Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 - Batas Waktu

Sam mengambil sepotong martabak keju cokelat yang masih hangat, lalu menggigitnya pelan. Matanya menatap Tia yang sibuk meniup-niup teh hangat dalam cangkir bergambar bunga pudar.

"Tapi Mbak Tia..." buka Sam dengan raut wajah sedikit serius, walau mulutnya masih sibuk mengunyah martabak. "Kita kan sudah tanda tangan kontrak 24 bulan untuk cicilan pembayaran. Tapi kalau soal status... aku harus jadi 'suami pameran' ini sampai kapan? Beneran mau bertahun-tahun pura-pura nikah?"

Tia menghentikan seruputan tehnya. Ia meletakkan cangkir ke meja lipat dengan bunyi klang pelan, menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu helaan napas panjang meluncur dari bibirnya.

"Satu bulan," jawab Tia mantap. "Paling lama dua bulan."

Sam mengerutkan dahi tampannya. "Lho? Cuma sebulan? Katanya keluarga Mbak rewelnya minta ampun? Kalau cuma sebulan, terus nanti pas ditanya kenapa cepat pisah, Mbak mau jawab apa?"

Tia terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang agak miring. "Justru itu poin utamanya, Mas Sam. Aku cuma butuh membuktikan ke Ibu, Tante Lies, Tante Mirna, dan terutama si Nia sama Aris, kalau pernikahan yang mereka agung-agungkan itu tidak selalu berakhir bahagia bagai dongeng!"

"Maksud Mbak?"

"Selama tujuh tahun terakhir, hidupku dihakimi seolah-olah wanita melajang di usia 35 tahun adalah dosa paling besar di muka bumi," cetus Tia dengan pandangan penuh penderitaan terpendam. "Mereka cuma peduli aku punya suami atau tidak, tanpa peduli apa aku bahagia atau tidak. Jadi, rencanaku begini: kita nikah resmi versi drama hemat, kita bikin pesta, kita pamerkan foto romantis di semua grup keluarga. Setelah sebulan, kita pura-pura tidak cocok, lalu cerai baik-baik!"

Tia menepuk mejanya pelan dengan binar mata kepuasan. "Pas statusku berubah jadi janda nanti, mereka tidak akan berani mendesakku nikah lagi! Mereka bakal kapok dan mikir dua kali buat dijodoh-jodohkan! Martabatku selamat, dan hidupku tenang selamanya!"

Sam melongo mendengar logika ekstrem ala staf administrasi senior tersebut. Geleng-geleng kepala, sang pawang buaya tak habis pikir dengan rencana rumit wanitanya demi menghindari omelan keluarga.

"Gila..." gumam Sam geleng-geleng. "Mbak Tia ini benar-benar niat ya. Demi menghentikan omongan emak-emak, rela keluar uang pinjol, jual kulkas, bikin skenario nikah, sampai menyiapkan skenario janda dalam waktu sebulan!"

"Harus niat, Mas Sam! Ini namanya investasi kedamaian jangka panjang!" tegas Tia penuh rasa bangga. "Gimana? Mas Sam setuju kan sama skenario sebulan ini?"

Sam menatap wajah Tia yang bersemangat. Di balik logika anehnya, Sam tahu ada rasa lelah yang amat sangat dari seorang wanita yang terus-menerus disudutkan oleh ekspektasi sosial. Ada rasa empati yang makin pekat bersarang di dada Sam.

"Boleh," sahut Sam akhirnya seraya tersenyum tipis. "Satu bulan atau dua bulan, terserah Mbak Tia saja. Aku ikut skenarionya. Yang penting cicilan per bulannya lancar masuk ke rekeningku buat jajan Si Bejo."

"Nah! Itu baru calon suami kredit yang kooperatif!" puji Tia girang.

Dalam hatinya, Sam menyusun rencananya sendiri. Satu atau dua bulan ini adalah waktu yang sangat sempurna baginya. Ia tidak hanya akan membantu Tia menuntaskan 'misi kedamaian'-nya, tetapi juga memanfaatkan masa-masa ini untuk fokus belajar mengelola Norman Corp secara diam-diam di bawah bimbingan Hendra.

Bahkan, keputusan besar ini sengaja belum Sam ceritakan pada ibu dan keluarga besarnya di kampung. Pikir Sam, jika ia mendadak menelepon ibunya dan bilang, "Bu, Din sekarang punya uang puluhan miliar, perusahaan properti, dan mobil Rolls-Royce," ibunya bisa-bisa pingsan atau mengira Sam sudah bergabung dengan sekte pesugihan siluman buaya.

"Semuanya butuh waktu," batin Sam tenang. Ia harus memastikan kondisi kesehatan ayah tirinya pascaoperasi benar-benar pulih total, sembari perlahan-lahan belajar menjadi seorang direktur utama tanpa harus kehilangan jati dirinya.

"Mas Sam! Malah melamun!" teguran Tia membuyarkan lamunan Sam. "Martabaknya dihabiskan! Besok kita mulai hunting baju pengantin bekas di salon Mas Riki!"

"Iya, iya, Mbak," balas Sam terkekeh. Ia mengambil sepotong martabak lagi. "Tapi ingat ya, besok jam delapan pagi jemput aku di depan pintu gang kostan. Soalnya Si Bejo belum dimandiin dari kemarin, takut dia stres."

"Siap, Pawang!" seru Tia semangat.

Keesokan harinya, panggung komedi kehidupan mereka resmi memasuki babak baru.

