Indonesia
NovelToon NovelToon
Untuk Mutia

Untuk Mutia

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Perjodohan / Spiritual / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:554.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chia

"Aku bukan Khadijah, yang memiliki hati mulia dan sebaik-baiknya wanita penghuni syurga. Aku juga bukan Fatimah Az-Zahra, yang memiliki cinta suci dalam diamnya. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar cinta Fatimah untuk Ali. Dan aku tidak memiliki cinta yang mampu mengguncang Arsy Allah. Aku hanyalah Mutia, seorang manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Hatiku kotor, masih menyimpan perasaan iri dan dengki. Jadi... untuk menghindari niat jahat muncul di hatiku, seperti memasukkan racun ke dalam makanan dan minuman kalian, maka sebaiknya lepaskan aku."

Dua tahun Mutia bersabar menunggu cinta hadir dalam hati sang suami untuknya. Namun kesabarannya menuai hasil tak sesuai ekspektasi. Ia hanya mencinta sendiri, tatkala sang suami memberikan hatinya pada wanita lain.

Mutia bisa apa? Tak mungkin memaksakan diri untuk tetap bertahan. Ia anggap itu sebagai jawaban Tuhan, bahwa sang suami bukanlah takdirnya.

Dan Mutia pun memulai perjalanannya. Mencari takdir yang memang Tuhan berikan untuknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seutas benang tipis

"Kopinya sudah dingin. Buatkan yang baru."

Bersamaan dengan itu Ghifar meletakkan sebuah cangkir keramik diatas meja bar, menarik perhatian Mutia yang tengah sibuk dengan wajan dan penggorengan untuk menyiapkan sarapan.

Sesaat Mutia menatap Ghifar, sebelum berlama-lama mengamati cangkir keramik yang baru saja pria itu letakan. Kopinya sudah dingin, katanya? Jelas saja sudah dingin, mengingat Ghifar meminta —atau lebih tepatnya menyuruh— Mutia membuat kopi tersebut, selepas sholat subuh, lalu setelah ia menyajikan kopi, pria itu justru melenggang pergi untuk jogging dan kembali sejam kemudian.

"Hei! Kamu tidak dengar? Cepat buatkan yang baru. Aku tidak bisa memulai hari tanpa secangkir kopi." ujar Ghifar, lengkap dengan nada suaranya yang menyebalkan. "Ingat, jangan kopi instan. Kamu harus..."

"Menghancurkan bijinya dengan mesin kopi dan menyeduhnya dengan air panas yang dimasak, bukan air dari dispenser." potong Mutia, membuat Ghifar melotot. "Tuan sudah mengatakannya sejak dua minggu yang lalu."

Tanpa berkata-kata lagi Ghifar meninggalkan Mutia. Meski Azril telah menceritakan semua yang terjadi pada Mutia, ia masih belum bisa berdamai dengan masa lalu.

Sementara Mutia yang ditinggal menghela nafas panjang. Manik hitamnya terus menatap lekat punggung Ghifar yang kian menjauh. Meski sudah berulang kali mengingatkan diri, bahwa ia pantas menerima perlakuan buruk dari Ghifar karena apa yang ia lakukan pada pria itu di masa lalu, tetap saja hatinya merasa sesak saat pria yang dulu mengaku mencintainya, kini memperlakukannya bak seorang musuh.

Benar adanya bahwa cinta dan benci itu hanya dipisahkan oleh seutas benang tipis. Sewaktu-waktu benang tersebut bisa saja terputus dan perasaan akan dengan cepat berubah.

"Jangan harap kamu bisa bekerja dengan tenang, Mutia. Kamu harus membayar setiap rasa sakit dan kekecewaan yang sudah kamu berikan padaku." adalah kalimat yang Ghifar ucapkan setelah keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah.

Mutia pikir, Ghifar tak mungkin sekejam itu padanya. Tapi ternyata... pria itu benar-benar memperlakukannya dengan buruk. Meski sudah berusaha sebaik mungkin, dimata Ghifar ia selalu salah. Ghifar akan mencari-cari kesalahannya, dan bila tak menemukan kesalahan, Ghifar akan menciptakan kesalahan itu.

Seperti pagi ini, Mutia harus membuat kopi dua kali untuk Ghifar.

"Mut, sarapannya udah jadi?"

"Eh?" tersentak kaget, Mutia menoleh pada Lamia yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya. "Sebentar lagi, Teh."

Mutia mematikan nyala kompor, lalu memindahkan nasi goreng udang dari wajan ke piring saji, setelah itu ia beralih pada mesin kopi.

"Kamu mau buat kopi untuk siapa lagi, Mut?" Lamia bertanya, membuat Mutia menoleh.

"Tuan Ghifar, Teh."

"Lah, bukannya tadi udah kamu buatin?"

"Kopinya udah dingin, jadi aku minta buatin yang baru." tiba-tiba suara Ghifar terdengar menyela. Menarik perhatian dua pasang mata yang tengah membicarakannya.

"Kamu tinggal jogging selama satu jam, jelas aja kopinya mendingin. Seharusnya tadi kamu minta buatin Mutia setelah pulang dari jogging aja, kan kasihan Mutia jadi harus kerja dua kali." Lamia menghampiri adiknya yang duduk di kursi bar.

"Memang itu tujuanku. Membuatnya repot, tidak betah dan akhirnya pergi dari rumah ini." kemudian Ghifar melenggang pergi, tak memedulikan sang kakak yang menggeleng melihat tingkahnya.

