
" Eh mbak chantika " Chantika pun langsung duduk di samping zafra setelah mencium tangan umi.
" Jadi pindah hari ini nak." Tanya umi.
" Iya umi." Jawab Fachri.
" Oh iya Abi sama Alif kemana?"
" Abi dan Alif masih di masjid nanti mereka baru pulang habis isya."
" Ya udah umi Fachri juga mau ke masjid sudah adzan."
" Iya nak."
Dokter Fachri pun pergi menuju masjid, setelah mengambil wudhu dokter Fachri pun langsung masuk ke dalam masjid untuk mengikuti shalat isya berjamaah.
Setelah shalat isya selesai Fachri menunggu mertua dan juga iparnya.
" Assalamualaikum ."
Dokter Fachri mencium tangan mertuanya, kakek serta para om nya Zahra juga menjabat tangan Alif.
" Walaikum salam."
" Kamu sudah sampai RI, jadi malam ini kan nempatin rumahnya." Tanya Abi.
" Iya bi, Zahra dan Chantika Serta mbok Nah sudah ada di rumah Abi."
Dokter Fachri pun di perkenalkan ke para ustad yang mengajar di pesantren.
" Semoga kamu betah ya nak, kamu jangan sungkan kalau ada waktu kamu bisa bergabung dengan para ustad di sini." Ucap kakek.
" Iya kek."
" Ya sudah ayo kita pulang." Ajak Abi.
Dokter Fachri sangat bersyukur menikah Zahra karena dokter Fachri yang memang sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi kini dirinya berasa mempunyai keluarga kandung sendiri. Keluarga besar Zahra sangat baik juga sangat hangat, begitu juga dengan para ustad mereka langsung menyambut dokter Fachri dengan ramah.
Begitu sampai rumah orang tua Zahra ternyata makan malam sudah siap. Mereka pun langsung menuju meja makan di sana sudah menunggu umi, Zahra, Zafra, Chantika juga mbok Nah.
" Kalian mau langsung tidur di sana atau menginap di sini." Tanya Abi saat mereka baru selesai makan malam.
" Kalau Fachri terserah Zahra aja bi."
" Kita langsung menginap di sana aja bi." Ucap Zahra
" Ya sudah kalau begitu, semoga kamu Fachri, Chantika dan mbok Nah betah tinggal di sini. Oh iya Fachri kalau bisa jika ada di rumah di usahakan untuk shalat berjamaah di masjid."
" Iya bi."
" Oh iya mbok Nah juga bisa ikut ngaji setiap hari Rabu ada pengajian ibu-ibu sekitar pesantren. Pengajiannya selalu di Adain di masjid kok mbok jadi ikut aja. Kalau saya sedang nggak bisa ikut ngaji karena kerjaan mbok bisa bareng adik ipar saya. Dan mbok nggak usah khawatir takut nggak ada yang jaga Chantika mbok bisa minta tolong santriwati yang jaga Chantika atau bisa minta tolong Mbak may atau teh Rika." Jelas umi.
" Iya umi, mbok senang banget bisa ikut ngaji."
Mbok Nah sangat bersyukur dulu saat dirinya sudah nggak punya siapa-siapa setelah suaminya meninggal dunia. Orang tua sari menemukannya dan mengajaknya untuk tinggal dan bekerja sebagai pengasuh kedua anaknya. Dan mbok Nah baru tahu kalau dokter Fachri bukan anak kandung orang tuanya sari. Saat dokter Fachri kecelakaan dan membutuhkan donor darah tapi kedua orang tua sari sibuk mencari darah yang cocok. Mbok Nah pun bertanya-tanya kenapa bukan mereka saja yang mendonorkan darahnya kan mereka orang tuanya. Akhirnya mamanya sari memberitahukan bahwa dokter Fachri bukan anak kandungnya melainkan anak angkat mereka.
Mbok Nah juga menyaksikan bagaimana dokter Fachri frustasi saat ayahnya sari memohon kepada dokter Fachri untuk menikahi sari. Karena pria yang menghamili sari tidak mau bertanggung jawab padahal dokter Fachri baru saja melamar sang ke kasih seminggu sebelumnya. Karena ayahnya sari terus memohon dan dokter Fachri merasa berhutang Budi. Akhirnya menerima permintaan ayahnya sari dan harus mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih.
Sejak saat itu dokter Fachri berubah lebih pendiam, dingin dan tak ada lagi senyum yang menghiasi wajahnya. Melihat perubahan dokter Fachri mbok Nah sangat sedih karena mbok Nah sudah menganggap dokter Fachri seperti anak kandungnya sendiri.
Sebenarnya Mbok Nah tidak hanya kasihan dengan dokter Fachri tetapi juga dengan sari. Karena laki-laki yang tidak bertanggung jawab membuat sari harus menikahi kakak angkatnya sendiri. Dan membuat dokter Fachri harus mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih. Sari tahu bagaimana perjuangan cinta mereka sampai akhirnya dokter Fachri mendapat restu dari orang tua sang kekasih. Makanya selama ini sari nggak menuntut dokter Fachri untuk mencintainya. Dengan perubahan dokter Fachri aja sudah membuat sari amat merasa bersalah.
Sebenarnya Mbok Nah merasa marah saat sari menyuruh dokter Fachri menikahi wanita yang baru mereka temui karena menolong sari. Mbok Nah takut Sari makin terpuruk dengan sakit yang di deritanya. Tapi setelah mendapatkan penjelasan dari sari akhirnya mbok Nah mendukung keputusan sari.
Mbok Nah bertemu Zahra hanya saat Chantika diajak tinggal sementara waktu di rumahnya dan saat dokter Fachri menikahi Zahra.
Dan mbok Nah baru paham kenapa sari pernah bilang kalau dirinya akan pergi setelah dokter Fachri dan Chantika mendapatkan pengganti dirinya yang tepat. Dan mbok Nah melihat saat sari meninggal dan Zahra datang bersama Chantika. Mbok Nah baru bisa melihat betapa Zahra sangat menyayangi Chantika. Mbok Nah juga melihat Zahra begitu menghargai dokter Fachri. Saat dokter Fachri meminta dirinya untuk tidur bersama Chantika. Mbok Nah tidak melihat ada kekecewaan dan merasa terabaikan di wajah Zahra, Zahra terlihat sangat mengerti keadaan suaminya yang sedang berduka.
Keesokan harinya saat Zahra ingin ikut mbok Nah membeli sarapan dan juga membeli sayuran. Zahra langsung pergi meminta izin terlebih dahulu dan mbok Nah juga bisa melihat ketulusan Zahra melayani keperluan suami dan anak sambungnya.
Kini bukan hanya kecantikan, kebaikan dan kelembutan Zahra saja. Tapi keluarganya Zahra begitu peduli dan juga begitu baik. Dan sangat lapang dada menerima dokter Fachri dan juga Chantika.