Pukul 07.30 pagi, motor matik merah jambu milik Tia sudah meraung-raung di mulut gang sempit kontrakan Sam. Tia tampil dengan helm bogo warna cokelat, jaket kantor, dan kacamata hitam, siap menjemput suami kreditnya.

Sam keluar dari lorong gang dengan kaus oblong lusuh, celana jins pudar, dan tas ransel berisi sepatu boots karetnya. Sang calon miliarder tunggal itu melompati jok belakang motor matik merah jambu Tia tanpa canggung sedikit pun.

"Sudah siap, Mas Sam?" teriak Tia dari balik helm.

"Siap, Mbak! Pegangan ya, nanti kemeja putihku lecek kalau kena angin!" ledek Sam dari belakang.

"Enak aja! Kamu yang bonceng di belakang kok malah nyuruh aku pegangan!" sahut Tia sambil memutar gas dalam-dalam.

Motor matik itu melesat membelah kemacetan pagi kota menuju Kebun Binatang Kota. Orang-orang di lampu merah menatap heran ke arah mereka: seorang wanita karier bersetelan rapi mengendarai motor merah jambu, membonceng seorang pria tampan berotot kekar dengan rahang tegas yang wajahnya lebih mirip model majalah ketimbang penumpang angkutan.

Di sisi lain kota, di dalam ruang rapat bernuansa kayu mahoni di lantai 45 Gedung Norman Corp, Hendra sedang memimpin rapat terbatas bersama para direksi senior.

"Pak Hendra, bagaimana dengan ahli waris tunggal Bapak Norman?" tanya salah satu direktur utama dengan nada cemas. "Kapan beliau akan memimpin rapat direksi secara resmi?"

Hendra tersenyum misterius, menata dokumen di tangannya. "Sabar, Bapak-Bapak. Pimpinan baru kita sedang menjalani 'pelatihan khusus manajemen risiko tingkat lanjut' di lapangan."

para direktur saling pandang dengan tatapan kagum. "Wah... pelatihan di luar negeri ya, Pak?"

"Bisa dibilang begitu," sahut Hendra menahan tawa. "Beliau sedang menguji ketahanan mental menghadapi buaya muara... dan calon keluarga mertua."

Sementara itu di kebun binatang, Samsudin sudah menceburkan diri ke dalam kolam air keruh. Dengan bertelanjang dada dan celana pendek, Sam menepuk-nepuk moncong Si Bejo dengan riang.

"Bejo! Doakan abangmu ya!" bisik Sam pada buaya muara empat ratus kilogram di sebelahnya. "Bulan depan abangmu ini mau nikah sewaan. Nanti kalau ada tante-tante yang rewel pas resepsi, tak ajak ke sini biar kamu yang ceramahi!"

Si Bejo hanya mengibaskan ekor raksasanya, memercikkan air keruh tepat mengenai wajah tampan sang miliarder tersembunyi. Sam tertawa lepas.

Di balik lumpur kebun binatang, utang pinjol lima juta, dan kesepakatan suami kredit dua puluh empat bulan, skenario paling gila dalam hidup Samsudin dan Tia baru saja dimulai dengan sangat meriah.

1
Rommy Wasini Khumaidi
wah...sultan pulang kampung
Faidah Ida
jujur tentang Tia jg Sam sama ibumu....
Ardan
tunjukan pesona mu bang 😄👍
Rommy Wasini Khumaidi
pamer dong sama Nia,buruan tlp Nia,bilang suaminya CEO,trs habis dibeliin tas,sepatu sama gaun seharga setengah milyar
Ardan
beuuhhh duhai senang hati mbak tia,
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄
Ardan
duh mustinya bilang ikut untuk mendampingi dong, greget juga nih udah jadi menantu yg diangkat derajatnya oleh harta mertua, kok ga ada empati sih mbak 😌
Arin
Biar tuh pada bengong Tia dan calonnya melihat siapa pemilik perusahaan dia bekerja
Arin
Mas Sam adalah real pewaris yang menyamar🤣🤣🤣🤣😁😁😁😁
Ass Yfa
masih mikirin pinjol...mb Tia pinjolmu udah lunas dari awal
Ass Yfa
kok bentar lagi tamat....yg manis2 aja belum🤭🤭...masih mngglnya mbk lagi😄😄
Arin
Sudah saatnya Tia bahagia. Biarpun dari awal cuman niat nikah kontrak dengan sistem kredit🤭🤭🤭. Demi bungkam mulut saudara-saudaranya. Malah dapat pewaris kaya raya...
Ardan
sedih sih novel bagus kalo udahan, padahal bab nya baru dikit.
Faidah Ida
jgan mengada2 ya thor, no tamat yah, masih mau liat bucin akutnya Sam ke Tia
Dewi kunti
yaaaaahhh mosok Ndak tamat thor
Maya
melongo melongo dah tuh si Tia. jadi org kaya kamu Tia.😄
Anonim
ibunya Tia sama tantenya apa nanti gak pingsan tau menantunya triyulner
Arin
Bagaikan dapat durian runtuh Mba Tia nikah dengan Mas Sam😁. Nikah yang awalnya hanya tuntutan karena sudah berumur. Malah ternyata dapat sang pewaris perusahaan besar
Faidah Ida
atw bucin akut....
Ass Yfa
mau bukti apalagi Tia...sok..mas Sam tunjukkan
Ardan
tenang sam, akan tiba saatnya pada waktu yang tepat untuk sosok sang milyuner muncul dihadapan mba tia👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!