"Mutia," Lamia beralih menatap wanita hamil yang baru saja mematikan mesin kopi. "Apa kamu dan Ghifar saling mengenal sebelum aku mengenalkan kalian?"

Gerakan Mutia yang akan menyeduh kopi terhenti selama beberapa detik. Jika kak Ghifar bersikap seolah tak mengenalku, itu artinya dia tidak ingin ada yang tahu tentang masa lalu kami. Kemudian ia menanggapi dengan gelengan kepala.

"Kenapa Teteh bisa berpikir seperti itu?"

"Entahlah. Aku perhatikan Ghifar selalu menatapmu seolah kamu telah melakukan kesalahan yang sulit untuk dimaafkan." ucapan Lamia terasa seperti pisau tajam yang menusuk jantung Mutia. "Tapi di satu waktu, aku pernah tanpa sengaja menangkap sorot kerinduan dan cinta dimata Ghifar, saat dia melihatmu."

Dibanding merindukanku, kak Ghifar pasti lebih ingin meluluhlantakkan hatiku atas perbuatanku yang telah menyakitinya hingga sedemikian rupa. Tak ada lagi cinta untukku, yang tersisa hanyalah kebencian.

"Teh, bukannya tuan Ghifar pernah tinggal dan sekolah di kota Prabumulih, tapi kenapa Teteh tidak mengetahui tentang kota itu?" dibanding membahas perasaan Ghifar lebih lanjut, Mutia memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.

Lamia menatap Mutia yang tengah mengambil tatakan cangkir dalam kabinet, dengan alis bertaut. "Kamu tahu darimana Ghifar pernah tinggal dan sekolah di Prabumulih?"

Mutia gelagapan, namun kemudian ia berhasil menemukan jawaban yang tepat. "Beberapa hari yang lalu aku membereskan kamar tuan Ghifar dan melihat foto-fotonya dengan latar beberapa tempat di kota kelahiranku, terus... aku juga lihat ijazah tuan Ghifar yang tergantung dalam figura. Tuan Ghifar lulusan sekolah menengah kejuruan."

Lamia mengangguk pelan sembari tersenyum. "Papa di tugaskan membantu kantor cabang di kota itu saat Mama hamil tua. Karena masa kerja Papa disana memakan waktu cukup lama, Papa membawa Mama bersamanya, sementara aku dititipkan pada Eyang. Ghifar lahir di kota itu. Setelah tugas Papa selesai, mereka mengajak Ghifar untuk pulang ke Bandung. Tapi Ghifar yang sudah merasa nyaman berada di kota itu, menolak ikut bersama Mama dan Papa. Selama beberapa tahun mereka menetap di kota itu, sesekali mengunjungiku yang tinggal bersama Eyang. Setahuku, Prabumulih itu, ya Palembang. Soalnya, kedua orang tuaku lebih sering mengatakan kota Palembang. Lalu dua setengah tahun yang lalu, entah mengapa tiba-tiba saja Ghifar memutuskan tinggal bersamaku, sementara kedua orang tua kami kembali ke Bandung."

Suara deheman memecah keheningan. Ghifar sang pelaku tengah berkacak pinggang di ambang pintu pembatas antara dapur dan ruang makan. "Jika kalian terus berbincang, kapan sarapannya. Dan kopiku pasti akan kembali mendingin. Mutia, cepat bawa sarapan ke meja makan!"

Saat sosok Ghifar telah menghilang, Lamia menghampiri Mutia dan mengusap ringan lengan wanita itu. "Jangan ambil hati semua sikap dan perkataan Ghifar. Dia memang sulit untuk beramah tamah pada seseorang."

Tapi dulu aku mengenalnya sebagai pribadi yang ramah dan hangat. Apakah perubahan sikap kak Ghifar, juga karenaku?

1
Siti Mujimah
keren ni kyknya
Siti Mujimah
bener kan kataku...kebohongan itu menyakitkan
Siti Mujimah
bakal muncul konflik kalau Mutia belum mau jujur soal mantan
Siti Mujimah
Mutia kenapa masih gk mau jujur y...tunggu Yudha tau dari orang lain baru tau rasa dia
Siti Mujimah
karna ghifar orang nya lamban dalam mengambil keputusan..jd y gt telat deh
Siti Mujimah
nasipmu Mutia kenapa pula malah jadi ART
Siti Mujimah
segala perbuatan baik dan buruk sekecil apapun akan dapat balasan jd jangan pernah ragu untuk selalu berbuat baik dengan begitu kebaikan pun akan selalu menghampirimu
Siti Mujimah
keren dong karakter yang seperti itu
Siti Mujimah
yes aq suka keputusan mu ..enak az yg jd Haikal kalau masih di kasih hati
Siti Mujimah
harusnya Mutia lgsg bilang putus hubungan sebagai suami istri kenapa mesti pake mikir..Wt ap..aplg yg di harapkan Dr hubungan yg kyk gt
itin
reka adegannya seperti lompat lompat ya. sebelumnya dimana dan apa trus sesudahnya malah dimana, meski dibuat seakan bersangkutan.
neni indarti
keren kak
Boru Silalahi
kapten jodoh mutia
Boru Silalahi
siapa itu laki yg masuk rumah tanpa permisi
Boru Silalahi
sebaiknya Mutia pindah aja dari situ.kurang elok jika St rumah
Boru Silalahi
apakah Haikal percaya kehamilan mutia.dia SD gelap mata karena sepupu mutia
Vannes
bikin greget
Siti Tamzis
" wong kito galo hadir " saya dari pakembang thor
rhani
kurang ngena... skip mulu... maaf thor
Aku Mira
kerennn wanita terhebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!