belum di revisi
Tolong baca nya jangan di lompat!
SEKUEL SAYEMBARA JODOH
kisah anak-anak Dira dan Juna.
"Sampai sekarang aku masih mencintaimu, Bun."
"Kakak jangan gila! Aku ini calon adik iparmu!"
"Apa kamu mencintai Angkasa?" tanya Fajar.
Embun pun menjawab sambil membuang muka. "Ya. Aku mencintainya! Puas?"
Embun tidak pernah menyangka dipertemukan kembali dengan Fajar--seseorang yang datang dari masa lalu. Lelaki yang sangat mendambakan dirinya. Akan tetapi, Embun harus meninggalkan Fajar sebab begitu banyak tekanan yang dia hadapi. Tembok mereka cukup tinggi.
Saat ini Embun sudah bersama dengan pria lain. Pria yang memiliki kedekatan cukup erat dengan Fajar, yang menjadi pilihan ayahnya.
Lalu, bagaimana dengan Fajar? Cinta yang dia simpan rapat-rapat kini kembali bergejolak setelah pertemuannya. Akankah dia menyimpan cinta itu untuk selamanya? Atau justru berjuang untuk mendapatkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjelang pertunangan
Embun memandang langit gelap di penuhi bintang-bintang. Walaupun dia tinggal di perumahan dekat perkotaan. Tapi suasananya tetap sepi seperti kuburan. Padahal baru saja selesai Magrib, pandangannya menoleh ke arah sang adik di meja belajar. Saat ini lintang sangat fokus belajar, efek sudah kelas tiga. Sebentar lagi lulus dan seperti biasa jurusannya di pilih oleh papa.
Dia ingin sekali seperti anak yang lain. Bisa belajar, bermain, bersosialisasi, tanpa harus di kawal. Padahal papanya bukan pengusaha sukses. Tapi kerja di perusahaan milik pengusaha property. Padahal rumahnya bukan rumah mewah, akan tetapi Embun dan Lintang sudah nyaman di tempat ini.
Saat ini dia hanya menggunakan piyama tidur. Karena memang tidak ada rencana mau kemanapun. Tapi tetap saja rasa gundah gulana menyita relung hatinya. Memikirkan apa yang terjadi pada sang kekasih. Memikirkan rencana Kinara ungu mengusut siapa pelaku begal pada Fajar. Kalau ternyata memang papanya tamat sudah hubungan dia dan Fajar. Kalau bukan Embun ingin bernafas lega.
Suara pintu mengalihkan pandangan dua kakak beradik itu. Siapa lagi kalau bukan papa Trias. Embun menebak papanya akan membahas soal Fajar. Tapi ternyata papanya bilang ada Roger yang mengajak nya makan malam.
"Pak Roger, Pa?" jawab Embun masih bingung.
"Iya, kamu siap-siap saja. Kata Roger bukan makan malam di restoran. Tapi acara sporty." kata papa Trias.
" Kenapa papa izinkan kak Embun?' tanya Lintang.
"Roger itu keponakan bos nya papa. Nanti kalau papa cegat dan larang reputasi bisa ancur. Jadi mending papa setujui saja." sahut Trias.
" Aku tidak mau pergi!"
" Yasudah, papa tinggal bilang sama Roger kalau kamu tidak mau." Trias pun keluar dari kamar putrinya.
Ting!
"Aku tunggu di mobil, sayang."
Embun mengerutkan dahinya. Berarti Roger datang bersama Fajar. Dia langsung berlari mencari papanya. Sayangnya Roger sudah tidak terlihat lagi. Dia menebak kalau Roger sudah pulang.
"Kak." panggil Lintang.
Gadis itu menarik kakaknya ke kamar. Tampak tangga panjang di bawah jendelanya. Ada Roger menunggu di bawah. Embun takut akan jadi masalah besar. Dia pun urung turun dari jendela.
"Kak, maaf aku tidak bisa ikut jalan sama kakak." tolak Embun.
"Yah, sayang banget, Bun." suara Roger terdengar kecewa.
"Maaf, ya, kak. Sekali lagi minta maaf."
"Kau tahu, Bun. Aku susah payah membujuk orangtuanya untuk membawa Fajar. Kaki Fajar tulangnya retak parah. Makanya dia cuma bisa duduk saja. Kaki dan tangannya tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Kalau dia sehat mungkin dia bisa kabur pas acara besok.
Dan jika kamu tidak datang, besok sore dia harus pulang bersama kedua orangtuanya. Untuk pengobatan lebih lanjut. Ayolah, Bun. Luangkan waktumu hari ini. Saya mohon."
Kepala Embun terangkat. Besok! iya besok! dimana dia harus mendengar kisah bahagia sahabatnya. Ketika ulang tahun dan pertunangan yang katanya juga besok di adakan. Embun berusaha tidak menampakkan dia kalut.
"Tak masalah, Kak. Sekali lagi saya minta maaf. Kalau saya pergi akan ada masalah baru. Saya pun sudah paham apa yang terjadi besok." suara Embun masih berusaha tegar.
Setelah Roger pergi, Embun hanya merebahkan diri di atas ranjang kecilnya. Menatap langit dinding kamarnya. Semoga apa yang dia lakukan kali ini bisa di maklumi Fajar. Posisinya sangat sulit. Embun tidak mau papanya bertindak lebih jauh lagi.
...****...
" Bun, kamu bisa kan datang lebih awal?" tanya Kinara pada Embun.
Saat ini mereka sedang duduk di ruang kelas. Beberapa mahasiswa sudah masuk memenuhi kelas.
"Apa penting kalau aku ada di sana?" Embun balik bertanya pada Kinara.
"Ya penting, dong. Kamu sahabatku, Bun." Kinara memeluk Embun sangat erat.
"Penting untuk melihat kamu dan kak Fajar bertunangan, ya, kan? Kin, aku pikir kamu itu sahabatku. Aku pikir kamu bakal paham sama perasaanku. Ternyata aku salah. Semakin mendekati hari, kamu terlihat lebih bahagia. Sok akrab sama Tante Dira, mau kamu apa, Kin?" Embun meluapkan semau yang mengganjal akhir-akhir ini. Termasuk sikap Kinara yang dia anggap manipulatif.
"Bukan gitu, Bun. Aku dan Tante Dira emang sejak dulu akrab. Jadi sudah kayak ibu dan anak. Kamu jangan suudzon begitu. Aku ajak kamu supaya kalian lebih dekat. Percaya sama aku, Bun." bujuk Kinara.
"Maaf, Kin. Untuk saat ini aku belum bisa percaya sama kamu." Embun pergi meninggalkan kelas.
"Bun," Kinara masih mencoba mengejar Embun.
Embun duduk di perpustakaan. Sejenak dia menghela nafasnya. Haruskah dia menerangkan pada Kinara bagaimana perasaannya saat ini. Embun ingin pulang saja, dia tidak ada semangat untuk melanjutkan aktifitas kampusnya.
"Bun," langkahnya terhenti mendengar namanya di panggil.
"Kamu marah sama aku? maaf, Bun. tidak ada maksud membuat kamu sedih ataupun marah. Maafkan sikap aku yang mungkin menyinggung perasaan kamu." lirih Kinara.
"Bun, aku mohon kamu datang supaya kak Fajar bisa menolak perjodohan kami. Aku bisa minta anak buah papa buat jemput kamu."
Embun hanya berlalu dari hadapan Kinara. Sikap Embun dianggap sebagai kecemburuan pada Kinara.
Kinara baru saja akan kembali ke kelas. Getaran di sakunya membuatnya harus menghentikan langkahnya.
" Iya, pak bagaimana hasil penyelidikannya?"
" Saya sudah mengantongi satu nama untuk kasus ini" kata orang suruhan Kinara.
"Oh, oke kalau begitu kirim ke saya infonya."
...****...
"Apa papa yang sudah buat kak Fajar seperti itu?" tanya Embun ketika sampai di ruang kerja papanya.
Trias mengerutkan dahinya. Dia bosan ketika Embun masih membahas soal Fajar. Seakan dunia anaknya hanya Fajar seorang.
"Apakah kamu datang kemari hanya untuk membahas dia? Apa tidak ada hal yang lebih penting di bicarakan selain soal Fajar. Sejak kamu dekat dengan Fajar kamu lupa rasa hormat pada papamu sendiri. Sejak kamu dekat sama dia begitu banyak masalah yang datang di keluarga kita. Salah satunya ultimatum dari ayahnya Kinara. Dan kamu masih tidak paham juga, Bun. Papa sudah beberapa kali mewanti-wanti sama kamu, jauhi mereka. Baik Fajar maupun Kinara. Kamu sudah di butakan sama cinta, Bun." kata Trias.
"Pa, masalahnya adalah Kinara sudah melaporkan kasus ini pada pihak berwajib. Aku takut mereka menemukan papa. Di masukkan ke penjara. Apa tidak memikirkan nasib kami kalau itu terjadi."
...*****...
"bagaimana keadaan anak saya?" tanya Juna di pintu kamar.
"Alhamdulillah, dia sudah sedikit siuman. Dia hanya dehidrasi karena kekurangan asupan gizi.
Semua yang ada di depan kamar Fajar menarik nafas lega. "Alhamdulillah bukan hal yang parah." kata Oma Dewi. "Kalian lihat kan? akibat keegoisan kalian cucu ku kena imbasnya. Mama heran sama kamu Juna, Dira, sebegitu ingin Fajar menikah dengan anaknya Marcel.
Kamu jangan lupa Dira, kamu juga dulu pernah seperti ini karena Arjuna. Kenapa tidak belajar dari pengalaman." Ucap Oma Dewi meluapkan kekecewaannya.
Mimi dan yang lainnya mencoba menenangkan Dewi. Mereka takut berimbas pada kondisi kesehatan Oma nya.
"Oma jangan banyak pikiran. Biar itu jadi urusan mereka." kata Dara.
"Saya kecewa sama mereka berdua. Hanya memikirkan diri sendiri. Masih untung tidak terjadi apa-apa sama Fajar. Kalau terjadi sesuatu pada cucu-cucuku. Kalian semua tidak akan aku maafkan.
Dengar Juna, kalau kamu masih ngotot mengadakan acara pertunangan Fajar, sedangkan anak kalian dalam kondisi seperti ini. Mama yang akan boikot acara itu." Dewi pun pergi meninggalkan tempat Fajar istirahat.
Terimakasih author buat cerita kerennya 😍😍 Walau masi penasaran sama ending kisah Darren dan Reva, juga jodohnya Lintang 😁